Telepon dari Tono datang pukul delapan pagi, ketika Jingga baru saja sampai di kantornya.
"Hasil lab sudah keluar. Bisa ketemu sekarang? Tempat biasa."
Tidak ada basa-basi. Jingga membatalkan dua janji paginya, menyuruh Lisa menggeser semuanya ke siang, dan turun ke basement dengan jantung yang berdebar lebih cepat dari liftnya.
Di warung kopi yang sama, di sudut yang sama, Tono sudah menunggu dengan sebuah map tipis di depannya. Kali ini Nada ikut, dan begitu melihat Jingga, sepupunya itu langsung memeluknya erat-erat, seolah Jingga baru pulang dari medan perang dan bukan dari rumahnya sendiri.
"Kamu makin kurus," omel Nada. "Tono, lihat dia. Aku bilang juga apa."
"Nada, duduk." Jingga tersenyum kecil, lalu menatap Tono. "Katakan."
Tono membuka mapnya. Ada dua lembar hasil cetak penuh angka dan istilah kimia, dan satu lembar kesimpulan yang ia sorongkan ke arah Jingga.
"Endapan di cangkir itu positif," katanya pelan. "Semacam obat keras yang bekerja pada saraf dan hormon. Bahasa awamnya: obat perangsang kuat, kelas yang seharusnya tidak beredar bebas. Dosis di cangkir itu bukan dosis main-main. Kalau diminum orang sehat, dia kehilangan kendali beberapa jam. Kalau diminum orang yang sedang capek atau punya riwayat jantung, bisa jauh lebih buruk."
Jingga menatap lembar itu. Huruf-hurufnya kabur di matanya bukan karena air mata, melainkan karena amarah.
"Dia mau memberikan ini ke Kevin," ucapnya datar.
"Dia mau memberikan ini ke suaminya sendiri," Tono mengoreksinya, "di rumah yang juga dihuni orang lain. Jingga, dengar. Memberikan obat keras ke orang lain tanpa sepengetahuannya itu pidana. Kalau kemarin Kevin meminumnya dan terjadi sesuatu, kita bisa langsung bergerak. Sekarang pun, ini bisa masuk berkas sebagai pola."
"Tapi bukan obat yang sama dengan yang membunuh Papa."
"Bukan." Tono mengakuinya jujur. "Yang di apotek Kurnia itu golongan pengencer darah. Yang ini golongan perangsang. Dua benda berbeda, dua tujuan berbeda. Tapi lihat polanya: wanita yang sama, cara yang sama, diam-diam lewat minuman, dicampur, disembunyikan. Orang tidak belajar meracun dalam semalam, Jingga. Wanita itu berpengalaman. Itu yang membuat jaksa nanti percaya bahwa apa yang terjadi pada ayahmu bukan kebetulan."
Nada menggenggam tangan Jingga di atas meja. "Terus sekarang gimana? Tangkap saja dia, Ton. Sudah ada catatan apotek, ada rekaman, ada ini."
"Belum bisa. Catatan apotek membuktikan pembelian, bukan pemberian. Rekaman itu bukan pengakuan penuh. Dan ini—" Tono mengetuk mapnya, "—hasil lab tidak resmi. Untuk menjerat kematian Karim, kita butuh mata rantai yang utuh. Salah satu rantainya adalah orang yang dulu membeli obat itu setiap minggu."
"Kamu tahu apa yang paling menyebalkan dari semua ini?" Nada menyandarkan badan, geram. "Penjahatnya bebas keluar masuk rumah, duduk di meja makan yang sama, bernapas di udara yang sama, dan kita yang harus menghitung bukti satu per satu seperti menghitung uang receh."
"Karena hukum memang begitu cara kerjanya, Nad," jawab Tono lembut. "Lambat, cerewet, menyebalkan. Tapi kalau dia jatuh karena hukum, dia jatuh selamanya. Tidak bisa ditarik lagi. Itu bedanya dengan balas dendam biasa."
Nada mendengus, tapi tidak membantah. Jingga tahu sepupunya itu kalau bisa pasti sudah menyeret Mei ke kantor polisi dengan tangan sendiri. Justru karena itu ia sayang sekali padanya.
"Bi Imah," kata Jingga.
"Bi Imah." Tono mengangguk. "Kalau dia bersedia bersaksi bahwa dialah yang membeli, atas perintah siapa, dan apa yang dia lihat di rumah itu sebelum dipecat, kita punya saksi hidup. Mang Asep bilang dia orang mana?"
"Jawa Timur, katanya. Mang Asep hanya tahu kampungnya di sekitar Malang."
"Mulai dari situ. Aku punya teman di Polres sana." Tono menutup mapnya. "Dan Jingga, satu hal lagi. Orang yang sudah gagal dua kali dengan cara halus biasanya mulai mempertimbangkan cara kasar. Dari sekarang, jangan pulang malam sendirian. Jangan terima makanan dari siapa pun di rumah itu kecuali Mang Asep. Dan kalau ada apa-apa, telepon aku dulu, baru Nada."
"Ih, kenapa aku belakangan?" protes Nada.
"Karena kamu akan langsung menyerbu rumah itu dengan panci," jawab Tono datar, dan untuk pertama kalinya pagi itu, mereka bertiga tertawa kecil. Tawa yang singkat tapi cukup untuk menghangatkan.
Normal Pov.
Pada jam yang hampir bersamaan, di sebuah kafe eksklusif di kawasan Senopati, dua wanita duduk berhadapan untuk pertama kalinya.
