Pagi di rumah keluarga Broto berjalan seperti sandiwara yang semua pemainnya sudah hafal dialog masing-masing.
Jingga turun ke meja makan dengan rapi, berpakaian kerja, rambut digelung sederhana. Ia mengambil roti dan telur yang disiapkan Mang Asep, makan dengan tenang, dan menjawab salam Kevin dengan dua kata yang sopan.
"Pagi, Kak."
Bukan "pagi" yang hangat seperti biasa. Bukan pula amukan. Hanya sopan. Sopan yang rapi dan dingin, seperti pelayan hotel pada tamu yang tidak dikenalnya.
Kevin menatap gadis itu sepanjang sarapan. Ia mencoba membuka pembicaraan dua kali, dan dua kali Jingga menjawab seperlunya, lalu kembali ke rotinya. Di ujung meja, Mei duduk sambil mengaduk kopinya pelan-pelan, menikmati setiap detik kecanggungan itu seperti menikmati pertunjukan gratis.
"Aku berangkat dulu," kata Jingga akhirnya, bangkit dari kursinya.
"Aku antar," Kevin langsung berdiri.
"Tidak usah. Mobilku sudah diperbaiki bengkel, aku bisa sendiri." Jingga tersenyum manis ke arah Kevin, mengambil tasnya, dan pergi tanpa menoleh.
Kevin mengepalkan tangannya di saku celana. Kantung churros semalam masih utuh di lantai depan kamar gadis itu ketika ia lewat pagi tadi. Tidak disentuh sama sekali.
"Sudah kubilang," suara Mei melayang dari ujung meja. "Gadis itu tidak bisa diandalkan untuk urusan perasaan. Terlalu muda, terlalu polos, terlalu—"
"Selesaikan kopimu, dan jangan ikut campur." Kevin memotong tanpa menoleh, lalu pergi mengambil jaket kulitnya.
Mei tidak tersinggung. Ia justru tersenyum. Suami kontraknya sedang menderita, dan itu adalah tontonan terbaik dalam hidupnya akhir-akhir ini.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Tiara menatap ponselnya dengan dahi berkerut. Ia sudah menelepon Kevin tiga kali sejak pagi. Dua kali tidak diangkat. Satu kali diangkat hanya untuk mendengar satu kalimat.
"Aku sibuk. Nanti saja."
Klik.
Tiara melempar ponselnya ke sofa. Tiga tahun. Tiga tahun ia menjadi wanita yang menemani Kevin tanpa status, menelan semua ego pria itu, menunggu dengan sabar sampai kontrak pernikahan gila Kevin dengan wanita bernama Mei itu berakhir. Ia tahu semuanya. Ia tahu Kevin menikahi Mei karena informasi donor ginjal untuk Sinta. Ia menerimanya karena Kevin berjanji itu hanya di atas kertas.
Tapi sejak kapan Kevin membuatnya menunggu jawaban telepon?
"Irvan," panggilnya begitu sahabatnya itu mengangkat telepon. "Kamu bilang semalam kamu bertemu gadis itu. Yang di pasar malam. Siapa namanya?"
Di seberang, Irvan terdiam sebentar. "Jingga. Kenapa?"
"Jingga apa? Nama lengkapnya? Dia kerja di mana?"
"Tiara." Suara Irvan mengeras. "Untuk apa kamu mencari tahu? Masalahmu adalah dengan Kevin, bukan dengan gadis itu. Dia bahkan tidak tahu apa-apa."
"Aku berhak tahu siapa yang membuat kekasihku lupa waktu."
"Kekasih?" Irvan tertawa tanpa humor. "Sejak kapan kalian punya status? Kamu sendiri yang bilang tiga tahun tanpa kepastian. Dan sekarang kamu mau menyerang gadis yang tidak tahu apa-apa? Selesaikan dengan Kevin. Atau tinggalkan. Kamu pantas dapat yang lebih baik dari permainan ini."
Telepon ditutup. Tiara menatap layar ponselnya dengan napas memburu. Irvan tidak mau membantunya. Baik. Ia tidak butuh bantuan siapa pun untuk mencari tahu satu nama.
Normal Pov.
