Di kegelapan tangga, Jingga tidak bergerak. Bahkan napasnya ia pelankan, takut satu helaan pun akan mengkhianati keberadaannya.
Di lorong bawah, Kevin menatap Mei lama sekali. Dan ketika ia akhirnya menjawab, suaranya tidak meledak. Justru datar. Datar seperti permukaan laut sebelum badai.
"Kau benar-benar berpikir bisa mengatur hidupku dua kali?"
"Aku tidak mengatur." Mei mengangkat bahu dengan anggun. "Aku menawarkan dagangan. Donor yang nyata, cocok, dan bersedia, untuk nyawa ibumu. Harganya cuma satu: gadis itu keluar dari hidupmu. Menurutku itu murah."
"Kalau begitu kau tidak mengenal ibuku." Kevin melangkah melewati wanita itu. "Kalau aku menukar orang tak bersalah dengan nyawanya, dia akan membenciku sampai mati. Dan dia benar."
"Kevin." Suara Mei mengejarnya, masih halus, masih beracun. "Donor seperti ini tidak menunggu selamanya. Setiap hari kau menolak, kemungkinannya menyusut. Persis seperti ginjal ibumu."
Kevin berhenti. Untuk sesaat Jingga melihat punggung pria itu menegang, bahunya naik sedikit seperti menahan beban seluruh dunia. Lalu ia berjalan lagi, tanpa menjawab, dan menghilang ke sayap barat.
Di tangga, Jingga menekan dadanya sendiri.
Jingga Pov.
Dia tidak menukarku.
Aku mengulang kalimat itu dalam perjalanan kembali ke kamarku, seperti orang yang mengulang kabar baik yang tidak berani dipercaya. Dia bisa saja setuju. Dia bisa saja mengorbankanku. Aku hanyalah gadis yang menyusup ke hidupnya dengan rencana. Tapi dia menolak. Dia memilih mencari jalan lain untuk ibunya, jalan yang jauh lebih sulit, daripada menjadikanku barang dagangan.
Dan aku, apa yang kulakukan untuknya? Aku menyelundupkan racun milik ibu tirinya ke laboratorium diam-diam. Aku mencatat rumah ini seperti juru mata-mata. Aku masuk ke hidupnya untuk menghancurkan pernikahannya.
Malam itu aku berbaring menatap langit-langit dan berjanji satu hal pada diriku sendiri: aku akan membebaskannya dari rantai itu. Bukan untuknya. Untuk ibunya. Untuk Tante Sinta yang menggenggam tanganku di taman dan berterima kasih untuk secangkir teh.
Setidaknya, itulah yang kukatakan pada diriku sendiri.
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Keesokan sorenya, Kevin berdiri di depan pintu apartemen Tiara.
Ia tidak membawa bunga. Tidak membawa kata-kata manis. Ia datang dengan satu hal yang selama tiga tahun tidak pernah ia berikan kepada wanita itu: kejujuran.
Tiara membukakan pintu dengan mata sembab yang sudah didandani rapi. Ia tidak terlihat terkejut. Orang seperti Kevin tidak datang ke apartemen kekasihnya jam lima sore dengan wajah seperti itu kecuali untuk satu hal.
"Masuklah," katanya datar. "Selesaikan dengan benar. Aku berhutang itu pada diriku sendiri."
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang tiga tahun terakhir menjadi rumah kedua Kevin. Ada fotonya di rak. Ada jaketnya yang tertinggal di gantungan. Ada cangkir kesukaannya di dapur. Semua saksi sebuah hubungan yang hidup tanpa nama.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Di luar jendela, Jakarta sore bergerak dengan suaranya yang biasa, seolah di dalam ruangan ini tidak sedang ada sesuatu yang mati.
"Kau tahu apa yang paling kubenci dari semua ini?" Tiara akhirnya membuka suaranya lebih dulu. "Aku sudah tahu. Sebelum kamu datang, sebelum basement itu, bahkan sebelum gadis itu muncul. Aku sudah tahu kita selesai. Aku hanya terus berpura-pura buta karena mencintaimu lebih mudah daripada kehilanganmu."
