Mang Asep menemukan Jingga di taman belakang, pagi-pagi sekali, sebelum gadis itu berangkat kerja. Pria tua itu terlihat ragu, dua kali membuka mulut, dua kali pula menelan kembali kata-katanya.
"Ada apa, Mang?" tanya Jingga sambil menyiram deretan mawar peninggalan ibunya. "Dari tadi dilihat saja."
Mang Asep mendekat dan menurunkan suaranya, kebiasaan lama sejak rumah ini diisi orang yang tidak bisa dipercaya. "Non, ada yang sudah lama ingin saya ceritakan. Dulu saya tidak yakin ini penting. Tapi setelah memikirkan perkataan Nada kemarin... saya rasa Non harus tahu."
Jingga meletakkan selang airnya. "Ceritakan saja, Mang."
"Non masih ingat Bi Imah? Pembantu yang dulu bekerja di sini sebelum almarhum Tuan Karim sakit keras?"
Jingga mengerutkan dahi. Nama itu samar-samar ia ingat. Seorang wanita paruh baya yang pendiam, tiba-tiba menghilang dari rumah ini sekitar setahun sebelum ayahnya meninggal. "Ibu... dipecat, kan? Oleh Mei."
"Dipecat, iya. Tapi saya selalu merasa pemecatan itu aneh." Mang Asep meremas handuk kecil di tangannya. "Bi Imah itu orangnya rapi sekali, Non. Tidak pernah salah kerja. Tahu kenapa dia dipecat? Karena Nyonya Mei bilang dia mencuri uang belanja. Tapi Bi Imah pernah cerita pada saya sebelum pergi, dengan mata berkaca-kaca. Dia bilang dia tidak mencuri. Dia bilang dia dipecat karena... bertanya terlalu banyak."
"Bertanya tentang apa?"
"Tentang obat." Mang Asep menatap Jingga. "Bi Imah itu yang selalu disuruh Nyonya Mei membeli obat untuk Tuan Karim. Ke satu apotek yang sama, di jalan dekat rumah lama, Apotek Kurnia. Setiap minggu, Non. Tidak pernah ganti tempat, tidak pernah ganti orang. Suatu hari Bi Imah baca bungkus obatnya dan bertanya pada Nyonya Mei, kenapa obat Tuan tidak dibelikan di apotek besar dengan resep dokter, seperti biasanya orang sakit. Seminggu kemudian dia dipecat."
Tangan Jingga perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Angin pagi yang sejuk mendadak terasa dingin di kulitnya.
"Apotek Kurnia," ulangnya pelan. "Masih ada, Mang?"
"Masih. Saya lewat sana bulan lalu waktu mengantar Nada ke pasar. Tempatnya masih sama, pemiliknya masih Pak Darmadi yang dulu."
Jingga menatap mawar-mawar di depannya. Merah, mekar, indah. Ibunya dulu yang menanamnya, dan ibunya mati patah hati karena wanita yang sama.
"Mang," ucapnya akhirnya, pelan tapi tegas. "Kamu tidak usah melakukan apa-apa. Tapi kalau Mei bertanya apa yang kita bicarakan pagi ini, katakan aku mengeluh soal harga pupuk."
Mang Asep mengangguk mengerti. Ia sudah menjaga rumah ini jauh sebelum Jingga lahir, dan ia tahu kapan harus menjadi tuli.
Normal Pov.
Pukul sebelas siang, Jingga meninggalkan kantornya dengan alasan survei lokasi klien. Yang ia datangi bukan lokasi klien, melainkan sebuah warung kopi kecil di dekat kantor polisi, tempat Tono sudah menunggu dengan seragamnya yang ditanggalkan, berganti kaos polo biasa. Nada duduk di sebelah tunangannya itu, langsung berdiri memeluk Jingga begitu melihatnya.
"Kamu kurus," komentar Nada, menatap sepupu angkatnya itu dari atas ke bawah.
"Kamu cerewet," balas Jingga, dan keduanya tersenyum. Hanya dengan Nada ia bisa menjadi dirinya yang dulu.
Tono menyela dengan lembut, "Kata Nada kamu punya sesuatu. Ceritakan."
Jingga menceritakan semuanya. Tentang Bi Imah, tentang apotek itu, tentang obat yang dibeli setiap minggu oleh pembantu yang kemudian dipecat karena bertanya. Ia bicara dengan suara rata, tapi jari-jarinya menggenggam gelas es tehnya sampai buku-buku jarinya memutih.
