Normal Pov.
Mereka datang pukul sepuluh pagi, dua hari sebelum operasi Sinta.
Nada yang membukakan pintu—dan langsung membeku. Di teras rumah Broto berdiri Irvan dengan jaket kusut, dan di belakangnya, Tiara: tanpa riasan, tanpa kacamata hitam, tanpa satu pun dari tujuh lapis baju besi yang biasa ia pakai keluar rumah.
"Kami perlu bicara dengan Jingga," kata Irvan. "Bukan sebagai teman. Sebagai orang yang datang menyerahkan sesuatu."
Jingga menerima mereka di ruang tengah. Bibi Sarah meletakkan teh dan tidak pergi—ia berdiri di dekat pintu, tangan bersidekap, wasit yang menunjuk dirinya sendiri.
Tiara tidak duduk sampai Jingga mempersilakan. Dan ketika ia mulai bicara, ia tidak mengangkat wajahnya dari tangannya sendiri yang saling mencengkeram di pangkuan.
"Aku yang memotret kalian di pasar malam," katanya. "Aku yang menjual foto-foto itu ke Mei. Amplop-amplop itu bukan untuk hal lain—uang untuk foto, uang untuk cerita, uang untuk hal-hal yang kuceritakan tentang Irvan, tentangmu, tentang apa saja yang bisa kudengar. Dari sebelum kamu pulang ke rumah ini. Mei sudah lama membayar orang-orang di sekitar kalian, Jingga. Aku cuma salah satunya. Tapi aku yang paling lama."
Ruang tengah itu sunyi. Di dekat pintu, tangan Bibi Sarah mencengkeram lengannya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa?" tanya Jingga akhirnya. Suaranya tidak naik. Itu yang paling menakutkan dari suaranya.
"Karena aku bodoh, dan karena aku iri, dan karena—" Tiara menelan sisanya. "Tidak ada 'karena' yang cukup. Aku tidak datang ke sini untuk dimaafkan. Aku datang karena ada dua hal yang harus kamu tahu, dan kalau aku menceritakannya ke polisi duluan, kamu akan mendengarnya dari orang yang salah."
***
Tiara Pov.
Hal pertama mudah kukatakan, karena semua orang sudah tahu: foto-foto itu. Aku mengulanginya, dengan tanggal, dengan nama, dengan jumlah uang yang kuterima—angka-angka yang terdengar lebih memalukan diucapkan keras-keras daripada ditulis di berita acara.
Hal kedua... hal kedua aku harus menarik napas dua kali.
"Kamis malam itu," kataku. "Makan malam di sini. Aku bukan ke toilet."
Aku melihat tubuh Jingga menegang—sedikit saja, hampir tidak kelihatan, seperti tali biola yang dinaikkan setengah nada.
"Aku naik ke lantai dua. Ke kamar ayahmu. Ada lemari yang bergeser, ada ruangan di baliknya, ada brankas yang terbuka. Ada buku catatan." Suaraku makin kecil, tapi kata-kataku tidak berhenti—aku sudah berjanji pada Irvan di mobil: semuanya, atau tidak sama sekali. "Aku memotret halaman-halamannya. Dua puluh tiga foto. Aku kirim semuanya ke Mei malam itu juga. Aku tidak membaca semuanya, aku cuma membaca satu halaman, halaman paling tua—tentang Kevin. Tentang... langkah tiga."
Kalimat itu jatuh ke ruangan itu seperti gelas ke lantai marmer.
Nada—yang sejak tadi berdiri di ambang dapur—menutup mulutnya dengan tangan. Irvan menunduk; ia sudah tahu, ia yang memaksa Tiara menceritakannya, tapi mendengarnya diucapkan tetap seperti mendengar petir dari jarak satu meter.
Dan Jingga...
Jingga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang sangat lama.
***
Jingga Pov.
Aku sudah tahu. Aku tahu sejak malam itu—lemari yang bergeser tiga senti, debu yang salah, subuh yang kuhabiskan di lantai kamar Ayah. Aku sudah tahu.
Tapi "sudah tahu" tidak menolong sedikit pun ketika kenyataan itu akhirnya duduk di ruang tengahmu, menangis, dan menyebutkan angkanya: dua puluh tiga foto. Dua puluh tiga halaman hidupku yang paling gelap, sekarang ada di tangan perempuan yang paling ingin menghancurkanku.
