“Mau ke mana Ed?” Edward menoleh ketika suara itu memanggilnya di lorong istana, ia melihat Eleazer dengan gaun berwarna biru malam dengan rambut cokelatnya yang diberi jepit rambut permata pemberian Enrique.
“Aku akan ke pusat kota, melihat lion cub yang baru tiba.” Edward terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang sesuai bentuk tubuhnya, rambut pirangnya ditata rapi ke belakang dan memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya walaupun tetap saja akan terlihat mencolok dengan rambut pirang terangnya itu.
“Kebetulan sekali, aku juga akan kesana. Mau bergabung denganku?” tawar Eleazer memainkan kedua alisnya.
Edward tersenyum, memberikan lengan kanannya untuk dirangkul Eleazer. “Dengan senang hati, Princess Eleazer.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju kendaraan yang akan mereka tumpangi, beberapa pelayan yang mereka lewati membungkukan tubuhnya dengan begitu hormat. Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti, Edric berdiri menghalangi mereka.
“Apa yang kau lakukan Edric? Go away!” usir Eleazer sebal, mencoba mendorong Edric agar tidak menghalangi jalur mereka.
“I’m going with you,” jawab Edric yang membuat Eleazer siap meledak, namun Edward dengan cepat menahan Eleazer dengan senyumannya.
“Biar dia ikut dengan kita, aku dengar dia habis dimarahi Daddy.” Edward membela kembarannya, dia menepuk pundak Edric beberapa kali dan tersenyum.
“Jangan bilang kau mengganggu mereka yang sedang bermesraan!” tebak Eleazer dengan mata menyipit dan mengintimidasi.
“Well, aku hanya bertanya kenapa Momma selalu menggoda Dad dengan cara menggesekan kakinya.” tampang Edric benar-benar tanpa dosa menjawab tebakan Eleazer, membuat kembarannya itu menahan diri untuk tidak memukul kepala Edric yang hanya berisi angin.
“Edric! Jangan pergi kamu, Dad belum selesai.” Edric melihat sosok Enrique di belakang tubuh Edward dan Eleazer dengan wajah marah, bahkan melangkah keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
“Oh, aku menunggu di mobil. Semoga kalian bisa menyelamatkanku dari amukan Your Majesty.” Edric langsung berlari membuka gerbang istana, meninggalkan Eleazer dan Edward yang menggelengkan kepala dengan tingkah Enrique dan Edric yang bisa dibilang seperti kaum Viking. Tak ada hari tanpa pertengkaran.
“Apa hanya kita yang normal di keluarga ini, Ed?” tanya Eleazer yang melihat Enrique berlari melewati mereka, seakan mereka adalah patung antik pemberian raja sahabat.
“Aku rasa hanya Tobias yang normal di sini,” jawab Edward menunjuk Tobias yang berdiri tanpa ekspresi melihat Edric dan Enrique bertengkar di depan matanya dengan dagu.
“Dia manusia kurang asupan ekspresi, tidak jauh denganmu, bodoh!” Eleazer menyikut perut Edward, mencibir pria itu dengan kesal dan melanjutkan langkahnya menuju mobil, setidaknya menghentikan tingkah kekanakan yang sedang berlangsung.
Enrique benar-benar pria aneh jika berada di rumah, berbeda sekali jika berada di luar yang penuh tatapan tajam mengintimidasi dan berwibawa. Pria yang sudah membuat anak kembar tiga dan juga memiliki cucu itu terlihat sangat kekanakan, bagaimana tidak? Enrique masih saja bertengkar dengan anaknya sendiri di tempat umum. Memang lucu, tapi bagi Eleazer itu sama sekali tidak keren. Pria yang dia cintai bertingkah layaknya pria muda dengan teman sejawatnya. Oh Tuhan! Eleazer akan meledak jika ia berada di posisi Mommanya, memiliki suami dan anak seperti Enrique dan Edric.
“Dad, bisakah bersikap dewasa? Apa perlu aku ingatkan, jika Daddy sudah memiliki tiga anak, satu cucu dan umurmu sudah mencapai lima puluh tahun?” kedua tangan Eleazer bersidekap di d**a, memandang Enrique dan Edric dengan sinis.
Enrique melepaskan Edric, ia menatap Eleazer, putri satu-satunya yang cantik setelah istrinya. Tentu saja, karena yang paling cantik di mata Enrique adalah Harper, istrinya. “Aku rasa kamu terlalu dewasa, Ely. Menjadi dewasa itu tidak enak, lebih enak menjadi remaja. Bebas dan menyenangkan,” jawab Enrique yang menatap dua putranya penuh maksud terselubung.
“Jadi kamu mau jadi remaja? Bebas memilih wanita yang kamu tiduri dan bersenang-senang?” mereka berempat serempak menoleh, wanita cantik bergaun hitam yang sangat sexy menghampiri mereka. Tangannya mengucir rambut pirangnya, mata birunya terlihat tajam menatap satu pria di sana.
Edward, Edric dan Eleazer menahan tawanya, mereka benar-benar tidak menyangka jika Mommanya akan datang lebih cepat dan membuat masalah semakin runyam. “Dad, kami pergi dulu ya. Semoga tidak ada adik lagi, terlalu tua memiliki baby.” Edric mengedipkan mata pada Enrique dan menutup pintu mobil yang disusul Edward dan Eleazer.
“Awas kamu Edric!” ancam Enrique tajam lalu tersenyum manis menatap Harper yang begitu menggoda dengan gaun hitamnya. “Mungkin kita perlu sedikit kehangatan yang intim, Cintaku.” Enrique mencoba merayu Harper, menarik pinggangnya hingga begitu dekat tubuhnya.
