Sinta datang ke rumah keluarga Broto tanpa memberi tahu siapa pun.
Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil berhenti di halaman, dan dari dalamnya seorang wanita paruh baya diturunkan bersama kursi rodanya oleh sopir pribadinya. Rambutnya digelung rapi, pakaiannya mahal tapi tidak berlebihan, dan wajahnya menyimpan jejak kecantikan yang tidak hilang bahkan setelah bertahun-tahun bertarung dengan ginjalnya sendiri.
Mang Asep yang membukakan pintu sampai terdiam. "Nyonya... Sinta?"
"Mana anakku?" tanya Sinta lembut. "Dan mana gadisnya?"
Berita kedatangan ibu Kevin menjalar lebih cepat dari api. Mei turun dari kamarnya dengan daster terbaik dan senyum yang baru saja dipoles, mendapati Sinta sudah duduk di ruang keluarga, di kursi roda, menatap foto-foto keluarga Broto di dinding dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Mama! Kenapa tidak bilang mau datang? Aku bisa menyiapkan—"
"Menyiapkan apa?" Sinta menoleh, tersenyum sopan. Sopan yang dingin. "Aku bukan tamu, Mei. Aku ibu dari suamimu. Kalau kau mau menyiapkan sesuatu, siapkan saja teh. Dan jangan pakai gula, aku sudah tidak boleh."
Mei menelan kalimatnya sendiri. "Tentu. Biar aku yang buatkan."
"Tidak usah." Suara lain muncul dari tangga. Jingga turun dengan langkah cepat, rambutnya sedikit berantakan karena baru saja dari ruang pengintai, tapi ia berhasil merapikannya di sepanjang lorong. "Aku yang buatkan, Tante. Mang Asep, air panasnya masih ada?"
Sinta menatap gadis itu. "Kamu tahu aku suka teh apa?"
"Belum tahu, Tante. Tapi aku akan belajar mulai hari ini." Jingga tersenyum, lalu benar-benar masuk ke dapur.
Mei berdiri di tengah ruang keluarganya sendiri, memegang senyum yang sudah tidak ada gunanya, dan untuk pertama kalinya merasa seperti perabot.
Normal Pov.
Teh itu diminum di taman belakang, di antara mawar-mawar peninggalan Melinda. Sinta meminta didorong ke sana, dan ia meminta Jingga, bukan Mei, yang mendorong kursi rodanya.
"Mawar siapa ini?" tanya Sinta.
"Mamaku. Dulu dia yang menanamnya. Katanya mawar itu jujur. Kalau tidak dirawat, dia mati. Kalau dirawat, dia berbunga. Tidak bisa pura-pura."
Sinta tersenyum kecil. "Ibumu orang bijak."
"Ibuku orang yang terlalu percaya," jawab Jingga pelan, lalu sadar kalimatnya terlalu jujur untuk tamu pertama kalinya. Tapi Sinta hanya mengangguk, seolah ia justru menunggu jawaban seperti itu.
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman beberapa saat. Di dalam rumah, dari balik jendela dapur, sepasang mata mengawasi mereka tanpa berkedip.
"Jingga," ucap Sinta akhirnya. "Kamu tahu kenapa Kevin terikat pernikahan itu?"
"Sedikit, Tante."
"Karena aku." Suara Sinta retak di tepinya. "Karena ginjalku. Wanita itu memegang informasi donor yang katanya cocok untukku, dan anakku menukar kebebasannya dengan itu. Aku sudah menyuruhnya melepaskan saja. Biarkan ibu tua ini mati dengan tenang. Tapi Kevin—" Ia menggeleng. "Kevin itu keras kepala seperti ayahnya. Dia lebih suka mengorbankan dirinya sendiri daripada membiarkan orang yang ia cintai pergi."
Jingga tidak menjawab. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, di tempat yang selama ini ia jaga tetap dingin.
