Bibi Sarah tiba di rumah keluarga Broto hari Senin pagi, dengan satu koper, satu tas jinjing yang tidak pernah lepas dari tangannya, dan suara yang terdengar sampai ke halaman sebelum pintunya terbuka.
"Mang Asep! Astaga, kau masih hidup!"
Mang Asep, yang dua puluh tahun menjaga wajahnya tetap datar di rumah ini, menangis di ambang pintu. "Nyonya Sarah..."
"Jangan panggil aku Nyonya, kau membuatku merasa tua." Sarah memeluk pria tua itu seperti memeluk keluarganya sendiri, karena memang begitulah adanya. "Rumah ini bau sekali. Bukan bau rumah, tapi bau orang yang berpura-pura. Kita harus membuka jendelanya lebar-lebar."
Ia berjalan masuk sambil menilai setiap sudut seperti jenderal memeriksa benteng yang lama dikuasai musuh. Vas bunga baru di ruang tamu disentuhnya, lalu digeser dua senti ke kiri. "Ini bukan posisinya. Posisinya di sini. Sudah, jangan tanya kenapa. Aku yang membawa vas ini dari Surabaya tiga puluh tahun lalu."
Jingga sudah berlari dari tangga sebelum kalimat itu selesai. "Bibi!"
Mereka berpelukan di tengah ruang, lama, sampai Sarah akhirnya melepaskannya dan menatap wajah keponakannya dari jarak satu jengkal. "Kurus. Pucat. Tapi masih cantik. Masih seperti ibumu." Ia mengusap pipi Jingga dengan ibu jari. "Sekarang, di mana wanita itu?"
Seolah dipanggil oleh namanya sendiri, Mei muncul di ujung tangga dengan daster sutra dan senyum yang sudah dipoles sejak mendengar suara mobil. "Sarah. Sudah lama sekali. Tidak bilang-bilang mau datang, kami bisa menyiapkan kamar yang—"
"Kamar adik almarhum kakakku tidak perlu disiapkan olehmu," potong Sarah, masih tersenyum. "Aku tidur di kamar tamu sayap timur, seperti biasa, sejak rumah ini dibangun. Kau boleh pura-pura menjadi nyonya rumah pada tamu-tamumu, Mei. Tapi jangan pada kami yang punya rumah ini."
Udara di ruang itu turun beberapa derajat.
Mei mempertahankan senyumnya dengan susah payah. "Kamu tamu di sini, Sarah. Sebaiknya kita bersikap seperti keluarga."
"Keluarga?" Sarah tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya Jingga mendengar bahwa bibinya punya tawa yang bisa terdengar seperti pedang. "Mei, aku sudah enam puluh dua tahun. Aku sudah melihat segala macam orang masuk ke keluarga orang lain. Ada yang datang membawa berkah, ada yang datang membawa petaka. Kau tahu cara membedakannya? Yang membawa berkah tidak pernah menyuruh orang memanggilnya Nyonya di rumah yang bukan rumahnya."
Ia menepuk bahu Jingga. "Nak, antarkan Bibi ke kamar. Lalu kita minum teh. Teh betulan, bukan teh yang membuat orang harus mengeceknya dua kali."
Mei tidak menjawab. Ia berbalik dan naik ke lantai dua dengan punggung yang lurus sempurna, dan Jingga tahu, tanpa perlu melihatnya, bahwa di balik punggung itu ada wajah yang sedang menyimpan dendam baru dengan rapi.
Normal Pov.
Sarah bertemu Kevin sore harinya, ketika pria itu pulang kerja dan mendapati seorang wanita tua asing sedang duduk di teras sambil menilai mawar-mawar seperti hakim lomba.
"Jadi kamu Kevin Pratama." Sarah menatapnya dari atas ke bawah, tanpa bangkit dari kursinya. "Suami wanita itu."
Kevin melepas helmnya. "Saya menghargai kejujuran Anda, Tante. Tapi saya tidak akan membela pernikahan itu, jadi silakan katakan apa yang ingin Anda katakan."
Itu membuat Sarah mengangkat alis. Ia sudah menyiapkan tiga kalimat tajam, dan pria ini malah membukakan pintu untuk semuanya. "Kamu tahu keponakanku tinggal di rumah yang sama dengan kalian berdua? Kamu tahu betapa murkanya aku ketika mendengar itu?"
"Saya tahu. Dan saya tidak akan mengganggu Jingga—" Kevin berhenti, karena kalimat itu terasa bohong bahkan di mulutnya sendiri. Ia memperbaikinya dengan jujur. "Saya tidak bisa menjanjikan itu, Tante. Tapi saya berjanji satu hal: saya tidak akan pernah menyakitinya."
Sarah menatapnya lama. Lama sekali, sampai Kevin merasa sedang dinilai sampai ke tulang.
"Semua pria bilang begitu sebelum mereka menyakitinya," kata Sarah akhirnya. "Tapi kau orang pertama yang tidak berani berbohong soal menjauhinya. Itu bukan pujian. Itu baru catatan kaki." Ia kembali ke mawarnya. "Rawat hatiku baik-baik, Kevin Pratama. Aku tidak punya anak. Keponakanku itu satu-satunyaku."
Normal Pov.
Makan malam hari itu berlangsung seperti sidang diplomatik dua negara yang baru saja membatalkan perjanjian damai.
