Pagi setelah pembobolan itu, kantor Pak Tony ramai oleh orang-orang berseragam.
Garis polisi melintang di pintu belakang yang jebol. Tim identifikasi bekerja dengan bedak sidik jari dan lampu kecil. Pak Tony duduk di kursi ruang tamunya yang masih utuh, menjawab pertanyaan dengan tenang orang yang sudah enam puluh tahun tidak pernah sekalipun takut pada apa pun yang bisa dicuri—karena satu-satunya benda yang tidak ternilai di kantor itu sudah lama tidak ia simpan di laci.
Tono datang sebagai pihak yang menghubungkan berkas. Ia tidak bertugas di wilayah itu, tapi nama Karim Broto sudah membuka banyak pintu sejak sepekan terakhir.
"Pelakunya profesional," kata petugas identifikasi. "Kamera mati sebelum dia masuk. Tidak ada sidik jari. Tapi—" ia mengangkat sebuah tablet, "—gedung sebelah punya kamera parkir yang menghadap ke jalan belakang. Ada motor datang pukul 02.14 dan pergi pukul 02.31."
Layar itu menampilkan gambar yang buram tapi cukup jelas: motor bebek hitam, pengendara bertopi, tanpa plat nomor.
Tono menatapnya lama. Lalu ia mengeluarkan ponselnya, membuka satu foto kiriman Jingga dari beberapa hari lalu—hasil zoom kamera rumah keluarga Broto ke arah seberang jalan—dan meletakkannya berdampingan.
Motor bebek hitam. Pengendara bertopi. Cara duduk yang sama, bahu yang sama, kebiasaan yang sama memiringkan kepala ketika melihat ke kiri sebelum pergi.
"Orang yang sama," kata Tono pelan, "atau setidaknya, orang yang disewa oleh kantor penyewaan orang yang sama."
Ia langsung menelepon Jingga.
"Dengar baik-baik. Motor pengawas di depan rumahmu dan motor pembobol kantor Pak Tony itu sama. Ini bukan lagi dua kejadian. Ini satu jaringan, satu majikan. Dan majikan itu baru saja menaikkan level permainannya dari mengawasi menjadi mencuri."
"Berarti dia benar-benar kehilangan kotak itu," sahut Jingga. "Dan dia tahu siapa yang menyimpannya."
"Berarti juga," Tono menambahkan, "dia baru saja membuat kesalahan pertamanya yang tercatat polisi. Mulai hari ini, setiap langkahnya ada di berkas resmi."
Normal Pov.
Berita pembobolan itu sampai ke Hendrawan lewat jalur yang tidak disangka-sangka: obrolan sesama notaris pensiunan di grup percakapan pagi.
Kantor pengacara tua di pusat kota dibobol maling, tulis seseorang. Yang dicari bukan uang, kata kabar anginnya.
Hendrawan membaca pesan itu tiga kali dengan tangan yang dingin. Ia tahu pengacara tua mana yang dimaksud. Ia baru saja berjanji memberikan keterangan tertulis minggu depan, dan semalam, kantor pengacara itu dibobol orang yang mencari sesuatu.
Orang bodoh pun bisa membaca tulisan sebesar itu.
Pukul sembilan pagi, tanpa menelepon lebih dulu, Hendrawan sudah berdiri di depan kantor Pak Tony dengan sebuah map tebal di tangannya. Wajahnya pucat seperti orang yang tidak tidur, tapi langkahnya tidak ragu lagi.
"Saya mengubah jadwal saya," katanya pada Pak Tony, begitu pintu tertutup. "Bukan karena berani. Justru karena takut. Kalau mereka sudah berani membobol kantor pengacara, maka rumah notaris tua di Bogor tidak ada artinya. Jadi saya tulis semuanya semalam, sebelum keberanian saya habis."
Ia meletakkan map itu di atas meja. Lima lembar keterangan tertulis, ditandatangani di setiap halaman, disaksikan oleh dua tetangganya yang ia minta datang subuh-subuh.
Pak Tony membaca semuanya sampai selesai, halaman demi halaman, dengan wajah yang tidak berubah—tapi tangannya, di halaman keempat, berhenti sebentar pada satu paragraf.