"Kamu tahu, Kevin tidak selalu sedingin itu," lanjut Sinta, pandangannya melayang ke mawar-mawar. "Waktu kecil dia anak yang paling tidak bisa melihat orang menangis. Ada anak tetangga jatuh dari sepeda, Kevin yang menggendongnya pulang sambil berteriak minta tolong, padahal badannya sendiri kurus seperti ranting. Lalu ayahnya meninggal, dan dia mewarisi perusahaan di umur yang seharusnya dia masih bermain-main. Semua orang datang kepadanya dengan perhitungan. Semua orang ingin sesuatu darinya. Lama-lama dia belajar bahwa dingin itu aman."
Sinta menyesap tehnya pelan.
"Aku tidak bilang itu untuk membelanya. Anakku sudah melakukan banyak hal yang tidak bisa dibela. Tapi aku ingin kamu tahu: pria dingin yang kamu lihat itu bukan Kevin yang asli. Itu dinding. Dan dinding tidak dibangun untuk orang yang tidak punya apa-apa di dalamnya."
Jingga menunduk. Ia teringat churros yang ditinggalkan utuh di depan pintunya. Mawar jingga di meja makan. Pria yang menghitung menit kepulangannya seperti orang menunggu kabar dari medan perang.
"Dindingnya mulai rusak, Tante," ucap Jingga akhirnya, sangat pelan, hampir hanya untuk dirinya sendiri.
"Aku tahu." Sinta tersenyum kecil. "Itulah kenapa aku datang. Aku ingin melihat sendiri orang yang merusaknya."
"Aku datang ke sini bukan untuk memeriksamu," lanjut Sinta. "Aku datang untuk meminta maaf. Rumah ini, pernikahan itu, semua kekacauan ini—sebagian karena penyakitku. Dan kamu, gadis yang seharusnya membenci keluargaku, malah membuatkanku teh."
"Tante tidak perlu minta maaf." Jingga menunduk, memandangi mawar di depannya. "Tante hanya sedang sakit. Yang bersalah itu orang yang menjadikan sakit Tante sebagai alat tukar."
Sinta menatap Jingga lama. Lalu tangannya yang kurus terulur, menggenggam tangan gadis itu.
"Kevin tidak pernah membawa siapa pun ke hadapanku selama tiga tahun terakhir," katanya pelan. "Tidak sekali pun. Tapi dua hari lalu dia meneleponku, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, suara anak itu terdengar... hidup. Dia tidak bilang karena apa. Tapi ibu selalu tahu."
Jingga Pov.
Tangan Tante Sinta dingin dan kurus di genggamanku, tapi ada kekuatan aneh di dalamnya. Kekuatan seorang ibu yang berpamitan pelan-pelan pada dunia dan masih sempat mengurus masa depan anaknya.
Aku ingin membencinya. Sungguh. Membenci keluarga ini akan membuat semuanya sederhana. Tante Sinta adalah ibu Kevin, dan Kevin adalah suami wanita itu, dan seharusnya semua yang berhubungan dengan mereka adalah musuhku.
Tapi bagaimana caraku membenci seorang ibu yang menggenggam tanganku dan berterima kasih untuk secangkir teh?
Bagaimana caraku membenci seorang ibu, aku yang kehilangan ibuku?
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Kevin pulang lebih cepat hari itu. Bukan karena rapatnya selesai, melainkan karena sopir ibunya meneleponnya: Mama ke rumah Jingga, sendirian, tanpa bilang-bilang.
Ia memacu Harley-nya seperti orang kesurupan, masuk ke halaman, dan berhenti mendadak di depan pintu taman.
Di sana, di antara mawar-mawar, ibunya tertawa.
Sinta tertawa. Bunyi yang sudah bertahun-tahun tidak Kevin dengar, bunyi yang ia kira sudah hilang ditelan obat-obatan dan kursi roda. Dan di depan ibunya, Jingga sedang menirukan sesuatu—tampaknya gaya direksi tua di kantornya—dengan muka serius yang dibuat-buat, sampai Sinta memukul lengan kursi rodanya saking geli.
Kevin tidak bergerak. Ia berdiri di ambang pintu taman seperti orang yang takut meniup sesuatu yang rapuh.
"Kak Kevin?" Jingga yang menyadarinya lebih dulu. Tawanya mereda, digantikan kerapuhan sopan yang biasa. "Tante dari tadi menunggu."
