Normal Pov.
Lisa menyerahkan amplop itu pada hari kesembilan, di kantor HA Express, dengan cara Lisa menyerahkan segala sesuatu yang ia anggap berbahaya: diletakkan di atas meja, tanpa kata pengantar, dengan kopi yang sudah disiapkan di sebelahnya seolah kopi bisa menetralkan apa pun.
"Aku menyimpannya sembilan hari," kata Lisa. "Aku tidak minta maaf. Kalau kamu mau membuangnya tanpa membaca, aku akan buangkan sekarang dan kita tidak akan pernah membicarakannya."
Jingga menatap amplop itu lama. Tulisan tangan itu—huruf-huruf yang dulu menandatangani wasiat palsu ayahnya, yang dulu menulis perintah-perintah kecil kepada orang-orang yang dibayarnya—sekarang menulis namanya dari balik jeruji.
Bukan untuk dibaca hari ini. Untuk dibaca ketika kamu sudah siap.
"Aku tidak akan pernah siap," kata Jingga akhirnya. "Jadi sekarang saja."
Ia membukanya. Satu lembar. Tulisan tangan yang rapi, kalimat-kalimat yang pendek, tidak ada satu pun kata yang dibuang sia-sia—surat yang ditulis oleh seseorang yang sudah punya waktu bertahun-tahun untuk memikirkannya:
*"Jingga. Kamu menang. Aku tidak menulis untuk meminta apa-apa—aku tahu kamu tidak akan memberi, dan aku menghormati itu lebih dari yang kamu kira. Aku menulis karena ada satu hal yang tidak ada di berkas mana pun, yang tidak ditanyakan jaksa mana pun, yang tidak ditemukan kamera mana pun. Satu hal yang cuma bisa kuberikan secara langsung, dengan mulutku sendiri, kalau kamu mau datang. Aku tidak bilang kamu harus datang. Aku bilang: jawaban terakhir tentang ayahmu tidak ada di kaleng biru. Ada padaku. Datang atau tidak, pintu penjara ini lebih mudah dibuka dari luar daripada pintu yang kamu buka dari dalam. Kamu tahu pintu yang kumaksud. —M.A."*
Jingga membaca surat itu tiga kali.
Lalu ia melipatnya, memasukkannya kembali, dan berkata pada Lisa dengan suara yang sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri:
"Aturkan kunjungan. Minggu ini."
***
Normal Pov.
Semua orang menolak.
Kevin menolak dengan seluruh tubuhnya—ia berdiri, duduk, berdiri lagi, dan akhirnya mengucapkan kalimat yang paling jujur dari semua kalimat yang pernah ia ucapkan: "Aku tidak bisa melarangmu, dan aku benci itu." Bibi Sarah menolak dengan dapur yang tiba-tiba sangat berisik. Sinta menolak dengan satu pertanyaan singkat: "Apa yang bisa dia berikan padamu yang belum pernah dia curi?" Dan Tono—Tono menolak sebagai polisi: "Tidak ada hal baik yang keluar dari ruang kunjungan antara korban dan orang yang membunuh keluarganya. Tidak ada. Aku sudah dua puluh tahun melihatnya."
Tapi Jingga berdiri di tengah ruang tengah rumah Broto, di antara semua orang yang mencintainya, dan menjawab dengan tenang:
"Selama dua tahun, dia menyerangku dengan potongan-potongan kebenaran. Amplop pukul delapan itu berhasil bukan karena bohong—karena dipotong. Kalau ada satu kebenaran terakhir yang dia simpan, aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bertanya-tanya apa isinya. Kalian tidak takut dia melukaiku—dia tidak bisa melukai siapa pun lagi dari balik kaca. Kalian takut aku masih punya luka yang bisa disentuh." Ia mengusap perutnya—kebiasaan lama, meski Kirana sudah dua bulan di dunia. "Aku akan pergi, mendengar, dan pulang. Dan kalau dia berbohong, aku akan tahu. Aku sudah dua belas tahun belajar membaca perempuan itu. Aku lulusan terbaiknya."
Kevin mengantarnya. Ia tidak bisa melarang, jadi ia melakukan satu-satunya hal yang tersisa: duduk di mobil, di tempat parkir lapas, menunggu, dengan Kirana tidur di kursi bayi di belakang—karena Jingga bersikeras membawanya, dan alasannya tidak bisa dibantah siapa pun:
"Dia mengambil kakeknya. Dia boleh melihat bahwa kakeknya meninggalkan sesuatu yang lebih kuat darinya."
***
Normal Pov.
Ruang kunjungan itu berbau kapur dan harapan yang habis.
Mei Anjani masuk dengan seragam napi, rambut dipotong pendek, dan tubuh yang menyusut—tapi dagu itu masih di sana. Dagu itu akan selalu di sana. Ia duduk di seberang kaca, mengangkat gagang telepon, dan menatap Jingga untuk waktu yang lama tanpa bicara.