“Mungkin sedikit hukuman untukmu akan menyadarkan isi otakmu, kalau kamu sudah menjadi ayah dari ketiga anak kita.” Namun Enrique langsung membungkam mulut Harper di teras.
“Ewwwhh!” Eleazer merasa jijik melihat orang tuanya dari spion mobil, dia merasa mual dan ada seribu kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
“Biasa saja, Ely, aku sudah pernah melihat mereka bercinta.” Edric kembali duduk ketika melihat kedua orang tuanya kembali bermesraan, dia merapikan dasi serta coat hitamnya.
“Kau dan Dadd memang tidak jauh beda, sama-sama mesum.”
“Setidaknya aku berpengalaman,” jawab Edric dengan nada menyindir, tentu saja menyindir Edward.
“Keahlian tidak perlu diumbar, tapi dipraktekan.”
*******
Pusat kota terlihat begitu padat atau lebih tepatnya tidak pernah tidur dari segala aktivitas manusia, termasuk beberapa orang yang baru saja tiba dari berbagai tempat menggunakan kapal terlihat mulai menginjakkan kakinya di Benelux. Angin laut yang begitu kencang membuat rambutnya berantakan, namun malah terlihat semakin sempurna dan menampilkan ketampanannya yang terlihat mencolok. Sebelum sampai di pasar hewan, mereka harus melalui dermaga yang padat, lalu di sanalah tempat pasar hewan yang terkenal seantero kota.
“Aku akan menunggu kalian di kafe, aku berharap kalian tidak terinjak-injak.” Edric tersenyum menyerah ketika melihat lautan manusia, dia melambaikan tangan dan menunjuk sebuah kafe yang berada di seberang jalan.
Edward mengangguk dan setuju jika nanti mereka bertemu di sana, namun tidak dengan Eleazer yang sangat kesal dengan Edric. Perempuan itu menatap Edric begitu sinis karena sikap Edric yang sangat manja dan begitu menomorsatukan penampilan sehingga membuat Eleazer muak, menurut Elazer Edric seperti wanita yang gila kecantikan. Berbeda dengan dirinya, dia dan Edward adalah rekan di medan perang, tentu bukan tempat perang sungguhan. Ia dan Edward sering kali melakukan pendakian di beberapa gunung juga melakukan pelatihan bela diri di tempat yang sama, ia tidak mengeluh ketika Edward memintanya menaiki pohon untuk mengambil balon yang tersangkut milik Enrico karena saat itu Edward baru saja jatuh dari pohon. Jadi sebenarnya yang laki dan wanita siapa? Eleazer atau Edric?
“Lemah sekali dia sebagai pria, aku rasa jiwa kami tertukar,” gerutu Eleazer yang melangkah di samping Edward.
“Aku rasa dia hanya tidak kuat matahari,” balas Edward membela Edric. Namun Eleazer tak lagi berkomentar, dia melanjutkan menuju pasar hewan menemani Edward memilih lion cub.
Meskipun mereka anak dari Pangeran Enrique, jarang ada orang yang mengenal Eleazer dan Edward, keduanya benar-benar tertutup identitasnya dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Berbeda dengan Edric, semua rakyat hingga bangsawan mengenal pria tampan itu yang kadang mereka impikan untuk menjadi menantu mereka.
“Banyak sekali yang membicarakan pesta Putri Harper, aku tidak menyangka mereka akan excited seperti ini.” Eleazer tersenyum miring ketika mendengar bisikan tentang pesta yang digelar secara umum di Charlotte House, pesta pernikahan orang tuanya.
“Hanya aku yang tidak excited, Ely,” sela Edward mengoreksi komentar Eleazer.
“Ya, kecuali Edward Nicholas Macht yang menyia-nyiakan ketampanannya,” bisiknya lalu terkekeh. “Aku akan pergi ke butik untuk mengambil gaunku yang sudah selesai,” Eleazer melambaikan tangannya ketika berpisah dengan Edward. “Aku pilih Lion berwarna grey jika butuh saran.” Tambahnya.
Edward melanjutkan langkahnya, dia mulai memasuki pasar hewan yang memang menjual-belikan berbagai hewan dari berbagai negara. Burung dengan bulu cantik dan bersuara merdu mulai ia dengar, tak hanya itu, reptil yang sangat langka juga dijual di pasar hewan secara legal. Semua membuat Edward ingin membelinya, tapi ia harus menahan diri untuk tidak mendapat amarah Mommanya yang tidak menyukai hewan. Ia langsung menuju tujuan utamanya, mungkin saran dari Eleazer akan ia terima. Lion cub berwarna abu-abu mungkin akan menggemaskan, sepertinya sangat jarang dimiliki para bangsawan karena memang sulit mencari perkawinan dengan bulu seperti itu.
Mata birunya berbinar puas, lion cub berwarna grey dengan totol hitam kini berada di pelukannya. Bulunya yang halus serta menggemaskan membuat Edward memilih untuk menggendongnya dan membawa kandangnya di tangan kanannya. Ia mendapatkan hewan tersebut dengan harga cukup mahal, sekitar lima ribu dolar. Cukup menguras tabungannya.
Tiba-tiba seorang wanita menabraknya, memakai gaun merah muda dan topi lebar yang melingkar di punggungnya, rambutnya tergerai dengan angin yang menerbangkannya. “I’m sorry, Sir.” Wanita itu membungkuk dan melanjutkan langkah, sama seperti Edward hanya melihat sekilas wajah wanita tersebut.