Mereka berangkat sebelum matahari terbit, ketika jalan tol masih kosong dan kota masih bermimpi.
Tono menyetir. Jingga di sebelahnya, dengan kaleng kopi kaleng dan jaket tebal. Nada di belakang, awalnya cerewet seperti biasa, lalu tertidur dengan kepala miring ke jendela sebelum kilometer kelima puluh. Tidak ada yang banyak bicara. Perjalanan ke Malang terasa lebih panjang dari jaraknya, karena di ujungnya ada seorang perempuan tua yang mungkin menyimpan kunci terakhir dari makam ayah Jingga.
"Aku sudah meneleponnya dua kali," kata Tono di tengah jalan. "Awalnya dia menolak. Ketakutan. Tapi begitu kusebut namamu, dia menangis dan mengubah jawabannya. Dia bilang dia sudah menunggu telepon semacam ini selama dua tahun."
"Menunggu?"
"Orang yang menyimpan rasa bersalah selalu menunggu, Jingga. Mereka cuma tidak tahu kepada siapa harus menyerahkannya."
Rumah Bi Imah berada di gang kecil di pinggir kota Malang, rumah sederhana dengan tanaman dalam kaleng bekas berjajar di depannya. Perempuan itu membukakan pintu sendiri: usianya sekitar lima puluh delapan, punggungnya sudah membungkuk, dan begitu matanya menemukan Jingga di balik Tono, tangannya langsung menutup mulutnya sendiri.
"Non Jingga," bisiknya, dan kakinya seperti mau berlutut. "Non sudah besar..."
"Bi Imah." Jingga menahan lengan perempuan itu, dan tanpa bisa ditahan lagi, keduanya berpelukan di ambang pintu, dua orang yang terakhir bertemu di rumah yang masih punya tuan.
Mereka duduk di ruang tamu yang kecil dan bersih. Anak Bi Imah membuatkan teh lalu mengundurkan diri dengan pengertian. Nada duduk dekat Jingga, dan untuk sekali ini ia tidak bicara sama sekali.
"Ibu tidak usah takut," kata Tono membuka pembicaraan, suaranya pelan. "Kami tidak datang untuk menyalahkan Ibu. Kami datang karena Ibu satu-satunya orang yang melihat dari dekat."
Bi Imah memeluk tangannya sendiri. Lalu ia mulai bercerita, dan begitu cerita itu mengalir, ia tidak bisa berhenti, seperti bendungan yang akhirnya menemukan retaknya.
"Dua tahun saya mengabdi di rumah itu, Nak Polisi. Tuan Karim orang baik. Tidak pernah membentak, tidak pernah telat menggaji, selalu bertanya anak saya sekolah di mana. Lalu Tuan sakit, dan Nyonya Mei yang mengatur semuanya. Obat, makanan, dokter. Saya disuruh membeli obat Tuan ke Apotek Kurnia setiap minggu. Selalu apotek itu. Tidak boleh yang lain."
"Dengan resep?" tanya Tono.
Bi Imah menggeleng. "Tidak pernah ada resep, Nak. Saya pernah tanya ke Pak Darmadi, pemilik apoteknya. Katanya obat langganan, atas nama Nyonya. Saya disuruh bayar tunai, tidak boleh minta nota. Nyonya Mei bilang, nota hanya membuat sampah menumpuk."
"Dan Ibu mulai curiga?"
"Bukan curiga. Bingung." Bi Imah meremas ujung kebayanya. "Obat dari dokter keluarga Tuan selalu datang dari apotek besar, lengkap dengan resep, ada label nama dokternya. Tapi obat dari Kurnia itu dibungkus kertas biasa. Tuan makin pucat dari bulan ke bulan, Nak. Mukanya seperti lilin yang ditiup pelan-pelan."
Bi Imah berhenti, dan untuk sesaat tatapannya pergi jauh, ke dapur rumah besar itu dua tahun lalu.
"Saya yang menyiapkan makanannya setiap hari, Nak. Tuan dulu habis dua piring. Lalu jadi satu. Lalu jadi setengah. Lalu cuma bubur, itu pun tidak habis. Gusi beliau sering berdarah waktu menggosok gigi, katanya sariawan. Memar-memar biru di lengan, katanya terbentur pintu. Terbentur pintu bagaimana orang yang sudah tidak kuat berjalan jauh?" Suaranya mengeras pada dirinya sendiri. "Semua tandanya ada di depan mata saya, Nak. Setiap hari. Dan saya menyebutnya sakit biasa, karena itulah yang Nyonya bilang, dan lebih mudah mempercayai nyonya daripada mempercayai mata sendiri."
"Ibu tidak tahu apa-apa waktu itu," kata Jingga pelan, menyentuh lengan perempuan itu. "Yang tahu justru orang yang merencanakannya. Itu bedanya, Bu. Ibu tidak bersalah."
"Saya pernah memberanikan diri bertanya pada Nyonya, baik-baik, kenapa obat Tuan tidak dibelikan di apotek dokter seperti biasa."
Ruang itu hening.
"Seminggu kemudian," lanjut Bi Imah dengan suara bergetar, "uang belanja hilang dari laci dapur, dan ditemukan di tas saya. Saya tidak pernah mengambilnya, Nak. Demi Allah saya tidak pernah mengambilnya. Tapi siapa yang akan percaya pembantu melawan nyonya? Saya diusir hari itu juga. Tidak boleh pamit pada Tuan. Padahal Tuan waktu itu sedang tidur, dan saya tahu beliau tidak akan membiarkan saya pergi kalau beliau bangun."
