Kantor hukum itu berada di lantai tiga sebuah gedung tua di pusat kota, dengan plakat kuningan yang sudah kusam bertuliskan nama pemiliknya. Jingga menaiki tangga dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Terakhir kali ia ke sini, ia masih remaja, digandeng ayahnya, dan ditugaskan memilih permen dari toples kaca di meja resepsionis.
Pak Tony menyambutnya sendiri di pintu. Pria itu sudah enam puluh tahun lebih, rambutnya hampir habis, tapi matanya masih setajam dulu ketika ia menjadi kepercayaan Karim Broto selama hampir dua puluh tahun.
Ruangan kerjanya persis seperti ingatan Jingga: rak-rak penuh map dan buku undang-undang, jam dinding kayu yang suaranya seperti ketukan jari, dan aroma kertas tua bercampur kopi. Di dinding belakang meja kerjanya masih tergantung foto hitam putih kantor ini saat pertama dibuka, dan di sudut foto itu, seorang Karim muda berdiri dengan lengan di pundak Pak Tony muda.
"Ayahmu yang memaksaku membuka kantor sendiri," kata Pak Tony, mengikuti arah pandang Jingga. "Waktu itu aku cuma pegawai honorer yang terlalu banyak protes. Dia bilang, orang jujur harus punya kantor sendiri supaya tidak perlu takut pada atasan. Lalu dia jadi klien pertamaku, dan tidak pernah pindah sampai... sampai akhir."
"Kamu tambah tinggi," katanya, menatap Jingga dari atas ke bawah. "Dan tambah mirip ibumu. Sayang sekali kita baru bertemu lagi dalam keadaan seperti ini."
"Seperti apa, Pak?"
"Seperti ini." Pak Tony menutup pintu ruangannya, memastikan tidak ada yang mendengar. "Kamu datang membawa pertanyaan yang sudah dua tahun mengganggu tidurku."
Jingga duduk di kursi tamu. "Wasiat Papa."
Pak Tony mengangguk pelan. Ia membuka lemarinya, mengeluarkan sebuah map tua, dan meletakkannya di meja di antara mereka. "Dengar. Aku mengurus semua urusan hukum ayahmu. Kontrak perusahaan, sertifikat tanah, perjanjian saham, semuanya lewat tanganku. Tapi dua bulan sebelum Karim meninggal, ada satu dokumen yang diubah tanpa aku."
"Wasiat itu?"
"Wasiat itu." Jari Pak Tony mengetuk map tua tersebut. "Wasiat pertama Karim dibuat lima tahun sebelum dia meninggal, di kantorku, di depan mataku. Isinya sederhana: perusahaan dan saham untukmu, sebagian saham untuk adiknya di Surabaya, rumah dan simpanan diatur untuk ibumu. Lalu ibumu meninggal, ayahmu menikahi wanita itu, dan dua bulan sebelum ajalnya, muncul wasiat baru. Bukan dari kantorku. Dari notaris lain di kota sebelah, seorang Notaris Hendrawan yang namanya belum pernah kudengar dalam dua puluh tahun aku berpraktik."
"Isinya berubah?"
"Berubah total. Hampir semua yang seharusnya mengalir kepadamu dialihkan ke atas nama Mei. Rumah, deposito, bahkan disebutkan seolah perusahaan pun akan dipegangnya." Pak Tony mencondongkan badan. "Yang menyelamatkanmu hanya satu: saham HA Express sudah lebih dulu dialihkan ke namamu dan Bibi Sarah-mu lewat akta terpisah bertahun-tahun sebelumnya. Akta itu tidak bisa ditarik oleh wasiat mana pun. Kalau tidak, hari ini kamu tidak akan duduk di kantor itu sebagai pimpinan."
Jingga menelan ludah. "Kenapa Pak Tony tidak melawan waktu itu?"
"Dengan apa?" Pak Tony tertawa getir. "Wasiat baru itu lengkap. Ada materai, ada tanda tangan, ada dua orang saksi. Aku mencurigainya sampai hari ini, tapi curiga bukan alat hukum. Dan perlu kamu tahu, dua bulan sebelum meninggal, ayahmu sudah terlalu sakit untuk bepergian. Aku menjenguknya di rumah. Dia bahkan sulit menandatangani surat kuasa untukku. Tapi wasiat itu katanya ditandatangani di kantor notaris, di kota sebelah, dengan perjalanan dua jam."
