Akhirnya pesta dansa yang ditunggu akan segera dimulai, orkestra sudah mendapat satu sinyal untuk memainkan musik. Putri Harper dan Pangeran Enrique mulai memasuki lantai dansa, lalu tamu yang lain mengikuti pasangan tersebut. Edric langsung mendorong Edward untuk mengantre pada barisan pria bangsawan yang mau tidak mau Edward turuti pemaksaan tersebut, memberikan senyuman pada gadis cantik yang akan menjadi pasangannya pada dansa putaran pertama. Para gadis menekuk lutut sedangkan para pria membungkuk hormat, musik riang pun dimulai.
Alyse tidak berdansa dengan Edric, dia berdansa dengan pria bangsawan yang menyebalkan, berulangkali kakinya terinjak oleh sepatu kulit mengilap milik pria berambut pirang. Jika boleh Alyse mengumpat, ia akan memaki pria itu tanpa ampun dan pasti memalukan pria yang tidak berdansa. Tapi Alyse mencoba tersenyum, berharap dansa pembuka ini segera berakhir dan kakinya selamat sampai ia menemukan targetnya, Edric.
Tentu saja Alyse melihat setiap gerakan Edric yang berdansa dengan gadis muda berbadan sintal nancantik, pria itu hanya tersenyum sesekali dan didominasi dengan pergerakan mulut yang dilakukan gadis tersebut. Rasanya, Edric seperti memiliki tata bahasa yang sedikit atau mungkin suaranya yang besar membuatnya malu untuk berbicara. Tidak seperti rumor yang ia dapat tentang kepribadian seorang edric.
Tuhan mendengar doa Alyse, musik itu berhenti dan pria yang menjadi pasangan Alyse membungkuk hormat dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Matanya yang berwarna cokelat bening menatapnya penuh penyesalan.
“Maafkan saya atas kecelakaan tadi, saya benar-benar tidak sengaja.” Pria itu melirik ke bawah, arah kaki mereka.
Alyse tersenyum tipis, menarik tangannya dengan cepat. “Tidak apa, kau perlu banyak berlatih.”
“Enrico!” Alyse menoleh bersamaan dengan pria pirang di depannya, Putri Harper yang mengapit lengan Pangeran Enrique terlihat mesra dan membuatnya iri. “Kamu sudah mengenal Alyse, tidak aku sangka.”
Alyse menoleh pada pria pirang tersebut. “Oh Tuhan, Mr. Moedig. Aku tidak mengenalimu.”
Enrico tersenyum, dia melangkah mundur dengan tatapan tidak nyaman di belakang Alyse. “Senang mengenalmu, Princess, saya permisi.”
“Enrico, tunggu!” Harper mencoba menahan Enrico namun terlambat, pemuda itu buru-buru pergi dan menghilang diantara para tamu. “Anak itu, benar-benar menyebalkan.” Harper menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya kita butuh minuman. Anda ingin anggur, sari lemon, ratafia? Atau air putih?” tanya Pangeran Enrique dengan senyum tampannya.
“Anggur sepertinya enak,” jawab Alyse. “Terima kasih.”
“Harp?” pria itu bertanya pada istrinya.
“Sama, please, suamiku,” Harper menjawab dan menatap suaminya pergi.
“Pesta yang indah,” puji Alyse. “Pasti anda sangat senang.”
Harper tersenyum. “Ini bukan yang pertama kami mengadakan pesta, aku ingin putraku menemukan calon istrinya dengan pesta ini.”
“Istri?” tanya Alyse tidak yakin. “Apa anda tidak takut mendapatkan menantu dari rakyat rendah?”
“Yang penting dia wanita, Alyse, wanita yang mampu membuat putraku bertekuk lutut padanya.” Harper menjawab begitu yakin, namun tak lama Pangeran Enrique datang dengan minuman yang mereka pesan.
“Apa anda bersedia berdansa denganku?” tawar Enrique.
“Oh tidak, Dad, aku yang akan mengajaknya berdansa dengannya setelah ini.” Tiba-tiba Edric datang dan langsung merangkul pinggang Alyse, pria itu membungkuk hormat pada Enrique.
Alyse terkejut, terlebih dengan tangan kokoh yang merangkul pinggangnya dengan erat. Tak lama ia merasa terkejut dengan wajah yang terlihat familiar, ia sadar wajah tersebut sangat mirip dengan Edric dan kini merangkulnya dengan tidak sopan. Merasa ada yang aneh, Edric menoleh dan melepas tangannya dari pinggang Alyse.
“Maaf atas kelancangan saya, Princess Alyse.” Edric semakin membungkuk, dia benar-benar spontan ketika Enrique akan mengajak Alyse dansa pada putaran berikutnya.
“Anda saya maafkan,” jawab Alyse menyentuh pundak Edric, memberikan senyuman tulus pada putra kerajaan, pewaris kedua istana Benelux. “Maafkan saya, tapi dansa saya berikutnya saya sudah memiliki pasangan.”
“Yang terakhir,” sela Edric. Dansa terakhir adalah waltz, yang akan berlanjut pada makan malam yang cukup panjang. “Saya yakin anda belum memiliki pasangan waltz, Princess.”
Belum sempat Alyse bertanya nama, pria itu sudah pergi meninggalkannya bahkan ia tidak sadar Putri Harper dan Pangeran Enrique sudah meninggalkannya sendiri.
