Ternyata perkiraan Alyse tentang Pangeran Edward tidak seperti dugaannya, pria itu berbahu lebar, d**a dan lengannya berotot, pinggang dan pinggulnya ramping, kakinya panjang yang membuat pria itu sangat tinggi, matanya biru gelap, seperti permata shapire yang mahal, terlihat begitu kelam dan dingin. Tak ada senyuman tulus terukir di ujung bibirnya, bahkan senyuman yang sedang dilihat Alyse adalah sebuah senyuman palsu. Rambut pirangnya terlihat rapi dengan tatanan yang sangat stylist dan bisa disimpulkan bahwa Pangeran Edward sangat sempurna secara fisik.
Harum maskulin terasa kental dipenciuman Alyse, bahkan semakin terasa dingin ketika tubuhnya berada begitu dekat dengan sang Pangeran Muda. Alyse sangat sadar, banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Termasuk mata wanita yang tidak berdansa waltz dengan sang Pangeran Tampan itu. Tapi itu bukan salah Alyse. Beberapa dari mereka melirik tajam ke arah Alyse, meskipun dirinya lebih cantik tapi wanita itu lebih banyak pasukannya. Mungkin siap menguliti Alyse setelah dansa waltz dan ia kembali ke negerinya dalam keadaan tak bernyawa.
Alyse meletakkan sebelah tangannya di pundak Edward, dan tangan lainnya berada di atas tangan sang Earl saat lengan tangan pria itu menarik pinggangnya dan musik dimulai. Alyse tidak menyangka ini akan sangat dekat dan intim. Tentu saja intim, karena waltz adalah dansa c***l yang hanya orang cukup umur yang boleh melakukannya. Tapi ia merasa ini kesempatannya, Edward memang targetnya, tidak peduli dengan aura tajam dan menusuk. Baginya, Edward adalah sasaran empuk yang akan ia gunakan.
Untuk sesaat Alyse sangat berharap waktu berhenti untuk ketenangan dan rasa nyaman ini berada di rangkulan sang Earl, namun semua hanya doa. Nyatanya, ia hanya mampu tersenyum pada sang Earl dengan manis mencoba merayunya. Sang Earl memutar tubuhnya, membuat Alyse sejenak memejamkan mata. Sebuah ketenangan yang belum pernah ia dapat salam ini.
“Kau berdansa waltz dengan sangat baik, My Lord.” Alyse mencoba memujinya, tapi itu benar tulus dari hati Alyse. Jika dibandingkan dengan pria sebelumnya, Edward lebih santai dan mampu berdansa.
“Terima kasih, Princess. Mungkin Ely akan senang mendengar pujianmu. ”
“Kau bisa memanggilku, Alyse, Lord Macht.” Alyse kembali berputar.
“Alyse,” ulang Edward dengan tersenyum tipis lalu kembali tidak berekspresi. “Dia yang rela mengorbankan kakinya untuk saya injak dengan sengaja.”
Alyse terkekeh. “Kembaran yang sangat baik. Dia sangat memahami jika kau harus bertemu calon istri di waltz.”
Edward menatap Alyse dengan sebelah alis yang terangkat.
“Atau...” Alyse menggantungkan ucapannya, melangkah lebih dekat dan mencoba menjangkau Edward. “Merayu.”
“Maaf?” Edward mencoba mendorong Alyse dengan pelan.
“Aku melihatmu menatapku di kafe dermaga, kau dan kembaranmu terlihat tertarik padaku. Bukan begitu, My Lord?”
Edward akui memang melihat dan menatap Alyse ketika membeli lion cub, bahkan ia yang pertama kali menatap wanita itu tanpa berkedip. “Maafkan saya atas kesalahan saya yang menabrakmu, Princess. Tapi jujur, aku tidak merayu atau mempermainkanmu dalam pesta ini. Semua –”
“Aku percaya,” sela Alyse yang berbalik, membuat Edward memeluknya dari belakang. “Kau pria sejati, Edward. Kau tidak mungkin merayuku. Justru aku datang ke sini untuk menawarkan sesuatu padamu.” Alyse berucap pelan, ia bisa melihat beberapa tamu yang tidak percaya dengan dansa yang dilakukan Edward dan Alyse dangat melenceng.