Ruangannya hening. Jingga merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.
"Orang yang tidak kuat menandatangani surat kuasa," ucapnya pelan, "tiba-tiba kuat bepergian dua jam untuk mengubah seluruh wasiatnya."
"Sekarang kamu mengerti kenapa tidurku terganggu dua tahun." Pak Tony menyorongkan map itu. "Aku akan mengajukan permintaan salinan asli ke kantor Notaris Hendrawan. Kalau memang ada yang tidak beres, jejaknya pasti tertinggal. Tapi kabar buruknya, Hendrawan sudah pensiun. Kantornya tutup. Arsipnya entah dipindah ke mana. Dan dua saksi di dokumen itu—" Ia membuka halaman terakhir. "—dua nama ini. Aku sudah memeriksanya diam-diam. Satu alamatnya fiktif. Satu lagi... pernah bekerja di klub malam yang dulu dikelola ibu tirimu."
Nama klub itu tidak perlu disebutkan. Keduanya sama-sama tahu dari mana Mei Anjani berasal sebelum ia menjadi Nyonya Broto.
Jingga menggenggam lengan kursinya. "Pak, kalau wasiat itu terbukti diubah dengan cara curang..."
"Maka gugur. Kembali ke wasiat pertama." Pak Tony menatapnya. "Dan ibu tirimu kehilangan segalanya yang selama ini ia sangka miliknya. Tapi Jingga, dengarkan Pak Tua ini baik-baik. Untuk membuka itu, kita butuh lebih dari kecurigaan. Kita butuh dokumen asli, saksi hidup, atau—" ia berhenti sebentar, "—bukti bahwa ayahmu tidak berada dalam kondisi sadar penuh ketika tanda tangan itu dibuat. Obat-obatan yang kamu ceritakan itu, kalau terbukti, akan mengubah segalanya."
Benang-benang itu mulai terhubung di kepala Jingga. Apotek Kurnia. Bi Imah. Pria bertopi. Endapan di dasar cangkir. Dan sekarang, sebuah wasiat yang ditandatangani orang yang sedang diracuni.
Sore itu, dalam perjalanan pulang, ponsel Jingga berdering. Nama yang muncul membuat wajahnya langsung melunak: Bibi Sarah.
"Astaga, akhirnya diangkat juga." Suara khas Surabaya itu terdengar ceria seperti biasa. "Bibi dengar dari Nada kamu sibuk sekali. Makan yang benar, Nak. Perusahaan boleh besar, tapi maag tidak kenal jabatan."
Jingga tertawa kecil. Hanya Bibi Sarah yang bisa membuatnya tertawa dalam hari seberat ini. Adik mendiang ayahnya itu adalah satu-satunya keluarga yang tersisa yang masih terasa seperti keluarga.
"Kamu masih ingat waktu kecil kamu ngambek karena Bibi tidak bawakan lapis legit?" lanjut Sarah. "Kamu sembunyi di gudang, dan semua orang panik mencarimu sampai Maghrib. Ketemu pun kamu sudah tidur di antara karung-karung beras, mulutnya masih ada sisa kue."
"Bibi masih juga ingat itu." Jingga menggeleng, tersenyum sendiri di balik kemudi. "Aku waktu itu umur tujuh, Bi."
"Buat Bibi kamu tetap umur tujuh." Sarah terkekeh. Lalu nadanya turun, lebih pelan. "Ada apa, Nak? Kamu tidak menelepon Bibi di jam kerja kalau tidak ada apa-apa. Bibi kenal kamu sejak kamu belum bisa jalan."
Jingga menarik napas. Ia menceritakan pertemuannya dengan Pak Tony, pelan-pelan, memilih kata dengan hati-hati karena ia tahu bibinya mudah khawatir. Tentang wasiat yang diubah dua bulan sebelum kematian ayahnya. Tentang notaris asing di kota sebelah. Tentang dua saksi yang satu beralamat fiktif dan satu lagi bekas anak buah klub malam Mei.