******
Jika ia tidak berjanji pada Eleazer pada dansa putaran kedua, mungkin sekarang ia sudah berada di kamar dan berkutat pada tugasnya. Namun seperti janjinya, Edward turun bersama Eleazer pada dansa putaran kedua. Sebelumnya ia mendengar jika Eleazer akan berdansa dengan Fransisco, sahabat Enrique yang sedang berkunjung, tapi entah kenapa Eleazer malah mengajaknya untuk berdansa.
“Kau sudah menemukan pasangan waltz?” tanya Eleazer ketika Edward memutar tubuh adiknya.
“Aku akan berakhir setelah putaran kedua ini,” jawab Edward santai, dia menatap Eleazer yang cantik dan aura menggoda yang tertutup dengan sifatnya yang tomboy.
“Momma mengajakmu berdansa bukan?” tanya Eleazer.
“Yang pasti, Daddy tidak akan menyiakan waltz tanpa Momma, Ely.” Edward menarik pinggang Eleazer erat, membuat mereka semakin dekaat. “Oh, andai kamu bukan saudaraku, pasti sudah aku nikahkan kamu, Ely.”
Eleazer menukik bibirnya ke bawah, memukul d**a Edward pelan. “Dan aku tidak mau menikah dengan pria tanpa ekspresi dan sedikit kosakata dihidupnya. Pasti membosankan.”
Dansa itu berakhir, Edward mengecup pipi Eleazer dan mengelus rambutnya sebelum pergi. Buru-buru Edward meninggalkan pesta, namun terhenti ketika teman pria menariknya untuk bergabung dengan kelompok bangsawan kaya. Mau tidak mau Edward harus menahan diri di tempat itu, dia benar-benar akan meninggalkan kelompok itu jika pembicaraannya tidak berbobot. Pembicaraan mereka tentang kuda, baiklah itu salah satu topik yang menarik untuk tetap berada di kelompok ini. Kuda jantan yang super baru saja tiba dari dermaga, mereka berniat membelinya namun bingung hanya karena warna. Kuda berwarna putih atau kelabu yang akan menarik wanita? Ketika itu juga, Edward sudah tidak tertarik dengan pembicaraan tersebut.
“Bagaimana dengan warna hitam? Aku rasa mereka bisa menyukainya,” saran Edward santai, perlahan mundur dan menutup telinganya ketika sekumpulan pria itu menghinanya karena selera wanita yang rendah.
Edward kembali melanjutkan langkahnya, ia melihat Tobias di ujung gerbang menatapnya bingung. Tentu saja Tobias bingung, pesta ini belum selesai bahkan belum mencapai puncaknya, tapi Edward sudah bergegas pergi. Namun tiba-tiba tangannya tercekal membuatnya berbalik, sosok Edric tampak pucat menatapnya.
“Kenapa kau?” tanya Edward bingung.
“Oh Ed, bisa bantu aku? Rasanya tubuhku menggigil dan tidak enak,” ujar Edric merapatkan mantelnya. Ketika Edward akan menyentuh dahinya, Edric menahannya. “Aku butuh Tobias mengantarku ke rumah sakit, kau gantikan aku waltzz. Aku sudah memiliki pasangan yang tidak mungkin aku tinggal.”
“Biarkan saja, lebih baik aku mengantarmu.” Edward membantu Edric berjalan, namun Edric menolak.
“Aku tidak ingin dia kecewa,” ujar Edric memohon, matanya yang biru seperti lautan membuat Edwarad tak bisa menolaknya. “Tenang saja, kita kembar identik. Aku yakin dia tidak akan menyadari kalau kau itu bukan aku.”
“Menyusahkan,” cibir Edward. “Baiklah, siapa wanita itu?”
“Dia sedang duduk dengan menggunakan gaun berwarna merah darah, hanya dia yang memakai gaun seperti itu.” Edric menghilang bersama Tobias dibalik pintu tinggi yang terukir indah khas kerajaan, meninggalkan Edward yang berdecak kesal.
********
Entah harus bagaimana, Edward kembali lagi ke dalam pesta untuk mengabulkan permintaan saudaranya. Mata biru gelapnya berpendar sekeliling ruangan, mencari wanita bergaun merah seperti ucapan Edric. Dansa waltz akan segera dimulai, ia bergegas cepat mencari wanita tersebut. Namun ia bertabrakan dengan seseorang yang melintas sangat dekat di belakangnya, instingnya langsung mencengkram lengan wanita itu agar tidak terjatuh.
“Sorry,” ujar Edward menyesal, matanya menatap wanita itu dari bawah hingga menatap mata yang menatapnya dengan pandangan jenaka.
Edward baru menyadari, wanita yang ia tabrak bergaun merah dan satu-satunya yang menggunakannya di pesta ini, seperti kata Edric. Alyse yang dimaksud Edric, pasangan waltz saudaranya. Mata hijau yang agak gelap menatapnya, bulu mata yang tebal serta bibir yang tebal di bagian bawahnya membuat Edward terpukau sesaat.
“Kau dimaafkan,” jawab Alyse dengan senyuman dan tatapan yang tepaku pada Edward, memberikan tatapan menggoda pada targetnya.
“Saya akan menjadi pasangan waltz anda, Princess Alyse, karena tiba-tiba Edric harus mengurusi suatu hal penting.” Edward membungkuk pada Alyse, seperti peraturan yang berlaku dalam kerajaan, menghormati wanita.
Alyse terkejut mendengar ucapan pria itu, namun tak lama ia menutup mulutnya tidak menyangka bahwa selama ini ia salah mengira.
“Saya Edward, kembaran dari Edric.” tambah Edward ketika menyadari bahwa Alyse terlihat bingung.