Kevin membuka amplop itu dengan tenang. Terlalu tenang, sampai Jingga tahu bahwa badai sedang berdiri tepat di balik kulitnya.
Satu per satu, foto-foto itu keluar. Jingga di pasar malam, tertawa. Jingga menerima es cendol dari tangan seorang pria. Jingga duduk di bangku taman, berdekatan dengan pria yang sama, dalam jarak yang tidak perlu. Sudut kameranya pandai sekali. Di tangan orang yang tepat, dua orang yang mengantre makanan pun bisa terlihat seperti sepasang kekasih.
Mei menyaksikan semuanya dengan mata yang bersinar pelan, seperti kucing yang menaruh burung di depan pintu tuannya.
"Aku hanya merasa kau berhak tahu," ucapnya lembut. "Gadis yang kau bela-belakan itu, yang kau beri bunga, yang membuatmu melawan ibumu sendiri... ternyata malam-malamnya diisi pria lain. Lucu sekali, kan? Di rumah ini dia bersandiwara jadi malaikat, di luar sana—"
"Cukup."
Satu kata dari Kevin, rendah dan tajam. Mei menutup mulutnya, tapi senyumnya tidak.
Kevin menatap Jingga. Gadis itu duduk tegak, pucat, dengan dagu terangkat satu senti—posisi yang Kevin kenal sebagai posisi bertahan. Tidak ada satu pun dari keduanya yang bicara, dan keheningan itu berlangsung terlalu lama untuk orang yang tidak bersalah.
"Siapa pria ini?" tanya Kevin akhirnya.
Jingga meletakkan sendoknya. Pelan. Teratur. "Namanya Irvan. Teman."
"Teman yang membelikanmu minum. Teman yang menemanimu malam-malam." Kevin mengangkat satu foto. "Kapan kau berencana menceritakannya?"
"Kapan Kakak berencana menceritakan Tiara?"
Kalimat itu meluncur keluar sebelum Jingga sempat menahannya, dan begitu keluar, ia tidak menariknya kembali. Meja itu membeku. Mei menahan napasnya sendiri supaya tidak terkekeh.
"Jadi begini permainannya?" Jingga berdiri, masih dengan suara yang lembut, justru karena itu terdengar mematikan. "Seseorang menyelundupkan foto hasil menguntit ke meja makan, dan aku yang harus memberi penjelasan? Aku tidak pernah menagih siapa yang menemanimu selama tiga tahun, Kak. Jangan tagih aku siapa yang menemaniku membeli sosis bakar."
Ia mengambil tasnya dan pergi, meninggalkan amplop itu terbuka seperti luka di atas meja.
Kevin Pov.
Aku menatap foto-foto itu jauh setelah Jingga pergi dan Mei kembali ke kamarnya dengan langkah seorang pemenang.
Aku tahu pria ini. Irvan. Pria yang memukulku di lobi kemarin. Pria yang dua kali kutemui di sisi gadis-gadis yang ada dalam hidupku. Aku tahu mereka hanya teman, karena Irvan sendiri yang mengatakannya, dan pria seperti Irvan tidak punya cukup kesabaran untuk berbohong.
Aku tahu semua itu. Tapi mengetahui tidak membuat dadaku berhenti terbakar setiap kali melihat foto Jingga tertawa di sebelahnya.
Dan itu membuatku marah pada diriku sendiri. Jingga benar. Aku menghabiskan tiga tahun dengan Tiara tanpa status, dan tidak sekali pun gadis itu menagih. Satu foto dari seorang pria asing di pasar malam, dan aku berubah menjadi jaksa di meja makan.
Aku meremas foto teratas, lalu melepaskannya sebelum kusut, karena bagian bodohku tidak tahan merusak wajahnya bahkan di kertas.
Kevin Pov End.
Normal Pov.
Perang dingin itu berlangsung dua hari.