“Tawaran apa?” tanya Edward yang langsung membalik tubuh Alyse, menatap mata hijau yang berbinar ceria.
“Apa kau sedang mencari calon istri? Atau siap menata kamar bayi dalam waktu dekat?” tanya Alyse.
Edward menggeleng pelan.
“Kalau begitu, aku rasa tawaranku akan kau terima.” Lagi Alyse tersenyum, namun kali ini ruangan terasa hening. Semua berhenti berdansa, membiarkan Alyse dan Edward saling menatap satu sama lain dengan pancaran mata yang begitu tajam.
Musik kembali berbunyi, lagu kedua untuk dana waltz mulai mengiringi kembali. Edward menarik Alyse dengan erat, membuat tubuh perempuan itu bertabrakan dengan dadanya. Alyse menelan ludah samar, ia tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun, hanya Edward yang mampu membuatnya tidak tidak berpikir jernih.
“Aku ingin menjadi simpanamu,” ujar Alyse santai, meskipun jantungnya berdetak sangat cepat ketika mengucapkannya.
Edward terdiam sesaat, bahkan ia sadar ketika Alyse menginjak kakinya. Ia tidak langsung menatap Alyse, melainkan ke arah Momma yang sedang berdansa dengan Daddynya, lalu melihat Edric yang berdansa dengan seorang wanita. Edward menggeram karena Edric berbohong padanya, tapi saat ini bukan waktu yang tepat mengakhiri dansa tanpa meninggalkan malu. Ia kembali fokus pada Alyse yang menatapnya, mata hijaunya berbinar santai dan rasanya Edward ingin memukul kepala wanita itu dengan sendok atau kalau perlu dengan sepatu agar kembali semula.
“Aku yakin, kau tidak akan mau terikat sampai waktu yang tidak aku ketahui. Tapi aku yakin, kau sudah cukup lama menahan diri dari wanita yang menempel padamu. Apa kau malu dengan milikmu sampai menahan hingga kau menikah?” tanya Alyse polos, bahkan dengan sengaja menempelkan tubuhnya lebih dekat pada Edward, seakan menyodorkan tubuhnya untuk disentuh sang Earl.
Edward sangat sadar dengan benda kenyal yang sedang ia rasakan, ia menunduk dan melihat p******a Alyse yang menempel menantang. Oh jangan sekarang! Edward berusaha untuk terlihat tenang, ia menjauhkan diri dari Alyse. Menyuruh wanita itu berputar.
“Kau tidak mau terlihat kalah bukan jika menikah nanti? Kita bisa belajar berbagai cara s*x yang menyenangkan, My Lord.”
Rasanya Edward ingin mendorong Alyse sejauh mungkin atau menariknya ke dalam kamar. Tapi tidak keduanya. Ia memilih menahan sekuat tenaga untuk berpikir jernih, wanita ini benar-benar liar dan gila. Sejak kapan wanita menjadi dominan dan menyodorkan diri dengan sukarela?
“Kau sudah gila, Alyse.” Spontan Edward berkata seperti itu, ia tidak tahu lagi harus menjawab apa atas segala ucapan Alyse.
“Ah,” suara Alyse memelan. “Mungkin kau takut aku menjebakmu dengan hamil? Atau kau takut aku akan serius mengikatmu dalam komitmen? Atau juga kau memang pengecut?”
“Tidak ketiganya, Alyse,” jawab Edward cepat, matanya tajam dan tidak menyukai topik pembicaraan ini.
“Lalu? Apa yang membuatmu menolak tawaran indah ini? Kau takut aku tidak bisa memuaskamu? Aku bisa melakukan apapun yang kau suruh. Kau takut tempat tidurku terlalu kecil? Kita bisa menyewa hotel atau salah satu istanamu.” Alyse menjawab begitu santai, mematikan rasa malu yang sedang membengkak di dirinya. Dia benar-benar seperti jalang.