Di seberang sana, Sarah terdiam cukup lama. Jingga bisa membayangkan bibinya duduk di kursi goyang tuanya, memegang ponsel dengan dua tangan seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.
"Wasiat," ulangnya akhirnya, dan nadanya berubah. "Jingga. Bibi jadi ingat sesuatu. Beberapa bulan sebelum Papamu meninggal, dia mengirim Bibi sebuah amplop lewat pos. Amplop cokelat, tebal, dilakban berlapis-lapis. Dia menelepon khusus untuk itu. Katanya—" suara Sarah bergetar sedikit, "—katanya: Simpan ini baik-baik, Sarah. Jangan dibuka. Kalau nanti aku tidak ada, dan anakku datang bertanya soal wasiat, baru serahkan padanya."
Jingga menepikan mobilnya di bahu jalan. Jantungnya berdebar. "Amplopnya masih ada, Bi?"
"Masih. Di lemari besi Bibi, dua tahun tidak pernah Bibi sentuh. Jujur, Bibi takut. Rasanya seperti menyimpan pesan terakhir kakakku." Sarah menarik napas. "Waktu itu Bibi pikir kakakmu cuma terlalu paham umurnya tidak panjang. Orang sakit memang suka berpamitan dengan cara aneh-aneh. Tapi sekarang Bibi mengerti. Dia tahu sesuatu, Jingga. Dia tahu ada yang tidak beres di rumahnya sendiri, dan dia menitipkan jawabannya ke tempat yang tidak bisa dijangkau wanita itu."
"Bi—"
"Tapi kalau sekarang waktunya... Bibi akan bawa sendiri ke Jakarta. Minggu depan Bibi berangkat. Tidak usah dijemput, Bibi bukan cucu nenek-nenek."
"Bibi yakin mau ke sini? Rumah ini—"
"Rumah ini rumah keluarga Broto," potong Sarah, tegas untuk pertama kalinya. "Dan Bibi adalah Broto terakhir selain kamu. Sudah terlalu lama Bibi membiarkan kalian berdua sendirian di sana. Kakakku pasti malu melihat adiknya pengecut seperti ini."
"Tenang. Bibi juga akan membawa berkas saham yang selama ini dititipkan ke Bibi. Sudah lama Bibi ingin melihat rumah kakakku lagi." Sarah berhenti sejenak, dan suaranya melembut. "Dua tahun Bibi tidak ke sana karena Bibi tidak tahan melihat wanita itu duduk di kursi Mamamu. Tapi sekarang Bibi datang bukan untuk berkabung. Bibi datang untuk perang. Bawakan Bibi kursi terbaikmu, Nak."
Telepon ditutup dengan janji dan doa. Jingga duduk di mobilnya lama sekali, menatap amplop imajiner itu di dalam lemari besi dua ratus kilometer dari sana, yang mungkin berisi suara terakhir ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia merasa tidak berjuang sendirian.
Normal Pov.
Pada jam yang hampir bersamaan, di kamar tidurnya, Mei menerima telepon yang membuat seluruh wajahnya berubah.
"Ulangi," katanya dingin.
Suara di seberang mengulang. Ada orang yang mengajukan permintaan resmi ke kantor notaris yang sudah tutup itu. Menanyakan arsip wasiat atas nama Karim Broto. Namanya tercatat: kantor hukum seorang pengacara tua bernama Tony.
Mei menutup telepon tanpa berkata apa-apa.
Ia berdiri di tengah kamarnya, dan untuk kedua kalinya dalam dua hari, merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Dua hari lalu cangkirnya ditukar. Sekarang, seseorang mengorek wasiat yang sudah dua tahun aman terkubur.
Dua kejadian. Dua arah serangan. Dan di rumah ini, hanya ada satu orang yang punya alasan untuk keduanya.
Mei berjalan ke jendela. Kebetulan sekali, mobil Jingga baru saja masuk ke halaman. Gadis itu turun dengan wajah lelah tapi puas, menggenggam ponselnya seperti menggenggam kemenangan kecil.
Mei menatapnya dari balik tirai, lama sekali.
"Baiklah," bisiknya. "Ternyata aku harus turun tangan sendiri."