Normal Pov.
Musim berganti, dan kota itu akhirnya kehabisan hal untuk dihakimi.
Berita tentang keluarga Broto turun dari halaman satu ke halaman dalam, lalu ke arsip, lalu ke sesuatu yang sesekali disebut orang dengan nada berbeda—bukan lagi gosip, melainkan cerita. "Kamu ingat kasus Broto?" orang bertanya di warung kopi, dan yang menjawab selalu mulai dengan gelengan kagum: dua belas tahun, racun di makan malam, anak perempuan yang pulang dari jauh dengan buku catatan.
Di rumah besar itu, hidup menyusun ulang dirinya sendiri dengan canggung dan sabar, seperti orang-orang belajar berjalan setelah lama berbaring.
Kevin tidak lagi datang pukul lima dengan termos—ia datang pukul empat, dengan janji dokter kandungan, daftar nama, dan wajah orang yang sedang menghafal pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: cara menjadi ayah bagi anak yang belum lahir, dari seorang ibu yang belum sepenuhnya kembali.
Karena Jingga tidak kembali sepenuhnya. Itu harus dicatat jujur. Ia membukakan gerbang, membukakan teras, membukakan hari-harinya—tapi ada satu pintu di dalam dirinya yang tetap ia jaga, dan Kevin tidak pernah lagi mencoba mendobraknya. Ia sudah belajar. Ia menunggu di luar pintu itu dengan kesabaran yang baru, dan kadang—di malam-malam baik—pintu itu terbuka sedikit, dan mereka bicara sampai larut tentang hal-hal kecil: nama, kamar bayi, apakah anak itu akan mewarisi rambut merah atau tidak.
"Mewarisi keras kepalamu itu sudah pasti," kata Kevin suatu malam.
"Itu bukan keras kepala," kata Jingga. "Itu standar."
***
Normal Pov.
Di minggu-minggu itu, dua pernikahan disiapkan di orbit yang sama.
Nada dan Tono menetapkan tanggal—akhirnya, setelah dua tahun bertunangan yang tersandung kasus demi kasus. Tono melamar ulang dengan cara yang membuat seluruh rumah Broto menangis: ia datang dengan berkas perkara yang sudah ditutup, meletakkannya di meja, dan berkata, "Sudah selesai. Sekarang aku mau memulai berkas yang lain. Yang ini seumur hidup, dan tidak ada yang boleh menyita."
Dan Tiara—yang datang ke pernikahan itu nantinya sebagai tamu biasa, duduk di barisan belakang, tanpa hak apa pun selain hak seorang teman yang pernah jatuh dan bangun—mulai bekerja di sebuah yayasan korban kekerasan, jauh dari lensa kamera. Irvan mengantarnya pada hari pertama, dan di depan gedung yayasan itu mereka berdiri canggung seperti dua orang yang baru bertemu, padahal sudah sepuluh tahun saling kenal.
"Jadi," kata Irvan. "Kita mulai dari mana?"
"Dari nol," kata Tiara. "Angka favoritku sekarang. Nol itu bersih."
Irvan menatapnya—perempuan yang pernah menjadi bagian dari badai yang nyaris menenggelamkan semua orang—dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak melihat badai itu lagi di wajahnya. Yang ia lihat cuma seorang teman lama yang lelah, yang sudah membayar, dan yang akhirnya berhenti berpura-pura. Itu bukan awal yang megah. Tapi semua awal yang jujur memang tidak pernah megah.
***
Jingga Pov.
Kandunganku memasuki bulan kedelapan, dan hidupku—hidup yang kubangun dari puing—akhirnya punya bentuk yang bisa kukenali.
HA Express berjalan lebih baik dari sebelum badai; ternyata kota kecil yang memelukku di hari-hari terburuk tidak pergi ketika hari-hari membaik. Lisa mengelolanya seperti jenderal, dan aku bekerja dari rumah tiga hari seminggu, atas perintah dokter dan ancaman gabungan dari Bibi Sarah, Sinta, dan—ini masih aneh untuk kupikir—Kevin.
Kevin.
Kami tidak menyebut apa yang sedang terjadi di antara kami. Tidak ada kata, tidak ada status, tidak ada lamaran ulang—kotak beludru kecil itu masih ada di saku kirinya, aku tahu, dan dia tahu aku tahu, dan kami berdua pura-pura itu rahasia, seperti dua orang yang memainkan permainan yang aturannya tidak ditulis di mana pun.
Yang ada: hari-hari. Termos yang sudah diganti peralatan bayi. Diskusi panjang tentang warna kamar. Tangan di perutku saat bayi itu menendang—dan wajah Kevin setiap kali itu terjadi, wajah seorang lelaki yang baru menyadari bahwa seluruh gedungnya, seluruh kekayaannya, tidak pernah sekali pun bergerak dari dalam.
"Ayahmu dulu bilang apa soal nama?" tanya Kevin suatu sore, di teras, dengan buku nama-nama di pangkuannya.
"Ayahku bilang nama itu doa yang paling sering diulang," kataku. "Jadi jangan sembarangan. Setiap kali kamu memanggil anakmu, kamu sedang mendoakannya. Pilih yang layak diulang seumur hidup."
Kevin menatapku lama. "Dan kalau perempuan?"
"Kirana," kataku. Sudah kupikirkan berminggu-minggu. "Kirana Karima. Cahaya dari Karim."
Kevin tidak menjawab. Ia menunduk ke buku nama-nama itu, dan aku pura-pura tidak melihat bahwa ia menunduk karena matanya, dan ia pura-pura tidak tahu bahwa aku melihat.
***
Normal Pov.
Tapi musim yang berbalik tidak berarti musim yang selesai.
Pada suatu Selasa yang biasa, Lisa masuk ke ruang kerja Jingga dengan wajah yang tidak biasa. Di tangannya: sebuah amplop. Kali ini cokelat muda, resmi, dengan kop sebuah yayasan—bukan ancaman.
"Undangan," kata Lisa. "Konferensi nasional keselamatan kerja dan perlindungan perempuan pekerja. Mereka mengundangmu jadi pembicara. Session utama. Tiga ratus orang."
"Aku?" Jingga mengangkat alis. "Aku pengusaha ekspedisi, Lisa. Bukan aktivis."
"Kamu," kata Lisa, meletakkan amplop itu di meja dengan ketelitian orang meletakkan sesuatu yang penting, "adalah perempuan yang menghabiskan dua tahun membongkar pembunuhan ayahnya sambil menjalankan perusahaan dan menolak hancur di televisi nasional. Mereka tidak mengundang pengusaha ekspedisi, Jingga. Mereka mengundang itu."
Jingga menatap amplop itu lama. Di luar jendela, kota sore bergerak seperti biasa, tidak tahu apa-apa, tidak perlu tahu apa-apa.
Dan di sudut ruangan, ponselnya bergetar. Pesan dari Kevin:
"Dokter bilang dua minggu lagi kita cek terakhir. Aku sudah pesan kursi mobil bayi. Warnanya salah, kata ibuku. Jangan tanya warnanya. Aku tidak mau membicarakannya."
Jingga tertawa—tawa lepas yang dua tahun lalu tidak pernah ia bayangkan akan ada lagi—dan mengetik balasan, dan di tengah mengetik, bayi itu menendang, keras, tepat waktu seperti biasa, seperti ikut membaca.
Dua minggu lagi cek terakhir.
Lalu, menurut hitungan dokter: empat sampai lima minggu menuju hari yang akan mengubah semua definisi kata "rencana" untuk selamanya.
Normal Pov End.