Namun tiba-tiba dansa berakhir, Edward dan Alyse melangkah mundur menjauh dari pasangan dansa. Mata mereka masih saling menatap dan tidak terputus, terlebih tatapan tajam yang sedang mematikan tatapan berbinar nakal yang dilakukan Alyse. Dansa waltz berakhir, dan saatnya makan malam untuk para tamu. Atau mungkin Edward lebih memilih untuk memaki Edric yang berbohong padanya. Tapi Edward tertarik dengan hal gila yang ditawarkan Alyse. Kenikmatan dunia yang selama ini ia tahan.
“Apa kau bersedia makan malam di sampingku?” tanya Edward tanpa menunjukan ekspresi apa yang ia rasakan.
“Tentu saja, My Lord,” jawab Alyse seraya menatap Lord Macht dengan mata indahnya dan senyum menggoda yang tak luntur sejak menggoda Edward. “Jika tidak, usahaku akan sia-sia untuk merayumu menerima tawaranku.”
Edward tersenyum tipis, mengulurkan lengannya yang langsung diapit oleh Alyse.
******
Alyse melihat meja kecil kosong dengan dua kursi saling berhadapan yang dirapatkan ke satu sisi ruang makan yang berada di ruang makan, matanya langsung berbinar senang. Ia menatap Earl of Benelux yang masih mengedarkan pandangan mencari meja kosong yang mungkin bisa mereka gunakan, meja yang pastinya penuh dengan bangsawan sombong. Tentu saja Alyse tidak mau bergabung, dia butuh tempat berdua dengan Earl of Benelux untuk melancarkan aksinya.
“Tempat itu kosong, bagaimana kalau kita di sana?”
Edward mengikuti arah telunjuk Alyse, sejak tadi ia melihat meja itu kosong dan sama sekali tidak berniat duduk di sana dengan Alyse. Tapi sepertinya meja para bangsawan yang berisi pebisnis sudah terisi penuh.
“Baiklah,” jawab Edward yang langsung menuntun Alyse menuju meja tersebut. Edward mempersilahkan wanita itu duduk dan pergi ke ruang makan yang berada di sebelah ruangan. Ini benar-benar bukan Edward, dia tidak pernah mau diperbudak wanita, termasuk mengambil makanan. Memang gentle seperti kata Earl of Brazilian, tapi ini bukan Edward sama sekali.
Edward merasa seperti terpengaruh sihir oleh Alyse, kemarin ia melihat wanita itu di dermaga dan menabraknya tanpa menatap matanya. Tapi sekarang, wanita itu dengan jujur ingin menjadi simpanannya, paling tidak teman kencan wanita itu. Rasanya sangat tidak masuk akal, wajah dan kelakuan Alyse bertolak belakang. Serendah itukah Princess Alyse selama ini? Tapi kenapa para teman pria Edward sangat sulit mendapatkan Princess Alyse?
“Edward,” panggilan itu membuat Edward menoleh, Putri Harper melangkah mendekatinya. “Oh puji syukur, kamu mau berdansa dan makan malam dengan Princess Alyse. Kamu memang pria penuh kejutan.”
“Ha?” Edward menatap Harper dengan sebelah alis terangkat.
“Aku melihat kamu begitu dekat dengan Princess Alyse saat dansa waltz dan sekarang kamu membawakan makan malam untuknya.”
Edward melirik dua piring di tangannya, melihat wajah bahagia Putri Harper membuat Edward mengerti. Mungkin dalam hati Mommanya itu, dia bersyukur karena pesta kali ini dia bisa berdansa dengan seorang wanita. Apakah itu tidak terlalu miris? Pria tampan dengan segala kesempurnaannya baru saja melakukan dansa waltz dengan wanita.
“Ya, dia berada di ruang sebelah. Mungkin kamu ingin bergabung, Mom?” tanya Edward.
Harper menggeleng cepat, ia menepuk pundak Edward. “Tidak, sayang, aku akan menjadi pengganggu kalian jika aku bergabung. Nikmati kebersamaanmu dengan Princess Alyse, dia sangat cantik.”
