Keesokan paginya, rumah keluarga Broto dikejutkan oleh pemandangan yang belum pernah terjadi: Mei berdiri di dapur, mengenakan celemek, menuangkan kopi ke cangkir dengan tangannya sendiri.
Mang Asep sampai berhenti memotong bawang. Dalam dua puluh tahun mengabdi di rumah ini, ia bisa menghitung dengan jari sebelah tangan berapa kali Mei menyentuh dapur.
"Kau tegang sekali, Mang Asep," ujar Mei tanpa menoleh. "Santai saja. Aku hanya membuatkan kopi untuk suamiku. Bukankah itu yang dilakukan istri yang baik?"
Di meja makan, Kevin membaca pesan-pesan kantornya dengan wajah yang belum sepenuhnya kembali dari badai semalam. Jingga duduk di seberangnya, sopan dan rapi seperti biasa, tapi matanya mengikuti setiap gerakan Mei dari dapur ke meja.
Ada tiga cangkir. Satu diletakkan Mei di depan Kevin, dengan senyum yang dipoles sempurna.
"Minumlah. Aku ingin menebus suasana kemarin. Anggap ini bendera damai."
Jingga Pov.
Alarm di kepalaku berbunyi keras sekali.
Aku membuka buku catatanku semalam, sebelum tidur. Dua hari lalu: paket kecil dari pria bertopi, diterima Mei sendiri di pagar samping, langsung dibawa ke kamarnya. Semalam: telepon empat belas menit di taman belakang, tertawa, lalu menghapus sesuatu.
Dan pagi ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah rumah ini, Mei membuatkan kopi.
Aku tahu pola ini. Aku pernah melihatnya sekali, dulu, dan aku menukar cangkirnya tanpa Mei pernah tahu sampai hari ini. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dia berdiri di sini, menunggu, menonton. Dia tidak akan pergi sebelum melihat Kak Kevin meneguk kopi itu.
Tanganku terasa dingin. Otakku berputar mencari jalan.
Kevin mengangkat cangkirnya.
"Mang Asep!" seruku tiba-tiba, sambil bangkit berdiri. "Lauknya! Itu kan kesukaan Kak Kevin, cepat bawa ke sini sebelum dingin."
Semua kepala menoleh. Mang Asep yang bingung buru-buru bergerak ke dapur. Mei menoleh tajam ke arahku, dan Kevin ikut menoleh, cangkirnya menggantung di udara.
Detik itu juga, tanganku bergerak di atas meja. Cangkir di depan Kevin dan cangkir di depan Mei bertukar tempat. Dua cangkir putih polos yang sama, tidak ada yang bisa membedakannya kecuali orang yang menuangnya.
Dan orang itu sedang menatapku dengan tatapan yang kupaksakan tetap cerah.
"Ada apa, sih?" tanya Mei, alisnya bertaut.
"Tidak ada apa-apa." Aku duduk kembali, tersenyum. "Aku cuma lapar. Selamat minum kopi perdamaian, Bu. Kak Kevin, diminum, jangan-jangan Bu Mei tersinggung."
Kevin menatapku sebentar, ada sesuatu yang hangat melintas di matanya karena aku akhirnya bicara padanya lagi, lalu ia meneguk kopinya.
"Enak," katanya. "Terima kasih."
Mei tampak puas. Ia duduk, mengangkat cangkirnya sendiri, dan meminumnya sampai habis sambil sesekali melirik Kevin, seperti petani yang melirik langit menunggu hujan.
Aku menunduk, menyembunyikan tanganku yang gemetar di balik meja.
'Tunggu saja,' batinku. 'Mari kita lihat apa isi paket dari pria bertopi itu.'
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Jawabannya datang kurang dari satu jam kemudian.