Di kantor HA Express, Jingga tenggelam dalam pekerjaan. Ada tiga laporan pengiriman yang harus ia periksa, satu keluhan klien besar yang harus ia tangani, dan rapat dengan para kepala cabang pukul sepuluh. Ia mensyukuri semuanya. Pekerjaan adalah pelarian terbaik yang pernah diciptakan manusia.
"Bu Jingga." Lisa mengetuk pintu ruangannya. "Ada telepon dari... Pak Kevin Pratama. Katanya penting."
Jingga tidak mengangkat wajah dari berkasnya. "Bilang aku sedang rapat."
"Tapi rapatnya baru pukul sepuluh, Bu."
"Maka bilang aku sedang persiapan rapat." Jingga menoleh, tersenyum manis pada sekretarisnya. "Lisa, kalau Pak Kevin menelepon lagi hari ini, aku selalu sedang rapat. Mengerti?"
Lisa menelan ludah. Ia sudah bekerja cukup lama untuk tahu bahwa senyum semanis itu biasanya berarti ada orang yang sedang berada dalam masalah besar. "Baik, Bu."
Sepanjang hari itu, Kevin menelepon empat kali dan mengirim tujuh pesan. Semua telepon dijawab Lisa dengan jawaban yang sama. Semua pesan hanya dibaca Jingga, lalu dibiarkan.
Pesan terakhir datang pukul lima sore: "Jangan pulang terlambat. Kita bicara."
Jingga menatap pesan itu lama. Lalu ia membalas, singkat: "Lain kali kita tidak perlu saling menunggu, Kak."
Ia mematikan layar ponselnya, dan begitu jam kerja selesai, ia tidak pulang. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi rumah besar itu adalah tempat terakhir yang ingin ia datangi malam ini.
Tanpa sadar, langkahnya membawanya kembali ke pasar malam dekat Pra-building.
"Kita harus berhenti bertemu seperti ini," sebuah suara menyapa dari belakang. "Orang-orang akan mengira kita janjian."
Jingga menoleh, dan mendapati Irvan berdiri dengan dua tangkai sate di tangan, tersenyum lebar. Malam ini pria itu mengenakan kaos hitam sederhana, terlihat jauh lebih santai daripada kemarin.
"Kamu mengikutiku?" tanya Jingga waspada.
"Memangnya kamu siapa sampai harus kuikuti?" Irvan tertawa. "Aku tinggal tidak jauh dari sini. Ini pasar malam kesukaanku. Kamu yang dua malam berturut-turut muncul di wilayahku. Jadi, siapa yang mengikuti siapa?"
Jingga tidak bisa menahan senyumnya. Ada sesuatu pada diri Irvan yang membuat orang sulit marah padanya. Mungkin karena pria itu tidak pernah menyembunyikan apa pun.
Mereka berjalan berdampingan di antara barisan stand. Irvan membelikan Jingga es cendol tanpa bertanya, dan Jingga membiarkannya. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, dadanya terasa sedikit ringan.
"Kamu sendiri kenapa selalu keluyuran malam?" tanya Jingga di sela langkah mereka. "Tidak punya pekerjaan?"
"Punya, untungnya." Irvan terkekeh. "Aku baru beberapa bulan kembali ke Indonesia. Hampir sepuluh tahun tinggal di luar negeri, jadi begitu pulang, semua temanku sudah punya hidup masing-masing. Daripada menonton televisi sendirian di apartemen, aku lebih suka ke sini. Di pasar malam, tidak ada yang peduli kamu datang sendirian."
"Hampir sepuluh tahun? Ngapain saja di sana?"
"Macam-macam. Sekolah, kerja, kabur dari pertanyaan seperti ini." Irvan mengedipkan sebelah mata, membuat Jingga menggeleng pelan. "Intinya, aku lebih banyak bicara dengan orang asing daripada dengan kampung halamanku sendiri. Mungkin itu sebabnya aku cerewet."
Jingga menyesap es cendolnya. Aneh, pikirnya. Dua malam lalu ia menganggap pria ini orang asing yang menyebalkan. Sekarang ia justru bisa tertawa di sisinya, padahal tawa itu tidak ia berikan pada orang yang tidur di rumah yang sama dengannya.