Tono mendengarkan sambil mencatat di buku saku kecilnya. Sesekali alisnya bertaut. Sebagai polisi, ia sudah melihat banyak kasus, dan pola seperti ini bukan pola yang asing.
"Obat yang kamu maksud," tanya Tono hati-hati, "kamu pernah bilang dokter menduga ayahmu diberi sesuatu yang membuat darahnya sulit membeku, kan? Obat semacam itu tidak dijual bebas. Tapi di apotek kecil yang kenal pembeli tetap... banyak hal bisa terjadi tanpa resep."
"Jadi bisa ditelusuri?" tanya Jingga.
"Bisa. Kalau apoteknya menyimpan catatan pembelian, dan kalau Pak Darmadi mau bicara." Tono menatap Jingga lurus. "Tapi aku mau kamu dengar baik-baik. Ini benang pertama, bukan bukti utuh. Catatan pembelian tidak membuktikan siapa yang meminumkan obat itu ke ayahmu. Jangan bergerak sendiri. Jangan menyentuh Mei. Beri aku waktu."
Jingga mengangguk. Tapi ada bara kecil di matanya yang membuat Nada menggenggam tangan sepupunya erat-erat di bawah meja.
Dua hari kemudian, hasilnya datang.
Tono datang ke Apotek Kurnia sebagai polisi yang sedang melakukan pendataan rutin, bukan penyidikan, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Pak Darmadi, pemilik apotek yang sudah berusia enam puluhan, ternyata orang yang menyimpan segala sesuatu dengan rapi. Ia punya buku besar berisi catatan pembelian langganan bertahun-tahun ke belakang, karena ia tidak pernah percaya pada komputer.
Dan di sana, di halaman-halaman tahun-tahun sebelum Karim Broto meninggal, Tono menemukannya.
Nama pembeli: Imah. Pembelian atas nama langganan: Ny. Mei Broto. Obatnya: sejenis antikoagulan kuat, obat yang menghambat pembekuan darah, dibeli rutin setiap tujuh sampai sepuluh hari. Tercatat hampir dua tahun penuh. Semuanya dibayar tunai. Tidak ada satu pun lembar resep dokter yang terlampir.
Dua tahun. Ayah Jingga sakit dan melemah selama kurang lebih dua tahun.
Tono memotret halaman-halaman itu dengan ponselnya setelah meminta izin Pak Darmadi, yang menggeleng-gelengkan kepala saat menyadari apa artinya catatan itu.
"Ada lagi yang saya ingat, Nak Polisi," kata pria tua itu sambil memijit-mijit pangkal hidungnya. "Nyonya itu, Mei, dia tidak pernah mau ada nota. Setiap kali Imah meminta nota untuk pertanggungjawaban belanja, besoknya Imah datang dengan wajah ketakutan dan bilang tidak usah ada nota lagi. Nyonya itu juga melarang saya menanyakan resep. Katanya, urusan obat keluarganya bukan urusan orang lain."
"Dan setelah Imah berhenti datang?" tanya Tono.
Pak Darmadi membalik beberapa halaman buku besarnya. "Ada masa kosong beberapa bulan. Lalu mulai lagi, tapi yang datang laki-laki. Tidak pakai nama, tidak banyak bicara, bayar tunai. Saya catat sebagai langganan atas nama Nyonya Mei juga, karena laki-laki itu selalu bilang pesanan Nyonya Broto." Ia menunjuk barisan tanggal yang dimaksud. Tanggal-tanggal itu berhenti tepat di bulan ketika Karim Broto menghembuskan napas terakhirnya.
Tono menatap deretan tanggal itu lama sekali. Polanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Saya kira itu obat rutin orang sakit jantung, Nak Polisi," kata pria tua itu dengan suara bergetar. "Demi Tuhan, saya kira begitu. Nyonya itu bilang suaminya sakit jantung dan malas ke dokter."
"Bapak tidak salah apa-apa," jawab Tono pelan. "Bapak justru baru saja membantu lebih dari yang Bapak kira. Satu permintaan saya: jangan ceritakan kedatangan saya hari ini kepada siapa pun. Termasuk kalau nanti ada orang keluarga itu yang bertanya."
