Normal Pov.
Kabar itu datang pada hari Senin, dua minggu setelah penangkapan, dan datangnya lewat cara yang paling menyakitkan: lewat televisi.
"Penangguhan penahanan tersangka Mei Anjani dikabulkan majelis hakim pagi ini dengan pertimbangan kemanusiaan dan jaminan dari pihak keluarga. Tersangka wajib lapor dua kali seminggu dan dilarang meninggalkan kota—"
Remote di tangan Jingga tidak jatuh. Ia meletakkannya pelan-pelan, dengan hati-hati yang berlebihan, seperti orang yang menaruh sesuatu yang bisa meledak.
Di ruang tengah rumah Broto, tidak ada yang bicara. Bibi Sarah berdiri di ambang pintu dengan handuk di bahu. Mang Asep membeku di dekat jendela. Dan Jingga duduk sangat diam, dengan senyumnya—senyum itu—yang pelan-pelan naik ke wajahnya.
"Nona..." Mang Asep mulai.
"Aku tahu," kata Jingga lembut. "Aku sedang sangat marah. Makanya aku senyum. Kalian tidak usah takut—senyum ini bukan untuk kalian."
Ponselnya bergetar. Kevin. Lalu Tono. Lalu Pak Tony. Tiga pria yang masing-masing sudah menghafal bahwa kabar seperti ini harus sampai ke Jingga lewat suara manusia, bukan lewat televisi—dan ketiganya terlambat.
***
Tono Pov.
Aku memarahi orang yang tidak seharusnya kumarahi selama setengah jam.
Bukan salah penyidik. Bukan salah jaksa. Penangguhan penahanan itu sah, legal, dan—ini yang membuat perutku mual—sulit dicegah. Pengacara Mei pintar: ia tidak meminta kebebasan, ia meminta "pertimbangan kemanusiaan" untuk seorang perempuan lima puluh tahun dengan tekanan darah tinggi, dengan jaminan seorang kerabat kaya, dengan janji wajib lapor. Hakim tunggal mengabulkannya dalam sidang tertutup yang tidak ada yang memberi tahu kami jadwalnya.
"Dia tidak bebas," kataku pada Kevin lewat telepon, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri. "Statusnya tetap tersangka. Kasusnya tetap jalan. Dia cuma... menunggu sidang di luar."
"Menunggu sidang di luar." Suara Kevin datar seperti aspal. "Perempuan yang menggunting selang rem, meracuni suaminya setahun penuh, membobol kantor pengacara—dia menunggu sidang di luar, di kota yang sama dengan Jingga."
"Aku sudah mengajukan keberatan resmi. Dan Kevin—" aku menekan suaraku "—kamu dan aku sama-sama tahu dia berbahaya. Tapi dia juga sudah dihitung. Setiap langkahnya sekarang diawasi. Satu kesalahan kecil, satu orang yang menghubunginya dari nomor yang salah, dan penangguhannya dicabut sebelum matahari terbenam. Dia tahu itu. Dan justru itu yang membuatku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Karena orang yang tahu dia diawasi akan berhenti bergerak sendiri." Aku menatap peta kecil di dinding ruang kerjaku. "Dia akan mulai memakai tangan orang lain."
***
Normal Pov.
Mei Anjani keluar dari rumah tahanan lewat pintu belakang, menghindari wartawan, dan ia tidak kembali ke rumah Broto.
Ia tidak bisa—rumah itu sekarang dijaga pengawal rekomendasi polisi, dan surat wasiat yang dulu membuatnya nyonya di rumah itu sedang diperkarakan di pengadilan. Ia menempati sebuah rumah mewah di kompleks elite milik kerabatnya: rumah yang lebih kecil dari yang biasa ia tinggali, dengan dinding yang tidak mengenalnya dan pagar yang tidak ia pilih sendiri.
Bagi perempuan yang dua belas tahun memerintah dari singgasana, itu adalah pengasingan.
Tapi pengasingan punya kelebihan: tidak ada kamera Jingga di sini.
