Normal Pov.
Tiga hari setelah penangkapan itu, sebuah mobil melaju keluar kota sejak subuh.
Jingga duduk di kursi belakang dengan lengan yang masih diikat penyangga—jahitannya baru dilepas dua hari lalu. Kevin menyetir sendiri. Di jok depan, Tono membaca ulang map berisi pertanyaan yang disusunnya bersama penyidik. Mereka menuju sebuah kota kecil di kaki gunung, tiga jam dari hiruk pikuk, tempat seorang dokter tua menghabiskan masa pensiunnya menanam anggrek.
Dokter Gunawan. Teman Karim Broto selama tiga puluh tahun. Dokter yang memeriksanya di bulan-bulan terakhir hidupnya. Saksi ahli yang selama ini hanya ada sebagai nama di dalam daftar Pak Tony—nama yang dilingkari tinta merah dengan catatan kecil di sampingnya: "Kunci. Kalau dia bicara, selesai."
Rumah itu kecil, bersih, dengan halaman penuh anggrek ungu. Dan lelaki tua yang membuka pintunya menatap Jingga begitu lama, begitu dalam, sampai Kevin bergerak setengah langkah melindungi.
"Kamu," kata Dokter Gunawan akhirnya, dan suaranya langsung basah. "Kamu anaknya. Kamu Jingga. Mata ayahmu. Ya Tuhan... persis mata ayahmu."
***
Normal Pov.
Mereka duduk di ruang tamu yang berbau kayu dan hujan. Dokter Gunawan menyuguhkan teh dengan tangan yang sesekali gemetar—bukan karena takut, tapi karena usia dan sesuatu yang lebih berat dari usia.
"Saya sudah menunggu kedatangan kalian selama satu tahun," katanya. "Setiap kali saya baca berita tentang keluarga Broto, saya berkata pada diri sendiri: hari ini? Hari ini mereka datang? Dan setiap malam saya tidur dengan rasa bersalah, karena saya tidak datang sendiri. Saya pengecut. Saya tahu itu. Saya sudah tua dan saya takut pada perempuan itu, dan rasa takut saya membuat seorang sahabat mati tanpa pembelaan."
"Dokter," Jingga mencondongkan tubuh, "ceritakan saja. Semuanya. Mulai dari mana pun."
Dokter Gunawan menarik napas panjang. Dan ia bercerita.
***
Gunawan Pov.
Karim datang kepadaku pertama kali sekitar delapan bulan sebelum ia meninggal.
"Gawan," katanya—dia satu-satunya orang yang memanggilku begitu—"badanku seperti rumah yang dimakan rayap. Dari luar masih berdiri. Tapi aku bisa merasakan rayapnya."
Aku memeriksanya. Dan aku menemukan hal-hal yang tidak masuk akal: gusi berdarah tanpa sebab, memar-memar biru di lengan yang ia tidak ingat terbentur, kadar darah yang aneh—darah yang terlalu encer, terlalu lambat membeku. Aku dokter umum, tapi aku tiga puluh tahun jadi dokter. Aku tahu pola itu. Aku pernah melihatnya pada pasien yang salah minum obat pengencer darah.
"Kamu minum obat apa?" tanyaku.
"Cuma vitamin dari Mei. Dan obat maag."
Aku menyarankannya berhenti semua obat dua minggu dan kembali untuk cek darah ulang. Tiga minggu kemudian dia datang—lebih kurus, lebih pucat—dan hasilnya membaik sedikit. Cuma sedikit. Karena, kataku padanya dengan hati-hati, kalau racun itu dicampur ke makanan atau minuman sehari-hari, menghentikan obat saja tidak cukup.
Aku tidak pernah lupa wajahnya saat aku berkata: "Karim, ada kemungkinan seseorang memberimu sesuatu yang bukan obat."
Dia tidak terkejut. Itu yang paling menyakitkan untuk kuingat. Dia tidak terkejut sama sekali. Dia cuma duduk diam lama sekali, lalu berkata pelan:
"Aku sudah menduganya, Wan. Aku cuma tidak mau percaya."
