“Aku tidak pernah meragukan karya Celine dalam membuat gaun pesta yang mewah, ini benar-benar gaun yang sangat cantik.” Eleazer terus memuji gaun yang baru saja ambil dari butik di seberang jalan. Meskipun tomboy, sisi wanita terhadap suatu barang masih melekat dalam tubuh Eleazer. Seperti wanita pada umumnya.
“Terlalu kuno karya Celine, aku lebih menyukai karya Hayes.” Edric menatap remeh pada gaun tersebut.
“Dia designer pakaian dalam bodoh!” Eleazer memukul kepala Edric dengan sendok gula.
Edward mengulum senyumnya, ia mulai menyesap teh yang baru saja tiba sesuai pesanannya. Ia menoleh menatap keluar jendela, menampilkan kesibukan kota yang menjadi pusat ekonomi negeri ini. Matanya menangkap seorang wanita yang sepertinya tadi menabraknya, ia menyipitkan matanya untuk melihat wanita tersebut dengan teliti. Tak ada yang aneh dari wanita itu, tapi ia sangat benci melihat wajah bodoh dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya. Tentu saja Edward menyadari siapa wanita itu, dia yang sering menjadi bahan pembicaraan para temannya setiap pertemuan. Princess Alyse yang memiliki wajah cantik dengan lekuk tubuh yang sempurna. Salah satu bahan imajinasi para lelaki setiap malam.
“Bukankah itu Alyse Bryce?” Edric mengikuti arah pandang Edward, menatap wanita itu dengan wajah kebingungan.
“Sepertinya benar,” balas Eleazer yang juga menatap satu objek yang sama dengan kedua kembarannya. “Wah seperti rumor yang beredar dia perempuan cantik yang mengalahkan kecantikan Dewi Athena.”
“Athena dewi perang, Ely, tak ada cantiknya,” cibir Edric. “Bagaimana menurutmu, Ed? Apa aku tidak salah?” kali ini Edric menatap Edward dengan serius.
Edward meletakan cangkir tehnya, mencoba bersikap santai. “Memang benar, dia Alyse Bryce.”
“Seperti dugaanku!” seru Edric dengan senyum penuh kemenangan, bahkan seruan itu berhasil menyita perhatian para pengunjung kafe yang memang sejak tadi menatap mereka penuh tanya.
“Kecilkan suaramu bodoh!” Eleazer memukul kepala Edric, ia menatap Edward untuk bertanya. “Apa yang dilakukan perempuan itu di negeri ini? Sepertinya dia datang sendiri dan tidak ada pengasuh atau wali.”
“Ini kesempatanku, aku akan mendekatinya dan menjadikannya partnerku.” Edric merapikan rambutnya, berdiri dari bangku untuk melancarkan aksinya. Namun tiba-tiba Edward menahannya, membuat Edric maupun Eleazer menatap Edward dengan bingung.
“Jangan!” kata Edward tanpa bersuara keras namun tegas, Edric kembali duduk dengan ragu namun penasaran. “Dia sedang mencari pria bangsawan untuk membiayai hidupnya.”
“Aku bisa membiayai hidupnya, bahkan sampai turunan ke tujuh atau ke sebelas pun,” sela Edric sombong, berniat kembali melancarkan niatnya untuk membuat perempuan itu jatuh dalam pelukannya.
“Juga utang yang ditinggalkan orang tuanya, kamu tidak akan mampu, Edric.” Edward melanjutkan ucapannya, menatap Edric dengan tatapan serius.
“Kau benar-benar bodoh, Edric!” Eleazer kembali memukul kepala Edric, membuat pria itu meringis dan begitu pasrah. “Itu artinya Edward sudah memilih perempuan itu untuknya. Kali ini biarkan kembaran kita beraksi, can you feel his heart?”
Edric melirik Edward dengan senyum penuh maksud, menunjuk hidung Edward dengan jahil. “Ikatanmu dengan Eleazer begitu erat, aku iri padamu karena bisa merasakan perasaan Eleazer. Baiklah, aku akan membiarkanmu mengambil perempuan itu.”
Edward mendengus geli, entah harus berterima kasih atau menyesal dengan ucapan Eleazer. “I’m serious, dia perempuan berbahaya yang siap mengurasmu.”
“Me too, Ed, dia perempuan yang harus kamu bantu dengan tanganmu.”
Edward tidak menjawab ucapan Edric, ia selalu berpikir untuk bertindak lebih jauh. Sekali lagi ia menoleh pada Alyse Bryce yang sedang memakai topi lebarnya untuk menahan teriknya matahari di Benelux, wajahnya yang putih terlihat mulai merah karena sinar matahari namun tiba-tiba menyunggingkan senyuman pada Edward. Oh apa mata Edward tidak salah? Alyse Bryce tersenyum padanya, terlihat begitu manis namun bodoh. Semacam senyuman patung yang hanya patuh pada pengukirnya. Tentu saja dia tidak akan langsung luluh, perempuan itu belum tentu berpikiran cerdas dan memiliki pandangan yang sama dengannya. Jika tidak, jangan harap Edward memilih perempuan itu sebagai calon istrinya, dia tidak akan segan-segan menjauh sejauh mungkin dari perempuan yang tidak memiliki otak dan pembicaraan tidak berbobot.