"Kapan kalian mengirimnya?" tanyaku. Suaraku terdengar seperti milik orang lain.
"Malam itu juga."
"Tiga hari yang lalu." Aku menghitung. Tiga hari Mei menyimpannya. Tiga hari tanpa satu pun foto itu bocor ke mana-mana. Bukan gaya Mei—kecuali... "Dia menunggu sesuatu. Dia tidak memakainya sekarang karena dia menunggu momen yang lebih menyakitkan."
"Operasi Ibu Kevin," kata Irvan pelan. "Dua hari lagi. Sidang wasiat tiga minggu lagi. Kalau aku jadi dia—maaf—aku akan memilih salah satu dari dua hari itu."
Aku berdiri. Berjalan ke jendela. Punggungku pada mereka semua, karena aku tidak mau ada yang melihat wajahku saat aku menanyakan satu-satunya pertanyaan yang penting:
"Kenapa kamu ceritakan ini sekarang, Tiara? Kenapa tidak diam saja, biar polisi yang menemukanmu?"
Di belakangku, suara Tiara bergetar tapi tidak pecah:
"Karena kemarin polisi bilang aku bagian dari rantai. Dan aku pulang, dan aku menatap fotoku sendiri di cermin, dan aku sadar aku sudah jadi orang yang dulu kubenci. Aku tidak minta dimaafkan, Jingga. Aku minta satu hal saja: kalahkan dia. Jangan biarkan buku itu menang. Kamu—" suaranya akhirnya pecah "—kamu satu-satunya orang di lingkaran ini yang tidak pernah dibayar untuk apa pun. Itu sebabnya dia takut padamu. Dan itu sebabnya aku iri padamu."
***
Normal Pov.
Mereka pulang sebelum tengah hari. Irvan berhenti di pagar, menoleh pada Jingga yang mengantar sampai teras.
"Dia akan menyerahkan semua fotonya ke polisi sore ini, lengkap dengan pengakuan tertulis. Itu tidak menghapus apa yang sudah terjadi. Tapi itu membuat buku itu ada di berkas resmi—bukan lagi senjata rahasia. Sekarang semua orang tahu buku itu ada. Termasuk pengadilan."
"Dan termasuk Kevin," kata Jingga.
"Termasuk Kevin." Irvan menatapnya. "Dia harus mendengarnya darimu. Bukan dari amplop, bukan dari polisi, bukan dari koran. Hari ini juga, Jingga. Jangan besok."
Jingga tidak menjawab. Ia menatap halaman rumahnya lama sekali setelah mobil itu pergi.
Lalu ia masuk, naik ke kamar mendiang ayahnya, duduk di lantai ruang pengintai, dan mengeluarkan buku catatan itu dari brankas. Ia membukanya di halaman paling tua. Membaca ulang tulisan tangannya sendiri—tinta muda, amarah muda, perempuan muda yang menulis "dekati Kevin Pratama" seperti orang menulis daftar belanja.
Ayah, bisiknya pada kamar yang sunyi, bagaimana cara menjelaskan bahwa rencana itu sudah mati? Bahwa orang yang menulisnya juga sudah mati, dan yang tersisa cuma aku?
Tidak ada jawaban. Ayahnya sudah lama tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan mudah.
Jingga mengambil ponselnya. Mengetik pesan ke Kevin—kali ini tidak dihapus:
"Kak, besok pagi aku datang ke rumah sakit lebih awal. Ada yang harus kuceritakan. Penting. Sebelum operasi Ibu mulai."
Balasan datang satu menit kemudian:
"Aku tunggu. Dan Cerry—aku juga punya sesuatu untukmu. Sudah kusimpan di saku kiri tiga hari."
Jingga menatap layar itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu apakah ia sedang membaca kabar baik atau kabar buruk.
Di seberang kota, seorang kurir percetakan menerima satu amplop cokelat tebal dengan alamat yang sudah dituliskan tangan: Rumah Sakit Medika Sentra, Lantai 5, Ruang Tunggu Keluarga—untuk Tuan Kevin Pratama. Kirimkan hari Kamis, pukul 08.00 tepat.
Kamis. Hari operasi Sinta.
Jingga Pov End.