Kevin pulang kerja dengan membawa bunga.
Bukan bunga sembarangan. Satu buket besar mawar jingga, warna yang membuat semua orang di rumah itu tahu untuk siapa bunga itu ditujukan, bahkan sebelum Kevin membuka mulut. Mang Asep yang membukakan pintu sampai menahan senyumnya sendiri.
"Taruh di meja makan, Mang," kata Kevin. "Pas makan malam."
Maka malam itu, meja makan keluarga Broto menjadi panggung yang sempurna.
Jingga turun dari kamarnya tepat ketika makan malam dimulai, dan berhenti di anak tangga terakhir begitu melihat buket mawar jingga di tengah meja, di samping lilin-lilin kecil yang entah kapan dinyalakan. Kevin berdiri di samping kursi, masih dengan kemeja kerjanya, dan menatapnya dengan tatapan yang dua hari terakhir tidak pernah berani menatapnya lama-lama.
"Ini untukmu," kata Kevin. "Bukan permintaan maaf. Permintaan maafku kemarin tidak kau terima, jadi aku belajar. Ini pengakuan. Aku salah, dan aku tidak akan membuatmu menunggu lagi."
Di ujung meja, garpu di tangan Mei berhenti bergerak.
Jingga menuruni anak tangga terakhir dengan tenang. Ia mengambil satu tangkai mawar dari buket itu, mencium wanginya sebentar, lalu menatap Kevin. Senyumnya muncul, tapi kali ini ada sedikit kehangatan di sana. Sedikit saja, tapi cukup untuk membuat dada Kevin lega.
"Mahal?" tanya Jingga.
"Kau mau aku jawab jujur atau jawab diplomatis?"
"Jujur."
"Sangat." Kevin menarik kursi untuknya. "Tapi lebih murah daripada harga dirinya orang yang ditinggal menunggu."
Jingga tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia duduk satu meja dengan Kevin tanpa tembok di antara mereka.
Makan malam itu berjalan dengan aneh. Kevin menyuapi suasana dengan cerita-cerita kantor yang bahkan Mang Asep pun ikut tertawa mendengarnya dari dapur.
"Jadi kliennya marah-marah karena peti kemasnya terlambat dua jam," cerita Kevin sambil menuang sup ke mangkuk Jingga tanpa diminta. "Dua jam, Jingga. Padahal kapalnya kena badai. Apa dia pikir aku bisa menelepon laut dan menyuruhnya tenang?"
"Terus Kakak jawab apa?"
"Aku bilang, lain kali kalau mau cepat, kirim barangnya pakai doa saja." Kevin mengangkat bahu. "Sekretarisku sampai tidak berani masuk ruangan seharian."
Jingga menutup mulutnya menahan tawa. "Kak Kevin bisa diadu domba dengan kliennya sendiri kalau begitu caranya."
"Biarkan. Hidupnya terlalu lurus, perlu sedikit garam."
"Garam atau badai?" sahut Jingga, dan kali ini tawanya benar-benar lepas.
Kevin berhenti mengaduk supnya. Sudah tiga hari ia tidak mendengar tawa itu, dan ia baru sadar betapa ia merindukannya. Ia menyembunyikan perasaan itu dengan batuk kecil, lalu memindahkan lauk terbaik ke piring Jingga, menegur gadis itu karena hanya makan sedikit, dan mengabaikan keberadaan istrinya sendiri seolah wanita itu hanyalah bagian dari perabot ruangan.
"Makan yang banyak," katanya ketika Jingga protes pelan. "Kau lupa makan kalau sedang marah. Aku sudah hafal."
"Aku tidak sedang marah."
"Sedang. Mulai tiga hari yang lalu." Kevin menatapnya. "Dan aku yang membuatnya. Jadi biarkan aku memperbaikinya pelan-pelan, mulai dari memastikan kau makan."
Mei menyaksikan semuanya dengan senyum yang semakin lama semakin kaku.
Ia memotong daging di piringnya perlahan-lahan, terlalu perlahan, sampai pisau berdecit di atas keramik. Setiap tawa Jingga terasa seperti tamparan. Setiap kali Kevin mencondongkan badan ke arah gadis itu, napas Mei memburu sedikit lebih cepat.