Mei sedang berada di ruang keluarga ketika wajahnya tiba-tiba memucat. Dimulai dari tengkuknya. Rasa panas yang aneh merayap turun ke punggung, lalu ke lengan, seolah ada air mendidih yang dialirkan ke dalam pembuluh darahnya. Ia memegang sandaran sofa, menggeleng beberapa kali seperti menolak kabut yang tiba-tiba masuk ke kepalanya. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
Lalu kakinya goyah.
"Nyonya!" Mang Asep buru-buru menghampiri.
"Jangan... jangan sentuh aku." Mei berusaha menajamkan pandangannya. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Tubuhnya terasa asing bagi dirinya sendiri, dan di tengah kepanikan itu, satu kesadaran menghantamnya lebih keras dari gejala mana pun: ia tahu perasaan ini.
Ia tahu persis, karena ia yang memesannya.
Benda itu seharusnya bekerja pada Kevin. Seharusnya membuat pria itu kehilangan kendali, melunak, mendekat, dan pada akhirnya melupakan gadis cilik itu selamanya. Seharusnya malam ini menjadi malam yang mengubah segalanya, yang memberinya sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat oleh kontrak mana pun.
Tapi sekarang benda itu mengalir di dalam tubuhnya sendiri.
"Ini..." bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. "Tidak mungkin."
"Nyonya, saya panggilkan dokter ya?"
"TIDAK!" bentak Mei, lalu sadar nadanya terlalu tinggi. Dokter berarti pemeriksaan. Pemeriksaan berarti darah. Darah berarti orang lain akan tahu ada zat aneh di dalam tubuhnya. Ia menurunkan suaranya dengan susah payah. "Tidak usah. Aku hanya... kurang tidur. Aku ke kamar. Jangan ganggu aku sampai sore."
Dengan langkah yang ia paksa tetap tegak, Mei naik ke kamarnya, mengunci pintu, dan merosot ke lantai dengan napas memburu.
Di atas ranjangnya, selama berjam-jam, ia berbaring menatap langit-langit sambil menunggu obat itu habis masa kerjanya. Dan dalam keadaan setengah sadar itu, ingatannya melayang jauh ke belakang. Ke dapur rumah ini bertahun-tahun lalu. Ke gelas-gelas susu hangat yang ia serahkan pada Karim dengan senyum seorang istri. Ke wajah pria itu yang perlahan-lahan memucat dari bulan ke bulan tanpa satu dokter pun mengerti kenapa.
Dulu ia yang berdiri di balik cangkir. Hari ini ia yang menelannya.
Dan untuk pertama kalinya, di tengah jantungnya yang berdebar-debar, Mei merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Bukan takut pada obatnya. Tapi takut pada kemungkinan bahwa di rumah ini ada orang yang tahu persis permainan apa yang sedang ia mainkan, dan memutuskan untuk memainkannya kembali.
Dari balik jendela kamarnya yang tertutup, tidak ada yang melihat wanita itu meremas gorden sampai buku-buku jarinya memutih, sambil mengutuk dalam hati orang yang telah menukar cangkir itu.
Karena sekarang ia yakin: seseorang telah menukarnya. Dan orang itu ada di rumah ini.
Normal Pov.
Jingga tidak membuang waktu.
Begitu rumah sunyi—Kevin sudah ke kantor, Mei terkunci di kamarnya—ia turun ke dapur. Tempat cuci piring masih seperti tadi. Mang Asep sedang ke belakang mencuci baju. Jingga mengambil cangkir yang diminum Mei, cangkir yang tadi pagi ditujukan untuk Kevin.
Di dasarnya masih ada sisa ampas kopi, dan di sela ampas itu, endapan tipis keputihan yang tidak larut sempurna.
Tangan Jingga tidak gemetar kali ini. Ia sudah menyiapkan kantong plastik kecil dan sendok bersih sejak tadi. Ia mengeruk endapan itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam plastik, melipatnya rapat, dan menyelipkannya ke saku blazer-nya seperti orang menyelipkan sebatang lipstik.
Lalu ia mencuci cangkir itu sampai bersih, mengembalikannya ke rak, dan duduk di meja makan sambil menekan dadanya sendiri yang berdebar.
