Normal Pov.
Rumah besar keluarga Broto tidak pernah sesunyi itu.
Mei Anjani ditahan, dan rumah yang dua belas tahun berdenyut mengikuti iramanya tiba-tiba seperti organ tubuh yang berhenti berdetak. Para pelayan berbisik-bisik di dapur. Beberapa mengundurkan diri dalam minggu pertama—mereka yang selama ini digaji bukan untuk membersihkan rumah, melainkan untuk melapor, dan majikan mereka sekarang berada di balik jeruji.
"Biarkan yang mau pergi pergi," kata Jingga pada Mang Asep. "Kita tidak butuh rumah yang diisi orang-orang yang dibayar untuk membenci kita."
Mang Asep mengangguk. Pelayan tua itu berdiri lebih tegak akhir-akhir ini, seolah dua belas tahun membungkuk baru saja diambil dari punggungnya. "Nona mirip Bapak kalau lagi bicara begitu," katanya, dan cepat-cepat pergi sebelum air matanya ketahuan.
Tapi kesunyian punya harganya.
Malam-malam pertama setelah penangkapan itu, Jingga terbangun tiga kali setiap malam. Bukan oleh suara—justru oleh ketiadaannya. Tidak ada lagi langkah Mei di koridor. Tidak ada lagi pintu yang dibuka tanpa diketuk. Dan anehnya, tubuhnya yang sudah dua belas tahun dilatih waspada tidak tahu cara berhenti waspada.
Di malam keempat, ia menyerah pada kantuknya dan turun ke dapur pukul tiga pagi—dan menemukan Bibi Sarah sudah duduk di sana dengan dua cangkir susu hangat, seolah sudah menunggu.
"Bibi juga tidak bisa tidur?" tanya Jingga pelan.
"Bibi orang kampung, Nak. Di kampung, kalau macan masuk kandang, kita tidak tidur tiga hari setelah macannya ditangkap." Bibi Sarah mendorong satu cangkir. "Badanmu masih mengira macannya di dalam rumah. Dia memang tidak di dalam rumah lagi. Tapi jangan lupa—" mata perempuan tua itu menatap keponakannya tajam "—macan yang ditangkap itu masih punya kuku. Dan banyak orang yang mengira jeruji bisa memutus kuku."
***
Kevin Pov.
Berkas perceraian itu masuk ke pengadilan hari Selasa.
Pak Tony menyerahkannya sendiri, dengan tiga map tebal pendukung: salinan kontrak pernikahan, berkas kasus pidana yang sedang berjalan, dan satu halaman kesimpulan yang ia tulis sendiri dengan bahasa yang bahkan aku—yang membayarnya—perlu membacanya dua kali.
"Secara hukum, kamu sekarang penggugat cerai dengan alasan paling kuat yang pernah kutangani," kata Pak Tony di kantornya yang sudah diperbaiki—pintu belakang baru, kamera baru, dan satu bingkai foto baru di mejanya: foto dia dan mendiang istrinya, yang selama ini disimpan di laci. "Suami menceraikan istri yang menjadi tersangka pembunuhan ayah mertuanya dan percobaan pembunuhan... pada perempuan yang dicintai suaminya. Hakim akan menggeleng-geleng sambil mengetuk palu. Tapi—"
"Selalu ada 'tapi' kalau kamu bicara."
"Tapi prosesnya tetap proses. Sidang pertama paling cepat tiga minggu. Mei bisa memperlambat dengan seribu cara: pengacara ganti, sakit mendadak, upaya damai pura-pura. Perempuan itu tidak akan melepasmu dengan mudah, Kevin. Bukan karena cinta—perempuan seperti dia tidak tahu bentuk cinta. Tapi karena kamu adalah akses terakhirnya ke Pratama Group. Kamu bukan suami di matanya. Kamu gerbang."
Aku menatap foto di mejanya. "Dia sudah membunuh satu keluarga untuk sampai ke gerbang itu."
"Maka jangan biarkan dia membunuh yang kedua." Pak Tony menutup mapnya. "Pulanglah. Temui ibumu. Kudengar ada kabar baik dari rumah sakit—kamu harusnya yang menyampaikannya ke Jingga, bukan aku."
***
Normal Pov.
Kabar baik itu datang dari dua kota jauhnya, dari sebuah laboratorium yang selama berminggu-minggu menguji silang darah dan jaringan.
Dari dua calon pendonor Sinta, satu cocok.
Kecocokan penuh, kata dokter, dan kalimat yang dipakainya adalah kalimat yang membuat Kevin harus duduk dulu sebelum menelepon siapa pun: "Dalam tiga puluh tahun saya menangani transplantasi, jarang ada kecocokan sebaik ini di luar saudara kandung. Ini bukan kabar baik, Pak Kevin. Ini mukjizat administratif."
Operasi dijadwalkan tiga minggu lagi. Pendonornya—seorang guru SD berusia empat puluh dua tahun dari kota kecil yang mendaftarkan dirinya ke bank data bertahun-tahun lalu "karena siapa tahu berguna"—sudah menjalani pemeriksaan akhir dan tersenyum pada perawat sambil berkata, "Rupanya benar, berguna."
Kevin menyampaikan kabar itu ke Jingga lewat telepon malam itu. Jingga menyampaikannya ke Nada. Nada menyampaikannya ke Tono, yang sedang begadang dan untuk sejenak lupa pada berkas-berkasnya. Kabar baik bergerak cepat di antara orang-orang yang sudah terlalu lama lapar kabar baik.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, rumah besar keluarga Broto tidak terasa terlalu sunyi.
