Lisa masuk ke ruangan Jingga pukul delapan kurang sepuluh menit, dengan wajah orang yang baru saja membaca kematian seseorang.
"Bu. Sebaiknya Ibu duduk dulu."
"Aku sudah duduk, Lisa. Katakan."
Lisa meletakkan tabletnya di atas meja dengan tangan gemetar. Di layar, sebuah situs gosip hiburan terbesar di negeri itu menampilkan judul dengan huruf yang lebih besar dari yang biasa mereka pakai untuk pernikahan selebriti:
PEWARIS HA EXPRESS DAN SUAMI ORANG: INI FOTO-FOTONYA
Di bawahnya, foto-foto pasar malam itu. Jingga dan Kevin di mobil. Kevin menurunkan Jingga di depan kantornya. Dan artikel tiga kolom yang menulis semuanya dengan bahasa yang tidak menuduh secara langsung, tapi membiarkan pembacanya menuduh sepuasnya: pengusaha muda pemilik Pratama Group yang "diketahui publik sudah menikah", dan pewaris muda HA Express yang "tinggal serumah" dengannya.
Kata "serumah" ditulis dengan tanda kutip. Tanda kutip yang lebih kejam dari tuduhan mana pun.
Kolom komentarnya sudah ribuan.
Jingga membaca semuanya sampai selesai. Dua kali. Lalu ia meletakkan tablet itu di meja dengan pelan, seperti orang meletakkan gelas yang sudah retak, dan menatap ke luar jendela kantornya.
"Berapa banyak yang sudah menelepon?" tanyanya.
Lisa menelan ludah. "Tiga klien meminta penjelasan. Satu—" ia ragu, "—satu klien besar menghentikan kontrak sementara sampai, katanya, situasi Ibu jelas. Dan di lobi bawah sudah ada empat wartawan sejak setengah jam lalu. Satpam menahan mereka di luar."
Pukul delapan pagi, dan dunia sudah berubah.
Jingga Pov.
Ini dia. Ini yang selalu kutakutkan tanpa pernah kuberi nama.
Bukan beritanya. Berita bisa mati dalam seminggu, digantikan skandal artis yang lebih segar. Yang kutakutkan adalah kata-katanya. "Perebut suami orang." "Tinggal serumah." Anak mama yang tidak tahu malu. Aku bisa membayangkan Mama membaca ini kalau dia masih hidup, dan rasa sakit itu lebih tajam dari semua jarum yang pernah Mei siapkan untukku.
Tapi di atas semua itu, ada satu hal yang lebih keras dari takut: marah.
Karena aku tahu tulisan tangan di balik berita ini. Foto-foto pasar malam yang sama dengan amplop di meja makan. Sudut yang sama, waktu yang sama, jari yang sama. Dua wanita bersulang teh di Senopati, dan pagi ini aku yang membayar tagihannya.
Baik. Kalau mereka mau perang terbuka, aku akan belajar perang terbuka.
"Bu Jingga?" suara Lisa membuyarkan lamunanku.
"Aku tidak apa-apa, Lisa." Aku berdiri, merapikan blazerku. "Buat pernyataan pendek. Satu: HA Express perusahaan ekspedisi, bukan sinetron, dan pekerjaan kami tidak berubah. Dua: tidak ada komentar untuk urusan pribadi. Tiga: wartawan yang memaksa masuk akan dilaporkan. Sekarang kita ada rapat pukul sembilan. Pergi siapkan."
Lisa menatapku seperti menatap orang yang baru saja berjalan menembus tembok. Lalu ia mengangguk cepat dan keluar, dan begitu pintunya tertutup, barulah aku mengizinkan lututku gemetar di balik meja. Sepuluh detik. Tidak lebih.
Jingga Pov End.
Normal Pov.
Pukul sepuluh lewat, ketika rapat baru saja selesai, satu panggilan masuk ke ponsel Jingga dari nama yang membuatnya langsung keluar dari ruang rapat: Tante Sinta.
"Kamu sudah baca beritanya?" tanya Sinta tanpa basa-basi, tapi suaranya bukan suara orang menghakimi. Suaranya suara orang yang marah pada sesuatu yang lain.
"Sudah, Tante. Tante tidak perlu percaya—"
"Jangan selesaikan kalimat itu." Sinta memotong, tegas. "Aku tidak menelepon untuk bertanya benar atau tidak. Aku menelepon untuk memberi tahu bahwa aku tidak percaya satu kata pun dari sampah itu, dan bahwa aku sudah mengenalmu cukup lama untuk tahu kapan seorang gadis sedang difitnah."
Jingga terdiam. Di ujung telepon, ia bisa mendengar napas Sinta yang sedikit berat, napas orang yang tubuhnya sedang dibebani dua hal sekaligus: penyakitnya dan keprihatinannya.
"Jingga, dengarkan Tante. Dua puluh tahun aku hidup di dunia yang penuh orang seperti mereka. Orang yang tidak punya pekerjaan selain menghakimi dapur orang lain. Mereka tidak marah karena kau salah. Mereka marah karena kau muda, cantik, kaya, dan tidak meminta izin pada siapa pun. Itu dosa yang tidak pernah mereka maafkan pada perempuan mana pun."
"Tante—" suara Jingga akhirnya bergetar, dan ia membencinya, tapi tidak bisa menahannya.