Jingga Pov.
Kenapa aku melakukan semua ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja saat aku menatap kantong plastik kecil di tanganku. Kalau aku membiarkan Kak Kevin meminumnya, rencanaku justru berjalan lebih mulus. Kevin yang jatuh dalam perangkap Mei adalah Kevin yang akan kubenci selamanya, dan membencinya membuat semuanya lebih mudah.
Tapi aku menukar cangkir itu. Tanpa berpikir. Seperti refleks.
'Karena kalau dia jatuh, rencanamu ikut jatuh,' kataku pada diriku sendiri. 'Hanya itu. Hanya karena itu.'
Aku mengulanginya sampai terdengar benar. Persis seperti yang biasa dilakukan orang yang sedang berbohong pada dirinya sendiri.
Jingga Pov End.
Sore itu juga, Jingga menemui Tono di warung kopi yang sama. Kantong plastik kecil itu berpindah tangan di bawah meja, seperti dalam film-film kriminal yang dulu Jingga tertawakan.
"Endapan dari cangkirnya," jelas Jingga pelan. "Dia menuangkannya sendiri ke kopi Kevin. Aku menukar cangkirnya dengan cangkir Mei. Dia meminumnya sendiri, dan sekarang dia mengurung diri di kamar sejak siang."
Tono menatap kantong itu, lalu menatap Jingga dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan ini berbahaya," katanya akhirnya. "Kalau dia sadar—"
"Dia sudah sadar ada yang menukar. Dia hanya belum tahu siapa." Jingga menatap tunangan sepupunya itu. "Tono, tes ini. Apa pun isinya. Kalau wanita itu bermain dengan obat untuk suaminya sendiri, itu pola. Pola yang sama dengan apa yang dia lakukan pada ayahku."
Tono menghela napas panjang. Ia memutar gelas kopinya yang sudah dingin, dan Jingga bisa melihat pergulatan di wajah pria itu. Sebagai polisi, ia tahu semua jalur resmi. Sebagai calon keluarga, ia tahu persis siapa yang ada di dalam rumah itu.
"Aku jadi polisi karena aku percaya orang jahat harus jatuh oleh bukti, bukan oleh keberuntungan," ucapnya akhirnya, pelan. "Yang kamu lakukan sekarang... kamu sedang berjalan di garis yang tipis sekali, Jingga. Satu langkah salah, kamu bukan saksi lagi. Kamu jadi target."
"Aku sudah jadi target sejak dua tahun lalu," jawab Jingga. "Cuma baru sekarang aku membalas."
Tono menatapnya lama, lalu mengangguk kecil, seperti orang yang kalah argumen dan tahu itu. Ia memasukkan kantong itu ke saku dalam jaketnya. "Ada kenalanku di laboratorium. Tidak resmi, jadi tidak bisa langsung jadi bukti pengadilan. Tapi cukup untuk memberi tahu kita sedang berhadapan dengan apa."
"Berapa lama?"
"Tiga, empat hari." Tono berdiri, lalu berhenti. "Jingga. Nada menyuruhku menjagamu. Mulai sekarang, jangan pernah makan atau minum apa pun di rumah itu yang tidak kau lihat dibuat di depan matamu."
Malamnya, di kamar yang masih terkunci, Mei duduk di tepi ranjangnya dengan tubuh yang sudah pulih tapi kepala yang menyala-nyala.
Ia memutar ulang pagi itu di kepalanya, detik demi detik. Kopi dituang. Cangkir diletakkan. Lalu Jingga bangkit berdiri, berteriak soal lauk, semua orang menoleh...
Semua orang menoleh.
Mei berdiri perlahan. Ia berjalan ke cermin, menatap bayangannya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak gadis itu kembali ke rumah ini, Mei Anjani merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Bukan takut. Tapi waspada.
"Gadis kecil," bisiknya pada cermin. "Kau rupanya bukan sekadar anak kemarin sore."