Butuh waktu lama sebelum Jingga bisa melanjutkan. Sarah menyekanya dengan telapak tangan yang hangat, Mang Asep berdiri di sudut dengan mata merah, dan di luar pintu, rumah besar itu diam seperti ikut menahan napas.
Lalu Jingga menarik napas, dan suaranya mengisi kamar itu dengan kata-kata ayahnya.
"Untuk Jingga-ku. Kalau kau membaca ini, berarti Ayah sudah tidak ada, dan berarti kau sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang Ayah tidak sempat melindungimu darinya.
Pertama, Ayah minta maaf. Ayah membawa wanita itu masuk ke rumah kita. Ayah menceraikan Mamamu dan membiarkannya patah hati sampai ajalnya. Tidak ada alasan yang cukup untuk itu. Ayah bukan korban, Jingga. Ayah adalah orang yang memilih dengan bodoh, dan hukuman atas kebodohan itu sedang Ayah bayar sekarang, pelan-pelan, setiap malam."
Sarah menggenggam tangan Jingga erat-erat. Jingga menelan rasa sakitnya, dan melanjutkan.
"Sebelum Ayah lanjutkan, satu hal soal Mamamu. Setiap malam sejak dia pergi, Ayah duduk di kamarnya dan tidak menyalakan lampu. Ayah orang yang salah mengira bahwa rumah ini akan tetap berdiri kalau Ayah mengganti penghuninya. Rumah tidak berdiri oleh batu bata, Jingga. Rumah berdiri oleh orang yang menunggumu pulang. Dan Ayah sudah membunuh orang yang menungguku pulang. Kalau ada satu doa yang Ayah titipkan pada Tuhan, itu adalah supaya kau tidak pernah merasakan penyesalan semacam itu. Pilihlah dengan benar orang yang kau izinkan menunggumu pulang."
Jingga menyeka pipinya dengan punggung tangan. Di sudut, Mang Asep berpaling ke dinding, karena dalam dua puluh tahun mengabdi ia tidak pernah mengizinkan siapa pun melihatnya menangis.
"Kedua, dengarkan Ayah baik-baik. Sakit Ayah bukan sakit biasa. Tiga bulan lalu Ayah berobat diam-diam ke Dokter Gunawan, teman lama Ayah, tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah ini. Hasil darah Ayah menunjukkan zat yang membuat darah sulit membeku, dalam jumlah kecil tapi teratur, seperti ada yang membagikannya kepadaku sedikit demi sedikit. Dokter Gunawan bertanya obat apa yang rutin Ayah minum. Ayah tidak bisa menjawab, karena selama ini semua obat Ayah yang mengatur adalah Mei.
Ayah tidak punya bukti yang cukup untuk menuduhnya. Ayah hanya punya waktu yang tidak cukup untuk membuktikannya."
Jingga berhenti. Dadanya naik turun. Mang Asep sudah tidak sanggup berdiri; ia duduk di tepi ranjang mendiang majikannya dengan kepala tertunduk.
"Tuanku... sebenarnya sudah tahu," suara Mang Asep pecah. "Saya ingat Tuan mulai sering menolak susu yang saya antarkan. Katanya, simpan saja, Mang. Saya kira beliau tidak selera. Ternyata beliau sedang berusaha hidup, dan saya tidak mengerti apa-apa."
"Kau tidak bisa mengerti apa yang memang disembunyikan darimu, Mang," kata Sarah pelan. "Lanjutkan, Nak. Kakakku sedang bicara. Jangan membuatnya menunggu."
Jingga mengangguk, mengusap matanya, dan kembali ke lembar berikutnya.
"Ketiga, soal wasiat. Suatu malam, dua bulan lalu, Mei datang ke kamar Ayah dengan dua orang lelaki dan sebuah dokumen. Ayah tidak mengenal notarisnya. Ayah mengenal salah satu lelaki itu: preman dari zaman klub malamnya dulu. Mereka tidak memukul Ayah. Mereka tidak perlu. Mei hanya berkata satu kalimat: Tanda tangani ini, atau besok Jingga yang akan didatangi orang-orangku di perjalanan pulang kuliahnya.
Jingga-ku, Ayah menandatanganinya. Bukan karena Ayah takut mati. Ayah sudah setengah mati. Ayah menandatanganinya karena Ayah takut padamu. Maafkan Ayah karena hanya punya itu untuk melindungimu."
Sarah menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir di pipi wanita keras kepala itu tanpa suara, dan tangannya yang menggenggam Jingga gemetar seperti daun.
"Jadi wasiat itu..." bisik Jingga.
"Palsu," sahut Sarah serak. "Dipaksa. Tidak sah. Kita bisa membatalkannya, Jingga. Dengan surat ini, kita bisa."
"Sstt. Masih ada." Jingga menyeka matanya dan melanjutkan.
"Keempat, dan ini yang paling penting. Ayah tidak menyerah begitu saja. Setiap kali Mei memberikan obat, Ayah berpura-pura meminumnya, lalu menyimpan sebagian. Strip obat, bungkusnya, tanggalnya. Ayah juga menulis buku harian kecil: jam berapa obat diberikan, siapa yang membawanya, bagaimana badan Ayah setelahnya. Semua Ayah bungkus dalam kotak kaleng biskuit Mamamu. Kalau kau ingat, itu kaleng biru yang tidak pernah boleh kau buka waktu kecil.
Ayah menguburnya di tempat yang paling dicintai Mamamu. Kau pasti tahu di mana. Wanita itu tidak akan pernah menginjak tempat itu, karena baginya tempat itu tidak ada artinya."