Dia menolak lapor polisi. Aku membujuknya tiga kali, tiga kali dia menolak. Alasannya satu, dan alasannya bernama Jingga. "Kalau aku lapor dan gagal membuktikan, perempuan itu akan menghabisi anakku. Aku harus mengumpulkan bukti dulu. Aku sedang mengumpulkannya. Kaleng biru. Kamu dengar itu, Wan? Kaleng biru. Kalau aku kenapa-kenapa, cari kaleng biru."
Sebulan kemudian dia mati. "Serangan jantung." Dan aku—sahabatnya tiga puluh tahun—cuma bisa berdiri di pemakamannya, menatap perempuan berkerudung hitam yang menangis begitu indah di sisi pusaranya, dan tidak berkata apa-apa.
***
Jingga Pov.
Ada suara aneh di ruangan itu. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk sadar bahwa suara itu berasal dariku—tangis yang tertahan terlalu lama sampai berubah bentuk jadi sesuatu yang lebih buruk.
Ayahku tahu.
Ayahku tahu dia sedang diracuni, dan dia tidak lari, dan dia tidak menyerah. Dia mengumpulkan bukti sampai hari-hari terakhirnya, dengan tubuh yang rayapnya sudah sampai ke atap. Kaleng biru yang kutemukan itu bukan barang simpanan. Itu benteng terakhir seorang ayah yang tahu dia tidak akan menang, tapi bertekad anaknya yang akan menang.
"Dokter." Kevin bicara, suaranya rendah dan hati-hati. "Apakah Bapak menyimpan catatan pemeriksaannya?"
Dokter Gunawan bangkit, berjalan ke lemari tua, dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal yang sudutnya sudah memutih karena terlalu sering dibuka.
"Semua," katanya. "Hasil cek darah. Tanggal. Gejala. Rekomendasi saya. Dan—" ia mengeluarkan satu amplop terpisah, lebih tipis "—ini."
"Ini apa?"
"Surat. Karim menitipkannya pada saya di kunjungan terakhirnya. Dia bilang, kalau dia mati dan tidak ada yang bertanya, buang saja. Tapi kalau ada yang datang bertanya..." Dokter Gunawan menyerahkan amplop itu—bukan kepada Tono, bukan kepada Kevin.
Kepada Jingga.
"Dia bilang: untuk anakku. Untuk Jingga."
Tanganku gemetar saat menerimanya. Di amplopnya, dengan tulisan tangan ayahku yang sudah mulai goyah, cuma ada satu baris:
'Untuk Jingga. Maaf Ayah tidak sempat menjemputmu lebih cepat.'
Aku tidak membukanya di sana. Aku tidak kuat. Aku memeluk amplop itu sepanjang jalan pulang seperti orang memeluk sesuatu yang baru saja dikembalikan dari dunia orang mati, dan Kevin menyetir dengan satu tangan sementara tangan satunya tidak pernah lepas dari tanganku, dan Tono di jok depan pura-pura tidur dengan mata yang terang-terangan basah.
***
Normal Pov.
Malam itu, di kamar mendiang Karim, di ruang pengintai kecil di balik lemari, Jingga membaca surat itu sendirian.
Sepuluh menit kemudian, untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, tangisnya terdengar sampai ke kamar sebelah—dan Bibi Sarah yang berdiri di depan pintu dengan makan malam di nampan tidak berani mengetuk, karena ia tahu: ada tangis yang harus dibiarkan selesai, seperti hujan yang harus dibiarkan habis.
Di luar kota, di rumah kecil berhalaman anggrek, Dokter Gunawan menandatangani berita acara pemeriksaan saksi di hadapan dua penyidik.
Dan di sebuah rumah tahanan di kota, Mei Anjani menerima kunjungan pengacaranya dan mendengar kabar itu dengan wajah yang untuk pertama kalinya kehilangan senyumnya.
"Dokternya bicara?" ulangnya pelan.
"Bicara. Dengan catatan medis lengkap."
Mei menatap dinding selnya lama sekali. Lalu ia berkata, lebih kepada dirinya sendiri:
"Kalau begitu kita ubah strategi. Bukan lagi soal menang." Ia menoleh ke pengacaranya, dan senyum itu kembali—lebih tipis, lebih tajam. "Sekarang soal siapa yang ikut tenggelam bersamaku."
Jingga Pov End.