Di meja makan, mereka duduk berhadapan seperti dua negara yang sedang gencatan senjata. Kevin membuka pembicaraan; Jingga menjawab seperlunya. Jingga pulang kerja; Kevin sudah menunggu di ruang tengah dengan alasan membaca dokumen yang halamannya tidak pernah berpindah. Mang Asep menjalankan tugasnya sambil menggeleng-geleng, karena dalam dua puluh tahun ia mengabdi, ia belum pernah melihat dua orang yang saling mencari dengan cara yang sedemikian saling menghindar.
Sampai-sampai Mang Asep mencoba caranya sendiri. Hari pertama, ia "kebetulan" memasak menu kesukaan berdua, berharap meja makan mencair. Tidak berhasil; keduanya memuji masakannya dengan sopan lalu kembali membeku. Hari kedua, ia mencoba taktik yang lebih tua dari rumah ini: listrik lorong "rusak", sehingga keduanya harus berjalan beriringan dalam gelap seusai makan malam. Mereka berjalan beriringan dalam gelap, benar—dalam keheningan yang lebih gelap dari lorongnya.
"Sudah, Mang," bisik Jingga ketika melewati dapur. "Terima kasih. Tapi ini bukan soal listrik."
Mang Asep hanya bisa menghela napas. Menyatukan dua hati yang keras kepala ternyata lebih sulit daripada memperbaiki instalasi seluruh rumah besar ini.
Mei, tentu saja, menikmati setiap detiknya. Ia mulai rajin turun ke meja makan, rajin berkomentar kecil, rajin bertanya hal-hal yang tidak perlu.
"Jingga, kemarin ponselmu berdering terus. Pria pasar malam itu, ya?"
"Tidak, Bu. Kantor."
"Oh. Sayang sekali." Mei tersenyum. "Aku kira akhirnya ada yang mengajarimu cara bergaul."
Jingga hanya tersenyum manis dan tidak menjawab, tapi di bawah meja, tangannya mencengkeram lututnya sendiri sampai sakitnya cukup untuk menahan lidahnya.
Di malam kedua, kesabaran Kevin habis lebih dulu.
Ia menunggu di lorong ketika Jingga pulang, dan kali ini gadis itu tidak bisa menghindar tanpa menabraknya.
"Kita bicara," kata Kevin.
"Aku capek, Kak."
"Dua hari kau tidak bicara padaku."
"Aku bicara setiap hari. Pagi, selamat malam, permisi." Jingga menatapnya. "Kalau Kak Kevin butuh lebih dari itu, tanyakan pada orang yang membuat amplop foto. Dia tampaknya sangat ingin menjadi bagian dari hidup kita."
"Kau pikir aku percaya padanya?" Suara Kevin naik setengah nada. "Aku mengenal Irvan. Aku tahu kalian hanya teman. Yang membuatku—" Ia berhenti, mengacak rambutnya, dan ketika melanjutkan suaranya turun, hampir malu. "Yang membuatku marah adalah aku tidak berhak marah. Dan aku tetap marah. Dan aku membencinya."
Jingga menatapnya lama. Sesuatu di wajahnya melembut sedikit, hanya sedikit, seperti es di permukaan gelas.
"Kak Kevin cemburu?" tanyanya, dan nada suaranya hampir bercanda, tapi matanya tidak.
"Aku tidak tahu nama penyakitnya. Aku hanya tahu obatnya tidak dijual di apotek." Kevin menatapnya balik. "Katakan padaku dia bukan siapa-siapa, dan aku akan mempercayainya tanpa syarat. Aku sedang belajar, Jingga. Belajar mempercayai tanpa menagih. Tapi aku baru mulai, dan kau tidak membantu sama sekali."
"Aku tidak wajib membantu. Aku bukan apa-apa Kak Kevin, ingat? Kakak yang punya kontrak dengan wanita lain. Kakak yang punya kekasih tiga tahun." Jingga menarik napas, dan di situlah suaranya akhirnya jujur. "Kau menagih hal-hal yang kau simpan dari orang lain. Kau marah pada foto-foto, padahal kau sendiri adalah foto yang tidak pernah dijelaskan ke siapa-siapa."
