Normal Pov.
Berita pagi itu datang bertumpuk, seperti piring-piring yang jatuh satu demi satu dari tangan yang sama.
Pertama: pengadilan menetapkan jadwal sidang perdana kasus pemalsuan surat wasiat Karim Broto—tiga minggu lagi, terbuka untuk umum. Nama Mei Anjani tercetak di situs resmi pengadilan sebagai terdakwa, dan kata "terdakwa" itu sendiri sudah cukup membuat seluruh kota berdesis.
Kedua: sebuah nomor ponsel milik Tiara—Angelica Klody, model, dua puluh enam tahun—ditemukan di dalam ponsel kedua Danu Wirya. Bukan sebagai korban. Sebagai pengirim. Foto-foto pasar malam Jingga dan Kevin, yang dulu memicu badai gosip "perusak rumah tangga", ternyata dijepret dari sudut yang hanya mungkin diambil oleh orang yang duduk satu meja dengan mereka. Orang yang malam itu tersenyum paling manis.
Ketiga—dan ini yang tidak dibaca siapa pun di koran, karena ia hanya ada di kalender seorang ibu yang sedang menunggu operasi: tiga hari lagi, Sinta Pratama naik meja bedah.
Tiga berita. Tiga arah angin. Dan di tengahnya, Kevin Pratama melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan ketiganya: ia pergi ke sebuah toko kecil di lantai dasar sebuah gedung tua, dan membeli sebuah cincin.
***
Kevin Pov.
Toko itu sudah berdiri sejak zaman kakekku. Tidak ada merek besar, tidak ada lampu sorot—cuma seorang perajin tua bermata sipit yang menatapku di atas kacamatanya dan bertanya, "Untuk melamar, atau untuk minta maaf?"
"Melamar."
"Bagus. Cincin minta maaf harus lebih mahal. Cincin melamar cukup yang benar." Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah kotak beludru yang sudah pudar. "Ini. Tidak besar. Tapi potongannya jujur—tidak banyak gaya. Cocok untuk perempuan yang berani menatap balik."
Aku membelinya tanpa menawar.
Di mobil, aku menatap kotak kecil itu di saku kiri jasku dan berbicara pada diriku sendiri seperti orang bodoh. Rencanaku sederhana dan mungkin konyol: tiga hari lagi, setelah operasi Ibu selesai dan dokter bilang "berhasil", aku akan berlutut di depan Jingga—di koridor rumah sakit, apa adanya, dengan bau antiseptik dan semuanya. Karena aku sudah belajar satu hal dari perempuan itu: hidup tidak menunggu kamu selesai membereskan masalahmu. Hidup terus berjalan, dan kamu harus berani bahagia di tengah-tengahnya, bukan setelahnya.
Ibuku yang menanamkan itu, sebenarnya. Semalam, dari kamar rawatnya, ia memegang tanganku dan berkata: "Kevin. Kalau operasi Ibu berhasil, jangan buang waktu. Kalau operasi Ibu gagal, lebih jangan buang waktu. Lamaran tidak butuh restu maut. Lamaran butuh nyali."
Aku tertawa waktu itu. Aku tidak tahu bahwa tiga hari kemudian, kalimat itu akan terasa seperti surat wasiat.
***
Normal Pov.
Di hari yang sama, di sebuah kantor polisi, Tiara duduk di ruang pemeriksaan selama empat jam.
Ia datang dengan pengacara yang disewa agensinya dan pulang dengan wajah yang sudah tidak mengenal cermin. Statusnya tidak naik—belum—tapi kata-kata petugas itu mengikutinya sampai ke lift, sampai ke mobil, sampai ke kamarnya yang tiba-tiba terasa asing:
"Mbak Tiara, kami tidak menuduh Mbak ikut menggunting rem. Kami menanyakan sesuatu yang lebih sederhana: Mbak menerima uang dari seorang tersangka pembunuhan, mengirimkan foto-foto yang dipakai untuk menguntit korban, dan tidak pernah melapor. Bantu kami sekarang, atau jelaskan nanti di persidangan sebagai bagian dari rantai itu."
Rantai. Kata itu menempel di kepalanya seperti stempel.
Malam itu, Irvan menemukannya duduk di lantai apartemen, di antara foto-foto lama mereka—foto zaman kuliah, zaman Tiara masih jadi model majalah kampus, zaman mereka berdua masih percaya dunia ini sederhana.
"Van." Suara Tiara pecah. "Aku mau cerita semuanya. Malam ini. Sekarang. Sebelum aku tidak berani lagi."
Irvan menatapnya lama. Lalu ia duduk di lantai, di seberang foto-foto itu, dan berkata satu hal yang tidak pernah diucapkannya sejak malam buku tamu itu:
"Aku dengarkan. Tapi bukan untuk menolongmu. Aku dengarkan karena ada orang lain yang berhak tahu kebenarannya duluan—dan kalau kamu benar-benar mau berubah, kamu harus mau menceritakannya sendiri. Bukan ke aku. Ke dia."
Tiara mengangkat wajahnya. "Ke Jingga?"
"Ke Jingga. Besok. Aku yang antar."
Dan di seberang kota, di rumah pengasingannya, Mei Anjani menerima laporan kecil dari kerabatnya yang masih punya mata di mana-mana: 'Tiara diperiksa empat jam. Pulang dengan wajah putih. Besok dia ada janji.'
Mei menatap layar ponselnya, lalu menatap kalender mejanya—kalender yang dua kotaknya sudah ia lingkari tinta merah: satu bertuliskan "sidang wasiat", satu bertuliskan "operasi Sinta".
"Gadis itu mau bicara," gumamnya. "Gadis bodoh selalu mau bicara di saat yang salah."
Ia membuka laptopnya. Membuka folder berisi dua puluh tiga foto halaman buku catatan. Menyusunnya, memilihnya, menyalinnya ke sebuah flash disk kecil berwarna hitam.
Lalu ia menelepon sebuah percetakan, dan memesan sesuatu untuk diantar—bukan ke rumah Jingga, bukan ke kantor HA Express.
Ke rumah sakit. Untuk tiga hari lagi.
***
Jingga Pov.
Malam itu aku masih belum menelepon Kevin.
Aku sudah menulis pesan itu empat kali. "Kak, ada yang harus kuceritakan sebelum orang lain yang menceritakannya." Hapus. "Kak, waktu kita pertama bertemu, aku—" Hapus. "Kak, aku pernah membencimu sebelum mengenalmu." Hapus.
Bagaimana cara menulis surat pembatalan untuk sebuah kebetulan yang sudah berubah jadi cinta?
Aku berdiri di jendela kamarku, memandang halaman yang gelap, dan akhirnya memutuskan hal yang diputuskan semua orang yang takut: besok. Besok aku ke rumah sakit lebih pagi. Sebelum operasi dimulai, sebelum siapa pun sempat melakukan apa pun, aku akan berdiri di depan Kevin dan menceritakan semuanya—misiku, buku catatanku, langkah tiga, dan bagaimana semuanya berhenti jadi rencana di suatu malam yang bahkan tidak bisa kutunjuk tanggalnya.
Besok. Cukup besok.
Aku mematikan lampu, dan tidur, dan bermimpi tentang ayahku—mimpi yang aneh, di mana beliau duduk di meja makan dan menggeser satu kursi kosong ke arahku, lalu berkata: "Kalau mau bilang sesuatu, bilang sekarang. Ayah dulu juga menunda. Lihat apa yang terjadi pada orang yang menunda."
Aku terbangun pukul empat pagi dengan jantung berdebar.
Dan aku tetap menunggu besok.
Jingga Pov End.