Ketika Kevin menyeka saus di sudut bibir Jingga dengan jempolnya, tanpa canggung, di depan semua orang, gelas wine di tangan Mei retak.
Bukan pecah. Hanya retak, karena genggaman wanita itu terlalu kuat.
"Aku sudah kenyang," kata Mei, bangkit dengan anggun yang dipaksakan. "Silakan lanjutkan. Pertunjukan yang... manis sekali."
"Bu Mei mau ke mana? Makannya belum habis," sapa Jingga, lembut, dengan mata yang bersih. "Sayang sekali. Mang Asep masak lama sekali loh untuk makan malam ini."
Mei menatap Jingga. Untuk sepersekian detik, sesuatu yang gelap melintas di mata wanita itu, sesuatu yang tidak berhasil ditutupi topengnya. Lalu ia berbalik dan pergi dengan langkah yang lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Normal Pov.
Kevin menemukan Mei di ruang kerja wanita itu sejam kemudian. Ia tidak mengetuk pintu.
"Kau melanggar kesepakatan," kata Mei langsung, masih berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela. "Kontrak kita jelas. Di depan umum, kita menjaga citra pernikahan ini. Malam ini kau mempermalukanku di depan pelayan."
"Kontrak kita bilang aku harus menjaga citra di depan umum," jawab Kevin santai, bersandar pada kusen pintu. "Di dalam rumah ini? Tidak ada klausulnya. Aku sudah membaca ulang semuanya, kata demi kata. Sebaiknya kau juga."
Mei memutar gelas kosong di tangannya, pelan. "Kau selalu pandai mencari celah, Kevin. Itu yang membuatmu berhasil di usia muda. Tapi kau lupa satu hal. Orang yang menulis kontraknya adalah aku. Aku tahu semua celahnya jauh sebelum kau membacanya."
"Kalau begitu kau juga tahu," Kevin tersenyum tanpa kehangatan, "bahwa tidak ada satu pun baris di sana yang bilang aku harus mencintaimu. Atau menyapamu di pagi hari. Atau memperlakukanmu lebih dari apa adanya: sebuah kesepakatan yang kusyukuri akan segera berakhir."
Mei berbalik. Wajahnya sudah bersih dari topeng, menyisakan sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih dingin. "Kau pikir gadis itu mencintaimu? Dia anak kemarin sore yang bahkan tidak tahu cara memakai bedak dengan benar."
"Dia tahu cara membuat orang menunggu tiga hari untuk satu kata maaf," balas Kevin. "Itu lebih dari yang bisa kau lakukan seumur hidupmu."
"Hati-hati, Kevin Pratama." Suara Mei turun satu oktaf. "Jangan lupa siapa yang memegang informasi donor ginjal untuk ibumu. Satu kata dariku, dan Sinta kehilangan kesempatannya."
"Dan satu kata cerai darimu," Kevin melangkah masuk, pelan, "dan kau keluar dari rumah ini tanpa satu rupiah pun. Aku sudah konsultasi dengan pengacaraku. Klausul ketujuh, ingat? Yang meminta cerai, pergi dengan tangan kosong. Jadi silakan. Ancam aku. Setiap kali kau mengancam, aku semakin yakin kau tidak akan pernah berani benar-benar melakukannya."
Ia pergi sebelum Mei menjawab. Di belakangnya, terdengar bunyi sesuatu dilempar ke dinding. Malam itu untuk pertama kalinya, Mei Anjani tidak tidur dengan tenang.
Keesokan harinya, saat Kevin sudah pergi ke kantor dan rumah besar itu sunyi, Mei turun ke dapur dan mendapati Jingga sedang membuat jus.
"Kau," panggilnya.
Jingga menoleh, dan langsung menurunkan pandangan dengan sopan. Tapi di balik meja dapur, jari gadis itu sudah menekan tombol rekam di ponselnya sejak mendengar langkah hak tinggi di tangga. Kebiasaan barunya, sejak buku catatan dan ruang pengintai itu menjadi bagian dari hidupnya.
"Iya, Bu Mei?"
