Motor itu sudah dua hari parkir di tempat yang sama.
Jingga memperhatikannya dari layar ketujuh di ruang pengintainya, layar yang menangkap jalanan di depan rumah. Sebuah motor bebek hitam, pengendaranya bertopi, selalu datang setelah matahari terbit dan pergi sebelum Maghrib. Tidak pernah turun dari motornya. Tidak pernah membeli apa pun di warung sebelah. Hanya duduk, merokok, dan sesekali melihat ke arah pagar rumah keluarga Broto seperti orang yang dibayar untuk melihat.
Kemarin Jingga menganggapnya kebetulan. Tukang ojek yang menunggu penumpang, mungkin. Kurir yang kelebihan waktu istirahat. Tapi tukang ojek tidak datang dua hari berturut-turut ke titik yang sama dengan jam kedatangan yang sama persis, dan kurir tidak pernah mengarahkan wajahnya ke satu pagar seolah pagar itu bisa berbicara.
Di buku catatannya, Jingga menulis: "Pengamat di seberang jalan. Hari kedua. Motor bebek hitam. Pria bertopi. Bukan pria yang mengantar paket—posturnya beda."
Ia menelepon Tono.
"Plat nomornya bisa kubaca," katanya, dan menyebutkan deretan huruf dan angka yang sudah ia catat dari hasil zoom kamera. "Sudah dua hari di sana."
"Jangan diusir." Jawaban Tono datang cepat. "Dengar, Jingga. Orang yang mengawasi itu kabar buruk sekaligus kabar baik. Kabar buruknya: Mei memastikan ada sesuatu yang dia cari di rumahmu. Kabar baiknya: dia tidak akan mengawasi rumah itu kalau barangnya sudah dia temukan. Berarti kita masih lebih dulu. Biarkan dia menonton. Orang yang tidak menemukan apa-apa lama-lama berdiri di tempat yang salah, dan kesalahan itulah yang nanti menuntun kita ke orang yang menyuruhnya."
"Aku paling tidak suka bagian 'biarkan dia menonton'-nya," gerutu Jingga.
"Aku tahu. Tapi kau sudah terlalu jauh berjalan untuk tergesa-gesa sekarang."
"Dan platnya?"
"Akan kucari tahu. Tapi kemungkinan besar plat pinjaman atau palsu. Orang yang disewa untuk pekerjaan seperti ini jarang sebodoh itu. Yang penting bukan motornya, Jingga. Yang penting adalah kau tidak berubah sedikit pun. Kalau kau berubah, dia tahu kau tahu."
Normal Pov.
Mei tidak hanya mengawasi dari luar.
Hari Kamis itu, ketika Jingga di kantor dan Kevin di Pra-building, ia turun dari kamarnya dengan langkah yang ringan dan bertanya pada Mang Asep dengan nada yang tidak terlalu peduli, "Nyonya Sarah ke mana?"
"Jalan-jalan ke pasar dengan Nada, Nyonya."
"Dan kau akan ke belakang mencuci, seperti biasa?"
Mang Asep menjawab seperlunya, tapi sepasang matanya yang tua mengikuti punggung wanita itu sampai hilang di tangga. Dua puluh tahun di rumah ini mengajarinya satu hal: orang yang bertanya ke mana semua penghuni pergi biasanya sedang menyiapkan sesuatu yang tidak ingin dilihat siapa pun.
Ia tidak salah.
Di lantai dua, Mei berdiri di depan kamar Jingga, memutar gagang pintunya, dan masuk seperti masuk ke kamarnya sendiri.
Kamar itu rapi. Terlalu rapi, pikir Mei. Perempuan seusianya seharusnya menyisakan kekacauan: baju di kursi, kertas berserakan, sesuatu yang manusiawi. Kamar ini seperti kamar hotel. Mei membuka laci-laci nakas, lemari pakaian, kolong ranjang, tumpukan buku di meja belajar. Ia tidak mencari perhiasan. Ia mencari sesuatu yang digali dari tamannya: kotak, kertas, buku, apa pun yang bisa membuat tiga orang menangis di kamar orang mati sampai tengah malam.
Ia bekerja dengan sistematis. Setiap laci dibuka penuh, diperiksa, ditutup pada posisi yang sama persis. Foto-foto di rak diangkat satu per satu dan diperiksa belakangnya. Alkitab kecil peninggalan Melinda di nakas ia kocok pelan, menunggu ada kertas yang jatuh—tidak ada. Bahkan sarung bantal ia raba dengan ibu jarinya, mencari benda keras yang disembunyikan di dalam.
Tidak ada apa-apa.
Mei berdiri di tengah kamar itu dengan napas yang mulai memburu. Tidak masuk akal. Kotak itu digali subuh, dibawa masuk, dan sorenya Jingga pergi ke kantornya dengan tas lebih berat. Ke kantor. Kalau bukan di sini, berarti...
Di kantornya. Atau di tangan orang yang dipercayainya.
