Kabar pertama datang dari Malang, dan kabar itu bukan kabar baik.
Tono menelepon Jingga pagi-pagi, sebelum gadis itu berangkat kerja. "Seseorang mendatangi rumah Bi Imah semalam. Bukan tamu. Jendela belakang pecah, pintu dapur dirusak, dan di meja ruang tamu ada pesan yang ditulis di kertas kaleng roti: Tutup mulutmu, perempuan tua."
Jingga memegang meja dapur. "Bi Imah—"
"Aman. Aku sudah memindahkannya ke rumah adiknya di kota lain sejak kemarin sore, sebelum orang itu datang." Tono berhenti sebentar. "Aku sudah menduga, Jingga. Orang yang mulai kehilangan kendali akan meraih cara-cara yang dulu berhasil. Tapi catat ini baik-baik: malam ini bukan lagi soal obat dan wasiat. Ini intimidasi terhadap saksi. Pidana. Dan orang yang melakukannya meninggalkan jejak di rumah yang bukan rumahnya. Wanita itu mulai membuat kesalahan."
"Atau mulai putus asa," sahut Jingga.
"Dua-duanya sama. Orang putus asa membuat kesalahan. Sekarang tugas kita: jangan sampai kesalahannya menimpa orang yang kita sayangi."
Normal Pov.
Siangnya, Pak Tony dan Jingga berkendara ke Bogor, ke sebuah rumah tua berpagar tanaman di jalan yang sunyi, tempat Notaris Hendrawan menghabiskan masa pensiunnya bersama dua ekor kucing dan koleksi piring antiknya.
Hendrawan membukakan pintu sebelum mereka mengetuk. Pria itu lebih tua dari yang Jingga bayangkan, dengan tangan yang terus bergerak-gerak merapikan barang yang sudah rapi. Ia melihat Pak Tony, lalu melihat Jingga, dan sesuatu di wajahnya langsung paham sebelum satu kata pun keluar.
"Anak Karim Broto," katanya pelan. "Saya sudah menduga kalian akan datang. Sejak dua minggu lalu, ketika ada yang menanyakan arsip wasiat itu, saya tahu hari ini akan tiba." Ia menepikan badan. "Masuklah. Lebih baik kita bicara di dalam. Dinding-dinding di jalan ini punya telinga."
Mereka duduk di ruang tamu yang penuh piring antik. Hendrawan tidak menawarkan minum; tangannya terlalu gemetar untuk menuang apa pun.
"Empat puluh satu tahun saya menjadi notaris," katanya lebih dulu, seolah ingin memulai dari tempat yang paling aman. "Empat puluh satu tahun, ribuan akta, dan saya bisa tidur nyenyak dengan hampir semuanya. Hampir." Ia menatap jendelanya sendiri. "Cuma ada satu yang membuat saya bangun jam dua pagi dan tidak bisa tidur lagi. Dan kalian sedang duduk di ruang tamunya."
"Saya akan langsung, Pak Hendrawan," kata Pak Tony. "Dua bulan sebelum Karim Broto meninggal, sebuah wasiat baru dilegalisasi di kantor Bapak. Wasiat yang mengubah seluruh wasiat sebelumnya. Bapak tidak pernah menjadi notaris keluarga Broto sebelum hari itu. Tidak pernah juga sesudahnya. Hanya satu dokumen itu."
Hendrawan menunduk. Lama sekali.
"Saya tidak menyusun wasiat itu," katanya akhirnya, dan suaranya seperti orang yang sudah memikirkan jawabannya dua tahun lamanya. "Dokumennya datang sudah jadi. Saya hanya diminta melegalisasi. Perempuan itu, Nyonya Mei, datang membawa suaminya dengan kursi roda. Tuan Karim..." Ia berhenti, mencari kata yang tidak membuatnya harus menatap Jingga. "Tuan Karim lebih sering tidak sadar daripada sadar hari itu. Matanya terbuka, tapi tidak selalu ada orang di baliknya."
Jingga memegang tepi kursinya sampai buku-buku jarinya memutih, tapi ia tidak bersuara. Ia sudah berjanji pada Pak Tony: biarkan notaris itu bicara sampai habis.
"Bapak bisa berhenti kapan saja, Pak Hendrawan," ucap Pak Tony lembut. "Tapi jangan berhenti sekarang. Orang yang menyimpan cerita terlalu lama biasanya tidak sempat menceritakannya. Saya sudah terlalu sering melihat itu."
Hendrawan mengangguk kecil, dan melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, seperti rumahnya sendiri tidak boleh mendengar.
"Tanda tangannya goyah. Saya bertanya, sekali, apakah Tuan memahami isi dokumennya. Perempuan itu yang menjawab: Tentu saja dia paham, ini wasiatnya, bukan wasiatmu. Dua orang lelaki menunggu di mobil, dan satu saksi yang mereka bawa sudah menandatangani lebih dulu tanpa membaca. Saya..." Hendrawan mengangkat wajahnya, dan di sana ada sesuatu yang sudah lama membusuk: malu. "Saya dibayar dua kali lipat dari tarif saya, dan saya membutuhkannya untuk operasi istri saya. Itu bukan pembelaan. Itu hanya kebenaran yang paling jelek dari cerita ini."
"Ada lagi yang Bapak ingat?" tanya Pak Tony, suaranya tetap datar, tidak menghakimi, karena ia tahu penyesalan tidak bisa dipaksa, hanya bisa diberi jalan.
Hendrawan bangkit, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan sebuah amplop tua dari balik tumpukan piring. "Protokol saya. Fotokopi akta itu, lengkap dengan catatan pinggir saya. Saya selalu menulis catatan pinggir, kebiasaan empat puluh tahun." Ia menyorongkannya, dan jarinya menunjuk satu paragraf kecil di sudut.
