Minggu sore, Gio masih berdiri di depan lemari ketika Santi mengetuk pintu kamarnya.
“Kamu jadi ikut?”
Gio menoleh sambil menarik kemeja dari gantungan.
“Jadi. Gio sudah ngomong sama Papa kemarin.”
Percakapan Jumat malam itu tidak berlangsung menyenangkan. Adam menganggap putranya terlalu banyak menduga, sementara Gio mengingatkan bahwa nama Levia terus disebut setiap kali ayahnya membicarakan makan malam tersebut.
Akhirnya Gio menyatakan akan datang sebagai anggota keluarga.
Tidak lebih.
“Papa bilang beliau paham?” tanya Santi.
“Papa bilang jangan mempermalukan beliau.”
Santi menghela napas.
“Berarti belum tentu paham.”
Gio tersenyum hambar.
Ibunya masuk, mengambil kemeja lain, lalu menyodorkannya.
“Pakai yang ini. Yang itu kusut.”
“Ma, ini makan malam atau inspeksi?”
“Kalau inspeksi, kamarmu sudah Mama tutup.”
Gio menerima kemeja tersebut.
Untuk beberapa saat Santi hanya memperhatikan putranya. Kemudian ia bertanya dengan nada lebih ringan.
“Sera sudah sehat?”
Tangan Gio berhenti pada kancing pertama.
“Sudah mendingan.”
“Kok Mama belum selesai tanya, kamu langsung tahu?”
“Pertanyaannya sudah selesai, Ma.”
Santi tertawa kecil.
“Besok-besok ajak makan ke rumah. Mama belum sempat ngobrol banyak.”
Gio memandangi ibunya melalui cermin.
“Dia sibuk.”
“Kamu belum mengajak.”
“Ma.”
“Iya, Mama keluar.”
Santi meninggalkan kamar dengan senyum yang membuat Gio merasa jawaban apa pun tidak akan menyelamatkannya.
Ponsel di atas tempat tidur menyala.
Pesan Sera berisi foto sepasang kaki bersandal, diluruskan di depan televisi.
Bukti gue istirahat. Jangan kirim surat teguran.
Gio tertawa sebelum sempat menahannya.
Ia mengetik balasan.
Bagus. Untuk pertama kalinya lo mengikuti petunjuk penggunaan badan.
Dasar nyebelin.
Gio masih tersenyum ketika memasukkan ponsel ke saku.
Di ruang tamu, Adam sudah menunggu.
Senyum itu perlahan menghilang.
***
Levia datang bersama orang tuanya tepat pukul tujuh.
Ia mengenakan gaun sederhana dan membawa makanan kesukaan Santi. Sikapnya sopan, suaranya lembut, seolah percakapan penolakan di kantor beberapa hari lalu tidak pernah terjadi.
Gio membantu mengambil bawaan dari tangan ayah Levia, lalu mempersilakan mereka duduk.
Gery dan Anya sudah lebih dulu datang.
Kehadiran kakaknya sedikit membuat Gio lega, sampai Gery membisikkan sesuatu ketika melewatinya.
“Mukamu kayak mau sidang.”
“Mas jangan mulai.”
“Belum. Baru pembukaan.”
Anya menyikut suaminya pelan.
Makan malam awalnya berjalan biasa. Adam dan Pak Sutidjo membicarakan pekerjaan, Santi menanyakan perjalanan, sementara Levia berusaha melibatkan Gio dalam cerita tentang teman-teman sekolah mereka.
Gio menjawab secukupnya.
Ia tidak ingin bersikap kasar, tetapi juga tidak ingin keramahan diterjemahkan menjadi sesuatu yang sudah ditolaknya.
“Dulu Gio paling susah kalau diajak foto,” kata Levia sambil tersenyum kepada Anya. “Harus dibujuk dulu.”
“Sekarang juga,” sahut Gery. “Kecuali buat administrasi.”
Gio melirik kakaknya.
“Mas puas?”
“Lumayan.”
Suasana mencair oleh tawa kecil.
Kemudian ibu Levia meletakkan sendok.
“Senang rasanya lihat kalian duduk sama-sama lagi. Dulu tante pikir tinggal menunggu kabar baik.”
Gerakan Gio terhenti.
Levia menunduk dengan senyum tipis.
Adam langsung menyambung, “Namanya juga anak muda. Kadang perlu waktu untuk sadar yang cocok itu sebenarnya—”
“Pa.”
Suara Gio tidak keras, tetapi cukup membuat pembicaraan berhenti.
Ia meletakkan alat makan, lalu menatap orang tua Levia.
“Maaf, Om, Tante. Saya senang bisa ketemu lagi. Tapi saya sama Levia belum kembali berhubungan.”
