Mereka menyebutnya jam mati. Antara tengah malam dan subuh, ketika kota berhenti pura-pura dan menunjukkan wajah aslinya. Alarm berbunyi pukul satu lebih sedikit, dan alamatnya membuat Hokian mengumpat pelan sebelum sempat berpikir: deret ruko tekstil di Jalan Kawat. "Kain," katanya sambil memutar kunci kontak. "Kain itu bahan bakar paling sabar. Dia simpan api di lipatannya, lalu kasih balik pas kamu kira sudah selesai."
Api sudah menguasai dua lantai ruko tengah ketika mereka tiba. Bukan kobaran liar; ini api yang dalam, mengunyah gulungan kain dari dalam, mengeluarkan asap tebal cokelat yang menggumpal rendah dan menolak naik. Sari membaca atapnya, jendela-jendelanya, warna asapnya, dalam diam yang menegangkan. "Belum flashover. Tapi panas itu cari jalan keluar. Kita serang dari luar dulu, jangan ada yang masuk sebelum aku bilang." Ia menunjuk. "Hokian, hidran sudut, tiga puluh meter. Sambung."
Daru ikut menggotong selang ke hidran itu, sebuah tonggak besi karatan yang menonjol dari trotoar retak. Hokian memasang kunci hidran, memutar dengan seluruh tenaga lengannya yang berurat. Katup berderit. Tidak ada yang terjadi. Ia memutar lagi, penuh, sampai mentok.
Kering.
Tak setetes pun. Hokian menempelkan telinga ke besi itu, mengetuknya. "Nggak ada tekanan. Nggak ada air sama sekali." Wajahnya berubah, dan untuk pertama kali Daru melihat sesuatu yang lebih tua dari kelelahan di sana. "Pangewa, lari ke hidran berikutnya, dua blok ke utara. Cepat."
Daru berlari. Ototnya membakar, paru-parunya tercekat asap yang menyusup ke seluruh jalan. Hidran berikutnya juga karatan, juga keras, tapi saat ia memutarnya, air menyembur deras dan dingin ke kakinya. Bekerja. Tapi terlalu jauh; mereka harus menyambung tiga selang sekaligus untuk mencapai ruko, dan tiap sambungan menurunkan tekanan. Mereka kehilangan waktu emas, menit-menit awal yang menentukan ketika api masih bisa ditahan kecil. Saat air akhirnya menghantam nyala, lantai dua sudah menyala penuh, dan satu lapak di sebelahnya, gudang benang milik orang lain, sudah mulai ikut.
Mereka bertarung sampai subuh. Tidak ada korban jiwa; ruko itu kosong di malam hari. Tapi dua bangunan ludes, dan satu keluarga yang tinggal di belakang gudang benang kehilangan tempat tinggal dan sumber nafkah sekaligus. Saat matahari mulai memucatkan langit, regu itu duduk kelelahan di atas selang yang basah, wajah hitam oleh jelaga, bernapas lewat mulut yang terasa seperti cerobong.
Sari berdiri di samping hidran pertama, yang kering itu, dan menelepon dinas air dengan suara yang menahan sesuatu. Daru cuma menangkap potongannya. "...hidran nomor C-dua-belas, di Jalan Kawat, mati total saat kami butuh... ya, malam ini... saya tidak peduli jadwal pemeliharaan, saya peduli ruko yang habis karena saya tidak bisa ambil air dari besi yang seharusnya berisi air..." Ia menutup telepon dengan terlalu pelan, yang lebih menakutkan daripada kalau ia membantingnya.
Hokian jongkok di samping hidran kering itu, mengusap kepalanya yang berkarat dengan tangan kotor, dan bergumam, lebih ke diri sendiri daripada ke siapa pun. "Aneh. Aku ingat ini. Daftar pemeliharaan ditempel di pos minggu lalu. Hidran ini katanya baru diperiksa. Lolos. Sehat." Ia mengetuk besinya sekali lagi. "Besi yang sehat minggu lalu, kering malam ini."
Daru mendengar itu. Ia tidak tahu apa artinya. Ia hanya merasa ada sesuatu yang ganjil duduk di dadanya, seperti barang yang salah letak di rak yang seharusnya hafal. Hidran sehat. Lalu kering. Di malam ada kebakaran. Ia tak punya kerangka untuk menampung pikiran itu, jadi ia menyimpannya, mentah dan tak terbentuk, di sudut kepala yang sama tempat ia menyimpan tata letak setiap bangunan yang pernah ia masuki.
"Jangan terlalu dipikir," kata Hokian, melihat kerut di dahi Daru. "Di kota ini, semua besi tua. Karat itu nggak butuh alasan buat khianat. Kadang ya, kering ya kering aja. Mungkin pipa pecah di hulu. Mungkin tekanan turun karena kemarau." Ia bangkit, lututnya berbunyi. "Damkar itu nggak boleh jadi tukang curiga. Kita cuma tukang padam. Kalau kita mulai mikir kenapa air nggak ada, kita lupa siram api yang ada."
Itu nasihat yang baik, dan Daru menerimanya. Ia membantu menggulung selang, memuat alat, mendengarkan Joni bercanda tentang sarapan yang akan mereka rampas dari warung dekat pos. Tapi saat mobil tua itu merangkak pulang lewat kota yang baru bangun, Daru melihat hidran kering itu menyusut di kaca spion, dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, ia mencatat nomornya dalam kepala. C-dua-belas. Jalan Kawat. Ia tidak tahu kenapa. Ia hanya tahu bahwa rak yang tertata salah selalu mengganggunya sampai ia menemukan barang yang keliru itu. Dan ada sesuatu yang sangat keliru dengan air yang menghilang tepat di saat kota paling membutuhkannya.