Tiara tidak pernah menunggu orang lain menyelesaikan masalahnya.
Dua hari setelah Irvan menolak membantunya, ia duduk di sofa apartemennya dengan laptop terbuka, segelas kopi dingin yang sudah lama tidak disentuh, dan sebuah amplop cokelat dari seorang teman lama yang bekerja di biro jasa investigasi swasta. Temannya itu tidak bertanya untuk apa, dan Tiara tidak menjelaskan. Begitulah cara orang-orang seperti mereka bersahabat.
Di dalam amplop itu ada tiga lembar kertas dan beberapa foto cetak.
Lembar pertama membuat alis Tiara bertaut.
Jingga Broto. Umur dua puluh tahun. Putri tunggal almarhum Karim Broto, pemilik HA Express, perusahaan ekspedisi yang cukup disegani. Ibunya, Melinda, meninggal dua tahun lalu. Ayahnya menyusul setahun kemudian. Gadis itu mewarisi sebagian besar saham perusahaan dan sekarang duduk sebagai pemimpin tertinggi di usia yang bahkan belum cukup untuk memesan minuman di beberapa negara.
"Jadi dia bukan gadis biasa," gumam Tiara.
Lembar kedua membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Alamat tempat tinggal: rumah keluarga Broto. Rumah yang sama yang tercatat sebagai tempat tinggal Mei Anjani Broto—yang di atas kertas bernama Mei Anjani Pratama sejak pernikahan kontraknya dengan Kevin. Rumah yang sama tempat Kevin menginap selama berbulan-bulan terakhir dengan alasan menjaga kesepakatan.
Tiara menatap baris-baris itu lama sekali.
Jingga Broto. Anak tiri Mei. Tinggal satu atap dengan Kevin. Makan satu meja dengan Kevin. Gadis yang membuat Kevin lupa waktu, lupa janji, dan belakangan ini, lupa mengangkat teleponnya.
Dan lembar ketiga adalah pukulan terakhir: catatan kecil dari biro investigasi itu, bahwa beberapa pekan lalu Kevin terlihat mengantar Jingga ke kantor setiap pagi, menjemputnya pulang, dan seorang saksi di pasar malam melihat keduanya bersama.
Tiara meremas kertas itu sampai kusut.
Selama ini ia menelan pernikahan kontrak itu dengan susah payah. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kevin menikahi Mei hanya untuk donor ginjal Sinta, bahwa tidak ada perasaan apa pun, bahwa ia hanya perlu bersabar. Dan sekarang, di saat ia menunggu seperti orang bodoh, Kevin tinggal satu atap dengan seorang gadis dua puluh tahun yang cantik, kaya, dan muda.
Tanda-tandanya sebenarnya sudah ada sejak lama. Tiara hanya menolak membacanya.
Kevin yang mulai sering menatap ponselnya sambil tersenyum sendiri. Kevin yang membatalkan makan malam mereka tiga kali dalam sebulan dengan alasan rapat. Kevin yang minggu lalu, di tengah makan malam mereka di apartemen, tiba-tiba bertanya apakah Tiara pernah makan sosis bakar di pasar malam—pertanyaan paling aneh yang pernah keluar dari mulut pria itu selama tiga tahun mereka bersama.
Pasar malam. Tiara menutup matanya. Tentu saja. Pasar malam itu bukan untuknya. Tidak pernah.
Bukan Mei yang harus ia takutkan selama ini.
"Aku mau tahu sendiri seperti apa dia," kata Tiara pada bayangannya di cermin. "Bukan dari kertas. Langsung."
Normal Pov.
Kamis pagi, HA Express berjalan seperti biasa. Truk-truk keluar masuk dari gudang, telepon berdering di setiap meja, dan Lisa sedang menjelaskan jadwal rapat ketika seorang wanita tinggi dengan mantel panjang dan kacamata hitam melintasi lobi seperti pemilik gedung.
"Maaf, Mbak, ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis.
"Aku mau bertemu pimpinan kalian. Jingga Broto."
"Apakah Mbak punya janji?"
"Katakan saja Tiara. Dia pasti mau menerimaku."