Jingga dan Sarah berpandangan. Keduanya mengucapkannya dalam satu napas yang sama.
"Taman mawar."
"Kelima," lanjut Jingga, suaranya kini lebih kuat, seolah surat itu sedang mengalirkan tenaga ayahnya ke dalam tubuhnya. "Kalau kau menemukan surat ini, lakukan persis seperti ini: bawa ke Pak Tony, dia satu-satunya pengacara yang tidak bisa dibeli wanita itu. Jangan hadapi Mei sendirian. Dia punya teman-teman dari masa lalunya yang tidak segan menyakiti orang, dan kecantikannya membuat orang lupa bahwa dia dibesarkan di dunia yang keras. Bersabarlah. Kumpulkan semuanya dulu, baru bergerak sekali. Orang seperti Mei tidak boleh diberi kesempatan kedua, karena dia tidak pernah memberi kesempatan kedua pada siapa pun.
Terakhir, Jingga-ku. Ayah titip perusahaan, rumah, dan Mang Asep padamu. Ayah titip Bibi Sarah padamu, dia keras kepala tapi hatinya lebih lembut dari tahu bantal. Dan satu hal lagi: jangan biarkan dendam mengambil seluruh hidupmu. Bersihkan nama keluarga kita, lalu hiduplah. Tertawalah. Kalau suatu hari kau menemukan seseorang yang membuatmu merasa seperti rumah, jangan takut. Ayah gagal dalam memilih, bukan berarti cinta itu sendiri yang salah.
Ayah mencintaimu. Lebih dari yang pernah sempat Ayah katakan. — Ayah, Karim Broto."
Surat itu selesai. Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bicara di kamar itu. Jam dinding berdetak. Angin menggoyang tirai. Dan tiga orang yang ditinggalkan duduk dalam lingkaran kecil mereka, dikelilingi oleh sepuluh lembar tinta dari seorang pria yang sudah dua tahun berada di dalam tanah.
Mang Asep yang pertama bicara, suaranya parau. "Saya ingat kaleng biru itu, Non. Nyonya Melinda menyimpan resep-resepnya di sana. Tuan memang pernah minta sekop kecil pada saya, malam-malam, katanya mau memindahkan mawar. Saya tidak pernah curiga."
"Besok kita gali," kata Sarah. "Pelan-pelan. Sebelum matahari terbit."
"Pak Tony harus tahu dulu," ucap Jingga. Ia memeluk surat itu ke dadanya seperti memeluk lengan ayahnya. "Dan Tono. Besok pagi aku menelepon mereka berdua. Kita bergerak persis seperti kata Papa. Semua lengkap dulu. Baru sekali serang."
Sarah menatap keponakannya, dan untuk sepersekian detik ia melihat kakaknya berdiri di sana: mata yang sama, ketegasan yang sama, keberanian yang sama. "Kau tahu," bisiknya, "kau bukan hanya mirip ibumu. Tadi itu, kau adalah Karim yang berdiri."
Normal Pov.
Di lorong, di kegelapan yang sudah menjadi wilayahnya, Mei berdiri mematung.
Ia terbangun karena haus dan mendapati rumahnya kosong dari penghuninya yang biasa. Tidak ada Mang Asep di kamarnya. Tidak ada Jingga. Tidak ada Sarah. Dan pintu kamar mendiang Karim—kamar yang selama dua tahun tidak pernah ia lewati tanpa mempercepat langkah—tidak rapat.
Mei membenci kamar itu. Bukan karena takut pada orang mati; orang mati tidak bisa berbuat apa-apa, ia sudah membuktikannya. Ia membencinya karena kamar itu adalah satu-satunya ruangan di rumah ini yang tidak pernah berhasil ia kuasai. Barang-barang Karim tidak ada yang berani memindahkannya. Buku-bukunya tetap di rak. Jam tangannya tetap di nakas. Seolah-olah pria itu hanya keluar sebentar dan akan kembali marah kalau mendapati barangnya disentuh.
Dan malam ini, tiga orang berada di dalamnya sampai lewat tengah malam.
Mei mendekat tanpa suara, kebiasaan dari masa lalunya yang tidak pernah hilang. Dari balik pintu ia mendengar sesuatu. Tangisan tertahan. Suara Sarah yang parau. Dan satu kalimat terakhir yang membuat darahnya berdesir:
"Besok kita gali. Sebelum matahari terbit."
Menggali. Menggali apa? Di mana?
Sekejap, tangan Mei sudah berada di gagang pintu. Ia bisa masuk sekarang, menyalakan lampu, dan menuntut penjelasan sebagai nyonya rumah. Tapi naluri lamanya menahannya: orang yang membuka pintu terlalu cepat akan kehilangan kesempatan melihat apa yang ada di baliknya. Ia menarik tangannya.
Mei mundur perlahan, selangkah demi selangkah, kembali ke kamarnya, dan menutup pintu tanpa bunyi. Di kegelapan kamarnya ia berdiri lama, menghitung. Wanita Surabaya itu datang pagi tadi dengan tas yang tidak pernah dilepas. Malam ini tiga orang berkumpul di kamar orang mati sampai tengah malam. Dan besok, sebelum matahari terbit, mereka akan menggali sesuatu.
Mei mengambil ponselnya. Ia tidak menelepon Tiara kali ini. Ia menelepon nomor tanpa nama yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, nomor dari masa lalu yang ia simpan untuk malam-malam seperti ini.
"Bangun," katanya begitu telepon diangkat. "Aku butuh kalian mengawasi rumahku. Dan aku butuh tahu apa yang disembunyikan orang-orang di tamanku."