Sarah duduk di kursi yang dulu selalu menjadi kursi Melinda, dan tidak ada yang berani mengomentarinya. Mei duduk di ujung meja dengan senyum tuan rumah yang semakin lama semakin lelah dipakai. Kevin duduk di sisinya dengan wajah orang yang ingin berada di mana saja kecuali di sini. Dan Jingga duduk di antara dua kutub itu, menjadi penerjemah bagi dua bahasa yang saling membenci.
"Masakan Mang Asep masih sama enaknya seperti dua puluh tahun lalu," kata Sarah. "Beberapa hal di rumah ini untungnya tidak berubah."
"Aku sudah menyuruhnya memperbarui menu beberapa kali," sahut Mei. "Tapi orang tua memang sulit menerima perubahan."
"Perubahan yang baik memang patut diterima," Sarah menyendok supnya dengan tenang. "Perubahan yang membuat tuannya mati perlahan, itu soal lain."
Sendok Kevin berhenti di udara. Jingga menahan napas. Mei menatap Sarah dengan mata yang menyipit, mencari sesuatu di balik kalimat itu, dan tidak menemukannya karena Sarah sudah kembali ke supnya dengan wajah seorang nenek yang tidak tahu apa-apa.
"Maksudmu?" tanya Mei pelan.
"Maksudku supnya enak," jawab Sarah polos. "Kenapa? Kamu sedang memikirkan hal lain?"
Mei tidak menjawab. Tapi untuk sisa makan malam itu, ia tidak banyak bicara lagi, dan itu sendiri adalah kemenangan kecil yang dicatat rapi di kepala Jingga.
Selepas makan, Sarah meminta diantar berkeliling rumah. Bukan rumah ini yang ingin ia lihat, ia berbisik pada Jingga di lorong, melainkan apa yang berubah di dalamnya. Ia berhenti lama di depan foto pernikahan Karim dan Melinda yang entah sejak kapan dipindahkan ke lorong belakang, menggantikan posisinya yang dulu di ruang keluarga.
"Foto ini dulu di ruang depan," kata Sarah datar.
"Aku yang pindahkan," jawab Jingga. "Supaya tidak diambil orang."
Sarah menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Bagus. Kau belajar bertahan hidup di rumahmu sendiri. Itu menyedihkan, tapi bagus."
Malam itu, setelah makan malam yang berjalan dengan diplomasi tegang, Sarah mengetuk pintu kamar Jingga pukul sembilan. Mang Asep sudah menunggu di sana, atas undangan Sarah sendiri, karena pria tua itu adalah satu-satunya orang di rumah ini yang ada sejak awal dan berhak mendengar segalanya.
Sarah mengunci pintu. Lalu dari tas jinjing yang tidak pernah lepas dari tangannya sejak pagi, ia mengeluarkan amplop itu.
Amplop cokelat. Tebal. Dilakban berlapis-lapis, dengan tulisan tangan di depannya yang langsung membuat napas Jingga tertahan.
Untuk Jingga-ku.
Tulisan ayahnya. Tidak mungkin salah. Huruf-huruf tegas itu, dengan titik-titik yang selalu ia tekan terlalu dalam, adalah tulisan yang dulu menandatangani rapornya, menulis kartu ulang tahunnya, menulis surat cinta kecil yang diselipkan di kotak bekalnya.
Jingga menyentuh huruf-huruf itu dengan ujung jarinya, perlahan, seolah tinta itu masih menyimpan suhu tangan yang menuliskannya. Dua tahun amplop ini menunggu di dalam lemari besi di Surabaya. Dua tahun ayahnya menunggu untuk didengar.
"Ayah selalu menulis surat kalau ada hal yang tidak sanggup dia ucapkan," bisik Sarah. "Waktu kecil dia pernah memukulku sampai aku menangis, dan minta maafnya lewat surat yang diselipkan di bawah pintu. Tiga halaman. Untuk seorang kakak, dia payah sekali bicara. Tapi menulis..." Sarah menatap amplop itu dengan mata yang berkaca-kaca. "Menulis, dia jujur sekali."
"Tanganmu gemetar," kata Sarah lembut. "Bibi yang buka?"
Jingga menggeleng. "Harus aku."
Ia mengupas lakban itu perlahan, hati-hati, seperti membuka sesuatu yang bisa pecah. Di dalamnya ada dua benda: sebuah amplop putih yang lebih kecil, dan sepuluh lembar kertas folio yang disusun rapi, semuanya bertuliskan tangan ayahnya.
Mang Asep melihat tanggal di pojok lembar pertama dan memegang mulutnya sendiri. Dua minggu sebelum Karim Broto meninggal.
"Dia menulis ini," bisik Mang Asep, suaranya pecah, "ketika dia sudah tidak kuat bangun dari ranjang, Non. Saya yang mengantarkannya ke kantor pos kecil di ujung jalan. Dia bilang ini surat bisnis."
Jingga membuka lembar pertama. Mata ayahnya menjawab dari balik tinta, dari dua tahun yang lalu, dari seberang kubur.
"Untuk Jingga-ku," baca Jingga, suaranya bergetar. "Kalau kau membaca ini, berarti Ayah sudah tidak ada, dan berarti kau sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang Ayah tidak sempat melindungimu darinya..."
Kalimat berikutnya tidak sempat ia baca. Karena air matanya jatuh lebih dulu, dan Sarah merangkulnya, dan di kamar peninggalan ayahnya itu, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Jingga menangis di pelukan keluarganya sendiri.