Aula lobi Pra-building pagi itu penuh seperti terminal menjelang mudik.
Puluhan kamera. Belasan mikrofon. Wartawan gosip berdiri berdampingan dengan wartawan bisnis yang biasanya tidak sudi menyentuh berita macam ini, tapi kali ini beritanya menyentuh dua perusahaan sekaligus. Di barisan depan, kru televisi sudah siaran langsung sejak satu jam sebelumnya, mengisi waktu dengan spekulasi yang tidak perlu jawabannya.
Dan di tiga tempat yang berbeda di kota itu, tiga orang menatap layar dengan tiga jenis napas yang ditahan.
Jingga di kantornya, dengan Lisa berdiri di belakangnya sambil memeluk map seperti memeluk pelampung. Sarah dan Mang Asep di ruang keluarga rumah Broto, duduk bersebelahan tanpa bicara. Dan Mei di kamarnya, dengan jubah sutra dan kopi, menunggu suaminya menegaskan pernikahan mereka di depan seluruh negeri—karena apa lagi yang bisa dilakukan pria itu?
Pukul sembilan tepat, Kevin keluar.
Setelan gelap, tanpa dasi, wajah yang tidak menawarkan senyum pada siapa pun. Ia tidak membawa naskah. Ia berdiri di depan mikrofon-mikrofon itu seperti orang berdiri di tepi jurang yang sudah ia putuskan untuk melompat.
"Selamat pagi. Saya tidak akan panjang lebar, karena berita ini tidak layak mendapatkan waktu kalian lebih dari sepuluh menit."
Klik kamera berbunyi seperti hujan.
"Pertama. Kabar yang beredar tentang Nona Jingga Broto adalah fitnah. Bukan gosip, bukan kekeliruan—fitnah, dan saya memilih kata itu dengan sadar karena kata itu punya konsekuensi hukum. Nona Broto adalah relasi keluarga dan rekan bisnis. Tidak lebih. Sumber foto-foto itu, dan pihak yang menjualnya, sedang dilacak oleh tim hukum saya, dan mereka akan berhadapan dengan saya secara pribadi."
Di kantornya, Jingga menahan napas. Relasi keluarga. Kalimat itu benar secara teknis, dan karena itu tidak bisa dibantah siapa pun, tapi semua orang di ruangan itu tahu kalimat itu bukan jawaban yang sebenarnya.
"Kedua," lanjut Kevin, "HA Express adalah perusahaan ekspedisi dengan rekam jejak yang bisa kalian periksa sendiri. Tidak ada satu pun karyawannya yang layak kehilangan pekerjaan karena gosip tentang pimpinannya. Jadi saya umumkan di sini: klien mana pun yang menghentikan kontrak dengan HA Express karena berita kemarin, silakan datang ke Pratama Group. Saya akan menggantikan bisnisnya. Rupiah per rupiah."
Aula itu bergemuruh.
Seorang wartawan bisnis menyusul, masih dengan nada yang lebih sopan. "Pak Kevin, tawaran mengganti bisnis itu—apakah itu keputusan korporat atau keputusan pribadi? Dewan direksi Pratama Group tahu?"
"Itu keputusan pemilik," jawab Kevin tanpa jeda. "Dan pemiliknya sedang bicara dengan kalian sekarang."
Tawa kecil pecah di beberapa sudut aula, dan untuk sesaat suasana mencair. Tapi hanya sesaat.
Seorang wartawan hiburan nekat angkat suara tanpa dipanggil. "Pak Kevin! Itu artinya Anda membelanya secara khusus! Apa hubungan Anda sebenarnya dengan Nona Broto? Apakah pernikahan Anda dengan Nyonya Mei baik-baik saja?"
Kevin menatap wartawan itu beberapa detik, sampai ruangan itu diam kembali.
"Pernikahan saya adalah urusan saya," katanya akhirnya, datar. "Tapi menghancurkan nama orang yang tidak bersalah bukan urusan pribadi. Itu urusan hukum. Dan satu hal yang perlu kalian catat—" Ia mencondongkan badan ke arah mikrofon. "Saya tidak keberatan kalian menulis tentang saya. Saya pengusaha. Saya sudah biasa. Tapi lain kali, sebelum kalian menulis tentang seorang gadis dua puluh tahun yang membangun perusahaannya dari pemakaman ayahnya, tanyakan dulu pada diri kalian: siapa yang memberi kalian foto itu, dan apa untungnya untuk mereka?"
Ia berhenti. Membiarkan kalimat terakhir itu bekerja.
"Terima kasih. Tidak ada sesi tanya jawab."
Normal Pov.
Dalam satu jam, efeknya bergulir seperti bola salju.
Media bisnis menulis tentang "langkah berani Pratama Group". Media gosip terbelah dua: separuh menulis Kevin pahlawan, separuh menulis Kevin baru saja mengonfirmasi semuanya dengan cara yang salah. Kolom komentar yang kemarin penuh hinaan mulai diisi suara-suara yang berbeda. Dan pukul dua belas, klien besar yang kemarin menghentikan kontrak menelepon kembali ke kantor Jingga dengan nada yang jauh lebih lunak dari kemarin, mengajak "membicarakan kelanjutan kerja sama".
