Kevin berdiri di tengah ruangan, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, dan belum juga menemukan kata-kata. Tiara dengan amarah yang menyala-nyala. Jingga dengan senyum manis yang sudah lama Kevin pelajari artinya.
"Tiara." Suara Kevin keluar rendah, terkendali, justru karena itu terdengar lebih berbahaya. "Keluar. Sekarang."
"Tidak." Tiara berbalik menghadapnya, matanya merah tapi kering. Perempuan yang bertahan di dunia model internasional tidak menangis di depan rivalnya. "Tidak sebelum kamu menjawab di depannya. Aku mau dia mendengar langsung dari mulutmu. Tiga tahun, Kevin. Siapa aku bagimu?"
Jingga bangkit dari kursinya.
Gerakannya tenang, tidak tergesa-gesa. Ia merapikan berkas di mejanya, menutup map merahnya, lalu berdiri menghadap keduanya dengan postur seorang pemilik ruangan.
"Maaf," ucapnya halus, "kalian boleh melanjutkan ini di mana saja, tapi tidak di sini. Ini kantor saya. Di luar sana ada seratus lebih karyawan yang bekerja, dan saya tidak mau gosip menjadi bagian dari gaji mereka."
Tiara menatapnya tajam. "Kamu tidak usah pura-pura elegan di depanku."
"Saya tidak pura-pura, Mbak Tiara." Jingga tersenyum, dan entah kenapa senyum itu membuat Tiara semakin geram. "Saya memang elegan. Lisa!"
Pintu terbuka. Lisa masuk dengan wajah pucat, sudah berdiri di luar sejak tadi dengan hati yang berdebar-debar.
"Antarkan tamu kita sampai ke lobi," kata Jingga. "Dan untuk Kak Kevin—" Ia menoleh ke arah pria itu, sekilas saja, tidak lebih lama dari yang sopan. "Pintu keluar ada di sebelah kiri. Terima kasih atas kunjungannya."
Kevin merasa kalimat itu seperti pintu yang ditutup di depan hidungnya.
Normal Pov.
Di area parkir basement, di antara pilar-pilar beton yang menyimpan gema, Tiara akhirnya melepaskan tangannya dari genggaman Kevin.
"Lepaskan aku begitu turun ke sini, tapi tadi tidak berani membuka mulut di depannya?" suara Tiara bergetar. "Kamu tahu betapa murahnya aku merasa sekarang?"
"Aku menarikmu keluar karena itu bukan tempatnya. Itu kantornya, Tiara. Bukan panggung kita."
"Panggung kita?" Tiara tertawa, dan kali ini air matanya benar-benar jatuh. "Tiga tahun aku menjadi panggungmu, Kevin. Aku menunggumu menyelesaikan kontrak gila itu. Aku menelan semua kompromi. Aku tidak pernah menuntut status karena aku tahu posisimu sulit. Dan sekarang, ketika aku bertanya siapa aku bagimu, kamu diam?"
Kevin mengacak rambutnya. "Tiara, dengarkan—"
"Dengarkan apa?" Tiara memundurkan langkahnya, seolah jarak bisa melindunginya dari kata-kata. "Kamu tahu, setiap kali kamu pergi tengah malam, aku selalu bilang pada diriku sendiri: dia pulang ke istrinya di atas kertas, tidak apa-apa. Aku bisa menelan itu. Aku menelan itu dua tahun. Yang tidak bisa kutelan adalah mengetahui bahwa kamu tidak pernah benar-benar pulang ke rumah itu untuknya. Kamu pulang untuk orang lain. Dan orang itu bahkan bukan aku."
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."
"Justru itu yang paling kejam, Kevin." Tiara menggeleng pelan. "Kalau kamu berniat, setidaknya aku pernah berarti. Tapi kamu menyakitiku sambil lalu. Seperti orang menepuk bahu orang asing di jalan."
"Jawab satu hal." Tiara maju selangkah, menatapnya lurus. "Kamu mencintainya?"