Kevin menunduk. "Itu tidak seharusnya menjadi bebanmu."
"Jangan." Tiara mengangkat tangannya. "Jangan bicara seperti orang yang sudah membaca naskah sampai halaman terakhir. Biarkan aku marah dulu. Aku berhak marah."
"Aku datang bukan untuk membela diri," Kevin membuka suara. "Aku datang untuk mengaku. Aku egois. Aku memintamu menunggu tanpa pernah memastikan ada yang bisa kutawarkan. Aku membiarkanmu menggantungkan hidupmu pada seorang pria yang bahkan tidak tahu apa yang ia rasakan pada dirinya sendiri."
"Tiga tahun, Kevin." Suara Tiara bergetar. "Tiga tahun aku menolak tawaran kerja di Paris karena kamu. Tiga tahun aku menjawab wartawan bahwa aku tidak punya kekasih, sambil tidur di apartemen yang kamu beli. Tiga tahun aku menjadi rahasia yang kamu simpan rapi, dan aku menerimanya karena kamu bilang suatu hari semua akan beres. Dan sekarang kamu datang ke sini dengan wajah pahlawan untuk bilang kamu baru sadar apa yang kamu rasakan?"
"Kalau kau ingin aku datang dengan wajah pecundang, aku datang dengan wajah itu." Kevin menatapnya. "Tidak ada cara yang benar untuk mengakhiri sesuatu yang sejak awal salah kujalani. Satu-satunya yang bisa kuberikan sekarang adalah kebenaran, bahkan kalau kebenaran itu jelek."
Tiara tertawa kecil, getir. "Kebenaran. Tiga tahun, dan baru sekarang kau mengenal barang itu."
"Aku mencintainya." Kevin mengatakannya pelan, tapi tidak ragu. "Aku baru menyadarinya ketika hampir kehilangannya. Dan aku tidak akan meminta maaf atas perasaanku, karena itu akan menghina perasaanmu. Tapi aku meminta maaf atas tiga tahunmu. Itu salahku. Sepenuhnya salahku."
Tiara menatapnya. Air mata mengalir di pipinya tanpa ia izinkan.
"Kau tahu apa yang bisa kulakukan?" bisiknya. "Satu wawancara. Satu. Aku model internasional, Kevin. Kalau aku bicara, besok seluruh negeri tahu pernikahan kontrak Pratama Group. Sahammu, nama ibumu, rumah sakitnya, semuanya akan jadi konsumsi orang-orang yang tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu."
"Dan kau tetap datang?"
"Kalau itu yang perlu kau lakukan untuk sembuh," Kevin bangkit berdiri, "lakukan. Aku tidak akan melawan. Tapi jangan jadi orang yang menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk melukai orang lain. Kau lebih baik dari itu, Tiara. Kau selalu lebih baik dariku."
Ia berjalan ke pintu. Berhenti sebentar, tanpa berbalik.
"Terima kasih untuk tiga tahunnya. Maafkan aku karena tidak pernah pantas menerimanya."
Pintu tertutup pelan. Di dalam, Tiara akhirnya runtuh, dan tangisnya tidak lagi didengar siapa pun.
Normal Pov.
Di lobi gedung apartemen, seseorang menunggu Kevin di dekat pilar.
Irvan. Jaket jeans, tangan di saku, dan tatapan yang sudah tidak ramah lagi.
"Kau baru dari atas," kata Irvan. Bukan pertanyaan.
"Ya."
Pukulan itu datang tanpa peringatan. Kepalan Irvan menghantam rahang Kevin, cukup keras untuk membuat satpam lobi tersentak dan berlari mendekat. Kevin terhuyung selangkah. Ia bisa menghindar, instingnya cukup cepat, tapi ia tidak bergerak. Ia menerima pukulan itu seperti menerima sesuatu yang memang sudah ia pesan.