*****
Alyse bersyukur mendapatkan flat yang cukup murah dan bersih tak jauh dari kediaman Charlotte House, seorang wanita tua yang berbaik hati menyewakan tempat kecil itu untuknya. Pemandangan dari kamarnya terlihat menyejukan, ada sebuah danau kecil dengan pepohonan yang menutupinya. Air danau yang biru sebiru langit memanggil Alyse untuk segera bermain di sana, tapi Alyse menahan diri untuk tidak menyebur ke sana dan memilih merapikan beberapa pakaian ke dalam lemari kecil.
Alyse memiliki target selama seminggu mencari pria bangsawan kaya yang mau menjadi suami bohongannya agar Christie tidak terbebani dengan dirinya, juga agar hidupnya lebih baik dengan harta rumah satu-satunya yang ia miliki. Dari informasi yang ia dapat, mungkin ia akan memilih anak kedua dari Putri Harper dan Pangeran Enrique yaitu Edric Lazuardi Macht. Pria playboy yang menjadi pewaris kedua kekayaan kerajaan Benelux, pria yang lebih mudah ia jerat dengan kecantikan yang ia punya. Ya! Alyse sudah menetapkan Edric sebagai mangsanya.
“Edric...” gumam Alyse meresapi nama Edric di pikirannya. “Apa dia bisa membantuku? Atau dia malah menyusahkanku?”
Karena lelah berpikir, Alyse merebahkan diri di kasur empuk namun cukup besar. Matanya yang indah menatap langit kamar yang usang, jauh beda dengan langit kamar di kamarnya. Seminggu, ia harus bisa memikat Edric selama seminggu sebelum melepaskan pria itu setelah keinginannya terpenuhi. Tanpa sadar, Alyse terpejam dan masuk ke dalam dunia mimpi yang lebih indah dibandingkan dunia nyatanya.
*****
Edward melepas kacamata serta jas hitamnya ketika tiba di Charlotte House. Tata ruangan serta harum ruangannya sudah berubah seiring waktu yang berjalan cepat, semua terlihat manis dengan pemilihan warna yang segar dan bunga yang indah tertata rapi. Ia bisa melihat bagaimana Mommanya sibuk menyiapkan pesta kali ini, mungkin untuk waktu ke depan Putri Harper akan kelelahan setelah pesta ini. Seperti biasa.
“Edward, bisa bantu aku membawakan bunga mawar ke sini?” Harper tersenyum pada putranya, menunjuk sebuket mawar yang besar di depan pintu.
Tanpa menolak dan berbicara banyak, Edward mengikuti permintaan Harper. Ia melipat lengan kemejanya hingga siku, lalu tersenyum pada Harper dan membawa mawar itu ke tempat yang diinginkan Mommanya. Edward mendesah lega ketika kumpulan mawar itu selesai ia letakan, ia menoleh untuk melihat reaksi Harper.
“Sangat indah,” puji Edward tulus dari hatinya.
“Mawar memang selalu indah untuk hal yang kita cintai.” Harper menatap Edward dan menepuk lengan Edward pelan. “Aku berdoa semoga pesta yang aku rayakan di sini mempertemukanmu dengan calon istrimu.”
Mau tidak mau Edward tersenyum dengan ucapan Harper, meskipun dalam hati ia menolak karena targetnya untuk menikah bukan untuk waktu sekarang. “I hope so, but Momma jangan terlalu berharap. Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku yakin kau bertemu dengan seorang wanita yang akan kau cintai dengan seluruh hatimu, Ed.” Harper memandang Edward tanpa paksaan namun terlihat jelas keyakinan di mata biru yang menggoda. “Karena kau putraku, yang sangat menggoda untuk menarik perhatian lawan jenis.”
Edward terkekeh mendengar ucapan Harper, kepalanya menoleh ketika melihat Tobias berada di ujung pintu memanggilnya. Ia membungkuk tubuhnya, memberikan penghormatan pada Putri Harper selaku Your Majesty yang terhormat. “Saya izin pergi, my lady.”
“Sure,,” jawab Harper menatap Edward yang meninggalkan senyuman manis padanya, hingga Edward menghilang tertutup pintu istana.
Edward menuruni tangga dengan cepat ditemani Tobias, jadwalnya untuk pergi ke Kingsuit harus tepat waktu. Ia akan menyesuaikan ukurannya untuk terakhir kali dengan suit yang sudah dipesan Tobias sebelumnya, setelah itu ia akan membeli hadiah untuk orang tuanya. Tobias membuka pintu mobil untuk Edward, disusul dirinya ketika Edward sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
“Mungkin Putri Harper dan Pangeran Enrique butuh liburan setelah musim panas, saya lihat akhir-akhir ini mereka sering berselisih pendapat.” Tobias membuka dokumen yang harus dilihat Edward, salah satu tugas yang ia tinggalkan di kapal induk.
“Aku rasa seperti itu, tapi sebenarnya bukan itu. Momma ingin aku cepat menikah sedangkan Daddy ingin aku menjadi kapten di kapal induk, menggantikannya yang hampir habis masa kerjanya,” jawab Edward tak menatap Tobias, matanya sibuk membaca setiap kalimat yang tertuang di dalam kertas putih tersebut.
“Kenapa tidak kau lakukan? Kau bisa menikah dan menjadi kapten,” tanya Tobias santai, namun tak lama Edward langsung menatapnya tajam.
“Aku tidak akan memilih kedua. Aku tidak akan menikah dan tidak akan menjadi kapten.”