Edward mengangkat bahunya santai, ia kembali menuju ruangan sebelah di mana Alyse berada. Ia menatap wanita itu masih mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, namun ketika ia datang mata Alyse langsung tertuju pada Edward sampai dirinya duduk di depan Alyse. Edward memberikan piring satunya untuk Alyse, menatap wanita itu dengan santai.
“Aku harap kau menyukai sesuatu yang aku bawa,” kata Edward.
“Aku lebih menyukai yang membawanya, sangat menyukai.” Alyse menyunggingkan senyum menggodanya, matanya berbinar centil pada Edward.
Edward tidak tahu bagaimana menahan godaan yang dilakukan Alyse, dari banyak godaan yang sering ia terima, hanya Alyselah yang tidak mampu ia tahan. Bahkan ia membiarkan dirinya mengikuti rasa penasarannya pada wanita tersebut.
“Aku ya?” tanya Edward santai, dia mulai memotong makanannya. “Kurasa kau tidak akan menyukaiku, Princess. Aku sangat tidak ramah.”
Alyse terkekeh mendengarnya, ia menelan makanannya lalu menatap Edward. “Jika kau tidak ramah, kau tidak mungkin memperlakukanku begitu manis seperti ini, My Lord.”
“Hanya simbol hormat saya pada anda.” Edward menatap Alyse lurus, memberikan tatapan dingin yang sudah mendarah daging di tubuhnya.
“Oh ya?” tanya Alyse pelan. “Aku kira kau penasaran dan ingin menanyakan kelanjutan dari rayuanku.”
“Apa kau memiliki tugas ke sini? Apa kau butuh bantuan?” tanya Edward yang mengalihkan topik pembicaraan.
“Sedikit misi rahasia,” Alyse mendekatkan wajahnya pada Edward. “Yang tidak diketahui siapapun.”
Edward merasa merinding dengan helaan nafas Alyse di samping telinganya, bahkan ia berhenti memotong makanannya karena Alyse. “Kau mendekatiku untuk misi tersebut?”
Alyse mengangguk yakin, ia menenggak minumannya. “Kurang lebih.”
Tak ada lagi percakapan yang dilakukan keduanya, mereka sibuk menghabiskan makanan. Edward sibuk dengan pikirannya dan Alyse sibuk memuja keindahan di depan matanya. Edward bahkan tidak menyadari tatapan Alyse yang begitu intens dan merasa dunia hanya miliknya, hanya karena tawaran aneh yang menggiurkan bagi Edward. Mungkin jika ia menerima Princess Alyse sebagai simpanannya, dia tidak perlu khawatir tentang gairah yang selama ini tertahan karena akan tersalurkan bersama wanita tersebut. Tapi di dalam hati Edward, dia tidak ingin wanita seperti Alyse menjadi simpanan, sangat tidak cocok. Wanita itu cocoknya menjadi ratu yang pantas dipuja rakyat karena kecantikan dan keberaniannya, tapi Edward tidak dan belum mau mencari calon ratunya.
“Kau mau kukenalkan dengan keluargaku?” tanya Edward menatap Alyse setelah menutup makanannya. “Dengan dekat dan secara langsung.”
Alyse tersenyum dan mengangguk. “Dengan senang hati, My Lord, tapi aku rasa akan terasa aneh karena pasti banyak yang mengira aku calon istrimu.”
Edward tahu dan sejak tadi memikirkan itu, sejak dulu ia tidak pernah membawa wanita dan hanya Alyse yang ia kenalkan dengan tulus ke keluarganya. “Aku membawamu sebagai tamu kerajaan, bukan calon istriku.”
“Oh, kata-kata itu melukai hatiku, My Lord. Tapi aku memaafkanmu.” Alyse tersenyum tegar, ia menepuk pundak Edward beberapa kali dan mulai berdiri.
Edward tidak tahu apa yang dilakukannya benar atau salah, tapi yang pasti dia sangat mengutuk Edric yang sudah menjebaknya dalam situasi ini. Sebagai seorang Pangeran Muda ia harus bersikap ramah dan baik pada setiap tamu, bahkan sejak tadi Edward harus tersenyum kepada semua orang yang bertemu dengannya. Sangat melelahkan.
