Jingga Pov.
Ada suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Logam bertemu beton. Kaca menjadi hujan. Dunia berputar—atas menjadi bawah menjadi atas lagi—dan di tengah semua itu, satu hal yang paling jelas di kepalaku bukan rasa takut.
Melainkan dansa tadi.
Aneh. Orang bilang saat maut datang, yang muncul adalah seluruh hidupmu. Yang muncul di kepalaku justru lima belas menit yang belum selesai: tangan Kevin di punggungku, bisiknya di telingaku, janjinya yang tertunda di lobi hotel.
Lima belas menit. Kamu bilang lima belas menit.
Lalu gelap.
***
Kevin Pov.
Aku sedang menandatangani lembar sumbangan terakhir ketika ponselku bergetar. Nomor sopirku.
"Pak." Suaranya terengah, berlatar bunyi sirene dan teriakan orang. "Mobilnya, Pak. Remnya putus. Kami menabrak pembatas di jalan lingkar. Nona Jingga—"
Dunia tidak runtuh perlahan-lahan. Dunia runtuh sekaligus, dalam satu detik, seperti gedung yang kabel bajanya digunting.
Aku tidak ingat keluar dari hotel. Aku tidak ingat merebut kunci dari tangan stafku. Yang kuingat: jalanan basah, lampu merah yang kulanggar satu demi satu, dan suara di kepalaku yang mengulang kalimat yang sama seperti orang gila.
Lima belas menit. Aku bilang lima belas menit. Aku yang menyuruhnya pulang duluan.
Tempat kejadian sudah penuh orang ketika aku tiba. Mobilku—mobil yang kuperiksa sendiri minggu lalu—menghadap arah yang salah dengan bagian depan remuk melahap pembatas beton. Pintu belakang terbuka. Tandu. Paramedis.
Dan di atas tandu itu, Jingga. Wajahnya penuh darah dari luka di pelipis, matanya tertutup, rambut merahnya menempel basah di pipi.
"JINGGA!"
Aku berlari. Dua petugas menahanku. Aku tidak merasakan tangan mereka sama sekali—yang kurasakan hanya jarak dua meter antara aku dan tandu itu, jarak paling jauh yang pernah ada di dunia.
"Keluarga, Pak?" tanya paramedis.
"Ya." Tidak ada keraguan sedetik pun di suaraku. "Saya keluarganya."
***
Normal Pov.
Rumah sakit itu tidak pernah tidur, tapi malam itu koridornya terasa lebih putih dari biasanya.
Diagnosis dokter keluar pukul dua pagi: gegar otak ringan, tiga jahitan di pelipis, memar di bahu dan rusuk, tidak ada pendarahan dalam. Sopirnya retak tulang lengan, tapi sadar dan selamat.
"Nona ini beruntung," kata dokter. "Pembatas itu empuk dibanding jurang di tikungan berikutnya. Kalau mobilnya lewat tikungan itu dengan kecepatan yang sama... kita tidak akan bicara seperti ini sekarang."
Kevin menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Di luar kamar rawat, Tono datang masih dengan seragam, wajahnya kelam. Ia baru dari lokasi, dan di tangannya ada kantong bukti kecil berisi potongan selang.
"Bukan kecelakaan, Kev," katanya langsung, tanpa basa-basi. "Selang remnya digunting. Rapi, sebagian saja—supaya tidak langsung blong di basement hotel, tapi mati pelan-pelan pas di turunan. Orang yang melakukan ini tahu persis rute pulang dari gala. Dia menghitung tempatnya."
Kevin mengangkat wajah. Matanya merah, dan ada sesuatu di sana yang membuat Tono—polisi yang sudah melihat banyak hal—bergeser setengah langkah.
"Siapa," kata Kevin. Bukan pertanyaan.
"Orang yang menyewa pembobol kantor Pak Tony, orang yang motornya mengawasi rumah Jingga, orang yang digaji oleh rekening berlapis yang ujungnya selalu berhenti di satu nama." Tono menatap sahabatnya lurus-lurus. "Kamu sudah tahu jawabannya. Kita semua sudah tahu. Yang belum ada cuma bukti yang cukup untuk borgol."
"Maka cari," suara Kevin rendah dan bergetar. "Cari, Tono. Sebelum dia mencoba lagi."
***
Kevin Pov.
Aku tidak pulang. Aku berjaga.