Pak Darmadi mengangguk cepat. Orang kecil selalu tahu kapan sebuah rahasia terlalu besar untuk disimpan sembarangan.
Malam harinya, di rumah keluarga Broto, Jingga masuk ke kamar mendiang ayahnya.
Kamar itu masih dijaga seperti semula. Buku-buku di rak, meja kerja dari kayu jati, dan di balik lemari besar di sudut ruangan, ada pintu kecil yang hanya diketahui segelintir orang. Ayahnya membangunnya bertahun-tahun lalu setelah rumah ini pernah kemasukan pencuri: sebuah ruang kecil berisi monitor-monitor yang terhubung ke kamera pengintai di seluruh penjuru rumah.
Jingga duduk di kursi kecil di ruang pengintai itu. Ruangan sempit ini masih berbau kayu dan kertas tua, bau yang selalu mengingatkannya pada pelukan ayahnya sewaktu kecil. Di tangannya ada buku catatan baru yang ia beli sore tadi. Ia mulai menulis.
Halaman pertama: kebiasaan Mei.
Kapan wanita itu menerima tamu. Kapan ia menelepon dengan suara berbisik di taman belakang. Kapan paket datang atas namanya. Jingga menonton monitor satu per satu, mencocokkan, mencatat. Gerak-gerik Mei di dapur saat mengira tidak ada yang melihat. Cara wanita itu memeriksa pintu kamar Karim dulu sebelum menelepon seseorang yang tidak pernah ia sebut namanya.
Hari pertama saja, catatannya sudah penuh dua halaman.
Senin, pukul sembilan lewat seperempat malam: Mei turun ke taman belakang dengan ponsel di tangan. Durasi sebelas menit. Sebelum menelepon, ia melihat ke kiri dan kanan dua kali. Sesudahnya, ia menghapus sesuatu di ponselnya.
Selasa sore: paket kecil diantar pria bertopi yang tidak masuk lewat pintu depan. Mei sendiri yang menerima di pagar samping. Tidak ada pelayan yang boleh mendekat. Paketnya langsung dibawa ke kamarnya.
Rabu pagi: Mei berdiri lama di depan kamar Papa. Tidak masuk. Hanya berdiri, lalu pergi.
Jingga menulis semuanya dengan huruf yang rapi, seolah kerapian tulisannya bisa menahan gemuruh di dadanya. Ayahnya duduk di kamar ini bertahun-tahun, sakit, melemah, diberi obat yang salah oleh wanita yang tidur di rumah yang sama. Dan tidak ada satu pun kamera ini yang menyelamatkannya, karena tidak ada yang tahu harus mencari apa.
Sekarang ia tahu harus mencari apa.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat di luar kamar. Jingga mematikan layar monitor dengan cepat, menyelinap keluar dari ruang rahasia, mendorong pintu lemari kembali rapat, dan duduk di tepi ranjang ayahnya tepat ketika pintu kamar terbuka.
Mei berdiri di ambang pintu. Mata wanita itu menyipit.
"Sedang apa kamu di sini?"
Jingga mengangkat foto pernikahan ayahnya dan Melinda dari nakas, yang memang sengaja ia pegang. "Kangen Papa," jawabnya pelan. "Boleh kan, Bu? Ini rumah Papa. Ini kamarnya."
Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu di udara. Dua wanita yang sama-sama tahu ada permainan yang sedang berlangsung, tapi hanya satu yang tahu papan permainannya sudah mulai berubah.
Mei mendengus. "Jangan lama-lama. Kamar orang mati membawa sial."
Pintu ditutup. Jingga menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis ke arah foto ayahnya.
"Sabar, Pa," bisiknya. "Benang pertamanya sudah ketemu."
Pukul sepuluh malam, ponselnya bergetar. Satu pesan dari Tono.
"Catatan apotek aman di tanganku. Ada nama, ada tanggal, ada polanya. Ini belum cukup untuk memborgol siapa pun, tapi ini nyata. Mulai sekarang hati-hati. Orang yang merasa aman bertahun-tahun bisa jadi sangat berbahaya saat merasa terancam."
Jingga membaca pesan itu dua kali. Lalu ia membalas singkat, "Aku tidak akan bergerak. Aku hanya akan menonton."
Ia meletakkan ponselnya, menatap ke luar jendela ke arah halaman yang gelap, dan untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, Jingga merasa kegelapan itu mulai punya celah cahaya.
Kecil. Tapi nyata.