Gudang tua di pinggir kota itu sudah lama ditinggalkan. Atapnya bocor, dindingnya penuh coretan, dan baunya seperti besi berkarat dan debu bertahun-tahun. Tapi bagi Reno, tempat itu sempurna. Jauh dari orang. Jauh dari mata.
Selama dua minggu berikutnya, ia datang ke sana setiap malam setelah bekerja, membawa peralatan seadanya—kabel bekas, plat logam, sarung tangan karet, dan buku catatan tebal. Ia memperlakukan kekuatannya seperti memperlakukan eksperimen di lab: dengan disiplin, dengan pengukuran, dengan kesabaran seorang ilmuwan. Ia bahkan membawa wadah kaca kecil berisi residu senyawa biru yang ia selamatkan dari lab, sesekali mengamatinya di bawah lampu, mencoba memahami zat yang telah mengubah hidupnya—dan menyimpannya baik-baik sebagai satu-satunya petunjuk fisik tentang asal-usul kekuatannya.
Hari pertama, ia hampir membakar dirinya sendiri.
Ia mencoba melepaskan energi sebanyak mungkin sekaligus, dan gelombang itu melonjak liar, menghanguskan lengan bajunya dan melemparkannya ke dinding. Ia terbaring di lantai gudang, terengah, kulitnya berasap tipis. Pelajaran pertama: kekuatan ini terikat pada emosinya. Semakin ia panik atau marah, semakin liar energinya. Untuk mengendalikannya, ia harus mengendalikan dirinya dulu.
Maka ia belajar bernapas. Belajar tenang. Belajar merasakan denyut itu bukan sebagai sesuatu yang asing, tapi sebagai bagian dari dirinya—seperti detak jantung, seperti tarikan napas.
Pelan-pelan, ia menemukan keseimbangan.
Ia menemukan bahwa ia bisa menyalurkan listrik dalam aliran terkendali, membuat busur tipis di antara dua tangan seperti tali cahaya. Ia bisa mempercepatnya menjadi sengatan yang bisa melumpuhkan tanpa membunuh. Ia bisa menarik energi dari benda sekitar—lampu, kabel, baterai—untuk mengisi ulang dirinya ketika lelah.
Tapi penemuan terbesar datang di malam kesepuluh.
Ia sedang berlatih melompat dari tumpukan peti ketika, di tengah udara, tubuhnya tanpa sengaja melepaskan ledakan kecil dari kakinya. Bukannya jatuh, ia justru terdorong lebih jauh, mendarat dengan ringan beberapa meter di depan. Reno terdiam, lalu mencobanya lagi. Dan lagi.
Ia bisa menggunakan energinya untuk mempercepat gerakannya. Untuk melompat lebih tinggi. Untuk bergerak secepat percikan di antara dua titik. Tubuhnya, yang dialiri listrik aneh itu, menjadi lebih kuat, lebih cepat, lebih tangguh dari manusia biasa.
"Luar biasa," bisiknya, terengah, namun tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
Ia membuat aturan untuk dirinya sendiri, ditulis rapi di buku catatan. Satu: jangan pernah membunuh. Dua: jangan pernah menggunakan kekuatan untuk diri sendiri. Tiga: jangan pernah membiarkan emosi mengambil alih. Ia adalah insinyur. Kekuatan ini adalah mesinnya, dan ia harus menjadi operator yang lebih disiplin dari siapa pun.
Suatu malam, Dimas hampir memergokinya.
"Ren, kamu ke mana aja akhir-akhir ini?" tanya Dimas lewat telepon. "Aku mampir ke apartemenmu, kamu nggak ada."
"Aku... ikut kelas malam," Reno berbohong, menyeka keringat di gudang yang gelap. "Mau cari sertifikasi baru."
"Pukul sebelas malam?"
"Kelasnya online."
Dimas terdiam sebentar. "Kamu nyimpen sesuatu dariku, Ren. Aku kenal kamu dari SMP. Kamu nggak pernah pintar bohong."
Reno menutup matanya. Ia ingin sekali bercerita. Tapi ia tahu, semakin Dimas tahu, semakin Dimas dalam bahaya. "Aku baik-baik aja, Dim. Sumpah. Cuma butuh waktu sendiri."
Setelah telepon ditutup, Reno menatap tangannya yang berkilau biru di kegelapan gudang. Beban kekuatan ini, ia mulai sadar, bukan hanya soal mengendalikannya. Tapi soal kesepian yang datang bersamanya. Soal rahasia yang harus ia jaga, bahkan dari orang yang paling ia percaya.
Ia melepaskan satu busur listrik ke udara malam, menerangi gudang tua itu sesaat seperti kilat.
Besok, pikirnya, mungkin aku sudah siap. Tapi siap untuk apa, ia belum tahu. Sampai kota itu sendiri yang memanggilnya.