Tak lama keluar dari ruang makan, mereka sudah melihat beberapa pasangan yang kembali berkumpul. Edward mencari keberadaan keluarganya, ia melihat semua berada di ujung ruangan sedang berkumpul dan bercanda. Ia membimbing Alyse menuju keluarganya, memberikan senyuman pada bangsawan yang menyapanya.
“Alyse,” sapa Harper yang membuat ketiganya menoleh menatap Alyse dan Edward. “Kau bersama pria tepat malam ini.”
Alyse tersenyum melirik Edward, lalu tak lama seorang pria yang hampir mirip dengan Edward berdiri di hadapannya. “Maafkan saya karena tidak menepati janji berdansa dengan anda, Princess.”
Alyse menekuk lututnya, memberi hormat kepada mereka semua. “Tidak apa, Edric, bahkan aku tidak bisa membedakan kalian.” Ia melirik wajah Edward dan Edric bergantian.
“Aku tidak menyangka, kau mendapatkan gaun indah ini. siapa perancangnya?” tiba-tiba Eleazer datang, memuji gaun yang digunakan Alyse.
“Ini salah satu koleksi lamaku, perancang asli negeriku bernama Sergih,” jawab Alyse ramah pada Eleazer.
Edric mendorong Eleazer untuk menjauh, ia kembali mengambil perbincangan bersamaAlyse. “Sebagai permintaan maaf saya, maukah anda berdansa bersama saya?”
Alyse menetap Edric dengan menyesal. “Maafkan saya, Edric, tapi sepertinya saya akan segera pulang.”
Edric kecewa, ia melangkah mundur dengan senyuman tipis. “Biar saya mengantar anda sampai teras, Princess.”
“Tidak perlu, Edric, saya ke sini menggunakan taxi,” jawab Alyse.
Harper yang mendengar ucapan tersebut kembali mendorong Edric, mereka terlihat tidak sabar mengobrol dengan Princess Alyse sampai dorong-dorongan. Padahal mereka adalah bangsawan terkenal di negeri ini. Kelakuan yang ajaib.
“Aku yang akan mengantar, Princess Alyse.” Tiba-tiba Edward berucap yang membuat mereka menatap makhluk tanpa ekspresi generasi kedua dari Enrique.
Harper tersenyum lebar, Edric dan Eleazer saling pandang dengan mengirim sinyal dari tatapan mereka, sedangkan Enrique langsung memberikan kunci mobil pada Edward. Mereka tampak menduga dengan kelakuan Edward.
“Semoga malam kalian indah!” teriak Harper dengan senyum bahagia melihat kepergia Edward bersama Alyse. Sepertinya Harper sangat setuju dengan pilihan Edward, tapi ia tetap membiarkan Edward memilih calon ratunya.
Edric dan Eleazer menahan Harper, kedua alis mereka naik turun menatap Harper. Senyum puas dan kemenangan mereka ukir, Harper yang terharu sampai meneteskan air mata.
“Kalian memang anak Momma yang pinter, setidaknya Edward bisa menggandeng wanita di depanku dan tidak dicap homoseksual oleh para bangsawan sialan,” ujar Harper menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Edric dan Eleazer langsung memeluk Harper erat.
“Setidaknya aku bisa mendapat restu Momma untuk pernikahanku,” kata Edric.
“Aku tidak lagi dipaksa Momma menikah dengan Duke of Sheringford,” ujar Eleazer.
Harper langsung melepas pelukan kedua anaknya dengan kasar, wajahnya berubah marah. “Aku tetap tidak menyukai perempuan itu, Edric!” Harper menatap Edric lalu beralih pada Eleazer. “Dan kamu tetap menikah dengan Duke of Sheringford.”
Edric dan Eleazer menekuk bibirnya, membiarkan Harper pergi menyusul Enrique yang entah sejak kapan sudah berada di lantai dansa, menunggu istrinya.