"Jadi," Irvan membuka suara setelah mereka duduk di bangku taman. "Kekasihmu itu minta maaf belum?"
"Dia bukan kekasihku," jawab Jingga cepat. Terlalu cepat, sampai ia sendiri sadar.
"Oh ya?" Irvan mengangkat alis. "Boleh kubilang sesuatu?"
"Tidak."
"Aku tetap akan bilang." Irvan menatapnya serius. "Jingga, kau gadis yang baik. Terlalu baik. Dan pria seperti Kevin Pratama..." Kalimatnya menggantung. Ada pergulatan di wajahnya, seperti dua orang sedang bertengkar di dalam kepalanya. Ia hampir mengatakannya. Hampir. Bahwa Tiara adalah kekasih Kevin selama tiga tahun terakhir. Bahwa gadis ini sedang dijadikan alat oleh dua orang yang sama-sama egois.
Tapi wajah Jingga yang menatapnya polos membuat kata-kata itu mati di tenggorokan.
"Pria seperti Kevin apa?" tanya Jingga.
"...Tidak cocok untukmu," selesai Irvan akhirnya, jauh dari yang semula hendak ia katakan. "Kau pantas dapat seseorang yang menunggumu, bukan yang membuatmu menunggu."
Jingga tertawa kecil, tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Kamu baru kenal aku dua hari, tapi bicaramu seperti sudah kenal bertahun-tahun."
"Aku cepat akrab dengan orang." Irvan mengangkat bahu. "Anggap saja nasihat gratis dari orang asing."
Mereka berpisah pukul delapan. Jingga pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih tenang, dan Irvan pulang dengan perasaan bersalah yang ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Satu hal yang tidak diketahui keduanya: dari seberang jalan, di balik kemudi Harley yang mesinnya sudah lama mati, Kevin melihat semuanya. Melihat Jingga tertawa. Melihat es cendol di tangan gadis itu. Melihat cara Irvan menatapnya.
Kevin tidak turun dari motornya. Ia hanya menatap sampai keduanya berpisah, lalu menyalakan mesin dan pergi lebih dulu, dengan rahang yang mengeras sepanjang jalan.
Malam itu, ketika Jingga masuk ke rumah pukul setengah sembilan, Kevin sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang bahkan tidak menyala.
"Jam berapa ini?" tanya Kevin, suaranya datar.
Jingga menoleh. Tersenyum manis. "Masih jam delapan lebih, Kak. Aku permisi dulu, capek."
"Pulang dari mana?"
"Jalan-jalan." Jingga sudah berada di anak tangga ketiga ketika ia berhenti dan menoleh. "Oh ya, Kak. Tadi aku bertemu teman baru. Orangnya menyenangkan sekali. Tidak pernah membuat orang menunggu."
Lalu ia naik, menghilang di lantai dua, meninggalkan Kevin yang menatap laptop matinya seperti ingin melemparnya ke dinding.
Di kamarnya, Kevin Pov.
Dia pulang jam delapan lewat dua puluh tiga menit. Aku menghitungnya. Aku, Kevin Pratama, yang tidak pernah menghitung menit untuk siapa pun, sekarang menghitung menit untuk seorang gadis berumur dua puluh tahun.
Dan pria itu lagi. Irvan. Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia selalu ada di sekitar Jingga? Kenapa Jingga bisa tertawa selepas itu di depannya, padahal dua hari ini dia bahkan tidak menjawab pesanku?
Aku mengacak rambutku sendiri. Ini bukan cemburu. Ini hanya... kewaspadaan. Jingga ada di bawah rencanaku. Kalau ada orang luar terlalu dekat dengannya, rencanaku pada Mei bisa terganggu. Hanya itu.
Hanya itu. Aku mengulanginya sampai kalimat itu terdengar benar.
Kevin Pov End.
Di kamar seberang, Jingga merebahkan diri di ranjang dengan pakaian kerjanya masih melekat. Ia menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya, bertanya pada dirinya sendiri dengan jujur.
Kenapa tadi aku sengaja mengatakan itu pada Kak Kevin?
Tidak ada jawaban. Atau lebih tepatnya, ada jawaban, tapi Jingga belum siap mendengarnya.