"Kamu datang," kata Mei akhirnya. "Aku memberi kemungkinan enam puluh persen."
"Katakan apa yang mau kamu katakan."
"Tidak ada basa-basi. Kamu memang tidak pernah berubah." Mei menyandarkan tubuhnya—dan di kursi napi itu, di balik kaca itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Jingga melihat sesuatu di wajah perempuan itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: bukan topeng yang dilepas, melainkan topeng yang sudah tidak ada tenaga untuk dipasang. "Baik. Satu hal itu begini. Malam terakhir ayahmu—malam dia mati—dia tidak tidur seperti yang kubilang pada semua orang. Dia bangun. Pukul dua pagi. Dia tahu, Jingga. Dia selalu tahu, dan malam itu dia tahu itu malam terakhirnya."
Jingga tidak bergerak. Tangannya di pangkuan mengepal, tapi wajahnya—wajah itu sudah dilatih oleh dua belas tahun—tidak memberi apa-apa.
"Dia minta air. Aku membawakannya—dengan dosis terakhirnya, karena aku sudah memutuskan dan aku orang yang menyelesaikan apa yang kuputuskan. Dan dia—" untuk pertama kalinya, suara Mei tersendat; bukan penyesalan, kata Jingga pada dirinya sendiri, jangan pernah salah membaca—perempuan ini tidak punya penyesalan; ini sesuatu yang lebih aneh, sesuatu seperti kekaguman yang terlambat "—dia menatapku. Dia tahu apa yang ada di gelas itu. Aku melihatnya di matanya. Dan dia meminumnya."
Kaca itu memantulkan dua wajah yang sama-sama diam.
"Dia meminumnya," ulang Mei pelan. "Sambil menatapku. Dan dia berkata—ini yang tidak ada di berkas mana pun, ini yang cuma bisa kuberikan langsung—dia berkata: 'Kamu pikir kamu yang menang malam ini, Mei. Tapi aku sudah selesai. Semua sudah kutulis, semua sudah kusimpan, dan anakku akan datang. Kamu bukan akhir dari apa pun. Kamu cuma alasan dia mulai.' Lalu dia tidur, dan tidak bangun lagi, dan aku berdiri di samping ranjang itu sampai pagi—bukan karena menyesal—karena untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku takut padanya. Orang mati yang sudah mengatur kematiannya sendiri adalah orang paling menakutkan di dunia."
Mei menyandarkan tubuhnya. Kata-kata itu sudah keluar, dan ia terlihat lebih ringan—atau lebih kosong; sulit membedakannya.
"Itu semua," katanya. "Kamu boleh pergi sekarang. Doaku—kalau aku masih punya yang namanya doa—semoga anakmu tidak pernah menulis buku catatan. Dunia ini sudah cukup punya kita berdua."
***
Normal Pov.
Jingga berdiri. Meletakkan gagang teleponnya. Dan sebelum berbalik, ia berkata satu hal—satu-satunya hal yang ia bawa ke ruangan itu, yang tidak ada dalam rencana siapa pun:
"Aku datang bukan untuk memaafkanmu. Aku datang untuk mengambil sisa-sisa ayahku yang masih kamu simpan. Sekarang sudah kuambil semuanya." Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca itu sebentar—bukan untuk menyentuh, untuk menutup. "Ayahku benar, Mei. Kamu bukan akhir dari apa pun. Kamu cuma alasan aku mulai. Terima kasih sudah menjadi alasan. Selamat menjadi kenangan."
Ia berjalan keluar ke tempat parkir, ke mobil tempat bayinya tidur dan lelakinya menunggu dengan napas tertahan, dan ia tidak menoleh—tidak sekali pun—ke gedung di belakangnya.
Di mobil, Kevin tidak bertanya apa-apa. Ia cuma menggenggam tangan Jingga di atas konsol, sepanjang jalan pulang, sementara Kirana tidur dan kota bergerak mundur di jendela seperti halaman-halaman yang sudah dibaca.
Di kamarnya malam itu, Jingga membuka buku catatan hitamnya untuk terakhir kalinya, dan menulis satu halaman baru—halaman dua puluh empat, yang tidak pernah difoto siapa pun, yang tidak akan pernah dibaca kota:
*"Ayah tidak kalah malam itu. Ayah sudah selesai dan menungguku. Sekarang aku juga selesai. Buku ini kututup bukan karena habis—tapi karena tidak perlu lagi ada yang dicatat. Sisanya akan kujalani, bukan kutulis."*
Lalu ia menutup buku itu, menyimpannya di laci paling dalam, dan pergi tidur—di rumah yang semua jendelanya terbuka, di malam yang tidak perlu diintai.
Jingga Pov End.