Jingga mempercepat langkahnya meninggalkan keramaian pasar malam. Suara pedagang yang menawarkan dagangan, musik dari wahana komidi putar, dan tawa anak-anak mendadak terasa jauh, seperti berasal dari dunia lain. Burger dan cola yang tadi ia beli entah sudah ia letakkan di mana. Rasa lapar yang tadi menggerutu di perutnya hilang begitu saja, digantikan rasa penuh yang jauh lebih menyakitkan di dadanya.
"Jingga, tunggu!" Suara Kevin masih terdengar di belakangnya.
Ia tidak berbalik. Langkahnya justru semakin cepat, hampir berlari, melewati barisan stand yang mulai sepi pembeli. Untunglah di ujung jalan ada taksi yang sedang menurunkan penumpang. Jingga langsung menghampirinya.
Begitu duduk di kursi belakang, Jingga menyebutkan alamat rumahnya, lalu menutup pintu rapat-rapat. Dari kaca jendela, ia melihat Kevin berhenti beberapa meter dari taksi. Wajah pria itu tampak menyesal, dengan rambut yang ia acak sendiri, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pria itu merasa bersalah. Tapi kali ini Jingga memilih tidak peduli. Taksi melaju, dan bayangan Kevin pun menghilang dari matanya.
Di dalam taksi, Jingga menyandarkan kepala ke kaca jendela. Ponselnya bergetar. Satu nama muncul di layar: Kak Kevin.
Ia menatapnya beberapa detik, lalu menekan tombol penolak. Ponsel itu bergetar lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya Jingga memilih mematikannya sama sekali.
'Mau bilang apa lagi?' batinnya. 'Mau bilang tadi dia sibuk? Mau bilang ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan?'
Kalimat Irvan kembali terngiang di kepalanya. Pria itu tidak perlu menyelesaikan ucapannya untuk membuat Jingga mengerti. Mungkin juga dengan kekasihmu. Sindiran yang tadi ia anggap godaan, kini terasa seperti jarum yang pelan-pelan masuk. Karena begitu Kevin muncul di pasar malam, wajah pria itu bukan wajah orang yang baru selesai rapat dengan rekan bisnis. Ada rona bersalah di sana yang sangat Jingga kenali. Rona yang sama seperti dulu, setiap kali ayahnya pulang terlambat dari rumah wanita lain.
Jingga memejamkan mata. Ia menolak menangis di dalam taksi milik orang asing. Sopir taksi itu sempat melirik dari kaca spion tengah, tapi cukup bijak untuk tidak bertanya apa-apa sepanjang perjalanan.
Jingga Pov.
Aku turun dari taksi dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit. Rumah besar peninggalan Papa terlihat terang dari luar, tapi aku tahu betul di dalamnya tidak ada kehangatan untukku. Rumah ini sekarang dihuni orang-orang yang memakai topeng masing-masing, dan malam ini aku sedang sangat lelah memakai topengku.
Aku melewati ruang tengah dengan langkah cepat. Tidak ada siapa-siapa. Bagus. Aku tidak sanggup bertemu siapa pun malam ini.
"Non Jingga."
Langkahku terhenti. Mang Asep berdiri di dekat tangga dengan handuk kecil di pundaknya, seperti baru selesai membereskan sesuatu. Tatapannya langsung berubah khawatir begitu melihat wajahku.
"Non belum makan? Wajah Non pucat sekali."
"Aku sudah makan, Mang. Tadi di luar." Aku memaksakan senyum. "Mang Asep istirahat saja. Aku mau langsung tidur."
Mang Asep tidak langsung percaya, aku tahu itu. Tapi pria tua itu cukup bijak untuk tidak mendesak. Ia hanya mengangguk pelan. "Kalau Non butuh sesuatu, panggil saja. Air panas di dapur masih penuh."
Aku mengangguk, lalu naik ke kamarku di lantai dua. Begitu pintu tertutup, barulah aku membiarkan tubuhku merosot bersandar pada pintu.
Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding.