Resepsionis itu ragu, tapi ada sesuatu dalam nada suara wanita itu yang membuat orang sulit menolak. Lima menit kemudian, Lisa mengetuk pintu ruangan Jingga dengan wajah bingung.
"Bu, ada tamu. Tidak punya janji, tapi ngotot. Namanya Tiara. Model, kayaknya. Dari cara bicaranya... orang penting."
Jingga mengangkat wajah dari berkasnya. Nama itu asing di telinganya, tapi firasatnya tidak. Ada desir kecil di tengkuknya, jenis desir yang selalu datang sebelum sesuatu yang besar terjadi.
"Suruh masuk," katanya.
Tiara masuk ke ruangan itu seperti masuk ke panggung peragaan busana. Mantel dilepas, kacamata dibuka, dan sepasang mata yang tajam menyapu Jingga dari ujung rambut ke ujung meja. Menilai. Menimbang.
Jingga balas menatap dengan tenang. Ia sudah menghadapi direksi tua yang meremehkannya, klien yang mengamuk, dan ibu tiri yang membunuh ayahnya. Satu wanita cantik dengan rahang mengeras tidak akan membuatnya gentar.
"Silakan duduk, Mbak...?"
"Tiara." Wanita itu tidak duduk. Ia berdiri di seberang meja, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan mencondongkan badan. "Aku tidak akan lama-lama. Aku cuma mau melihat sendiri wajah gadis yang membuat Kevin Pratama lupa caranya pulang."
Ruang itu mendadak sunyi. Di luar, suara klakson truk terdengar samar.
Jingga tidak menjawab secepat yang biasa orang lakukan. Ia meletakkan pulpennya pelan-pelan, merapikan berkasnya, baru kemudian mengangkat wajah. Dan ia tersenyum. Manis.
"Mbak Tiara teman Kak Kevin?" tanyanya ramah, seolah mereka sedang membicarakan cuaca.
"Teman?" Tiara tertawa pendek. "Aku kekasihnya. Tiga tahun. Sebelum kamu mungkin bahkan tahu cara mengikat tali sepatu dengan benar. Jadi aku datang ke sini bukan untuk basa-basi. Aku datang untuk menyampaikan satu hal: jangan dekati Kevin. Dia bukan milikmu, dan dia tidak akan pernah jadi milikmu."
Ada hening sesaat. Jingga menatap wanita di depannya, dan di balik senyumnya yang tetap terpasang, kepalanya bekerja cepat. Tiga tahun. Kekasih. Sindiran Irvan di pasar malam, godaan yang bukan godaan, wajah bersalah Kevin malam itu—semuanya tiba-tiba menemukan tempatnya, seperti kepingan puzzle yang menyatu dengan bunyi yang menyakitkan.
Jadi ini. Selama ini, ini.
"Mbak Tiara," ucap Jingga akhirnya, suaranya tetap lembut. "Kalau Mbak merasa kehilangan Kak Kevin, sebaiknya Mbak bicara dengan Kak Kevin. Aku tidak memegang kakinya, tidak mengikat tangannya, dan tidak pernah meminta apa pun darinya. Laki-laki dewasa pergi ke mana ia mau pergi."
"Jangan putar kata-kata!" Tiara memukul meja. "Kamu tinggal satu rumah dengannya! Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu makan satu meja dengannya setiap malam! Gadis macam apa yang melakukan itu pada pria yang sudah punya wanita?"
"Satu rumah?" Jingga mengangkat alis, dan untuk pertama kalinya ada baja tipis di balik suaranya yang lembut. "Rumah itu rumah peninggalan ayahku, Mbak. Aku tinggal di sana karena itu rumahku. Kalau ada orang lain yang ikut tinggal di dalamnya, itu bukan atas undanganku. Percayalah."
Kalimat itu mengenai sasaran. Tiara terdiam sesaat, karena ia tahu betul siapa yang membawa Kevin masuk ke rumah itu. Bukan gadis ini.
Maka Tiara melakukan satu-satunya hal yang tersisa di gudang senjatanya. Ia membuka tas tangannya, mengeluarkan buku cek, dan meletakkannya di atas meja dengan pulpen terbuka.
