Sabtu pagi, Sera bangun sebelum alarm berbunyi.
Kakinya masih terasa kaku ketika turun dari ranjang, tetapi tidak separah hari-hari sebelumnya. Ia bersiap perlahan dan memilih pakaian yang nyaman sebelum memeriksa tas.
Ada beberapa kebutuhan rumah singgah yang diminta Bu Ratih melalui Danu.
Tidak banyak.
Sera sengaja menahan diri agar kunjungannya tidak berubah menjadi kegiatan mengantar barang lalu pulang sebelum ada kesempatan duduk.
Di perjalanan menuju Bekasi, ia lebih banyak memandang keluar jendela.
Kendaraan yang dipesannya bergerak pelan di beberapa ruas jalan. Sera biasanya akan menggerutu karena waktu terbuang. Pagi itu ia justru menggunakan setiap jeda untuk menenangkan pikirannya.
Rumah Singgah Pelita tidak banyak berubah.
Cat pagar sudah diganti, tetapi pohon di sisi halaman masih berada di tempat yang sama. Ada sandal kecil berserakan dekat pintu dan suara televisi dari ruang tengah.
Bu Ratih muncul sebelum Sera selesai menurunkan barang.
“Kenapa tidak bilang sudah sampai?”
“Baru juga turun, Bu.”
Sera tersenyum, lalu menunduk mencium tangan perempuan itu.
Bu Ratih memegang pipinya sebentar.
“Kurus.”
“Sera baru beberapa hari susah gerak. Bukan puasa sebulan.”
“Mulutnya masih sama.”
“Syukurlah. Berarti tidak perlu dibawa ke bengkel.”
Bu Ratih tertawa dan mengajaknya masuk.
Dua anak berlari mendekat karena melihat kantong di tangan Sera. Seorang perempuan muda yang membantu di rumah itu segera mengingatkan agar mereka tidak berebut.
Sera duduk sebelum membuka kantong.
“Sabar. Kalau rebutan, yang dapat cuma bunyi plastik.”
Anak-anak tertawa meskipun belum tentu memahami maksudnya.
Bu Ratih mengambil barang yang dititipkan, lalu menyuruh Sera tetap duduk. Ia sudah melihat cara gadis itu mengubah posisi kaki agar lebih nyaman.
Tidak ada yang meminta Sera menjadi kuat di tempat ini.
Anehnya, justru hal itu yang sering membuatnya ingin cepat pergi.
Sera terbiasa menjadi orang yang membantu. Duduk dan menerima perhatian membuatnya teringat masa ketika ia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai balasan.
Bu Ratih datang membawa minuman.
“Keluarga tahu kamu ke sini?”
“Tahu Sera pergi. Belum bilang ke sini.”
Perempuan itu mengangguk, lalu duduk di kursi seberang.
“Mereka masih sering menanyakan tempat ini?”
“Sesekali.”
“Kamu boleh mengajak mereka.”
Sera memandangi gelas.
Ia tahu keluarga Gunawan tidak pernah melarangnya datang. Bahkan sejak awal mereka ingin membantu lebih banyak.
Namun, Sera sering menolak sebelum tawaran selesai disampaikan.
Ada bagian hidupnya yang ingin tetap dikerjakan sendiri karena terlalu takut seluruh kebaikan yang diterimanya berubah menjadi sesuatu yang semakin besar dan tidak sanggup dibalas.
“Jangan berpikir semua orang sedang menghitung pertolongan,” ujar Bu Ratih.
Sera mengangkat wajah.
“Ibu masih bisa membaca pikiran?”
“Tidak. Wajahmu dari dulu begitu kalau sedang keras kepala.”
Sera tersenyum tipis.
Ia menanyakan kabar penghuni rumah, lalu mendengarkan cerita Bu Ratih. Ada anak yang sudah kembali bersama keluarga, ada perempuan yang mulai bekerja, dan ada beberapa orang yang masih membutuhkan tempat aman untuk tinggal sementara.
Sera mengenal rasa canggung pada wajah seseorang yang baru datang.
Dulu ia juga duduk di sudut ruangan, menunggu pertanyaan yang ditakutinya.
Siapa orang tuamu.
Kenapa kamu tidak pulang.
Apa yang sebenarnya terjadi.
Bu Ratih tidak menanyakan semuanya sekaligus.
Perempuan itu pernah lebih dulu bertanya apakah Sera ingin makan.
Kenangan tersebut membuat Sera menunduk.
“Ibu ingat waktu Sera pertama kali datang?”
Bu Ratih memandangnya.
“Ingat.”
“Sera galak banget, ya?”