"Jangan pikir aku tidak tahu permainanmu." Mei mendekat, perlahan, seperti kucing mendekati burung. "Bunga semalam. Senyum-senyum di meja makan. Kau pikir kau sudah menang? Kau pikir satu buket bunga membuatmu jadi nyonya di rumah ini?"
"Aku tidak mengerti maksud Ibu."
"Oh, kau mengerti." Mei berjalan mengelilingi meja dapur, pelan, seperti sedang mengukur wilayahnya. "Kau tahu apa kesalahan terbesar ibumu? Dia pikir kesabaran itu kekuatan. Dia diam saja bertahun-tahun, menunggu suaminya pulang, dan lihat apa yang didapatnya. Kesabaran tidak pernah memenangkan apa pun, Jingga. Rumah ini mengajarkannya dengan sangat baik."
Jingga menekan telapak tangannya ke tepi meja. Napasnya tetap ia jaga rata, biarpun ada api kecil yang mulai menyala di dadanya. "Ibu sepertinya senang sekali membicarakan orang yang sudah meninggal."
"Karena orang mati tidak bisa membantah." Mei berhenti tepat di depan Jingga. "Dan karena aku berhak membicarakannya. Akulah yang menang. Aku sudah menyingkirkan orang yang jauh lebih pintar darimu, gadis kecil. Aku masuk ke rumah ini dengan satu koper, dan sekarang semua yang ada di sini tunduk padaku. Ayahmu saja bisa kuatur sampai akhir hayatnya, apalagi kau."
Darah Jingga berdesir. Di dalam dadanya, sesuatu berteriak. Tapi wajahnya tetap tenang, bahkan tersenyum kecil, karena ia tahu ponsel di balik meja sedang bekerja untuknya.
"Ayahku memang patuh pada Ibu," jawab Jingga pelan, hati-hati, memberi jalan. "Semua orang bilang begitu."
"Patuh?" Mei tertawa pendek. "Karim itu bukan patuh. Dia tidak punya pilihan. Sampai mati pun dia tidak—"
Mei berhenti. Menelan sisa kalimatnya. Untuk sesaat matanya menajam, menyadari betapa dekat ia dengan tepi jurang. Ia merapikan suaranya.
"Intinya," lanjutnya dingin, "jangan coba-coba menantangku. Kevin akan bosan padamu sebelum bulan ini selesai. Dan ketika itu terjadi, kau akan belajar bahwa rumah ini punya aturan. Aturanku."
Ia berbalik dan pergi. Begitu langkahnya hilang, Jingga menekan tombol berhenti dengan tangan yang akhirnya gemetar.
Sampai mati pun dia tidak...
Kalimat yang tidak selesai itu bergema di kepalanya. Bukan pengakuan. Belum. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar, cukup untuk membuat tangannya memeluk ponsel itu seperti memeluk senjata.
Siang itu juga, dari kantornya, Jingga mengirim rekaman itu ke Tono dengan satu pesan: "Dia hampir mengaku. Ini bisa dipakai?"
Jawaban Tono datang sepuluh menit kemudian: "Simpan baik-baik. Secara hukum belum cukup, tapi polanya semakin jelas. Dia mulai ceroboh. Orang yang ceroboh akan jatuh sendiri. Teruskan menonton, dan jangan lengah."
Jingga memutar rekamannya sekali lagi, hanya sekali, dengan earphone terpasang. Suara Mei yang menghina ibunya terdengar jernih, kata demi kata, tanpa satu pun keraguan di dalamnya. Tangan Jingga gemetar di atas meja. Ia menyimpan salinan rekaman itu ke dua tempat: ke komputernya dan ke email yang hanya ia sendiri yang tahu kata sandinya.
"Belum cukup, katanya," gumam Jingga pada layar ponselnya. "Tidak apa-apa. Aku bisa sabar. Aku sudah berlatih dua tahun."
Jingga menatap ke luar jendela kantornya, ke arah kota yang sibuk di bawah sana.
'Dia mulai ceroboh,' batinnya. 'Karena dia mulai merasa terancam. Dan dia merasa terancam karena Kak Kevin memilihku.'
Untuk pertama kalinya, rencana dan perasaannya berjalan ke arah yang sama, dan Jingga tidak tahu apakah itu kabar baik atau kabar buruk.