"Baik. Kalau kamu memang tidak punya hubungan apa-apa dengannya, ini seharusnya mudah." Suara Tiara kembali dingin, dingin seorang wanita yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan rekening bank. "Sebutkan angkanya. Berapa pun yang membuatmu bersedia menjauh dari Kevin. Aku akan menulisnya sekarang, dan kita tidak perlu bertemu lagi."
Jingga menatap buku cek itu. Lalu ia bangkit dari kursinya, perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak Tiara masuk, gadis itu berdiri sejajar dengannya. Senyumnya masih ada. Bahkan semakin manis.
"Mbak Tiara," ucapnya lembut, "ayahku meninggalkan satu perusahaan untukku. Angka berapa pun yang Mbak sanggup tulis di situ, aku bisa menulisnya lebih besar." Ia mendorong buku cek itu kembali dengan dua jari, sopan, seperti mengembalikan menu yang tidak ia pesan. "Simpan saja. Siapa tahu Mbak membutuhkannya untuk membeli kesetiaan orang lain."
Untuk sepersekian detik, wajah Tiara menegang seperti topeng porselen yang hampir pecah.
Tapi kebanggaannya tidak membiarkan ia mundur. "Kamu pikir kamu istimewa? Biar aku beri tahu sesuatu. Kevin mendekatimu bukan karena cinta. Pria itu tidak pernah melakukan apa pun tanpa rencana. Ada alasan dia masuk ke rumahmu, ada alasan dia baik padamu, dan suatu hari kamu akan tahu alasan itu—dan pada hari itu kamu akan ingat perkataanku."
Jantung Jingga berdebar sekali, keras. Tapi wajahnya tidak berubah.
"Terima kasih atas nasihatnya," jawabnya pelan. "Ada lagi?"
Dan tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk.
Kevin berdiri di ambang pintu. Masih dengan jas kerjanya, napasnya sedikit memburu seperti orang yang naik tangga dengan cepat. Lisa tampak panik di belakangnya, mengucapkan maaf yang tidak didengar siapa pun.
Mata Kevin menyapu ruangan. Tiara yang berdiri mencondong ke meja. Jingga yang duduk tegak dengan senyum manis yang sudah lama ia pelajari artinya. Dua wanita dalam hidupnya, dalam satu ruangan yang tiba-tiba terasa sangat kecil dan sangat panas.
"Tiara," suara Kevin keluar rendah dan berbahaya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Tiara berbalik menghadapnya, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, suaranya kehilangan kendali. "Aku? Aku yang seharusnya bertanya padamu, Kevin! Tiga tahun aku menunggumu. Tiga tahun! Dan aku harus mencari tahu dari kertas investigasi bahwa kekasihku tinggal serumah dengan anak tiri istrinya sendiri?"
Jingga Pov.
Aku duduk di kursiku, di antara dua orang yang saling menatap seperti dua petir yang menunggu siapa menyambar duluan, dan aku merasa seperti penonton di pertunjukan yang seharusnya tidak kutonton.
Kekasihnya. Tiga tahun. Benar nyata, bukan gosip pasar malam.
Seharusnya aku merasa menang. Ini celah. Ini kelemahan Kevin yang bisa kupakai untuk rencanaku. Mei akan hancur kalau tahu suami kontraknya punya kekasih model yang berani datang ke kantor anak tirinya. Semua ini amunisi.
Tapi kenapa dadaku sesakit ini?
Kenapa yang paling keras terngiang di kepalaku bukan kata "kekasihnya", tapi kalimat Tiara yang terakhir: Kevin tidak pernah melakukan apa pun tanpa rencana. Ada alasan dia baik padamu.
Karena jauh di dalam hatiku, aku tahu itu benar. Aku sendiri masuk ke hidupnya dengan rencana. Kami berdua sama-sama memakai topeng. Dan mungkin, justru karena itu, aku yang paling tidak berhak marah.
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Di tengah ruangan itu, di antara dua wanita yang diam menatapnya dengan dua jenis badai yang berbeda di mata masing-masing, Kevin Pratama untuk pertama kalinya dalam hidupnya tidak tahu harus berkata apa.
Dan di luar pintu, di ujung koridor, Lisa yang penasaran setengah mati menahan napas sambil berpura-pura merapikan map.