Normal Pov.
Seminggu berlalu, dan kota itu seperti menahan napas.
Jingga keluar dari rumah sakit dengan jahitan di pelipis dan lengan yang diikat penyangga. Ia menolak kursi roda di depan wartawan—berjalan dengan kakinya sendiri, pelan tapi tegak, Kevin di sisi kirinya dan Lisa di sisi kanannya. Foto itu menjadi sampul banyak portal keesokan harinya: perempuan muda yang ditabrak oleh gelap, berjalan keluar ke cahaya dengan dagu terangkat.
Rumah Broto berubah fungsi menjadi benteng. Kevin menempatkan dua pengawal di gerbang—bukan orang Pratama Group, tapi orang yang direkomendasikan Tono langsung. Kamera rumah Jingga ditambah dua kali lipat. Bibi Sarah pindah tidur ke kamar sebelah Jingga. Mang Asep memeriksa setiap mobil yang masuk halaman seperti tentara memeriksa perbatasan.
Dan di kamar mendiang Karim, di ruang pengintai kecil itu, Jingga menghabiskan malam-malam pemulihannya dengan buku catatan terbuka dan layar kamera menyala.
"Kamu harusnya istirahat," tegur Nada, yang hampir tiap sore datang membawa sop buatan Bibi Sarah.
"Aku sedang istirahat," jawab Jingga, tanpa mengalihkan mata dari layar. "Istirahat sambil menjaga diri sendiri. Itu olahraga baru orang sepertiku."
***
Normal Pov.
Terobosan datang di hari kesembilan.
Kamera parkir gedung sebelah kantor Pak Tony, rekaman motor pengawas di rumah Broto, dan satu rekaman kamera tol di malam gala—tiga titik yang selama ini terpisah—akhirnya bertemu di satu wajah. Tim Tono menyandingkan ratusan bingkai selama empat malam, dan di malam keempat, seorang analis muda berteriak dari balik layarnya.
Wajah itu bernama Danu Wirya. Tiga puluh empat tahun. Mantan anggota keamanan sebuah klub malam—klub malam yang dua belas tahun lalu dikelola oleh seorang perempuan bernama Mei Anjani.
"Benangnya muncul," kata Tono pada Kevin lewat telepon, suaranya keras karena angin dan deru motornya. "Klub yang sama. Dia bukan orang sewaan sembarangan—dia orang lama. Orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan punya banyak cerita."
Subuh berikutnya, Danu Wirya ditangkap di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota, dengan tas berisi uang tunai dan dua ponsel yang belum sempat ia buang ke sungai.
***
Kevin Pov.
Di sela-sela semua itu, aku menemui Pak Tony. Dua kali.
Pertemuan pertama tentang perceraian.
"Klausul kontraknya melawan kamu," kata Pak Tony terus terang, membuka salinan kontrak pernikahanku yang sudah ia hafal. "Kalau Mei yang minta cerai, dia tidak dapat apa-apa. Tapi kalau KAMU yang minta cerai tanpa bukti perbuatan zina atau kejahatan... dia berhak menuntut bagian. Dan perempuan itu akan menuntut langit."
"Maka kita tunggu bukti kejahatannya," kataku. "Dia sudah menyerahkannya sendiri: selang rem. Pembobolan. Dan kasus wasiat yang sedang berjalan. Aku tidak menceraikan istri, Tony. Aku menceraikan tersangka."
Pak Tony menatapku lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang kukenal sebagai senyum seorang pendekar pedang yang menemukan titik lemah lawan.
"Kamu belajar cepat," katanya. "Baik. Kita siapkan berkasnya sekarang, kita ajukan begitu status hukumnya naik. Perceraian dengan alasan kejahatan terhadap keluarga... hakim tidak akan berkedip."
Pertemuan kedua, aku datang tidak sendirian. Aku membawa Jingga—yang bersikeras ikut dengan lengan masih diikat penyangga—dan kami membahas kasus wasiat almarhum Karim: keterangan Hendrawan, nota apotek, buku harian hitam di brankas bank, dan satu nama yang selama ini menunggu untuk ditemui.
"Dokter Gunawan," kata Pak Tony, mengetuk nama itu di daftarnya. "Teman almarhum, dokter yang memeriksanya di bulan-bulan terakhir. Kesaksian ahli tentang kondisi Karim sebelum meninggal. Tono sudah menemukan alamatnya. Dia pensiun dan tinggal di luar kota."
"Aku yang pergi menemuinya," kata Jingga cepat.
"Kamu," kataku, menatap lengannya yang terikat, "tidak ke mana-mana sampai dokter melepas ini."
"Ayahku yang menulis surat itu, Kevin." Matanya menatapku, dan di sana ada api yang tidak bisa dipadamkan kecelakaan mana pun. "Kalau ada satu orang di dunia ini yang harus mendengar cerita Dokter Gunawan, itu aku."
Aku kalah. Seperti biasa, kalau dia sudah pakai nada itu, aku kalah.
***
Jingga Pov.