Hening.
Di basement yang dingin itu, di antara bunyi tetesan air entah dari pipa mana, Kevin Pratama tidak menjawab. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Justru karena ia tahu, dan jawaban itu membuat seluruh rencana hidupnya terasa seperti rumah kartu yang disentuh angin.
Tiara mengangguk pelan, dua kali, sambil tersenyum patah. "Itu dia. Itu jawabannya."
"Tiara—"
Tamparan itu datang cepat. Keras. Suara telapak tangan bertemu pipi bergema di antara pilar, dan seorang satpam di ujung lajur buru-buru memalingkan wajah.
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" bisik Tiara. "Bukan bahwa kamu mencintai orang lain. Tapi bahwa kamu bahkan tidak cukup jantan untuk mengatakannya."
Ia berbalik, masuk ke mobilnya, dan pergi dengan ban yang memekik di lantai beton.
Kevin berdiri di sana cukup lama. Pipi kirinya panas. Tapi yang lebih panas adalah dadanya, karena kalimat Tiara menancap tepat di tempat yang paling ia takuti.
Kevin Pov.
Aku mengendarai Harley tanpa tujuan selama hampir satu jam.
Lampu kota berlarian di kaca helmku. Dingin menusuk jaketku. Tapi tidak ada satu pun yang cukup keras untuk menenggelamkan pertanyaan Tiara di basement tadi.
Kamu mencintainya?
Aku tidak menjawab. Tiara menganggap diamku pengakuan. Dan yang lebih parah dari itu: dia benar.
Aku tidak tahu kapan tepatnya semua berubah. Mungkin saat gadis itu menolak churros-ku dan membiarkannya utuh semalaman di depan pintu kamarnya. Mungkin saat ia tertawa di pasar malam dengan pria lain dan dadaku terasa ditinju dari dalam. Mungkin saat ia menyebutkan alamat rumahnya pada sopir taksi dengan suara lelah, dan aku menyadari bahwa aku tahu persis alamat itu karena aku pulang ke sana setiap malam dengan perasaan yang tidak lagi sama seperti bulan-bulan sebelumnya.
Atau mungkin jauh lebih awal. Mungkin sejak hari pertama ia datang ke kantorku, menatapku tanpa sedikit pun gentar, padahal seluruh kota ini selalu menyimpan rasa takut padaku di belakang senyum mereka. Gadis itu tidak. Gadis itu menatapku seperti menatap teka-teki yang ingin ia pecahkan, dan tanpa sadar aku membiarkannya masuk terlalu dalam.
Aku memanfaatkannya untuk menyakiti Mei. Itu rencananya. Rencana yang rapi, dingin, dan mudah kujalankan karena aku tidak pernah merasa apa-apa pada siapa pun.
Tapi rencana tidak pernah meminta izin sebelum berubah menjadi perasaan.
Di lampu merah ketiga, aku berhenti dan menatap pantulan diriku di kaca toko yang gelap. Pria dengan jaket kulit dan motor besar yang tidak tahu harus pulang ke mana. Aku teringat malam-malam belakangan ini: aku pulang lebih cepat dari kantor hanya untuk mendengar suaranya di meja makan. Aku menunda rapat hanya untuk mengantarnya. Aku membeli bunga dengan warna namanya dan merasa seperti orang paling bodoh sekaligus paling beruntung di dunia.
Ini bukan rencana. Ini jatuh cinta, dan aku terlambat menyadarinya sejauh bertahun-tahun.
Dan sekarang aku berdiri di tengah jalan, kehilangan Tiara yang menungguku tiga tahun, dan tidak tahu bagaimana cara meminta Jingga memaafkanku untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa kujelaskan. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku mendekatinya karena dendam, tapi bertahan karena dia? Bagaimana aku menjelaskan tanpa membuatnya membenciku selamanya?
Aku menepikan motor di bahu jalan dan menatap lampu-lampu kota.