Kalimat itu menggantung di lorong seperti asap.
"Kak," ucapnya pelan. "Malam ketika aku menunggumu sampai jam tujuh, aku pergi ke pasar malam sendirian karena aku lapar dan tidak ada yang datang. Di sanalah aku mengenal Irvan. Jadi kalau Kakak ingin tahu kenapa ada pria lain di malam-malamku..." Ia berhenti, dan suaranya tidak selesai, tidak perlu selesai.
Kevin terdiam seperti ditampar. Karena itu benar. Malam itu ia yang tidak datang. Malam itu ia sedang di tempat lain, bersama orang lain. Pria di foto itu bukan pengganggu. Pria itu hanyalah orang yang datang mengisi kursi yang Kevin sendiri kosongkan.
"Cerry—"
"Aku tidur dulu, Kak. Selamat malam."
Kevin tidak menahannya. Ia hanya berdiri di lorong itu sampai lampu kamar gadis itu menyala dan padam, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kevin Pratama mengerti bahwa ada perkelahian yang tidak bisa dimenangkan dengan kekerasan, melainkan hanya dengan cara bertahan sampai orang itu percaya lagi.
Esok paginya, di depan pintu kamar Jingga, Mang Asep menemukan sekotak kecil cokelat dan secarik kertas bertuliskan tangan yang terburu-buru: "Aku yang mengosongkan kursinya. Biar aku juga yang mengisinya kembali. —K"
Mang Asep mempertimbangkan sebentar, lalu meletakkannya di depan pintu dengan rapi, sambil tersenyum seperti orang yang melihat hujan pertama setelah kemarau panjang.
Esoknya, di sela rapat siang, ponsel Jingga bergetar dengan nama yang tidak ia sangka: Irvan.
"Maaf mengganggu jam kerja. Ada yang harus kau tahu, dan aku tidak mau mengatakannya lewat pesan."
Mereka bertemu di lobi kantor Jingga, sepuluh menit, berdiri. Irvan datang dengan wajah yang sulit dibaca, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu tapi tidak bangga dengan keputusannya.
"Aku akan langsung saja," katanya. "Tiara berubah sejak malam dia diputuskan Kevin. Aku mengenalnya bertahun-tahun, Jingga. Dia patah hati, itu wajar. Tapi dua hari lalu dia meneleponku, dan suaranya bukan suara orang patah hati. Suaranya seperti dulu, ketika dia masih memburu kontrak-kontrak besar. Tajam. Sibuk. Punya rencana."
Jingga menajamkan pendengarannya. "Rencana apa?"
"Dia tidak bilang. Tapi dia bilang satu kalimat yang tidak bisa kulepaskan." Irvan menatap Jingga. "Katanya: Tenang saja, sekarang aku punya sekutu yang tahu segalanya tentang gadis itu."
Lobi itu mendadak terasa sangat sunyi, padahal orang-orang hilir mudik di belakang mereka.
Foto-foto di meja makan. Hasil menguntit, kata Jingga waktu itu. Sudut yang terlalu pandai, waktu yang terlalu pas. Itu bukan pekerjaan Mei. Mei tidak pernah keluar rumah untuk hal semacam itu. Tapi seorang model internasional yang patah hati, yang memiliki biro investigasi di daftar kontaknya...
"Sekutu," ulang Jingga pelan. "Irvan, kau yakin dia bilang begitu?"
"Sangat yakin. Kenapa? Kau tahu siapa sekutunya?"
Jingga menatap ke luar kaca lobi, ke arah jalanan yang sibuk, ke arah kota yang tiba-tiba terasa seperti papan catur raksasa.
"Aku tidak hanya tahu siapa," jawabnya, dan senyumnya muncul, manis dan dingin sekaligus. "Aku tinggal serumah dengannya."