Normal Pov.
Pukul sembilan pagi, laporan resmi itu masuk.
Tono datang sendiri ke kantor HA Express dengan map cokelat di tangan. Ia disambut Lisa, lalu duduk di ruang kerja Jingga yang penuh berkas dan bau kopi.
"Sudah resmi," kata Tono, meletakkan salinan tanda terima laporan di atas meja. "Dua pasal. Dugaan pembunuhan berencana terhadap almarhum Karim Broto, dan dugaan pemalsuan surat wasiat. Nomor laporannya sudah keluar. Mulai hari ini, ini bukan lagi urusan keluarga. Ini perkara negara."
Jingga memegang kertas itu dengan dua tangan. Matanya basah, tapi dagunya tegak.
"Akhirnya," bisiknya. "Ayahku akhirnya punya perkara."
"Jangan senang dulu," Tono menatapnya lurus. "Mulai hari ini, Ibu tiri kamu bukan lagi cuma perempuan licik. Dia tersangka dalam antrean. Perempuan yang terpojok itu berbahaya, Jingga. Jauh lebih berbahaya dari perempuan yang sedang menyerang."
Jingga mengangguk pelan. Ia tahu. Ia justru menghitungnya.
***
Mei Pov.
Aku tahu sebelum siapa pun memberitahuku.
Orang suruhanku menelepon dari depan kantor polisi, suaranya gemetar seperti tikus kejepit. "Bu, laporannya sudah masuk. Dua pasal, Bu. Nama Ibu ada di dalamnya."
Aku melempar ponselku ke dinding kamar.
Hancur. Seperti hidupku yang sedang hancur perlahan-lahan oleh anak ingusan berambut merah itu.
Aku berjalan mondar-mandir di kamarku yang luas, di antara lemari penuh gaun mahal dan kotak perhiasan, dan untuk pertama kalinya sejak aku menikahi Karim, aku merasa seperti sedang berdiri di ruangan tanpa pintu.
Notaris tua itu sudah bicara. Bi Imah sudah bicara. Nota apotek sudah ada di tangan polisi. Kaleng biru itu—kaleng sialan yang kucari selama setahun—sudah ada di brankas bank, di luar jangkauanku.
Dan Kevin... Kevin tidak lagi bisa kuatur. Bank data donor itu bocor. Anak itu dengan bodohnya malah membangun jalan donor yang tidak melaluiku. Tali kendaliku ke leher keluarga Pratama sudah putus, satu per satu, seperti benang layangan digigit angin.
Aku duduk di tepi ranjang, memaksa diriku berpikir. Berpikir. BERPIKIR.
Masih ada dua kartu di tanganku.
Kartu pertama: Sinta. Perempuan tua yang sedang sekarat itu tetap ibu Kevin. Selama ginjalnya jadi taruhan, Kevin tidak akan pernah benar-benar lepas dariku.
Kartu kedua: Jingga sendiri.
Semua ini mulai dari dia. Sebelum dia muncul, aku Nyonya Besar Broto yang ditakuti. Kevin suamiku dalam kontrak. Pratama Group dalam genggamanku pelan-pelan. Semua rapi. Semua patuh.
Kalau gadis itu hilang... semuanya akan kembali seperti semula.
***
Normal Pov.
Siang itu, Mei turun ke garasi rumah Broto dengan wajah yang sudah dicuci dan didandani sempurna. Tidak ada siapa pun di rumah itu yang tahu bahwa dua jam lalu ia baru saja menghancurkan ponselnya ke dinding.
Ia menyetir sendiri. Tujuannya: rumah keluarga Pratama.
Di ruang tengah yang sejuk, Sinta duduk di kursi rodanya dengan selimut di pangkuan. Wajahnya makin pucat akhir-akhir ini, tetapi matanya masih tajam ketika melihat siapa yang datang.
"Mei." Suara Sinta datar. "Kamu masih berani ke sini."
"Aku menantu Mama," Mei duduk tanpa diundang, menyilangkan kaki dengan anggun. "Sampai detik ini, secara hukum, aku istri Kevin. Aku datang bukan untuk bertengkar, Ma. Aku datang untuk mengingatkan."
"Mengingatkan apa?"
Mei menyandarkan punggung, menatap perempuan tua itu lama.
"Anak Mama sedang buta," katanya pelan. "Buta oleh perempuan muda yang pandai berakting. Mama kira Jingga itu suci? Dia masuk ke rumah tangga orang, Ma. Dia mengambil anak tiri saya, mengambil suami saya, dan sekarang dia memfitnah saya membunuh suami saya sendiri. Semua orang percaya air matanya. Saya tidak."
Sinta diam sejenak. Lalu ia tersenyum—senyum kecil yang dingin.