Kursi di samping ranjang rumah sakit itu sempit dan keras, tapi aku tidak bergerak darinya sepanjang malam. Nada datang membawakan baju ganti. Lisa datang membawakan berkas yang kubiarkan tertutup. Ibuku menelepon dari kursi rodanya, suaranya bergetar, dan aku menenangkannya dengan suara yang kupinjam dari entah siapa.
Pukul empat pagi, ketika rumah sakit benar-benar sunyi, aku memegang tangan Jingga yang terbaring itu dan mulai bicara. Pada perempuan yang tidur. Pada diriku sendiri. Pada Tuhan, kalau Dia sedang lewat.
"Kamu tahu kesalahanku apa, Cerry?" bisikku. "Aku pikir aku punya waktu. Aku pikir semua bisa kuatur satu-satu: cerai dulu, kasus dulu, donor ibuku dulu, baru kamu. Aku menaruhmu di antrean paling akhir karena aku pikir kamu yang paling kuat. Kamu memang yang paling kuat. Tapi yang paling kuat bukan berarti boleh dibiarkan sendirian."
Tangannya tidak bergerak. Mesin di samping ranjang berdetak teratur, satu-satunya suara yang menjawabku.
"Aku akan menceraikannya. Resmi. Berapa pun harganya, apa pun yang media tulis, apa pun yang dilakukan kontrak itu. Tidak ada lagi antrean. Kamu dengar itu?" Suaraku pecah di tengah, dan aku tidak peduli. "Jangan pergi. Kamu tidak boleh pergi. Aku baru menemukanmu, Cerry. Aku belum selesai."
***
Normal Pov.
Pagi datang bersama berita.
Media yang dua minggu lalu menghakimi Jingga sebagai perusak rumah tangga berbalik arah dalam semalam. Foto gala—Kevin dan Jingga berdansa—beredar berdampingan dengan foto mobil remuk di jalan lingkar, dan publik menyusun sendiri cerita yang benar dengan sendirinya: perempuan muda yang diincar. 'Gala Amal Berakhir Tragedi', tulis satu portal. 'Selang Rem Digunting, Siapa yang Menginginkan Jingga Broto Mati?', tulis yang lain, lebih berani.
Simpati datang seperti banjir. Karangan bunga memenuhi lobi rumah sakit. Karyawan HA Express berjaga bergantian di luar kamar.
Dan di rumah besar keluarga Broto, seorang perempuan dalam gaun sutra menonton berita pagi dengan remote di tangan dan wajah tanpa ekspresi.
"Gagal," kata Mei pelan pada layar televisi. "Sepuluh kali lipat, dan dia gagal."
Ia mematikan televisi. Menyalakan ponsel. Mengetik satu pesan, lalu menghapusnya, lalu mengetiknya lagi—dan untuk pertama kalinya, jari perempuan itu gemetar.
***
Jingga Pov.
Aku sadar tepat ketika matahari sore jatuh lewat jendela.
Hal pertama yang kulihat: langit-langit putih. Hal kedua: tangan Kevin yang menggenggam tanganku, dan kepalanya yang tertidur di tepi ranjang, masih dengan kemeja gala semalam yang kusut dan berlumur sesuatu yang gelap di lengannya.
Aku menggerakkan jari. Ia langsung terbangun—begitu cepat, seolah selama ini ia tidak benar-benar tidur.
"Cerry." Suaranya serak. Matanya merah. Ia setengah berdiri, setengah berlutut, memegang tanganku dengan dua tangannya seperti orang yang memegang tali di tepi jurang. "Kamu sakit di mana? Pusing? Mual? Aku panggil dokter—"
"Kak." Aku memotongnya pelan. Suaraku serak, tapi cukup. "Kemarin kamu bilang lima belas menit."
Ia membeku.
"Kamu datang lebih lama dari lima belas menit," bisikku. Air mataku mengalir ke pelipis, ke arah jahitan, perih. "Jadi jangan pernah pergi lagi. Kalau pergi, aku ikut. Kalau aku yang pergi, kamu jemput. Selesai."
Kevin menunduk. Menempelkan dahinya ke punggung tanganku. Dan di ranjang rumah sakit itu, pewaris Pratama Group menangis tanpa suara, sementara aku mengusap rambutnya dengan tangan yang masih terpasang selang infus.
Di luar pintu, Tono berdiri dengan map baru di tangannya, memberi mereka lima menit lagi.
Isi map itu bisa menunggu lima menit. Tapi tidak lebih lama dari itu—karena di dalamnya ada foto wajah yang akhirnya berhasil diberi nama.
Jingga Pov End.