"Pak! Tidak boleh berkelahi di sini!" seru satpam.
"Tidak ada perkelahian," kata Kevin sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, menatap Irvan lurus. "Dia hanya mengambil haknya."
Irvan memegangi tangannya sendiri yang nyeri, tapi matanya tidak berkedip. "Itu untuk Tiara. Tiga tahun dia menunggumu, dan kau mengembalikannya dengan satu sore yang sopan. Kau tahu apa artinya menjadi rahasia selama tiga tahun? Tiara menghapus dirinya sendiri sedikit demi sedikit supaya muat di dalam hidupmu. Dan kau membiarkannya."
Kevin tidak membantah. Tidak ada yang bisa dibantah.
"Kau kenal dia dari mana?" tanya Kevin akhirnya. "Kau selalu ada. Di mall, di pasar malam, di sini. Kau bukan sekadar teman."
"Aku temannya." Irvan menatapnya tajam. "Dan kadang teman lebih setia daripada kekasih. Ingat itu kalau suatu hari kau merasa sendirian di puncak gedungmu." Ia maju selangkah, suaranya turun. "Dan dengar baik-baik, Pratama. Aku tidak peduli kau mencintai siapa. Tapi Jingga gadis baik-baik. Kalau kau menyakitinya seperti kau menyakiti Tiara, yang berikutnya bukan kepalan tanganku."
"Kalau aku menyakitinya," jawab Kevin pelan, "kau tidak perlu turun tangan. Aku akan menghukum diriku lebih dulu."
Kedua pria itu saling menatap. Ada semacam penilaian di sana, dua orang yang sama-sama mengukur ketulusan lawannya dan sama-sama enggan mengakuinya. Lalu Irvan mendengus, berbalik, dan pergi, naik ke atas, ke apartemen tempat sahabatnya sedang menangis sendirian.
Kevin berdiri sebentar di lobi itu, mengabaikan tatapan satpam, lalu berjalan keluar ke malam yang tidak menjawab apa-apa.
Normal Pov.
Malam itu, Tiara duduk di lantai kamarnya, dikelilingi foto-foto yang ia turunkan dari rak. Foto dirinya dan Kevin di Bali. Di Singapura. Di pembukaan butik. Tiga tahun yang muat dalam dua belas bingkai.
Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
Hampir saja ia tidak mengangkat. Tapi sesuatu, mungkin kekosongan yang terlalu besar di kamarnya, membuat ibu jarinya menekan tombol hijau.
"Halo?"
"Selamat malam, Nona Angelica Klody." Suara wanita. Halus, dewasa, berbahaya. "Atau sebaiknya kupanggil Tiara?"
Jantung Tiara berdebar. "Siapa ini?"
"Namaku Mei Anjani. Mungkin kau pernah mendengarnya. Aku istri sah Kevin Pratama, dan ibu tiri dari gadis yang merebut kekasihmu."
Tiara bangkit berdiri perlahan, tangannya mencengkeram ponsel. "Apa maumu?"
Di seberang sana, terdengar suara wine dituangkan ke gelas. "Kemarin aku mendengar ada pertunjukan menarik di kantor HA Express. Seorang model cantik melabrak anak tiriku di ruang kerjanya sendiri. Aku salut. Perlu keberanian untuk itu." Mei berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya bekerja. "Kita tidak perlu jadi teman, Tiara. Tapi kau dan aku punya satu hal yang sama: kita sama-sama ingin gadis itu kehilangan semua yang ia pegang. Dan aku kebetulan tahu persis di mana letak kelemahannya."
Tiara menatap foto-foto di lantainya. Foto wajah Kevin yang tertawa. Tawa yang tidak pernah lagi ditujukan padanya.
Air matanya sudah kering. Di tempatnya, sesuatu yang lain mulai menyala.
"Aku dengarkan," katanya pelan.