"Bukan menunggu kamu," Sinta menyahut, masih terkekeh. "Tapi boleh juga kalau mau disambar."
Malam itu mereka makan bertiga—berempat, kalau Mei yang muram di ujung meja dihitung. Untuk sekali, rumah besar itu terdengar seperti rumah: ada tawa, ada cerita, ada Sinta yang meminta tambah sayur, ada Kevin yang tanpa sadar terus mengisi piring Jingga.
"Kevin, piringku," protes Jingga akhirnya. "Aku bukan tong sampah."
"Kamu makan terlalu sedikit untuk orang yang kerjanya mengangkat perusahaan sendirian," jawab Kevin, tidak peduli.
"Biarkan saja, Nak," Sinta menimpali sambil tersenyum. "Ayahnya juga begitu dulu. Kalau ada yang dia sayang, piring orang itu tidak pernah dibiarkan kosong. Keluarga Pratama tidak pandai bicara, jadi mereka bicara lewat lauk pauk."
Meja itu hening sepersekian detik. Jingga menatap piringnya yang penuh. Kevin batuk kecil dan pura-pura sibuk dengan gelasnya. Sinta menyeringai seperti orang yang berhasil melempar batu ke kolam yang tepat.
Di ujung meja, Mei memotong dagingnya dengan suara pisau yang terlalu nyaring.
"Mama jarang sekali datang," ucapnya, mencoba ikut serta. "Lain kali telepon dulu, aku bisa siapkan menu khusus. Sebagai tuan rumah, aku merasa—"
"Kau tidak perlu merasa apa-apa, Mei." Sinta menoleh ke arahnya, masih tersenyum, tapi senyumnya tidak pernah sampai ke mata. "Dari dulu aku selalu lebih suka teh buatan Jingga. Dia mendengarkan. Kamu hanya menyiapkan."
Mei kembali ke piringnya. Kali ini benar-benar bungkam. Dan di dapur, Mang Asep harus berpura-pura membersihkan panci yang sudah bersih hanya untuk menyembunyikan senyumnya.
Ketika Sinta akhirnya diantar pulang, ia sempat menahan tangan Kevin di ambang pintu mobilnya.
"Anakku," bisiknya, hanya untuk Kevin. "Jangan tunggu sampai terlambat untuk memilih. Ibu tidak akan marah kalau kontraknya berakhir besok. Ibu akan marah kalau kamu melepaskan gadis itu."
Kevin tidak menjawab. Tapi sepanjang malam, kalimat ibunya tidak lepas dari kepalanya.
Normal Pov.
Keesokan paginya, telepon dari dokter Sinta datang.
Kevin mendengarkannya di ruang kerjanya di Pra-building, dan setiap kalimat dari seberang sana seperti paku yang dipalu satu per satu. Fungsi ginjal menurun. Dialisis makin sering. Waktu tunggu transplantasi makin sempit. Kalau ada pendonor yang cocok, jangan ditunda lagi.
Kevin menutup telepon dengan tangan yang dingin.
Dan malam itu, di rumah keluarga Broto, Mei menemuinya di lorong, seolah wanita itu bisa mencium keputusasaan dari jarak satu lantai.
"Kudengar kabar dari rumah sakit," kata Mei lembut, hampir penuh kasih sayang. "Kasihan sekali Sinta. Waktunya tinggal sedikit."
Kevin menatapnya tajam. "Apa maumu."
"Kau tahu apa mauku." Mei melangkah mendekat, dan suaranya turun menjadi bisikan yang halus. "Aku bisa memberikan nama donor itu malam ini juga. Kontaknya, riwayatnya, semuanya. Tapi harganya naik, Kevin. Dulu aku hanya minta pernikahan. Sekarang aku minta satu hal lagi."
Ia berhenti, menikmati detiknya.
"Keluarkan gadis itu dari rumah ini. Jauhkan dia darimu. Dan kembalilah menjadi suami yang seharusnya."
Di ujung lorong, tanpa mereka ketahui, Jingga yang hendak turun untuk mengambil air berhenti di kegelapan tangga—cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak terlihat.