"Saya menulis ini hari itu juga: Ketika Nyonya keluar sebentar untuk menelepon, Tuan Karim membuka matanya, menatap saya, dan memegang pergelangan tangan saya. Tangannya dingin sekali. Dia bilang—" suara Hendrawan pecah, "—dia bilang: Tolong, jangan. Lalu perempuan itu kembali, dan Tuan Karim kembali seperti semula, seperti orang yang lampunya dipadamkan dari luar."
Ruangan itu diam. Di luar, angin menggerakkan tirai, dan salah satu kucing Hendrawan melompat ke kursi tanpa ada yang memperhatikan.
"Pak Hendrawan," ucap Pak Tony akhirnya, pelan. "Penyelidikan pidana akan dibuka. Bukan bulan depan, tapi minggu-minggu ini. Bapak punya dua pilihan: menjadi saksi yang menceritakan kebenaran ini sekarang, atau menjadi bagian dari berkas yang dibaca jaksa nanti. Saya tidak mengancam. Saya hanya orang yang sudah terlalu lama berpraktik untuk tidak tahu bagaimana cerita seperti ini berakhir."
Hendrawan menatap fotokopi akta di tangannya. Dua tahun benda itu bersembunyi di balik piring-piring antiknya, dan dua tahun pula ia berpura-pura benda itu tidak ada.
"Minggu depan," katanya akhirnya. "Beri saya waktu sampai minggu depan. Saya akan datang ke kantor Anda, dan saya akan menandatangani keterangan tertulis. Semua. Termasuk kalimat terakhir Tuan Karim yang tidak pernah bisa saya lupakan itu."
Pak Tony mengangguk. Mereka berjabat tangan, dan ketika mobil mereka meninggalkan jalan sunyi itu, Jingga menoleh ke belakang sekali: dari balik jendela, Hendrawan masih berdiri di sana, mengunci pintunya dua kali, seperti orang yang tahu bahwa kebenaran yang baru saja ia janjikan punya harga.
Normal Pov.
Sorenya, di tengah perjalanan pulang, ponsel Jingga bergetar. Kevin.
"Satu kabar baik di tengah minggu yang buruk," kata Kevin, dan ada sesuatu di suaranya yang sudah lama tidak Jingga dengar: ringan. "Bank data transplantasi menelepon. Ada dua calon pendonor yang cocok di tahap awal untuk Mama. Belum pasti, masih harus tes lanjutan. Tapi dua, Jingga. Dua nama nyata, bukan satu nama di tangan wanita itu."
Jingga ikut tersenyum, tulus, untuk pertama kalinya dalam minggu itu. "Kak, itu kabar terbaik minggu ini."
"Belum kuberitahu Mama. Aku tidak mau memberinya harapan yang belum jadi. Tapi aku ingin kau yang pertama tahu." Kevin berhenti sebentar. "Karena semua ini mulai bergerak sejak kau masuk ke rumah ini. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Jadi tidak akan kujelaskan. Terima kasih saja."
Telepon itu ditutup dengan perasaan yang lebih hangat dari yang direncanakan kedua belah pihak.
Normal Pov.
Dan malam itu, pukul sebelas lebih tujuh belas menit, ketika Jingga baru saja memejamkan mata, ponselnya berdering dengan nada yang membuatnya langsung terjaga: nada khusus yang ia pasang hanya untuk satu orang.
Pak Tony.
Suara pengacara tua itu terdengar lebih tua dari biasanya, dan jauh lebih hati-hati.
"Jingga. Dengarkan dan tetap tenang. Malam ini kantorku dibobol. Jendela belakang dijebol, laci-laci diobrak-abrik, kamera pengawas dirusak lebih dulu—pelakunya tahu apa yang dia cari."
Jingga sudah berdiri di samping ranjangnya. "Lemari besinya, Pak?"
Hening sebentar.
"Itulah kenapa aku meneleponmu," kata Pak Tony. "Lemari besinya tidak tersentuh. Tapi bukan karena mereka tidak mencoba."
Jingga menghela napas yang sejak tadi tertahan. "Kalengnya?"
"Masih di dalam. Utuh. Mereka sempat membuka panelnya, tapi lemari besi kantor pengacara tua itu dibangun di zaman orang tidak percaya gembok digital." Ada senyum getir di suara Pak Tony. "Yang mereka bawa hanya kertas-kertas dari laci. Surat-surat biasa. Dan itu sudah cukup membuatku yakin satu hal, Jingga."
"Hal apa?"
"Mereka tidak mencari uang. Mereka mencari sesuatu yang hanya diketahui orang-orang tertentu ada di sini. Dan daftar orang yang tahu itu pendek sekali." Pak Tony berhenti, dan ketika melanjutkan, suaranya turun setengah nada. "Aku sudah melapor ke kepolisian, dan besok aku memindahkan semuanya ke tempat yang bahkan tidak akan kuberi tahu kepadamu lewat telepon. Mulai besok, kaleng itu tidur di brankas bank."
"Pak Tony... maafkan aku. Kantor Bapak dibobol karena kasus kami."
"Nak." Suara pengacara tua itu melembut. "Aku menjadi pengacara karena ayahmu memintaku berdiri di pihak yang benar, dan aku sudah terlalu tua untuk pindah pihak. Sekarang kau, tidur. Besok kita berburu lagi."
Telepon ditutup. Jingga berdiri lama di kegelapan kamarnya, memandangi lampu-lampu kota dari jendela, dan untuk pertama kalinya ia merasa perang ini sudah keluar dari dinding-dinding rumahnya.
Di seberang jalan, di bawah pohon yang gelap, sebuah motor bebek hitam menyala pelan dan pergi tanpa suara.