Ketika Nyonya keluar untuk menelepon, Tuan Karim Broto memegang pergelangan tangan saya dan berkata dengan suara yang sangat pelan tapi jelas: "Tolong, jangan." Saya mencatat ini karena saya tahu, seumur hidup saya, kalimat itu tidak akan pernah selesai bergema di kepala saya.
Pak Tony menutup map itu dengan gerakan yang hormat, seperti menutup kitab.
"Pak Hendrawan," katanya, "dengan ini, wasiat itu tidak punya kaki untuk berdiri. Dan perjalanan Bapak dari orang yang bersalah menjadi orang yang membersihkan namanya, hari ini resmi dimulai."
Hendrawan mengangguk dengan mata yang basah. "Saya tidak meminta dimaafkan. Saya hanya meminta tidak mati sebelum sempat memperbaikinya."
Normal Pov.
Siang itu juga, kaleng biskuit biru berpindah tempat untuk terakhir kalinya.
Pak Tony mengantarnya sendiri ke bank, menitipkannya ke dalam brankas berukuran kecil di ruang deposit bawah tanah, di bawah dua lapisan kunci dan satu lapisan prosedur yang membuat pencuri profesional mana pun harus berpikir dua kali. Surat-surat penting—protokol Hendrawan, keterangan tertulis, salinan berita acara Bi Imah—ikut masuk ke laci besi yang sama.
"Mulai hari ini," kata Pak Tony pada Jingga di lobi bank, "tidak ada satu pun barang bukti yang tidur di tempat yang bisa dijangkau orang jahat. Sisanya tinggal kita yang berjalan di atas dua kaki, dan itu bagian yang tidak bisa dikunci di brankas."
Lalu, di meja kerjanya yang berantakan pasca pembobolan, pengacara tua itu menyusun berkas terakhirnya dengan tangan yang tidak gemetar: berita acara Bi Imah dari kepolisian Malang, foto-foto halaman buku besar Apotek Kurnia, empat nota kuning, buku harian hitam Karim yang sudah difotokopi lengkap, surat wasiat baru yang kini dibarengi keterangan Hendrawan, dan satu map tipis berisi rekaman suara serta cuplikan kamera dari rumah keluarga Broto.
Ia menatap tumpukan itu lama. Dua tahun menunggu. Dan besok, semuanya masuk ke dalam satu map resmi berlabel laporan.
"Karim," gumamnya pada foto hitam putih di dindingnya, "jembatanmu sudah selesai. Sekarang kami yang menyeberang."
Normal Pov.
Di kamarnya, Mei mendengar dua kabar dalam satu jam, dan keduanya bukan kabar baik.
Kabar pertama dari orangnya: motor itu mungkin terekam kamera gedung sebelah. "Hilangkan motornya," perintah Mei dingin. "Bakar kalau perlu. Dan kau, keluar dari kota ini sampai aku panggil. Jangan hubungi nomor ini. Jangan dekati rumah itu. Kalau kau ditangkap, kau tidak mengenalku, tidak pernah mengenalku, dan kau bekerja untuk orang yang tidak pernah kau lihat wajahnya."
Kabar kedua datang dari Tiara, dalam bentuk undangan digital yang dikirim sambil menunggu jawaban: Pratama Group menggelar gala amal tahunan akhir pekan ini. Semua tokoh bisnis dan media akan hadir. Dan Tiara, sebagai wajah yang masih punya nama di dunia itu, mendapatkan undangannya.
Mei menatap layar undangan itu lama, lalu tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.
Panggung. Dia selalu paling berbahaya ketika ada panggung.
Dan malamnya, pesan terakhir hari itu sampai ke ponsel Jingga, dari Tono, singkat seperti biasa tapi kali ini terasa seperti bunyi gerbang yang bergerak:
"Laporan resmi masuk besok pagi. Dua pasal: dugaan pembunuhan berencana, dan pemalsuan surat wasiat. Mulai besok, Jingga—hidupmu berubah lagi. Kali ini ke arah yang benar."