Pukul empat pagi, taman mawar di belakang rumah keluarga Broto hanya diterangi satu senter kecil yang ditutup kain merah supaya cahayanya tidak jauh.
Mang Asep yang menggali. Tangannya sudah tua, tapi tangannya juga yang menanam separuh taman ini, dan ia menggali seperti orang yang sedang membuka kembali luka lamanya sendiri. Jingga memegang senter. Sarah memegang jaket keponakannya yang disampirkan ke bahu gadis itu, karena embun subuh tidak peduli pada tekad.
"Mawar ini saya tanam bersama Nyonya Melinda," bisik Mang Asep di sela kerjanya. "Tahun Non baru lahir. Nyonya bilang, satu mawar untuk setiap tahun hidup anaknya. Waktu Non umur sepuluh, tamannya sudah penuh, dan Nyonya tertawa bilang kita harus berhenti menghitung supaya tidak ketahuan umurnya." Suara pria tua itu bergetar di tepinya. "Sejak Nyonya pergi, tidak ada yang berani menyentuh bagian taman ini. Saya saja yang diam-diam menyiramnya."
"Itulah kenapa Ayah memilih tempat ini," sahut Jingga pelan. "Tempat yang tidak akan pernah diinjaknya. Tempat yang Mama jaga bahkan setelah pergi."
"Di bawah mawar yang tertua," bisik Mang Asep. "Kalau saya ingat benar, Tuan memindahkan mawar tua itu malam itu. Yang ini. Yang batangnya paling besar."
Tanahnya gembur. Sekop kecil itu turun naik dengan suara yang terdengar terlalu keras di tengah kesunyian. Dua kali Jingga mematikan senternya mendadak—sekali karena bunyi motor lewat di depan rumah, sekali karena jendela di lantai dua tiba-tiba menyala—dan dua kali pula jantung mereka bertiga berhenti bersamaan sampai cahaya itu padam lagi.
Lalu sekop itu berbunyi lain.
Tak.
Bukan bunyi tanah. Bunyi besi.
Jingga berlutut tanpa peduli piyamanya kotor. Tangannya masuk ke lubang itu, menyibak tanah, dan menarik keluar sesuatu yang dibungkus plastik berlapis-lapis dan dililit karet gelang yang sudah getas.
Kaleng biskuit biru. Gambar gadis kecil berkuda di tutupnya sudah pudar, tapi Jingga mengenalnya seperti mengenal wajahnya sendiri. Kaleng yang tidak pernah boleh ia buka waktu kecil. Kaleng resep-resep Mamanya.
"Tiga puluh tahun kaleng ini di rumah ini," bisik Sarah. "Dan dua tahun dia menjaganya dari dalam tanah."
Jingga membukanya di sana juga, di antara tanah dan embun, karena tidak seorang pun dari mereka sanggup menunggu lebih lama.
Di dalamnya: strip-strip obat yang disusun rapi, masing-masing diberi label kertas kecil dengan tulisan tangan yang makin gemetar dari bulan ke bulan. "12 Maret, dari tangan Mei." "19 Maret, dibawakan pelayan, disuruh Mei." "26 Maret, Mei sendiri yang mengawasi sampai kutelan—kusimpan separuh di bawah lidah."
Dan sebuah buku saku bersampul hitam. Buku harian orang yang sedang diracuni, ditulis oleh tangan yang menolak mati sebelum selesai bersaksi.
Jingga memeluk kaleng itu di tanah, di antara mawar-mawar ibunya, dan tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun ketika fajar akhirnya naik dan menemukan mereka di sana: tiga orang berlutut di kebun, seperti sedang berdoa, padahal sedang menerima kembali kebenaran yang pernah dikubur.
Normal Pov.
Pak Tony datang pukul sembilan pagi, lebih cepat dari janji, karena Jingga meneleponnya dengan dua kata saja: "Sudah ketemu."
Di ruang kerja Jingga di HA Express—bukan di rumah, karena rumah itu sudah tidak aman untuk benda-benda berharga—mereka membuka kaleng biru itu di atas meja. Pak Tony membaca buku harian hitam itu halaman demi halaman dengan wajah yang semakin lama semakin mengeras.
"Tanggal-tanggal ini," katanya akhirnya, menunjuk. "Aku perlu catatan apotek yang ada di polisi itu. Kalau tanggal pembelian di Apotek Kurnia bertemu dengan tanggal-tanggal pemberian di buku ini, maka keduanya saling mengunci. Tidak ada jaksa yang bisa menganggap itu kebetulan."
"Tono sudah memotret semua halamannya," kata Jingga. "Akan aku minta hari ini juga."
"Dan strip obat ini—" Pak Tony mengangkat satu strip dengan ujung pena, seperti mengangkat barang bukti di persidangan, "—masih ada sisanya di beberapa kemasan. Dua tahun memang lama, tapi laboratorium forensik bisa memeriksa kandungannya. Kalau kandungannya pengencer darah, sementara ayahmu tidak pernah punya resep untuk itu, maka pertanyaannya tinggal satu: siapa yang meminumkannya?"
"Mei," kata Sarah, dan suaranya tidak bergetar sama sekali. "Namanya ada di setiap label."
"Belum selesai." Pak Tony mengangkat tangannya. "Kita punya pola pembelian, kita punya saksi pengantar yang sedang dicari di Malang, kita punya buku harian korban, kita punya surat yang menyatakan wasiat itu dipaksa. Tapi semua ini baru akan berbicara kalau dirangkai resmi. Aku akan menyusun laporannya. Tono mengurus jalur kepolisiannya. Kalian—" ia menatap Jingga dan Sarah bergantian, "—kalian bersikap biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Itu bagian tersulitnya, dan itu yang paling penting."
