Panggilan itu datang lebih cepat dari yang ia kira.
Malam itu Reno sedang pulang dari gudang, melewati Jembatan Tua di atas Sungai Kala, ketika ia mendengarnya—jeritan. Tajam, putus asa, perempuan. Disusul suara mesin truk dan tawa kasar.
Ia berlari ke sumber suara tanpa berpikir.
Di kolong jembatan, sebuah truk pengangkut Sindikat berhenti. Tiga pria menyeret seorang gadis muda—mungkin pegawai toko yang pulang malam—ke dalam kendaraan. Di dekatnya, seorang pria tua tergeletak, mengerang, mencoba melindungi gadis yang ternyata cucunya.
"Tolong... jangan bawa dia..." rintih pria tua itu.
"Dia jaminan utang kakek," salah satu penculik tertawa. "Tuan Garda butuh pekerja muda di pelabuhan."
Sesuatu di dalam diri Reno meledak—bukan emosi yang liar, tapi keputusan yang dingin dan jernih. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang.
"Lepaskan dia."
Ketiga pria itu menoleh, lalu tertawa melihat anak muda kurus yang berdiri sendirian. "Pergi sana, bocah. Kalau nggak mau ikut hilang."
Reno tidak mundur. Ia merasakan denyut itu mengalir, terkendali, siap. "Aku sudah memberi kalian kesempatan."
Pria pertama menerjang dengan pisau. Reno bergerak—lebih cepat dari mata mereka bisa mengikuti, didorong ledakan energi dari kakinya. Ia menangkap pergelangan tangan si penyerang dan melepaskan sengatan listrik terkendali. Pria itu berteriak, tubuhnya kejang, lalu roboh, pingsan tapi hidup.
Dua lainnya menembak. Reno merasakan waktu seakan melambat. Ia melompat ke samping, energinya mempercepat geraknya, dan peluru mengenai aspal di tempat ia berdiri sepersekian detik lalu. Ia menyentuh kabel listrik truk, menarik dayanya, lalu melepaskannya sebagai gelombang yang melumpuhkan kedua pria sekaligus. Mereka terjatuh, gemetar, tak sadarkan diri.
Hening. Hanya gemericik sungai dan napas Reno yang memburu.
Gadis itu menatapnya dengan mata lebar, gemetar. "Kamu... kamu siapa?"
Reno menarik kerah jaketnya menutupi wajah. "Bukan siapa-siapa. Bawa kakekmu pulang. Cepat."
Ia membantu pria tua itu berdiri, lalu mundur ke dalam bayang-bayang sebelum mereka bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dari kejauhan, ia mendengar gadis itu berbisik pada kakeknya, "Dia menyelamatkan kita, Kek. Seperti... seperti pahlawan."
Kata itu menempel di benak Reno sepanjang perjalanan pulang. Pahlawan. Ia tak pernah membayangkan dirinya begitu. Ia hanya seorang insinyur yang tak bisa lagi menonton ketidakadilan.
Tapi pagi harinya, ia menyadari bahwa tindakan punya harga.
Berita menyebar cepat. Tidak resmi—tak ada koran yang berani menulisnya—tapi dari mulut ke mulut, dari warung ke pasar. Ada seseorang yang melawan Sindikat. Seseorang dengan kekuatan aneh, yang bisa mengendalikan petir. Orang-orang menyebutnya berbagai nama, tapi satu yang paling melekat: Bayangan.
Di warung Pak Harto, orang-orang berbisik dengan mata berbinar untuk pertama kalinya dalam waktu lama. "Kalau cerita itu benar, mungkin kota ini masih punya harapan."
Tapi Sindikat tidak melihat harapan. Mereka melihat ancaman.
Di sebuah ruangan gelap di puncak gedung Naga Hitam, tiga penculik yang babak belur berlutut di hadapan sosok yang duduk di bayang-bayang. Tuan Garda.
"Petir," kata salah satu, gemetar. "Dia mengendalikan petir, Tuan."
Suara dari bayangan itu dingin seperti logam. "Manusia tidak mengendalikan petir." Jeda panjang. "Kecuali dia bukan manusia biasa."
Tangan bersarung kulit muncul dari kegelapan, mengetuk-ngetuk lengan kursi. "Cari tahu siapa dia. Kota ini milikku. Dan aku tidak berbagi dengan bayangan."
Tanpa ia sadari, Reno baru saja melangkah dari kegelapan ke dalam cahaya—dan menjadi buruan nomor satu di Kota Wirantara.