Tiara datang lebih dulu, memilih sudut paling privat. Ia mengenakan kemeja putih mahal dan ekspresi yang sudah dilatih di depan seribu kamera. Tapi ketika Mei masuk—anggun, berkebaya modern, tersenyum seperti pemilik tempat—Tiara merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan semua orang yang pertama kali bertemu Mei Anjani: bahwa wanita ini cantik dengan cara yang membuat orang lupa berhati-hati.
"Jadi ini gadis yang membuat Kevin gila." Mei duduk tanpa menunggu dipersilakan, menatap Tiara dari atas ke bawah. "Kamu lebih cantik daripada di majalah. Sayang sekali tiga tahunmu habis untuk pria yang tidak menghargainya."
"Dan kamu," balas Tiara, tersenyum sama manisnya, "istri sah yang suaminya lebih memilih gadis lain. Sepertinya kita berdua sama-sama gagal mempertahankan pria yang sama."
Mei tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung. "Itulah kenapa aku meneleponmu. Orang yang gagal sendirian akan kalah sendirian. Orang yang gagal bersama-sama... bisa menang bersama-sama."
Pelayan datang dan pergi. Dua gelas teh hangat diletakkan di antara mereka seperti dua bendera gencatan senjata.
"Aku tidak butuh ceramah," kata Tiara akhirnya. "Kamu bilang tahu kelemahan Jingga. Katakan."
"Semua orang yang merasa kuat punya kelemahan yang sama: mereka tidak tahu ada yang memperhatikan." Mei mengaduk tehnya pelan. "Jingga bukan gadis biasa, Tiara. Dia tidak mengejar Kevin karena cinta. Dia punya rencana. Dia selalu punya rencana. Dan orang yang punya rencana paling takut pada satu hal: rencananya ketahuan sebelum selesai."
"Rencana apa?"
"Itu tidak penting untukmu." Mei menatapnya tajam sekilas, cukup untuk membuat Tiara paham bahwa ada wilayah yang tidak boleh disentuh. "Yang penting untukmu adalah ini: Kevin sekarang melihat gadis itu sebagai malaikat korban keadaan. Selama itu yang dia lihat, kamu tidak akan pernah menang. Jadi kita ubah yang dia lihat."
Tiara membuka tasnya dan mengeluarkan amplop foto yang sudah ia siapkan sejak semalam. Hasil kerja biro investigasinya. Jingga di pasar malam, tertawa bersama seorang pria berjaket jeans. Di foto lain, pria itu membelikan minuman untuknya. Di foto ketiga, mereka duduk berdekatan di bangku taman, terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta.
"Namanya Irvan," kata Tiara. "Temanku. Ironisnya, dia justru orang yang mengenalkanku pada Kevin dulu. Sekarang dia menghabiskan malam-malamnya dengan gadis itu."
Mei mempelajari foto-foto itu satu per satu dengan mata yang berbinar, seperti kolektor menilai barang antik. "Kevin melihat ini, dan malaikatnya akan berubah jadi wanita murahan yang mempermainkan dua pria. Pria seperti Kevin tidak tahan dikhianati, bahkan oleh orang yang bukan miliknya." Ia mengangkat wajah. "Ini bagus. Ini sangat bagus."
Tiara tidak langsung menjawab. Ada sepersekian detik—hanya sepersekian detik—ketika tangannya hampir menarik amplop itu kembali. Ia teringat wajah Jingga di kantornya, gadis yang menolak cek kosongnya dengan sopan, gadis yang berkata laki-laki dewasa pergi ke mana ia mau pergi. Gadis itu tidak pernah menghinanya. Gadis itu bahkan tidak pernah melawannya.
Lalu ia teringat basement parkir. Diam Kevin. Bunyi pintu lift. Tiga tahun yang runtuh dalam satu keheningan.
Detik itu berlalu. Amplop itu tetap berpindah ke seberang meja.
"Aku tidak memberikannya gratis," kata Tiara. "Aku mau bagian yang sama dari kesepakatan ini. Kalau gadis itu jatuh, Kevin kembali. Bukan padamu. Padaku."
Mei tersenyum lebar sekali. "Tentu saja. Aku hanya butuh gadis itu hancur dan rumahku kembali tenang. Kevin-mu silakan kau bungkus kado." Ia mengangkat gelas tehnya. "Untuk persekutuan yang tidak perlu kita ikrarkan."
Tiara mengangkat gelasnya. Denting kecil dua gelas bertemu terdengar seperti bunyi sesuatu yang retak di tempat lain.
Sebelum berpisah, Mei menyelipkan satu kalimat lagi, ringan seperti orang membicarakan cuaca. "Oh ya. Kalau suatu hari gadis itu mendekatimu lagi, bertanya macam-macam, atau bersikap terlalu manis—jangan pernah makan atau minum apa pun darinya."
Tiara mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Maksudku," Mei berdiri dan merapikan kebayanya, "gadis itu belajar cepat. Terlalu cepat untuk kebaikannya sendiri." Ia tidak menjelaskan lebih jauh, dan Tiara tidak menyadari bahwa kalimat itu bukan peringatan, melainkan pengakuan dari mulut seseorang yang baru saja menelan cangkirnya sendiri.
Normal Pov.
Keesokan paginya, di meja makan keluarga Broto, Kevin baru saja duduk ketika Mei meletakkan sebuah amplop cokelat di sebelah piringnya. Rapi. Hening. Sengaja.
"Ada yang harus kau lihat, Sayang," ucap Mei lembut, sambil menyesap kopinya. "Sebelum kau terlalu jauh mempertaruhkan segalanya untuk orang yang salah."
Di seberang meja, Jingga mengangkat wajah dari piringnya. Dan ketika matanya bertemu dengan kilat kecil di mata Mei, ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa perang mereka baru saja berpindah ke medan yang baru.