"Cerry," gumamku pada angin malam. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Kevin Pov End.
Normal Pov.
Malam itu, di rumah keluarga Broto, meja makan hanya diisi dua orang.
Mei makan dengan tenang, sesekali melirik kursi kosong di seberangnya. "Tidak turun juga?" tanyanya pada Mang Asep, manis sekali. "Gadis itu masih ngambek karena bunga-bunga kemarin?"
"Non Jingga bilang sedang tidak lapar, Nyonya," jawab Mang Asep datar.
"Atau sedang patah hati." Mei menyesap supnya dengan senyum kecil. "Kudengar ada pertunjukan menarik di kantornya hari ini. Seorang model cantik datang melabrak. Aduh, betapa malunya."
Mang Asep tidak menjawab, tapi tangannya yang mengatur piring sedikit lebih keras dari biasanya.
Di lantai dua, di balik lemari besar di kamar mendiang ayahnya, Jingga duduk di ruang pengintai dengan lutut ditarik ke dada.
Ia sudah menangis. Sepuluh menit, tidak lebih. Ia memberi dirinya jatah tepat sepuluh menit untuk merasakan semuanya: malu karena dilabrak di kantornya sendiri, sakit karena kata "kekasihnya, tiga tahun", dan marah karena ia merasa sakit padahal tidak punya hak untuk merasa sakit.
Setelah sepuluh menit, ia menghapus air matanya, membuka buku catatannya, dan menatap monitor.
Di layar ketiga, taman belakang, Mei sedang menelepon. Berdiri di dekat pagar samping, melihat ke kiri dan kanan, lalu tertawa kecil pada suara di seberang sana. Tawa yang jarang sekali Jingga lihat. Tawa orang yang sedang merencanakan sesuatu yang menyenangkan.
Jingga menulis di bukunya dengan huruf yang rapi: "Kamis, 21.40. Taman belakang. Telepon 14 menit. Tertawa. Sesudahnya menghapus sesuatu dari ponselnya."
Ia menatap layar itu lama, sampai sosok Mei menghilang kembali ke dalam rumah. Lalu ia membalik halaman-halaman catatannya ke belakang, membaca ulang semua yang sudah ia kumpulkan. Paket dari pria bertopi. Telepon-telepon tengah malam. Rekaman ucapan Mei di dapur yang hampir menjadi pengakuan. Catatan apotek yang sudah ada di tangan Tono.
Semuanya masih berupa potongan-potongan. Tapi potongan-potongan itu mulai membentuk gambar, dan gambar itu mulai membentuk wajah: wajah seorang wanita yang selama dua tahun tidur nyenyak karena mengira tidak ada seorang pun yang menonton.
"Sekarang ada yang menonton," bisik Jingga pada layar-layar itu. "Dan aku tidak pernah tidur lebih dulu."
"Fokus," bisik Jingga pada dirinya sendiri, pada kegelapan ruang pengintai, pada foto ayahnya yang tergantung di kamar sebelah. "Cinta boleh membuatmu menangis sepuluh menit. Tapi Mei tidak akan menghancurkanmu, kalau kau lebih dulu menghancurkannya."
Di luar, angin malam menggoyang mawar-mawar peninggalan ibunya. Di kamarnya yang dingin di sayap barat, Kevin menatap ponselnya, mengetik pesan untuk Jingga, menghapusnya, mengetiknya lagi, dan akhirnya hanya menulis satu kalimat yang tidak pernah ia kirimkan.
Kalimat itu berbunyi: "Bisa kita bicara? Bukan sebagai apa-apa. Hanya sebagai aku dan kamu."
Ia menatapnya sampai layar ponselnya padam sendiri, lalu menyimpan ponsel itu menghadap ke bawah di atas meja, seperti orang menyimpan surat yang tidak pernah punya alamat.
Dan rumah besar itu pun tidur dengan tiga penghuninya yang sama-sama tidak tidur.