Normal Pov.
Nyanyian Danu Wirya dimulai dari hal yang kecil.
"Bensin," katanya di ruang pemeriksaan, pada hari ketiga. "Ibu Mei selalu mulai dari bensin. Dia bilang, orang besar selalu lupa hal kecil. Motor butuh bensin. Bensin butuh uang tunai. Uang tunai butuh perantara. Dia bangga sekali dengan sistemnya itu. Dia bilang, selama tidak ada nama yang ditulis, tidak ada yang bisa membuktikan apa-apa."
Tono menyalakan perekam ketiga dan meletakkannya paling dekat.
"Maka ceritakan semua yang tidak bisa dibuktikan itu," katanya. "Pelan-pelan. Dari awal."
Dan Danu bercerita. Tentang malam ketika ia diperintah membongkar kantor seorang pengacara tua bernama Tony, dengan perintah yang aneh: bukan mencuri, tapi mencari—sebuah kaleng biru, atau apa pun yang berbau kematian Karim Broto. Tentang motor bebek hitam tanpa plat yang diparkirnya berjam-jam di seberang rumah besar itu, memotret siapa yang datang dan pergi. Tentang seorang pembantu tua bernama Imah yang pernah dimintanya "diantar pulang ke kampung dan jangan pernah kembali", permintaan yang gagal karena perempuan tua itu keburu diambil polisi.
Dan tentang malam gala.
"Aku yang menggunting selangnya," kata Danu, dan untuk pertama kalinya suaranya menurun. "Di basement hotel, jam sembilan malam, waktu semua orang di atas. Ibu Mei yang memberi tahu mobilnya yang mana. Dia kirim foto mobilnya. Platnya. Dia bilang..." Danu menelan ludah. "Dia bilang, jangan sampai mati di hotel. Biar dia mati di jalan, jadi tidak ada yang menghubungkan ke acara itu."
Ruang pemeriksaan itu sunyi sejenak. Bahkan petugas yang mencatat berhenti mengetik.
"Kamu tahu itu percobaan pembunuhan," kata Tono datar.
"Aku tahu." Danu menatap mejanya. "Dan aku tetap melakukannya. Makanya aku di sini."
***
Normal Pov.
Tapi ada satu hal lagi. Satu hal yang membuat Tono menyandarkan tubuhnya pelan-pelan ke kursi, seperti orang yang baru melihat jurang di tempat yang ia kira lantai.
"Ada satu pekerjaan lagi," kata Danu. "Bukan untuk Nona Jingga. Untuk yang lain. Tahun lalu."
"Tahun lalu apa?"
"Ibu Mei pernah menyuruhku mengawasi seseorang. Bukan Nona Jingga—waktu itu Nona Jingga bahkan belum pulang ke rumah itu. Yang diawasinya..." Danu mengusap wajahnya. "Suaminya sendiri. Pak Karim. Ibu Mei minta aku mencatat Pak Karim pergi ke mana, bertemu siapa, dan—ini yang aneh—berapa kali dia muntah."
Tono tidak bergerak. "Muntah."
"Setiap minggu aku lapor. Pak Karim ke kantor, muntah dua kali. Ke rumah temannya, seorang dokter, nama yang kudengar disebut sopirnya: Gunawan. Ibu Mei selalu tanya detail sekali soal kesehatan suaminya. Aku pikir itu aneh untuk seorang istri. Tapi sekarang, setelah aku dengar kalian menuduhnya meracuni..." Danu mengangkat wajahnya. "Itu bukan keanehan seorang istri, Pak. Itu peternak yang memantau ternaknya. Dia sedang menghitung berapa lama suaminya tinggal."
Tono menutup mapnya pelan-pelan.
"Terima kasih, Danu," katanya. "Kamu baru saja menambah satu pasal ke berkasmu sendiri—tapi kamu juga baru saja menyelamatkan kasus ini."
***
Kevin Pov.
Tono menceritakan semuanya padaku sore itu juga, di kantor HA Express, dengan Jingga duduk di sebelahku.
Aku melihat wajah Jingga ketika bagian "berapa kali dia muntah" diucapkan. Tidak ada kata yang bisa menggambarkannya. Ayahnya diteliti seperti binatang percobaan oleh perempuan yang tidur di ranjangnya, di tahun-tahun ketika Jingga masih mengira ayahnya cuma "sakit biasa".