Aku memeluk lututku sendiri dan bertanya pada keheningan. Sebenarnya aku ini apa? Aku masuk ke kehidupan Kevin untuk satu tujuan yang jelas: mencari bukti, membalas Papa dan Mama. Tapi kenapa sekarang rasanya sesakit ini hanya karena dia tidak datang menjemput? Kenapa aku berharap dia menepati janjinya, padahal aku sendiri tahu dia adalah suami wanita itu?
Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh lupa siapa dia. Dia adalah jalan untuk menghancurkan Mei, bukan tujuanku.
Aku mengulang kalimat itu berkali-kali di dalam kepala, seperti mengulang doa. Tapi semakin sering kuulang, semakin terasa bahwa kalimat itu mulai kehilangan kekuatannya.
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Kevin memarkirkan Harley-nya di halaman dengan kasar, sampai stand motor itu berdecit keras di lantai paving. Ia menatap rumah besar di depannya dengan rahang mengeras. Lampu di kamar Jingga masih menyala. Gadis itu sudah pulang. Setidaknya itu melegakan satu sisi hatinya.
Tapi sisi hatinya yang lain justru semakin tidak tenang.
Ia masuk, dan orang pertama yang menyambutnya adalah Mei. Wanita itu duduk di sofa ruang keluarga dengan segelas wine di tangan, masih mengenakan daster sutra, seolah memang sengaja menunggu kepulangannya.
"Kemana saja? Aku menunggumu untuk makan malam," sapa Mei dengan suara manis buatan.
Kevin tidak menjawab. Langkahnya langsung menuju tangga.
"Tunggu." Mei bangkit dari sofa. "Kamu mencari gadis itu? Dia sudah pulang kok. Tapi sepertinya dia sedang tidak ingin diganggu. Wajahnya tadi... hmm, bagaimana ya, seperti orang yang baru saja ditinggal mati." Mei menyesap wine-nya, dan ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan di sudut bibirnya.
Kevin menoleh. Tatapannya dingin. "Kau senang?"
"Aku?" Mei memasang wajah polos. "Aku hanya menyampaikan fakta, Sayang."
"Jangan panggil aku begitu."
"Kita ini suami istri, Kevin. Mau kau akui atau tidak." Mei melenggang mendekat, lalu berbisik, "Dan seorang istri berhak tahu ke mana suaminya pergi sampai larut malam."
Kevin menatap wanita itu lekat-lekat. Ada seribu kalimat tajam di ujung lidahnya, tapi ia menelan semuanya. Berdebat dengan Mei malam ini tidak akan mengubah apa-apa. Ada urusan lain yang jauh lebih penting.
Ia naik ke lantai dua dan berdiri di depan kamar Jingga. Mengetuk pelan.
"Jingga."
Tidak ada jawaban.
"Jingga, aku tahu kau belum tidur. Lampumu masih menyala."
Sesaat hening. Lalu pintu terbuka.
Jingga berdiri di ambang pintu dengan piyama biru muda, dan tersenyum. Senyumnya manis sekali, lebih manis dari biasanya. Justru itu yang membuat bulu kuduk Kevin meremang. Ia sudah belajar satu hal tentang gadis ini: semakin manis senyumnya, semakin besar badai yang bersembunyi di baliknya.
"Ada apa, Kak? Sudah malam loh," ucap Jingga lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.
Kevin membuka mulut. Semua kalimat yang sudah ia susun sepanjang jalan tiba-tiba terasa tidak berguna. "Aku... soal tadi. Aku menyesal membuatmu menunggu."
"Menunggu?" Jingga memiringkan kepalanya, masih dengan senyum yang sama. "Oh, itu. Tidak apa-apa, Kak. Aku malah senang bisa jalan-jalan sendiri. Pasar malamnya ramai, makanannya enak-enak. Aku justru harus berterima kasih."
"Jingga, aku serius."
"Aku juga serius, Kak." Gadis itu mundur satu langkah. "Aku ngantuk. Besok ada rapat pagi. Selamat malam."
Pintu tertutup. Pelan, sopan, tidak dibanting, dan justru itu yang paling menyakitkan.
Kevin berdiri cukup lama di depan pintu itu. Di tangannya ada sekantung churros yang ia beli di pasar malam tadi, setelah Jingga pergi. Ia membelinya karena ingat gadis itu senang makanan manis. Kini kantung itu hanya ia remas pelan, lalu ia letakkan di lantai depan pintu kamar, beserta selembar tisu bertuliskan satu kata: maaf.