Di malam pertamanya, Mei berdiri di tengah ruang tamu rumah itu, menatap sekelilingnya—dan alih-alih meratap, ia mulai menghitung. Selalu menghitung. Kartu-kartunya sudah hampir habis, tapi seorang pemain kartu sejati tahu: permainan tidak selesai sampai kartu terakhir dibuka.
Ponselnya berdering. Satu pesan dari nomor yang tidak ia simpan—kali ini bukan Danu; Danu sudah bernyanyi dan tidak berguna lagi. Nomor ini milik orang lain. Orang yang lebih halus.
"Sudah masuk ke rumah itu. Nada yang mengundangku makan malam. Kamu benar—dia masih menyapaku."
Mei tersenyum pada layar. Tiara. Gadis cantik yang selalu bisa dipakai selama ada yang bisa ditakuti darinya.
"Cari ruangan yang tidak pernah dibuka. Perempuan yang menyimpan rahasia selalu punya satu ruangan. Temukan. Foto. Jangan ambil apa pun—mengambil itu bodoh. Cukup lihat dan laporkan."
***
Jingga Pov.
Aku tahu Tiara akan datang sebelum dia datang.
Bukan karena firasat. Karena Nada bercerita sambil mencuci piring, dengan nada—ironis sekali, namanya memang Nada—yang hati-hati: "Kak, Tiara tiba-tiba baik banget akhir-akhir ini. Dia ajak aku makan, dia nanyain kamu terus. Dia bilang dia merasa bersalah karena dulu sempat ikut gosip."
Aku menyeka piringku pelan-pelan.
"Dan kamu percaya?"
"Aku..." Nada menggantung kalimatnya. "Aku tidak tahu, Kak. Irvan kemarin diam saja waktu aku tanya soal dia. Mereka kayaknya lagi berantem."
Aku menatap sepupuku itu—perempuan baik yang hatinya tidak pernah belajar membaca jebakan—dan aku membuat keputusan.
"Undang dia makan malam di sini," kataku.
Nada menatapku seperti aku gila. "KAK—"
"Undang dia. Kamis malam. Kamu yang masak, aku yang menemani." Aku tersenyum, dan kali ini senyumku bukan senyum marah. Senyumku yang lain. Senyum yang dulu kupakai saat menaruh kamera di sudut-sudut rumah ini. "Kalau dia memang teman, kita dapat teman. Kalau dia mata-mata... lebih baik mata-mata itu bergerak di rumah yang semua kamarnya sudah kupasangi mata."
Malam itu aku masuk ke ruang pengintai di kamar Ayah dan duduk lama di depan layar-layar kecilku.
Buku catatanku—buku yang berisi semua: tanggal, nama, rencana, peta balas dendam yang kususun sejak sebelum menginjak rumah ini—kubuka di meja. Kubaca ulang halaman-halaman awalnya. Halaman tentang Kevin Pratama. Tentang rencana mendekatinya. Tentang perhitungan-perhitungan dingin yang kutulis dengan tangan yang dulu belum mengenalnya.
Langkah tiga: dekati Kevin Pratama. Jadi kelemahannya. Dia pintu ke semua yang dipegang perempuan itu.
Membacanya sekarang terasa seperti membaca buku harian orang lain. Orang yang lebih muda, lebih dingin, lebih bodoh—yang mengira balas dendam bisa direncanakan tanpa melibatkan hati.
Aku menatap buku itu lama. Lalu aku melakukan hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu: aku memasukkannya ke brankas kecil di ruang pengintai, di bawah tumpukan surat-surat Ayah, dan menguncinya.
Harusnya aku juga mengunci mulutku di depan Kevin. Harusnya aku menceritakan semuanya malam itu juga, sebelum orang lain yang menceritakannya.
Tapi Kamis datang keburu. Dan aku membuat satu kesalahan kecil—satu saja, satu malam saja—yang kelak akan kubayar dengan segalanya:
Malam itu, sebelum Tiara datang, aku membuka brankas itu sekali lagi untuk membaca ulang surat Ayah... dan aku lupa menguncinya kembali.
Jingga Pov End.