Nada menunduk, menghapus matanya cepat-cepat.
"Tapi Ibu menyimpan sesuatu," ucap Tono lembut, menuntun. "Katakan pada kami seperti kata Ibu di telepon."
Bi Imah bangkit, berjalan ke kamar, dan kembali membawa sebuah kotak kaleng yang dibungkus kain batik. Ia membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya: tumpukan nota-nota kecil yang sudah menguning, diikat karet gelang, disusun menurut tanggal.
"Waktu dituduh mencuri, saya tidak bisa membela diri dengan kata-kata. Jadi saya membela diri dengan kertas." Suara Bi Imah kini kuat, kuat orang yang sudah dua tahun menyiapkan kalimat ini. "Semua nota belanja saya selama bekerja di sana saya simpan, supaya bisa saya buktikan uang belanja itu ke mana jalannya. Dan di antaranya—" ia menyaring beberapa lembar dengan jari yang teliti, "—ada empat nota dari Apotek Kurnia. Empat kali Pak Darmadi lupa dan memberi nota sebelum sempat saya kembalikan. Nyonya tidak pernah tahu nota-nota ini ada."
Tono menerima lembaran-lembaran itu seperti menerima barang suci. Tanggalnya terbaca jelas. Jenis obatnya tercetak samar tapi masih bisa dibaca. Empat nota, empat titik waktu, yang bertemu dengan buku besar Apotek Kurnia, dengan buku harian hitam Karim, dengan label-label strip obat di kaleng biru.
Rantai itu, mata rantai demi mata rantai, mulai tersambung.
"Ibu Imah," kata Tono, "kalau suatu hari pengadilan membutuhkan Ibu menceritakan semua ini di depan hakim, Ibu bersedia?"
Perempuan tua itu menatap Jingga lama. Lalu ia mengangguk, dengan air mata yang akhirnya jatuh juga.
"Saya sudah dua tahun bermimpi Tuan Karim, Nak. Di mimpi itu beliau cuma berdiri di taman, melihat mawarnya, tidak marah sama sekali. Tapi saya yang tidak berani menatapnya." Ia menggenggam tangan Jingga. "Kalau bicara bisa membuat beliau berhenti menunggu di taman itu, saya akan bicara, Non. Sampai kapan pun."
Normal Pov.
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa berbeda dari perjalanan perginya. Nada masih tidur di belakang, kali ini dengan wajah yang tenang. Dan Jingga menatap keluar jendela, ke arah gunung-gunung yang bergeser pelan, dengan empat nota tua yang tersimpan rapi di map Tono.
"Satu lagi," kata Tono di tengah jalan. "Kita sudah punya pembeli. Besok atau lusa aku akan menemuinya lagi untuk berita acara resmi. Setelah itu, dia di bawah perlindunganku."
"Perlindungan?"
Tono tidak langsung menjawab, dan keheningan itu menjawab lebih dulu.
"Begini, Jingga," katanya akhirnya, matanya tetap di jalan. "Selama ini kita mengorek masa lalu. Masa lalu tidak bisa membalas. Tapi mulai hari ini, kita menyentuh orang-orang yang masih hidup, yang masih bisa bicara, yang kesaksiannya bisa membuat seseorang dipenjara seumur hidupnya. Dan orang yang terancam penjara seumur hidup tidak bermain dengan aturan yang sama seperti kita."
"Kau takut dia menyakiti Bi Imah?"
"Aku tidak takut. Aku menghitung. Wanita itu sudah pernah membuat satu orang mati perlahan-lahan tanpa ada yang curiga. Orang seperti itu tidak akan ragu membuat satu perempuan tua ketakutan sampai lupa cara bicara." Tono melirik Jingga sekilas. "Makanya mulai malam ini, tidak ada satu pun dari kita yang bepergian sendirian. Termasuk kau. Terutama kau."
Jingga tidak membantah. Untuk pertama kalinya, gunung-gunung di luar jendelanya terlihat lebih dingin dari biasanya.
Normal Pov.
Jawaban yang sama, malam itu juga, sampai ke telinga Mei lewat telepon dari orangnya yang mengawasi rumah.
"Perempuan itu pergi sejak subuh, Nyonya. Naik mobil ke arah timur. Saya ikuti sampai gerbang tol. Ada polisi itu bersamanya. Dan saya cek ke orang dalam—" suara itu berhenti sebentar, "—tujuannya Malang, Nyonya."
Mei tidak menjawab. Tangannya yang memegang ponsel perlahan turun ke meja.
Malang. Di kota besar itu, orang bisa mencari apa saja. Tapi di rumahnya dulu, hanya ada satu nama yang pernah berhubungan dengan kota itu. Seorang pembantu yang ia usir dua tahun lalu dengan tuduhan yang ia rancang sendiri, karena pembantu itu bertanya satu pertanyaan yang salah.
Bi Imah.
Mei berdiri. Berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dua tahun ia memastikan setiap orang yang melihat terlalu banyak menjauh dari rumah ini, dan sekarang satu per satu mereka ditarik kembali, seperti ikan yang ditarik dari dasar laut.
Ia mengambil ponselnya lagi dan menekan nomor tanpa nama itu. Kali ini suaranya tidak lagi halus.
"Kau pernah bertanya kenapa aku menjauhkan pembantu itu ke Malang," katanya begitu telepon diangkat. "Sekarang dengar baik-baik. Malam ini juga kau ke Malang. Cari perempuan bernama Imah. Dan pastikan dia lupa cara bicara."