Kevin Pov.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku?
Aku berjalan menuju kamar yang kutempati di sayap barat rumah ini, tapi kepalaku masih tertinggal di depan pintu itu. Senyum Jingga terus muncul. Manis, sopan, dan dingin. Jauh lebih menyakitkan daripada jika dia memaki-makiku.
Aku sudah membuat banyak wanita marah dalam hidupku. Tiara bahkan pernah melempar gelas ke kepalaku. Dan biasanya? Biasanya aku tidak peduli. Besoknya semua baik-baik saja, karena aku tahu seribu cara membuat wanita lupa pada amarahnya.
Tapi ini berbeda. Jingga berbeda.
Gadis itu tidak meminta apa-apa dariku. Tidak menuntut status, tidak menagih janji, tidak menangis di depanku. Justru karena itu aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada celah untukku masuk dan memperbaiki keadaan.
Aku merebahkan diri ke ranjang tanpa mengganti baju. Di langit-langit kamar, bayangan lampu membentuk garis-garis tipis yang bergerak pelan tertiup angin dari sela jendela.
Tiara. Aku menemuinya tadi sore karena kebiasaan. Tiga tahun aku bersamanya tanpa status, dan selama itu tidak pernah ada yang berubah. Sampai gadis bermata jingga itu datang ke kantorku, dan entah sejak kapan, aku mulai pulang ke rumah ini lebih cepat hanya untuk melihatnya duduk di meja makan.
Aku memanfaatkannya untuk menyakiti Mei. Itu rencananya. Rencana yang sangat jelas, sangat sederhana, sangat dingin.
Lalu kenapa malam ini dadaku sesak begini hanya karena melihatnya berdiri dengan pria lain di pasar malam? Kenapa aku memacu motor seperti orang gila hanya untuk memastikan dia pulang dengan selamat?
Kevin Pov End.
Di kamarnya, Jingga menemukan kantung churros itu ketika ia hendak mengambil air minum di dapur kecil dekat tangga. Kantung itu tergeletak di depan pintu, utuh, dengan tisu bertuliskan tangan satu kata.
Jingga menatapnya lama. Untuk beberapa detik, tangannya gemetar memegang kantung itu. Ada bagian kecil di dalam dirinya yang ingin membukanya, memakannya, dan membiarkan semuanya berlalu seperti tidak pernah terjadi.
Lalu ia mengembalikannya ke tempat semula. Utuh. Tidak dibuka.
'Kalau aku menerimanya, aku akan lupa,' batinnya. 'Dan aku tidak boleh lupa. Tidak pada tujuanku. Tidak pada siapa dia.'
Ia kembali ke kamarnya, menutup pintu, dan untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, Jingga menangis tanpa suara di balik selimut.
Di lantai bawah, di ruang keluarga yang remang, Mei masih duduk dengan gelas wine-nya. Ia mendengar semuanya. Pintu yang tertutup pelan di lantai dua. Langkah Kevin yang menjauh. Keheningan panjang sesudahnya. Rumah besar ini menyimpan semua suara, dan Mei sudah belajar cara mendengarkannya sejak bertahun-tahun lalu.
Senyumnya mengembang di kegelapan.
"Retak saja terus," bisiknya pada diri sendiri. "Semakin kalian retak, semakin mudah aku bekerja."
Ia mengangkat gelasnya pelan ke arah kosong, seperti bersulang untuk kehancuran orang lain.
Lalu ia mengambil ponselnya dan mengetik satu pesan pendek ke nomor tanpa nama, nomor yang tidak pernah ia simpan di daftar kontak.
"Persiapan kemarin gagal total. Siapkan ulang. Kali ini jangan sampai meleset, berapa pun harganya."
Jawabannya datang kurang dari satu menit. Hanya dua kata: "Siap, Nyonya."
Mei menatap layar itu dengan senyum tipis. Kalau Kevin tidak bisa ia dapatkan dengan cara baik, maka cara lain selalu ada. Selalu ada. Ia menyesap wine-nya sampai tetes terakhir, lalu naik ke kamarnya dengan langkah ringan, seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang belum terjadi.