"Menangislah kalau perlu, tapi jangan di depan mereka." Suara Sinta melembut. "Di depan mereka, kau angkat dagumu. Keluarga Pratama tidak pandai banyak hal, Nak, tapi kami tahu cara mengenali orang baik. Dan kamu orang baik. Titik."
Telepon itu ditutup, dan Jingga berdiri di lorong kantornya cukup lama, menyimpan hangat kalimat itu di tempat yang paling dingin di dadanya. Hari itu ada ribuan orang asing menghakiminya di kolom komentar, tapi satu orang yang berhak menghakiminya justru memilih berdiri di sisinya.
Terkadang, itu cukup.
Normal Pov.
Di Pra-building, Kevin membaca berita yang sama dan melempar tabletnya ke sofa sampai memantul dua kali.
Kepala humasnya berdiri di depan mejanya dengan keringat dingin. "Sudah lima belas media meminta komentar, Pak. Termasuk dua media bisnis. Yang paling berbahaya bukan gosipnya, tapi pertanyaannya: kalau benar Anda menikah, maka—"
"Aku tahu pertanyaannya," potong Kevin. Ia berjalan ke jendela, ke arah kota yang pagi ini sedang asyik membaca aib orang lain sambil minum kopi. "Mereka tidak menyerangku. Mereka menyerangnya. Gadis dua puluh tahun yang bahkan tidak pernah meminta apa pun dari hidup ini."
"Pak Kevin, pernyataan resmi yang paling aman adalah menyangkal kedekatan dan menegaskan pernikahan Anda—"
"Pernikahan itu kontrak di atas kertas, dan kau tahu itu."
"Justru karena itu, Pak. Kalau publik tahu pernikahan Anda kontrak, pertanyaannya berubah dari 'perselingkuhan' menjadi 'kebohongan'. Itu jauh lebih buruk untuk Pratama Group."
Kepala humas itu melanjutkan dengan hati-hati, memilih kata seperti orang berjalan di atas pecahan kaca. "Ada satu opsi lagi, Pak. Kita diam saja. Gosip seperti ini umurnya seminggu. Nona Broto bukan publik figur; orang akan lupa. Yang penting Pratama Group tidak ikut terseret."
Kevin menoleh dari jendela, menatap bawahannya itu lama. "Kalau yang difitnah itu adikmu, kau juga akan menyarankannya diam seminggu?"
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, dan kepala humasnya cukup pintar untuk tidak menjawabnya.
Kevin tidak menjawab. Di kepalanya, kalimat ibunya berputar lagi: jangan tunggu sampai terlambat untuk memilih. Dan di dadanya, sesuatu yang sudah lama tumbuh akhirnya menemukan bentuknya: ia tidak akan membiarkan gadis itu dihina oleh kota yang bahkan tidak mengenalnya.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Jingga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, teleponnya diangkat di dering kedua.
"Aku akan membereskan ini," katanya, tanpa salam.
Di seberang sana, Jingga terdiam sebentar. "Kak Kevin, dengar. Kontrakmu dengan Mei. Kalau kau bicara salah—"
"Kontrakku bukan urusanmu."
"Kontrakmu adalah urusanku kalau kau menghancurkannya karena aku." Suara Jingga meninggi sedikit, lalu turun lagi, dan di sana Kevin mendengar hal yang membuat dadanya sakit: gadis itu takut. Bukan takut pada beritanya. Takut kehilangan dirinya. "Kak, aku sudah menyiapkan pernyataan. Klienku satu pergi, empat wartawan di lobiku, dan aku tetap bisa bekerja. Aku lebih kuat dari kelihatannya. Jangan lakukan apa pun yang gegabah."
"Gegabah itu sudah terlambat kularang sejak kau masuk ke hidupku," jawab Kevin, dan menutup telepon sebelum gadis itu sempat membalas.
Lalu ia menekan interkom ke meja humasnya. "Siapkan konferensi pers. Besok pagi. Di sini. Semua media, bukan cuma yang ramah."
Di rumah keluarga Broto, berita itu tiba lewat teriakan Nada di telepon dan wajah Sarah yang mengeras seperti batu kali.
"Ini kerjaan siapa, kita sama-sama tahu," kata Sarah, meletakkan ponselnya dengan gerakan yang terlalu pelan. "Aku mau ke kamar wanita itu sekarang dan—"
"Bibi." Jingga menahan lengan bibinya. Ia sudah pulang lebih cepat, melewati gerombolan wartawan lewat pintu belakang. "Itu persis yang dia mau. Kalau kau mendobrak kamarnya, besok beritanya: keluarga Broto menganiaya nyonya rumah. Dia tidak menyerangku dengan foto. Dia menyerangku dengan reaksiku sendiri. Dan aku tidak akan memberikannya."
Sarah menatap keponakannya lama. Lalu kemarahannya surut sedikit, digantikan sesuatu yang lebih mirip kagum. "Kau benar-benar anak Karim," bisiknya. "Dia juga selalu bisa membaca orang sampai ke halaman yang tidak ditulis."
Di kamar sebelah, di balik pintu yang tertutup, Mei mendengarkan kegaduhan di lantai bawah dengan segelas wine di tangan dan senyum paling puas yang pernah menghiasi wajahnya dalam dua tahun terakhir.
Besok, rencananya, ia akan tampil di depan publik sebagai istri yang sabar dan terluka. Panggung sudah ia siapkan.
Yang tidak ia ketahui adalah bahwa panggung yang sama sedang disiapkan orang lain, di gedung yang berbeda, dengan naskah yang belum pernah ia baca.