Normal Pov.
Gala amal tahunan Pratama Group digelar di ballroom hotel bintang lima di jantung kota, dan malam itu seolah seluruh kota datang untuk melihat.
Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit. Karpet merah membentang dari lobi sampai tangga utama. Wartawan berbaris di kanan dan kiri, kamera mereka berkilat seperti kunang-kunang yang rakus. Acara ini resminya untuk penggalangan dana—tapi semua orang tahu, gala Pratama Group tidak pernah cuma soal dana. Ini panggung. Dan semua orang datang untuk menonton siapa yang berdiri di tengahnya.
Jingga turun dari mobil pukul tujuh tepat.
Gaunnya malam itu biru gelap, sederhana tanpa banyak hiasan, tapi justru karena itu semua mata berpaling. Rambut merahnya digelung longgar. Di telinganya, anting kecil pemberian Bibi Sarah. Ia tidak datang sebagai tamu biasa—ia datang di samping Kevin Pratama, dan tangan Kevin tidak pernah lepas dari pinggangnya sepanjang karpet merah.
"Senyum," bisik Kevin di telinganya, di tengah badai kilat kamera.
"Aku sedang senyum," bisik Jingga balik.
"Aku tahu. Senyummu yang itu membuatku takut."
Jingga tertawa kecil, dan wartawan menangkapnya, dan besok foto itu akan ada di mana-mana: pewaris Pratama Group tertunduk mendengarkan bisikan perempuan berambut merah, keduanya tertawa.
***
Kevin Pov.
Aku sudah menghitung risikonya sejak seminggu lalu.
Membawa Jingga ke gala ini, di depan semua orang, sementara secara hukum aku masih suami Mei Anjani—itu sama saja dengan menyalakan api di tengah gudang bensin. Pak Tony sudah mengingatkan. Ibuku sudah mengingatkan. Bahkan Lisa sudah mengingatkan, dan Lisa biasanya tidak pernah berkomentar soal apa pun.
Tapi aku sudah selesai bersembunyi.
Bertahun-tahun aku hidup dalam kontrak, dalam perhitungan, dalam citra. Perempuan di sisiku ini pernah ditampar di depan umum, difitnah di koran, dibilang merebut suami orang—dan dia tidak pernah sekalipun bersembunyi. Dia bahkan datang ke konferensi persku dengan dagu terangkat.
Kalau dia berani, aku tidak punya alasan untuk pengecut.
"Tuan Kevin!" seorang wartawan berteriak dari balik pembatas. "Di mana Nyonya Mei malam ini?"
Aku berhenti. Merangkul pinggang Jingga sedikit lebih erat, dan menjawab tepat ke arah kamera.
"Malam ini acara amal," kataku. "Saya datang bersama orang yang selama ini berjuang untuk kebenaran. Soal sisanya, silakan tanya pengacara saya."
Kami berjalan masuk, meninggalkan puluhan kamera yang meledak di belakang.
***
Normal Pov.
Di dalam ballroom, malam itu benar-benar jadi panggung.
Di meja utama: Jingga dan Kevin, duduk berdampingan, tertawa bersama, sesekali Kevin menyelipkan sehelai rambut Jingga ke belakang telinganya dengan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.
Di meja sisi timur: Tiara, anggun dalam gaun perak, datang bersama Irvan. Ia tersenyum ke setiap arah—tapi senyumnya retak sedikit setiap kali melintas ke meja utama.
Dan di meja sisi barat, tepat di bawah lampu kristal: Mei Anjani.
Ia datang. Semua orang terkejut ia datang. Gaun merahnya menyala seperti peringatan, dan ia duduk sendirian dengan anggukan anggun pada setiap orang yang menyapa—istri sah yang ditinggal suaminya di meja lain, memainkan peran itu dengan kesempurnaan seorang aktris yang sudah dua puluh tahun berlatih.
Segitiga itu tidak lepas dari mata siapa pun malam itu.
