Normal Pov.
Kirana Karima berusia sebelas hari ketika Kevin menghilang selama satu sore.
Hilang dalam arti yang sangat spesifik: tidak ada di kantornya, tidak ada di rumah ibunya, tidak ada di teras rumah Broto pukul empat—tiga puluh tujuh hari berturut-turut, dan sore itu kosong. Lisa menelepon Jingga dengan suara yang berusaha tenang. Sinta menelepon dengan suara yang tidak berusaha tenang. Bahkan Tono turun dari sepeda motornya dan mulai menghitung rumah sakit di sepanjang jalan.
Kevin Pratama ditemukan pukul setengah enam sore, oleh Bibi Sarah, lewat kamera gerbang yang sudah lama tidak dinyalakan tapi tidak pernah dicabut—di pemakaman umum, duduk di sebelah pusara Karim Broto, dengan setelan kerja dan dua tangan penuh bunga.
Ia sudah di sana sejak pukul tiga.
***
Kevin Pov.
Aku tidak pernah berbicara dengan ayahnya. Itu masalahnya.
Dua tahun aku berjuang di sisi putri lelaki ini—di pengadilannya, di rumahnya, di koridor-koridor yang kubuat salah dan tidak bisa kuulang—dan tidak pernah sekali pun aku datang ke sini untuk memperkenalkan diri. Orang hidup selalu sibuk membela diri dari orang hidup. Tidak ada yang sempat melapor pada yang sudah pergi.
Maka sore itu aku duduk di sebelah pusaranya, di tanah yang masih basah oleh hujan pagi, dan aku bicara. Keras-keras. Seperti orang gila. Dua kali seorang penjaga pemakaman lewat dan aku tidak peduli.
"Pak Karim," kataku, dan kata-kata itu terasa asing dan benar sekaligus. "Nama saya Kevin Pratama. Bapak tidak pernah bertemu saya, tapi Bapak mengenal saya lebih baik dari siapa pun—Bapak yang pertama mencatat bahwa anak Bapak akan berhenti di halaman tiga kalau tidak ada yang menahannya. Bapak yang menulis surat-surat itu. Bapak yang meninggalkan kaleng biru."
Angin lewat. Pohon-pohon pemakaman menjawab dengan suara mereka yang biasa.
"Saya datang untuk dua hal, Pak. Pertama: melapor. Perempuan itu sudah dijatuhi hukuman seumur hidup. Wasiat Bapak sudah kembali. Nama Bapak sudah bersih—anak Bapak yang mencucinya, sendirian, dengan buku catatan dan kamera dan tangan yang tidak pernah gemetar. Kalau Bapak bisa melihatnya di persidangan... sebenarnya Bapak tidak perlu melihat. Bapak yang menulisnya di gennya."
Aku mengeluarkan kotak beludru itu dari saku kiriku. Kotak yang sudah setahun ikut ke mana-mana, yang sudutnya sudah lembut karena terlalu lama disimpan.
"Kedua: izin. Saya tahu saya terlambat dan saya tahu saya pernah salah besar—koridor itu akan saya bawa seumur hidup, dan saya tidak minta dihapus. Tapi saya mencintai anak Bapak, dan ada bayi perempuan sekarang yang namanya Kirana Karima, dan saya ingin—kalau Bapak mengizinkan—menghabiskan sisa hidup saya menjadi orang yang membaca sampai habis. Semua halaman. Setiap hari."
Aku menaruh satu tangkai bunga di atas pusara itu.
"Kalau Bapak keberatan, Bapak punya waktu sampai besok sore untuk mengirim tanda. Petir, misalnya. Saya akan menganggapnya jawaban."
Tidak ada petir. Ada angin, ada burung, ada langit yang berubah oranye.
Aku menganggapnya jawaban.
***
Normal Pov.
Keesokan sorenya, pukul empat, Kevin datang ke rumah Broto seperti biasa—tapi kali ini ia tidak membawa apa-apa, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah berhenti menyusun rencana.
Jingga sedang menyusui Kirana di kamar; Bibi Sarah menyuruh Kevin menunggu di beranda belakang. Beranda itu. Beranda tempat ciuman pertama, tempat pengakuan yang tertunda, tempat dua orang ini selalu kembali seperti kucing-kucing yang datang ke titik hangat yang sama.
Jingga keluar sebelas menit kemudian, rambut dicekal asal, mata lelah khas ibu baru, dan mendapati beranda itu sudah diubah: tidak ada bunga impor, tidak ada lilin mahal—cuma kursi-kursi yang digeser, satu meja kecil, dan di atasnya sebuah buku catatan bersampul hitam.
Bukunya. Buku itu. Salinan resminya—yang sudah menjadi barang bukti, yang sudah dikembalikan kepadanya sebagai ahli waris perkara.
"Kevin—"
"Sepuluh menit," kata Kevin. "Giliranku meminjam aturanmu."
Dan ia berlutut. Di beranda itu. Di depan buku catatan yang sudah dibacanya sampai habis dua kali, dengan kotak beludru yang sudah setahun menunggu di saku kirinya, dan ia membukanya—cincin perak sederhana dari perajin tua itu, potongan yang jujur, tidak banyak gaya.
"Aku tidak akan melamarmu dengan melupakan buku ini," katanya. "Semua orang melamarmu seolah kamu malaikat yang tidak pernah punya rencana. Aku melamarmu dengan buku ini di meja, terbuka, dari halaman satu sampai halaman terakhir—karena aku mencintai semua halamannya. Yang marah. Yang menghitung. Yang menukar cangkir. Yang lupa mencatat karena aku tertawa. Jingga Broto—semua versimu, semua halamanmu—maukah kamu menikahiku? Bukan untuk menutupi apa-apa. Justru karena tidak ada lagi yang perlu ditutupi."
Jingga menatapnya. Lalu menatap buku itu. Lalu—dari dalam rumah, terdengar tangis kecil Kirana, tepat waktu seperti biasa, seolah ikut voting.
"Kamu mendengar itu," kata Jingga, dan matanya basah, dan senyumnya—senyum yang dua tahun ini disalahpahami kota sebagai senyum marah, padahal senyum itu selalu cuma senyum seseorang yang memutuskan untuk tidak hancur—naik pelan-pelan seperti matahari. "Dua lawan satu. Aku tidak pernah menang melawan mayoritas."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban," kata Jingga. "Ya. Ya, Kevin. Dengan semua halamannya."
***
Normal Pov.
Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada konferensi pers, tidak ada unggahan, tidak ada kota yang diberi tahu.
Yang ada: sebuah foto yang dijepret Nada diam-diam dari pintu dapur—Kevin berlutut, Jingga tertawa sambil menangis, buku catatan hitam terbuka di meja di antara mereka—yang entah bagaimana, berminggu-minggu kemudian, bocor ke satu akun gosip dan menjadi satu-satunya foto lamaran yang tidak pernah dibenci komentar-komentar.
Keterangan foto itu cuma satu baris, ditulis Nada sendiri saat akhirnya ia mengaku sebagai sumbernya:
"Dua orang yang sudah membaca sampai habis."
Dan di sebuah lapas perempuan di luar kota, seorang napi bernama Mei Anjani membaca berita itu di koran bekas yang sudah tiga hari lewat tanggalnya, melipatnya pelan-pelan, dan menatap dinding selnya untuk waktu yang sangat lama—sebelum akhirnya menulis surat.
Surat pertamanya sejak vonis. Ditujukan bukan ke pengacara. Bukan ke kerabat.
Kepada Jingga Broto.
Normal Pov End.