***
Normal Pov.
Tapi Bibi Sarah benar. Jeruji tidak memutus kuku.
Di rumah tahanan, Mei Anjani menghabiskan hari-harinya dengan disiplin yang membuat penjaga pun kagum: bangun tepat waktu, makan tepat waktu, membaca, dan menerima kunjungan. Pengacaranya datang dua kali seminggu. Dan di antara kunjungan-kunjungan itu, pada suatu Kamis siang, datang seorang pengunjung yang namanya tercatat di buku tamu sebagai "keluarga".
Tiara duduk di seberang kaca pembatas dengan kacamata hitam yang tidak dilepasnya.
"Kamu gila datang ke sini," kata Mei pelan, tanpa membuka percakapan dengan salam. "Kalau ada yang memotretmu—"
"Tidak ada yang memotretku. Aku pakai nama lain." Tiara mencondongkan tubuh ke kaca. "Mei. Semua orang panik di luar. Danu bicara. Dokter tua itu bicara. Dan sekarang orang-orang mulai bertanya-tanya soal amplop-amplop yang kamu kirim ke apartemenku."
"Amplop itu uang untuk foto. Kamu menjual, aku membeli. Jual beli biasa."
"Jual beli biasa tidak membuat orang diperiksa polisi!" Suara Tiara naik sedikit, lalu ia menahannya, melirik ke kanan-kiri. "Tono datang ke kantor agensiku kemarin. Tidak menangkapku, tidak menuduhku. Cuma bertanya dengan sangat sopan: 'Apakah Mbak Tiara mengenal Ibu Mei Anjani?' Dan semua orang di kantor itu mendengarnya, Mei. Semuanya."
Di balik kaca, Mei menatap perempuan muda itu lama. Lalu ia tersenyum—senyum yang dulu membuat gadis-gadis klub malam menurut tanpa diajari dua kali.
"Kamu mau keluar dari lingkaran ini?" tanyanya lembut. "Kamu tidak bisa, Sayang. Lingkaran ini kamu yang gambar bersamaku. Amplopmu ada namanya. Fotomu ada jejaknya. Kalau aku tenggelam, kamu yang paling dekat dengan tanganku—dan orang yang tenggelam selalu menarik yang paling dekat." Ia merapatkan wajahnya ke kaca. "Jadi berhenti berpikir cara menyelamatkan dirimu sendiri. Pikirkan cara menyelamatkan KITA. Dan aku sudah punya caranya."
Tiara menelan ludah. "Cara apa?"
"Jingga Broto bukan malaikat, Tiara. Tidak ada manusia yang sebersih itu. Dia datang ke rumah itu, ke Kevin, ke semua ini—dengan rencana. Orang yang punya rencana selalu menuliskannya. Dan kamu—" mata Mei menyipit "—kamu masih punya kaki yang dipersilakan masuk ke rumah itu sebagai teman. Irvan masih percaya kamu. Nada masih menyapamu."
"Kamu mau aku mencari sesuatu di rumah itu."
"Aku mau kamu mencari jurnalnya. Buku catatannya. Apa pun tempat dia menuliskan rencananya." Mei menyandarkan tubuh, dan untuk pertama kalinya sejak ditahan, ia terlihat benar-benar tenang. "Perempuan suci tidak menang di pengadilan opini, Tiara. Tapi perempuan yang ketahuan berpura-pura suci? Dia kalah bahkan sebelum sidang dimulai. Bawakan aku rencananya. Aku akan mengurus sisanya."
Tiara tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan jaketnya, dan berjalan keluar dengan langkah yang sedikit terlalu cepat.
Di balik kaca, Mei Anjani tersenyum pada punggungnya—karena perempuan seperti Tiara selalu patuh pada satu hal: rasa takut. Dan Tiara baru saja ketakutan setengah mati.
***
Normal Pov.
Malam itu, Irvan menunggu di lobi apartemen Tiara.
"Kamu dari mana?" tanyanya langsung.
"Meeting."
"Sampai jam sembilan malam?"
"Meeting panjang, Van. Model juga punya kerjaan." Tiara berjalan melewatinya menuju lift.
Irvan tidak mengejar. Ia cuma berkata, ke arah punggungnya, dengan suara yang datar seperti orang yang sudah menghabiskan seluruh amarahnya di tempat lain:
"Aku lihat fotomu di berkas Tono kemarin. Bukan foto jelek. Foto buku tamu. Rumah tahanan."
Tiara berhenti. Pintu lift terbuka di depannya, menunggu, lalu menutup lagi karena tidak ada yang masuk.
"Nama yang kamu pakai di buku itu," lanjut Irvan pelan, "nama nenekmu. Kamu pakai nama nenekmu untuk menemui perempuan yang mencoba membunuh sahabatku. Jadi aku tidak akan bertanya kamu dari mana. Aku cuma mau tanya satu hal, dan tolong—untuk semua tahun pertemanan kita—jawab jujur: kamu di dalamnya sejauh apa?"
Tiara berdiri membelakanginya sangat lama.
Ketika ia akhirnya menoleh, matanya merah, dan jawabannya bukan jawaban:
"Sejauh yang tidak bisa kumunduri, Van."
Normal Pov End.