"Satu ballroom, tiga perempuan, satu pria," bisik seorang tamu pada temannya. "Besok pagi koran tidak perlu cari berita lain."
***
Jingga Pov.
Aku merasakan tatapan Mei sejak pertama kali masuk.
Panas. Dingin. Dua-duanya sekaligus. Aku sudah belajar membaca perempuan itu sejak lama—senyumnya malam ini sempurna, dan justru itu yang menakutkan. Orang yang senyumnya sempurna di saat terpojok sedang memegang sesuatu di balik punggungnya.
"Jangan lihat dia terus." Suara Kevin menarikku kembali. Ia berdiri dan mengulurkan tangan. "Dansa denganku."
Musik mulai mengalir. Aku menaruh tanganku di telapaknya, dan kami masuk ke tengah lantai.
Semua orang menonton. Aku tahu. Tapi ketika Kevin memutar tubuhku pelan dan menarikku kembali ke dekatnya, ballroom itu menyusut jadi sekecil dunia di antara kami berdua.
"Kamu tahu semua orang menonton?" bisikku.
"Biar." Mata Kevin menatapku dalam, tanpa celah. "Aku capek menunjukkan yang benar ke orang yang salah. Sekarang aku mau menunjukkan yang benar ke orang yang benar."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menari, dan untuk beberapa menit—untuk pertama kalinya sejak ayahku mati—aku membiarkan diriku bahagia tanpa menghitung harganya.
Itu kesalahan. Kebahagiaan selalu menagih harganya. Aku baru tahu beberapa jam kemudian.
***
Normal Pov.
Di tepi lantai dansa, Irvan mencondongkan tubuh ke Tiara.
"Mereka terlihat serius," katanya pelan.
Tiara tidak menjawab. Gelas sampanye di tangannya berputar pelan. "Serius tidak selalu menang, Van. Kamu tahu itu."
Di dekat pintu, Irvan menyempatkan diri mendekati Jingga saat dansa selesai. Suaranya rendah, cepat, tanpa senyum.
"Jingga. Dengar aku. Akhir-akhir ini ada yang mengawasimu. Bukan wartawan. Aku melihat motor yang sama dua kali di dekat kantormu dan sekali di dekat rumahmu. Hati-hati pulang nanti. Tolong."
Jingga menatapnya. "Kamu yakin?"
"Aku tidak yakin apa pun akhir-akhir ini. Tapi aku lebih baik dianggap paranoid daripada menyesal." Irvan mundur, kembali ke sisi Tiara, dan tidak menoleh lagi.
***
Normal Pov.
Pukul sebelas malam, gala usai.
Kevin tertahan oleh para donatur di lobi—sumbangan malam itu memecahkan rekor dan semua orang ingin bersalaman dengannya. Jingga pamit duluan; kepalanya sedikit pusing oleh musik dan lampu, dan Lisa menunggu di kantor untuk laporan malam.
"Aku susul lima belas menit," kata Kevin, mengecup punggung tangannya. "Sopirku yang antar. Jangan buka jendela, jangan berhenti di mana pun."
"Lima belas menit," Jingga tersenyum.
Mobil hitam itu meluncur keluar dari basement hotel ke jalanan kota yang basah oleh gerimis. Jingga duduk di kursi belakang, memejamkan mata, memutar ulang dansa tadi di kepalanya.
Turunan panjang menuju jalan lingkar.
Sopir itu menginjak rem.
Tidak ada apa-apa.
Ia menginjaknya lagi, lebih dalam, sampai mentok—pedal rem itu amblas ke lantai seperti menginjak kapas, dan mobil itu terus meluncur, makin cepat, makin cepat, menuju tikungan tajam di bawah sana dengan lampu merah menyala di ujungnya.
"Nona," suara sopir itu pecah, tangannya berjuang memutar setir, "remnya putus. Pegangan, Nona. PEGANGAN—"
Jingga Pov End.