Malam sebelum keberangkatan itu, Kevin datang ke rumah. Kami duduk di beranda belakang, di bawah langit yang bersih, dan untuk pertama kalinya sejak rumah sakit, tidak ada polisi, tidak ada pengacara, tidak ada kamera yang harus kuperiksa. Hanya kami berdua dan teh yang dibuatkan Mang Asep.
"Aku harus bilang sesuatu," katanya tiba-tiba. "Dan aku sudah menundanya terlalu lama."
Ia menatapku. Lalu ia bicara—semuanya. Kontrak pernikahannya dengan Mei dari awal sampai akhir. Ginjal ibunya. Klausul-klausulnya. Dua kali keracunan yang gagal karena cangkir yang kutukar—dia sudah tahu, dari hasil lab, dari Tono, dan dia tidak pernah marah, dia cuma bilang: "Kamu menyelamatkan nyawaku dua kali, dan kamu tidak pernah cerita."
Giliranku membeku.
Dan di beranda itu, di bawah langit yang bersih, aku hampir menceritakan semuanya. Hampir. Misiku. Alasanku pindah ke rumah ini. Buku catatanku. Bahwa aku mendekatinya bukan kebetulan—bahwa awalnya, dia cuma bagian dari peta balas dendamku.
Mulutku terbuka. Tapi yang keluar cuma, "Aku senang kamu selamat waktu itu."
Pengecut. Separuh diriku berteriak. Katakan yang sebenarnya. Tapi separuh lagi—separuh yang sudah terlanjur jatuh cinta—menahanku kuat-kuat: Belum. Belum sekarang. Kalau dia tahu sekarang, dia akan melihatmu seperti semua orang melihatmu: perempuan yang menghitung segalanya.
Kevin mengulurkan tangan dan mengusap pipiku dengan punggung jarinya, pelan sekali, seperti aku terbuat dari kaca.
"Cerry," katanya. "Tatap aku."
Aku menatapnya.
"Aku tidak tahu besok apa yang terjadi," katanya. "Kasusku, kasusmu, ibuku, semuanya. Tapi satu hal yang aku tahu pasti: aku tidak mau menjalani semuanya tanpa kamu. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai sekutu. Kamu mengerti maksudku."
"Aku mengerti," bisikku.
Dan ia menunduk, dan menciumku—pelan, hati-hati, seperti orang yang takut merusak sesuatu yang sudah terlalu lama diperjuangkan—dan di beranda belakang rumah yang penuh kamera itu, untuk pertama kalinya, aku berhenti menghitung.
Untuk pertama kalinya, aku cuma seorang perempuan dua puluh tahun yang dicintai.
Aku tidak tahu bahwa kejujuran yang kutunda malam itu akan tumbuh jadi badai. Aku tidak tahu bahwa beberapa bulan dari sekarang, Kevin akan berdiri di depanku dengan mata yang berbeda dan kata-kata yang berbeda, dan ciuman pertama ini akan menjadi hal yang paling menyakitkan untuk kuingat.
Malam itu aku tidak tahu apa-apa.
Malam itu aku bahagia.
***
Normal Pov.
Di waktu yang sama, di ruang pemeriksaan kantor polisi, Danu Wirya duduk di bawah lampu terang dengan dua gelas kopi dingin di mejanya.
Ia sudah diam selama dua hari. Tapi dua hari itu dihabiskan Tono dengan baik: ia menunjukkan foto selang rem, foto kamar Jingga yang berantakan, surat-surat Karim, dan satu hal terakhir—berkas pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman yang bisa membuat seorang pria tua di penjara.
"Kamu bukan otaknya, Danu," kata Tono, duduk santai di kursi seberang. "Kamu kaki tangannya. Otaknya sedang duduk di rumah besar, di kamar luas, menonton berita tentangmu sambil minum teh. Kamu mau menua di penjara untuk perempuan yang bahkan tidak menyimpan namamu di ponselnya?"
Danu Wirya menatap kopi dinginnya lama sekali.
Lalu ia mengangkat wajah, dan mulai bicara.
Malam itu juga, pukul sebelas, Tono menelepon Kevin. Kevin sedang berdiri di beranda belakang rumah Broto—pulang dari mengantar Jingga ke kamarnya—dan ia menyaksikan bulan di atas pepohonan sambil mendengarkan.
Di seberang telepon, suara Tono terdengar lelah dan puas sekaligus, seperti pemburu yang akhirnya mendengar rusa terjerat.
"Kev," katanya. "Dia mulai bernyanyi."
Kevin menggenggam ponselnya lebih erat. "Tentang apa?"
"Tentang segalanya. Pembobolan kantor Pak Tony. Motor pengawas. Selang rem itu. Dan satu hal lagi yang belum kita duga." Tono berhenti sebentar, dan Kevin bisa mendengar suara kertas dibolak-balik di seberang sana. "Tapi yang paling penting bukan isi lagunya, Kev. Yang paling penting judulnya."
Di atas beranda, angin berbalik arah.
"Dan lagunya," kata Tono pelan, "tentang Nyonya Mei."
Normal Pov End.