"Ada lagi," kata Tono, dan nadanya berubah—lebih berat. "Yang aku bilang di telepon kemarin. 'Satu hal yang belum kita duga.' Danu menyebut satu nama terakhir. Bukan tentang pembunuhan. Tentang kebiasaan Mei membayar orang."
"Siapa?" tanya Jingga.
"Tiara."
Kata itu jatuh ke ruangan itu seperti batu ke sumur.
"Danu pernah dua kali mengantar amplop ke sebuah apartemen," lanjut Tono. "Tahun ini. Amplop tebal, uang tunai. Dia tidak tahu untuk apa. Tapi penerimanya: Angelica Klody. Alias Tiara."
Jingga menatapku. Aku menatapnya balik. Mantan pacarku. Teman Irvan. Perempuan yang tersenyum paling lebar ke arah Jingga di malam gala—beberapa jam sebelum selang rem mobilnya digunting.
"Aku tidak bilang dia tahu soal rem," kata Tono cepat. "Amplop bisa berarti apa saja. Gosip. Foto. Mata-mata. Tapi dia di dalam lingkaran itu, Kev. Dia menerima uang dari perempuan yang mencoba membunuh pacarmu. Itu saja sudah cukup untuk membuatku ingin bicara panjang dengannya."
***
Normal Pov.
Keesokan paginya, berkas penyidikan naik satu tingkat.
Dua pasal menjadi tiga. Dugaan pembunuhan berencana terhadap Karim Broto. Pemalsuan surat wasiat. Dan percobaan pembunuhan terhadap Jingga Broto.
Dan dengan tiga pasal itu, di atas meja seorang penyidik senior, sebuah surat ditandatangani: surat perintah penangkapan atas nama Mei Anjani binti Sukanda.
Tono tidak ikut tim penangkap—ia terlalu dekat dengan keluarga itu, atasannya yang memutuskan. Tapi ia berdiri di seberang jalan ketika tiga mobil polisi berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Broto pada pukul enam pagi, ketika kota masih kelabu dan embun masih menempel di kaca.
Ia ingin melihatnya dengan matanya sendiri.
Perempuan yang dua belas tahun mengatur semua orang seperti bidak, dijemput dari rumahnya sendiri di pagi hari.
Jingga Pov.
Aku menonton dari jendela lantai dua.
Polisi masuk lewat pintu depan—Mang Asep yang membukakan, dengan tangan gemetar dan kepala tegak. Beberapa menit kemudian, mereka keluar, dan di tengah mereka: Mei Anjani, masih dengan gaun tidur sutranya yang dilapisi jubah panjang, rambutnya disanggul asal, tangannya tersembunyi di balik jubah itu.
Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Mei terlalu pintar untuk itu—ia tahu kamera tetangga menyala, dan ia memberikan mereka pertunjukan terbaiknya: seorang nyonya besar yang difitnah, berjalan anggun menuju mobil polisi seperti turun dari takhta.
Tapi sebelum masuk ke mobil, ia berhenti.
Ia menoleh. Ke atas. Ke jendela lantai dua. Tepat ke arahku, seolah ia tahu persis aku di sana—seolah sejak semalam ia sudah menghitung dari jendela mana aku akan menonton.
Kami bertatapan melintasi halaman yang basah oleh embun.
Dan Mei tersenyum.
Bukan senyum kalah. Bukan senyum gila. Senyum yang sangat kecil, sangat tenang, senyum seorang pemain kartu yang baru saja kehilangan satu ronde dan menepuk saku bajunya—tempat kartu terakhirnya disimpan.
Ini belum selesai, kata senyum itu. Kamu belum tahu apa-apa, anak kecil.
Lalu ia masuk ke mobil, dan pintu tertutup, dan iring-iringan itu pergi meninggalkan halaman yang tiba-tiba terasa sangat besar dan sangat sunyi.
Aku berdiri di jendela itu lama sekali. Di tanganku, ponsel bergetar: pesan dari Kevin, yang baru melihat berita itu meledak di mana-mana.
'Kamu tidak apa-apa? Aku ke sana sekarang.'
Aku mengetik balasan dengan jari yang ternyata gemetar.
'Aku tidak apa-apa. Tapi dia tersenyum, Kak. Orang tidak tersenyum seperti itu kalau dia sudah habis.'
Jingga Pov End.