"Pak Tony," ucap Jingga, "soal Notaris Hendrawan itu?"
"Sedang kucari. Pensiunan notaris tidak menghilang begitu saja; arsipnya wajib diserahkan ke notaris pengganti atau ke majelis pengawas. Selama kertasnya masih ada di Indonesia, aku bisa menemukannya. Pertanyaannya hanya apakah dia mau bicara atau tidak." Pak Tony mengetuk-ngetuk mejanya. "Dan ada satu nama lagi yang harus kita jaga baik-baik: Dokter Gunawan. Kalau dia masih praktik, dia adalah saksi ahli yang tidak bisa dibantah siapa pun—dokter yang memeriksa ayahmu, yang melihat darahnya, yang bertanya pertanyaan yang benar di saat semua orang bertanya pertanyaan yang salah."
"Ayah menyebutnya teman lama," kata Jingga. "Berarti dia tidak dibayar Mei. Itu sudah cukup jadi alasan untuk percaya padanya."
Sarah, yang sejak tadi diam sambil memeluk lengan sendiri, akhirnya bersuara. "Aku tidak peduli soal strategi kalian. Aku cuma mau satu hal dicatat: ketika hari itu tiba, ketika wanita itu diseret keluar dari rumah kakakku, aku mau berada di sana. Di barisan paling depan. Dan aku mau dia melihat wajahku."
Pak Tony menatap wanita tua itu, lalu mengangguk sekali. "Dicatat."
"Berapa lama?" tanya Jingga.
"Untuk membuka penyelidikan resmi? Dengan semua ini, hitungan minggu, bukan bulan." Pak Tony menutup buku hitam itu dengan hormat, seperti menutup mata orang mati. "Ayahmu menulis ini sambil sekarat, Jingga. Dia membangun jembatan dari dalam kuburnya. Tugas kita hanya berjalan di atasnya dengan hati-hati."
Kaleng biru itu tidak kembali ke rumah. Hari itu juga ia masuk ke lemari besi kantor Pak Tony, di antara berkas-berkas yang dijaga lebih ketat dari uang.
Normal Pov.
Kevin pulang sore dengan kepala penuh nomor-nomor rumah sakit. Dua hari terakhir ia menghubungi yayasan donor, bank data transplantasi, dua rumah sakit besar, siapa pun yang bisa memberinya jalan keluar dari cengkeraman Mei. Hasilnya belum ada, tapi untuk pertama kalinya ia merasa sedang berjuang di medan yang benar.
Di meja makan, ia mendapati Jingga dengan mata sembab yang disembunyikan di balik senyum, dan seorang wanita tua Surabaya yang menatapnya seperti menilai barang pecah belah.
"Kamu kotor," kata Kevin pada Jingga, menunjuk pelan ke arah kukunya.
Jingga menarik tangannya. "Berkebun."
"Jam empat pagi?"
"Kak Kevin menghitung jamku lagi?"
Kevin diam. Lalu, tanpa komentar, ia mengambil kotak P3K dari laci, mengeluarkan plester, dan menyorongkannya ke seberang meja. "Ada luka di jari telunjukmu. Sekop bisa berkarat."
Jingga menatap plester itu, lalu menatapnya. Untuk sesaat perang dingin dua hari itu mencair di tepinya, walau tidak ada yang mengakuinya.
Sarah mengamati keduanya sambil menyesap tehnya, dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi malam itu ia berbisik pada Mang Asep di dapur: "Pria itu menyukai keponakanku seperti orang tenggelam menyukai daratan."
"Sayangnya dia suami orang, Nyonya," jawab Mang Asep murung.
"Suami kontrak," koreksi Sarah. "Dan kontrak bisa habis. Tapi itu urusan nanti. Sekarang kita punya perang yang lebih besar."
Normal Pov.
Dan perang itu, malam itu juga, mendapatkan babak barunya.
Mei berdiri di kamarnya dengan ponsel menempel di telinga, mendengarkan laporan yang membuat wajahnya berubah dari tenang menjadi batu.
"Subuh tadi, Nyonya. Tiga orang. Perempuan tua yang baru datang, gadis itu, dan pelayan tua. Mereka menggali di taman belakang, di bawah pohon mawar besar. Mereka mengangkat sesuatu. Seperti kotak. Dibawa masuk, dan sore harinya si gadis pergi ke kantornya membawa tas yang lebih berat dari biasanya."
Mei tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke jendela yang menghadap taman belakang, ke arah mawar-mawar yang tidak pernah ia injak tanahnya dalam dua tahun, karena baginya tempat itu tidak ada artinya.
Tempat yang paling dicintai orang mati.
"Karim," bisiknya pada kegelapan, dan namanya keluar seperti kutukan. "Kau menyimpan sesuatu dariku. Bahkan setelah mati, kau masih menyimpan sesuatu dariku."
Ia menutup teleponnya. Berdiri diam sangat lama. Lalu ia membuka laci kamarnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil miliknya sendiri, dan mulai menulis daftar: apa yang mungkin Karim simpan, siapa yang mungkin tahu, ke mana kotak itu sekarang dibawa.
Di baris terakhir, ia menulis satu nama dan melingkarinya dua kali.
Jingga.
"Baiklah, gadis kecil," ucapnya pada sunyi. "Kau mau bermain petak umpet dengan barang bukti? Mari kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan apa."