Lisa meletakkan teleponnya dengan mata berbinar. "Bu. Dia kembali."
"Karena angin berbalik, Lisa," jawab Jingga pelan. "Bukan karena aku berubah. Catat itu baik-baik. Klien yang pergi karena gosip akan pergi lagi karena gosip berikutnya."
Tapi di dadanya, ada kehangatan yang tidak bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri. Karena di depan puluhan kamera, pria itu tidak menyelamatkan perusahaannya. Pria itu menyelamatkan namanya. Dan tidak ada satu pun baris di rencananya yang mempersiapkannya untuk itu.
Di apartemennya, Tiara mematikan televisi dengan jari yang gemetar.
Tiga tahun. Tiga tahun ia tidak pernah dibela seperti itu. Tidak sekali pun Kevin berdiri di depan kamera untuk namanya. Tidak sekali pun pria itu mempertaruhkan apa pun untuknya selain kunci apartemen dan janji-janji yang diucapkan di bawah suara. Dan sekarang, di depan seluruh negeri, Kevin mempertaruhkan citra perusahaannya demi seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa bulan.
Bukan rasa cemburu yang datang lebih dulu. Yang datang lebih dulu adalah rasa malu yang aneh, malu pada dirinya sendiri, karena ternyata selama tiga tahun ia menerima begitu sedikit dan menyebutnya cinta.
Lalu cemburu itu datang juga, dan menutup semuanya.
Di kamarnya di rumah keluarga Broto, Mei juga menonton. Tapi reaksinya berbeda. Ia tidak gemetar. Ia justru duduk makin tegak di tepi ranjangnya, dengan kopi yang dingin tak tersentuh, menghitung sesuatu di balik matanya yang gelap.
Karena konferensi pers itu bukan kemenangan Kevin. Konferensi pers itu adalah pengakuan. Pria itu baru saja memberi tahu seluruh negeri, tanpa menyadarinya, bahwa gadis itu adalah titik lemahnya yang paling dalam. Dan orang yang punya titik lemah adalah orang yang bisa dipegang.
Teleponnya berdering. Mei yang menelepon lebih dulu ke Tiara.
"Kau menonton?" suara di seberang sana dingin seperti pisau yang baru diasah.
"Aku menonton."
"Rupanya gadis kita lebih penting dari yang kita kira." Hening sebentar. "Tiara. Aku berubah pikiran soal tempo. Kita tidak akan menunggu lagi."
"Aku dengarkan," jawab Tiara, dan dua kata yang sama yang ia ucapkan malam itu, ketika semuanya dimulai.
Di rumah keluarga Broto, Sarah menepuk lutut Mang Asep tanpa menoleh dari televisi. "Aku salah soal pria itu."
"Nyonya jarang salah," kata Mang Asep hati-hati.
"Jangan ulangi." Sarah berdiri, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Tapi dia masih suami orang. Ingatkan aku terus soal itu. Kita semua perlu diingatkan."
Normal Pov.
Malam itu, Kevin menemukan Jingga di teras belakang, sendirian, di antara mawar-mawar yang baru disiram.
"Kau seharusnya tidak melakukannya," kata Jingga tanpa berbalik. "Klien yang kau tawari ganti rugi itu nilainya miliaran."
"Aku punya miliaran. Aku tidak punya banyak hal lain."
Jingga berbalik. Di bawah lampu taman yang temaram, wajah gadis itu terlihat lelah dengan cara yang tidak bisa disembunyikan senyum mana pun. "Kenapa, Kak? Kenapa Kak Kevin mau sejauh itu untukku?"
Kevin mendekat satu langkah. Berhenti. Dan ketika menjawab, suaranya tidak seperti suara pemilik Pratama Group, melainkan suara seorang pria yang sudah lelah berpura-pura.
"Karena selama dua puluh sembilan tahun hidupku, tidak pernah ada yang menghinaku dan membuatku sesakit ini. Mereka menghinamu, Cerry. Dan rasanya lebih sakit daripada kalau mereka menghinaku. Aku tidak tahu nama perasaan ini. Aku cuma tahu aku tidak bisa berdiri diam dan menontonnya."
Jingga menatapnya. Ada seribu hal yang seharusnya ia katakan: tentang rencananya, tentang siapa dirinya sebenarnya di hidup pria ini, tentang semua topeng yang masih melekat di wajahnya. Tapi tidak ada satu pun yang keluar. Yang keluar hanya satu kalimat kecil, hampir tidak terdengar.
"Terima kasih, Kak."
Mereka berdiri di sana, berjarak satu langkah, di antara mawar-mawar yang menyimpan rahasia lebih banyak dari yang bisa dihitung siapa pun. Tidak ada yang bergerak maju. Tidak ada yang mundur. Dari balik jendela dapur, Mang Asep menarik Sarah menjauh dari tirai dengan wajah serius seorang pengawal rahasia negara.
Dan malam itu, ketika Jingga sudah kembali ke kamarnya dengan jantung yang belum selesai berdebar, ponselnya bergetar satu kali.
Pesan dari Tono.
"Bi Imah ditemukan di Malang. Dia mau bicara. Besok aku jemput kau jam enam."