"Aku sudah tua, Mei. Ginjal boleh rusak, tapi mataku tidak. Aku sudah melihat terlalu banyak perempuan sepertimu di sepanjang hidupku. Kalian selalu berkata hal yang sama saat terpojok: 'dia yang jahat, bukan saya.'"
"Ma—"
"Pergi dari rumahku." Sinta memutar kursi rodanya, membelakangi menantunya. "Dan jangan pernah lagi memakai kata 'Mama' di depanku. Kamu tidak pernah jadi anakku. Kamu cuma kontrak yang dibeli dengan ginjal—dan bahkan itu pun bohong."
Mei berdiri. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menancap di telapak sendiri.
"Baik," katanya akhirnya, suaranya tipis seperti pisau. "Baik. Kalau begitu, silakan Mama pertaruhkan hidup Mama pada dua calon donor yang belum tentu cocok itu. Saya harap Tuhan masih sempat menolong Mama."
Ia berbalik dan berjalan keluar. Di balik punggungnya, Sinta menutup mata, dan untuk pertama kalinya hari itu, napas perempuan tua itu terdengar berat.
***
Kevin Pov.
Aku menemukan ibuku menangis di ruang tengah sepulang kantor.
Bukan tangis keras. Ibuku tidak pernah menangis keras. Hanya air yang mengalir pelan di pipinya yang makin cekung, dan tangannya yang memeluk selimutnya terlalu erat.
"Mei ke sini," katanya, sebelum aku sempat bertanya.
Seluruh tubuhku menegang. "Dia bilang apa?"
"Hal-hal yang biasa dikatakan orang yang sedang tenggelam." Ibu menyeka pipinya, lalu menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat lelah. "Kevin. Dengarkan Ibu baik-baik. Jangan pernah, dengan alasan apa pun, menukar kebahagiaanmu dengan ginjal Ibu. Jangan pernah. Kalau Ibu harus mati, biar Ibu mati sebagai ibu yang anaknya hidup benar. Bukan sebagai ibu yang anaknya terjual."
"Bu—"
"Janji."
Aku berlutut di depan kursi rodanya dan memegang kedua tangan ibuku. Tangan itu dingin dan kurus, dan aku benci betapa rapuh rasanya.
"Aku janji," kataku. "Dan aku juga janji satu hal lagi. Ibu tidak akan mati. Dua calon donor itu sedang dites lanjutan. Dokter bilang peluangnya bagus. Ibu dengar itu? Peluangnya bagus, tanpa perempuan itu."
Ibuku mengusap rambutku seperti waktu aku kecil.
"Kalau begitu," bisiknya, "cepatlah selesaikan semuanya. Ibu ingin melihat kamu menikah dengan benar, Kevin. Dengan perempuan yang benar. Sebelum mata Ibu tertutup."
***
Normal Pov.
Malam itu, di kamar luasnya di rumah Broto, Mei duduk di lantai di tengah kegelapan.
Gaun tidurnya kusut. Rambutnya terurai. Di sekelilingnya berserakan botol-botol parfum yang dilemparnya ke dinding, dan lantai kamarnya wangi menyengat seperti kuburan bunga.
Tidak ada lagi yang bisa diatur. Sinta membuangnya. Kevin memusuhinya. Polisi mengejarnya. Tiara mulai menghindarinya sejak ponselnya hancur—perempuan itu pencium pertama bau kapal tenggelam.
Mei mengangkat wajahnya. Di kegelapan, matanya berkilat basah dan gila.
"Jingga Broto," gumamnya pada kegelapan. "Semua karena kamu."
Ia bangkit pelan-pelan. Berjalan ke meja rias. Menyalakan satu lampu kecil, dan menatap wajahnya sendiri di cermin—wajah yang masih cantik, masih mahal, masih bisa tersenyum.
"Kalau kamu hilang," bisiknya pada bayangannya, "Kevin kembali padaku. Polisi kehilangan saksi. Kasus wasiat kehilangan pelapornya. Semua... kembali seperti semula."
Ia meraih ponsel barunya—ponsel kedua yang selalu ia simpan di laci, yang tidak pernah disentuh siapa pun—dan mengetik satu pesan ke nomor yang namanya tidak pernah ia simpan.
'Aku butuh kamu kerja lagi. Bukan mengawasi. Bukan mengambil barang. Kali ini beda. Aku akan bayar sepuluh kali lipat.'
Jawaban datang dua menit kemudian. Pendek, datar, tanpa rasa.
'Ceritakan dulu. Baru aku putuskan.'
Mei menatap layar itu lama sekali. Lalu jarinya bergerak, dan di luar, angin malam menabrak kaca jendela seperti seseorang yang ingin masuk.
'Akhir pekan ini dia akan ke gala amal Pratama Group. Semua orang akan melihatnya. Dan aku ingin itu jadi panggung terakhirnya.'
Mei Pov End.