Pengacara tua itu, misalnya. Nama yang sudah dua kali muncul dalam laporan orangnya: sekali menanyakan arsip notaris, sekali dikunjungi gadis itu dengan tas berat.
"Bu Mei?"
Suara Sarah dari lorong membuat darah Mei berdesir. Wanita tua itu sudah pulang—terlalu cepat. Mei melangkah ke pintu dengan tenang yang dipaksa, dan berpapasan dengan Sarah tepat di ambang pintu kamar Jingga.
"Kau sedang apa di kamar keponakanku?" suara Sarah datar.
"Mencari charger ponselku," jawab Mei tanpa kedip. "Kukira tertinggal di sini waktu aku meminjam kamar ini kemarin. Ternyata tidak ada."
"Kamu tidak pernah meminjam kamar ini."
"Kalau begitu aku salah kamar." Mei tersenyum, lewat begitu saja. "Namanya juga rumah besar, Sarah. Gampang tersesat."
"Mei."
Suara Sarah menghentikan langkahnya di ujung lorong. Tidak keras. Justru karena tidak keras, Mei berhenti.
"Aku akan mengatakan ini satu kali saja," lanjut Sarah. "Di rumah ini, kamu boleh berpura-pura menjadi apa saja: nyonya rumah, istri yang baik, korban yang sabar. Aku tidak peduli. Tapi mulai hari ini, kalau kamu masuk ke kamar keponakanku lagi tanpa izinnya, aku akan membuat seluruh penghuni rumah ini tahu apa yang kamu cari. Dan kamu, Mei—" Sarah tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah sampai ke matanya, "—kamu paling tidak suka orang tahu apa yang sedang kamu cari."
Mei tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya dengan punggung yang tetap lurus, tapi rahangnya mengeras sampai gigi-giginya sakit.
Sarah tidak bergerak dari ambang pintu. Ia menatap punggung Mei yang menjauh dengan mata yang tidak berkedip, dan ketika punggung itu hilang, ia masuk ke kamar Jingga dan memeriksa setiap laci dengan tangannya sendiri. Semua masih rapi. Tapi Sarah tahu tangan yang baru saja mengaduk-aduk, sama seperti ia tahu bau badak yang lewat di hutan.
Malamnya ia memberi tahu Jingga.
Dan Jingga, dengan tenang, membuka laptopnya dan memutar ulang rekaman kamera lorong lantai dua dari jam yang Sarah sebutkan. Di layar, jelas terlihat Mei masuk ke kamarnya pukul 11.23 dan keluar pukul 11.41, dengan tangan kosong dan wajah yang tidak puas.
Jingga memutar cuplikan itu dua kali. Bukan karena perlu, melainkan karena ada kepuasan tersendiri melihat wajah frustrasi wanita itu dalam definisi tinggi.
Sarah, yang menonton di sebelahnya, bersungut pelan. "Kurang ajar benar. Kalau kakakku masih hidup, perempuan itu sudah diseret keluar lewat pintu depan."
"Kalau Papa masih hidup, Bibi, kita tidak akan pernah tahu dia perempuan macam apa." Jingga menutup laptopnya pelan. "Justru karena Papa sudah tidak ada, dia jadi ceroboh. Dulu dia takut pada Papa. Sekarang dia tidak takut pada siapa pun. Itu kesalahan orang yang merasa sudah menang."
Jingga memotong cuplikan itu, menyimpannya ke tiga tempat yang berbeda, lalu menulis di buku catatannya: "Mei menggeledah kamarku. Tidak menemukan apa-apa. Berarti: (1) orangnya di seberang jalan melihat penggalian, (2) dia tahu kotak itu ada, (3) dia belum tahu di mana kotaknya sekarang."
Di bawahnya ia menambahkan satu baris lagi, dan tersenyum tipis saat menuliskannya: "Dia mencari di rumah ini. Padahal rumah ini sudah tidak menyimpan apa-apa lagi untuknya."
Normal Pov.
Mei tidak tahu soal kamera lorong itu. Tidak pernah tahu, karena kamera-kamera rumah ini dipasang sebelum ia datang, dan Karim tidak pernah cukup bodoh untuk memberi tahunya.
Yang Mei tahu hanyalah bahwa kotak itu tidak ada di kamar gadis itu, dan bahwa Sarah menatapnya sepanjang makan malam seperti sedang menghitung dosa-dosanya satu per satu.
Maka malam itu, dari kamarnya, Mei mengubah strategi. Ia menelepon Tiara.
"Foto-fotomu sudah bekerja dengan baik," katanya. "Tapi perang di meja makan sudah selesai masanya. Sekarang kita pindah ke tempat yang tidak bisa dikontrol gadis itu."
"Tempat apa?"
"Tempat di mana nama baik seorang gadis dua puluh tahun bisa hancur dalam satu pagi," jawab Mei. "Kau model. Kau punya teman wartawan. Besok, pakai."
Di seberang sana, Tiara terdiam sebentar. Lalu suaranya terdengar, datar dan sudah jauh dari keraguan. "Aku tahu persis siapa yang harus kutelepon."