Keheningan turun di meja makan.
Di seberang, senyum Levia lenyap.
“Gio,” tegur Adam.
“Saya perlu menjelaskan supaya tidak ada yang salah paham.”
Pak Sutidjo memandang putrinya, kemudian berdeham.
“Kami memang belum mendengar langsung dari kamu.”
“Karena belum ada, Om.”
Gery mengambil gelas, memberi jeda sebelum berkata, “Untuk pembicaraan kerja sama, besok saya bisa kirim jadwal pertemuannya. Biar malam ini kita makan dengan tenang dulu.”
Santi segera menawarkan lauk kepada ibu Levia.
Percakapan bergerak kembali, meskipun terasa jauh lebih hati-hati.
Gio kehilangan selera makan.
Ia melihat mata Levia berkaca-kaca, tetapi kali ini tidak menarik kembali ucapannya.
Sesudah makan, Levia meminta berbicara di teras.
Gio mengikutinya setelah memastikan pintu ruang tamu tetap terbuka.
“Kamu harus ngomong seperti itu di depan semuanya?” tanya Levia.
“Aku sudah ngomong ke kamu sebelumnya.”
“Tapi Mama jadi malu.”
“Aku juga nggak mau mereka berharap karena mengira kita sepakat.”
Levia meremas jemarinya.
“Aku cuma bilang kita sudah mulai ngobrol lagi.”
“Ngobrol bukan berarti balikan.”
“Kamu dulu nggak sedingin ini.”
Gio menarik napas.
Ada masa ketika kalimat itu cukup membuatnya meminta maaf tanpa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Malam ini ia lebih dulu menatap wajah perempuan di depannya.
“Aku tetap mau menghargai kamu, Lev. Tapi aku nggak bisa memberikan jawaban yang kamu mau hanya supaya malam ini terasa enak.”
Levia memalingkan wajah.
“Karena Sera?”
Gio terdiam, lalu menggeleng pelan.
“Keputusan tentang kita sudah aku ambil sebelum aku dekat sama siapa pun.”
“Tapi sekarang kamu dekat sama dia.”
Gio tidak langsung menjawab.
Ia teringat foto sandal di depan televisi. Pesan pendek yang entah bagaimana membuatnya tersenyum lebih mudah daripada seluruh percakapan malam ini.
“Aku sedang mengenal dia,” katanya akhirnya.
Mata Levia kembali menatapnya.
Jawaban jujur itu ternyata lebih menyakitkan daripada penyangkalan yang sejak tadi diharapkannya.
Dari ruang tamu terdengar ibu Levia memanggil.
Levia mengusap sudut mata dengan cepat.
“Aku pulang.”
Gio mengangguk.
Ia mengantar sampai pintu, lalu kembali menghadapi Adam setelah kendaraan keluarga Sutidjo pergi.
“Kamu bisa membicarakannya lain kali,” kata ayahnya.
“Kalau tadi Gio diam, mereka pulang dengan kesimpulan yang salah.”
“Papa hanya ingin kamu mempertimbangkan.”
“Sudah, Pa.”
Adam memandangnya lama sebelum berbalik.
Gery menepuk lengan Gio saat hendak pulang. Kali ini tidak ada lelucon.
Santi mendekati Gio sebelum ia naik ke lantai atas.
“Makanmu tadi sedikit. Mau Mama hangatkan?”
Gio menggeleng.
“Nanti Gio ambil sendiri.”
Ibunya mengangguk, lalu merapikan kerah kemeja yang sebenarnya tidak berantakan.
“Besok bicara lagi sama Papa kalau suasananya sudah tenang.”
“Gio nggak bermaksud bikin beliau malu.”
“Mama tahu. Tapi beliau juga perlu waktu untuk mendengar tanpa merasa ditentang.”
Gio memandangi tangga. Ia sudah terlalu lelah untuk memperpanjang pembicaraan.
Santi menepuk pipinya sebentar.
“Kalau kamu sudah tahu tidak mau, jangan besok lusa berubah menghibur Levia dengan janji yang lain.”
Gio menatap ibunya, kemudian mengangguk. Nasihat itu terasa tepat mengenai kebiasaan yang selama ini selalu ia sebut rasa kasihan.
Di kamarnya, Gio duduk di tepi tempat tidur dan membuka percakapan Sera.
Ia ingin mendengar gadis itu mengomel tentang sesuatu yang tidak penting.
Namun, kalimat yang baru diucapkannya kepada Levia membuat jarinya berhenti.
Aku sedang mengenal dia.
Gio memandangi layar.
Sera juga sedang mengenalnya.
Sayangnya, ada sesuatu yang sengaja belum ia biarkan gadis itu ketahui.