“Masih galak sekarang.”
Sera tertawa, tetapi matanya mulai terasa panas.
Bu Ratih mengulurkan tangan di atas meja.
“Kamu ketakutan waktu itu.”
Sera memandangi tangan tersebut sebelum menyambutnya.
Ada perbedaan besar antara disebut menyebalkan dan dipahami sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan.
Ia tidak selalu sanggup menerima perbedaan itu tanpa menangis.
Dari halaman terdengar suara anak-anak saling memanggil. Sera menarik napas, lalu perlahan melepaskan genggaman.
Ia belum datang untuk menceritakan semuanya.
Namun, setidaknya hari ini ia tidak langsung berdiri mencari alasan pulang.
Menjelang siang, Sera membantu memilah beberapa buku sambil duduk. Seorang anak perempuan menunjukkan buku bergambar dan meminta dibacakan.
Sera menuruti.
Ketika ia menirukan suara seekor kucing, anak itu justru mengernyit.
“Kucingnya sakit?”
“Enggak. Memangnya suara kakak jelek?”
Anak itu mengangguk tanpa ragu.
Sera menatap Bu Ratih yang sedang menahan tawa.
“Jujur sekali anak-anak sekarang.”
“Coba sekali lagi,” kata anak tersebut, sabar seperti sedang mengajari orang dewasa membaca.
Sera mengulangi suaranya. Kali ini dua anak lain ikut mendekat, menawarkan contoh mengeong yang menurut mereka lebih tepat. Ruangan kecil itu mendadak ramai.
Sera menyerah dan meminta mereka membagi peran. Ia cukup membacakan cerita, sementara ketiganya berebut menjadi kucing.
Selama beberapa halaman, ia lupa memeriksa jam. Kantong belanja yang tadi dibawanya sudah dipindahkan ke dapur, tidak lagi menjadi alasan utama orang-orang berkumpul di dekatnya.
Di tengah cerita, ponselnya bergetar.
Pesan Gio.
Hari ini masuk kerja lagi?
Sera memandang layar, lalu mengetik balasan.
Nggak. Lo bisa tenang, Galaxy Media masih berdiri tanpa gue sehari.
Balasan Gio datang cepat.
Bagus. Gue takut gedungnya ikut cedera kalau lo maksa terus.
Sera tertawa kecil.
Anak di sampingnya mendongak.
“Kakak kenapa?”
“Nggak. Ada orang ngomong aneh.”
Bu Ratih yang kebetulan lewat memperhatikan senyum di wajah Sera.
Setelah anak itu pergi membawa buku, perempuan tersebut duduk kembali.
“Raka?”
Sera menggeleng.
“Bukan.”
“Teman?”
“Iya. Nyebelin.”
“Kelihatannya kamu senang.”
Sera langsung mengunci ponsel.
“Ibu jangan mulai.”
Bu Ratih tersenyum tanpa melanjutkan pertanyaan.
Sera justru menjadi semakin gelisah karena tidak ada yang membantahnya.
Ia menatap layar ponsel yang gelap.
Gio belum mengetahui tempat ini.
Gio mengenalnya sebagai Sera Caitline Gunawan, keponakan Jouvan dan Jeremy, reporter yang berani berbicara dan tidak suka kalah.
Sera tidak yakin pria itu akan tetap melihatnya dengan cara yang sama jika mengetahui seluruh jalan yang membawanya menjadi orang tersebut.
“Kalau ada orang yang mau dekat,” ujar Bu Ratih perlahan, “kamu tidak harus langsung menceritakan semuanya. Tapi jangan memutuskan dia pasti pergi sebelum sempat mengenalmu.”
Sera mengangkat wajah.
“Ibu benar-benar bisa baca pikiran.”
“Tidak. Kamu saja yang terlalu sibuk menyembunyikannya.”
Sera mendesah, lalu tersenyum sedih.
Sebelum pulang, ia memeluk Bu Ratih lebih lama daripada biasanya.
Perempuan itu tidak bertanya kapan akan mendapat kiriman berikutnya.
Ia hanya meminta Sera datang lagi.
Dalam perjalanan pulang, Sera membuka pesan Gio yang belum dijawab.
Istirahat yang benar. Besok gue nggak mau dengar lo tumbang lagi.
Ia mengetik beberapa kata, menghapusnya, lalu memilih jawaban yang paling dikenalnya.
Lo lebih bawel daripada orang satu rumah.
Setelah mengirim, Sera menyandarkan kepala.
Ia belum siap membiarkan Gio mengetahui seluruh hidupnya.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia membayangkan bagaimana jika suatu hari dirinya berani mencoba.