Persidangan Darma dimulai dua bulan kemudian, di ruangan yang lebih besar daripada ruang sidang George karena jumlah wartawan yang mendaftar tidak tertampung di tempat biasa.
Jaksa membangun perkaranya lapis demi lapis. Bukti transaksi dari tujuh rekening perantara. Rekaman rapat keluarga. Pesan-pesan yang dikirim kepada pelaku sabotase, lengkap dengan jam pengirimannya. Kesaksian mantan pegawai Ardent Group yang satu per satu naik ke kursi saksi, sebagian dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Sanna menjadi saksi utama.
Ketika ia memasuki ruang sidang, Valeri hampir tidak mengenalinya. Perempuan itu tampak jauh berbeda dari Sanna yang dahulu datang ke kantor Jason dengan gaun mahal dan keyakinan bahwa semua orang akan menyingkir untuknya. Rambutnya disanggul sederhana. Ia berjalan sendirian, tanpa iring-iringan, tanpa siapa pun yang membukakan pintu untuknya.
Pengacara Darma tidak menyerang isi kesaksiannya. Ia menyerang orangnya.
"Anda kehilangan hak waris setelah menyerahkan dokumen itu, benar?"
"Benar."
"Dan pertunangan Anda batal beberapa waktu sebelumnya?"
"Benar."
"Jadi kita bicara tentang seorang keponakan yang kecewa, yang kehilangan segalanya, dan yang kini punya alasan sangat kuat untuk merusak nama pamannya sendiri."
Sanna mengangkat kepala. Suaranya rata, tidak keras dan tidak gemetar.
"Saya membenci perbuatannya. Perasaan saya tidak mengubah isi rekaman atau aliran uang di rekening itu."
"Apakah Anda membenci paman Anda?"
"Saya sudah menjawab pertanyaan itu. Silakan periksa rekamannya. Suara di sana bukan suara saya."
Hakim mengetuk pelan dan meminta pengacara melanjutkan.
Pengacara itu mencoba dua kali lagi dari sudut berbeda. Ia menanyakan apakah Sanna pernah berbohong kepada keluarganya, apakah ia pernah membocorkan informasi kepada pihak lain, apakah ia sadar bahwa merekam rapat tanpa izin bisa dipersoalkan.
Sanna menjawab semuanya. Ya, ia pernah berbohong. Ya, ia pernah membocorkan jadwal seseorang dan sudah mengakuinya di pengadilan lain. Ya, ia sadar.
"Saya bukan orang baik," katanya pada akhirnya. "Saya saksi. Dua hal itu tidak harus sama."
Valeri sendiri tidak mendengarnya langsung; saksi dilarang berada di dalam sebelum gilirannya. Pengacaranya yang menceritakan kalimat itu di koridor, dan Valeri harus menarik napas sebentar sebelum masuk.
Ia naik sebagai saksi berikutnya. Ia menjelaskan ancaman di apartemennya, kotak perkakas berisi kamera, sabotase di Bali, serta tekanan yang diterimanya selama berbulan-bulan. Ia menyebutkan tanggal dan nama dengan tenang, karena ia sudah mengulangnya bersama pengacaranya sampai hafal.
Pengacara Darma mengubah arah serangannya.
"Apakah benar Anda akan menikahi CEO JYS Corp?"
"Benar."
"Maka keuntungan JYS Corp juga menguntungkan Anda."
"Status pribadi saya tidak membuat kamera tersembunyi muncul di dalam kotak perkakas di depan pintu apartemen saya," kata Valeri. "Dan status pribadi saya tidak menulis pesan di telepon terdakwa."
"Saya hanya menunjukkan bahwa saksi punya kepentingan."
"Saya punya kepentingan untuk tidur tanpa memeriksa lorong tiga kali semalam. Itu memang benar."
Hakim meminta pengacara kembali pada bukti perkara.
Di luar ruang sidang, Jason menunggu di kursi panjang dekat jendela. Ia tidak masuk karena akan memberikan kesaksiannya pada hari lain, dan hakim melarang saksi mendengar kesaksian saksi lain.
Begitu Valeri keluar, ia berdiri.
Ia tidak bertanya apa yang terjadi di dalam. Ia tidak bertanya apakah pengacara itu kurang ajar atau apakah Valeri menjawab dengan baik. Ia hanya memandangi tangan Valeri yang dingin dan terkepal.
"Kau ingin dipeluk?" tanyanya.
Valeri mengangguk.
Jason memeluknya di koridor pengadilan yang berbau pengharum lantai dan kertas tua. Beberapa orang lewat, seseorang berdeham, dan tidak satu pun dari mereka peduli. Mereka berdiri seperti itu sampai napas Valeri kembali teratur.
"Aku ingin pulang," gumam Valeri di bahunya.
"Aku juga. Tapi kau harus makan dulu."
"Kau terdengar seperti ibuku."
"Ibumu yang menyuruhku bilang begitu. Pesannya masuk sepuluh menit lalu. Ada tiga pesan lagi, semuanya tentang makanan."
Valeri tertawa lemah di bahunya. Tawa itu pendek, tetapi cukup untuk membuat tangannya berhenti dingin.
Persidangan berlangsung berminggu-minggu. Saksi datang dan pergi, bukti bertambah, dan halaman depan koran lama-lama berpindah ke berita lain.
Ibu Sanna akhirnya memberikan kesaksian terakhir.
Ia mengaku mengetahui rencana menjatuhkan JYS Corp. Ia hadir di rapat itu, mendengar semuanya, dan memilih diam karena takut kehilangan keluarga serta kehidupan yang selama ini dinikmatinya. Ia mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil menatap meja, tidak sekali pun menoleh ke belakang.
Sanna duduk di barisan pengunjung dan tidak menatap ibunya sepanjang kesaksian dibacakan. Punggungnya tegak. Tangannya diletakkan rapi di pangkuan.
Mereka bertemu di koridor setelah sidang ditutup.
"Maafkan Ibu," ucap wanita itu.
Sanna diam beberapa saat. Ada banyak hal yang bisa ia katakan, dan Valeri yang berdiri agak jauh bisa melihat perempuan itu memilih dengan hati-hati.
"Aku belum bisa," jawabnya akhirnya. "Tapi aku mendengar permintaan maaf Ibu."
Ibunya mengangguk, menangis tanpa suara, lalu pergi didampingi pengacaranya. Sanna tetap berdiri di tempatnya sampai sosok itu hilang di ujung koridor, baru kemudian bahunya turun sedikit.
Itu bukan menyelesaikan hubungan mereka, tetapi menjadi awal yang lebih jujur daripada kepura-puraan selama bertahun-tahun.
Hari pembacaan putusan tiba pada Kamis pagi yang mendung.
Darma dinyatakan bersalah atas penyuapan, sabotase, penguntitan terencana, dan perintangan penyidikan. Hakim menjatuhkan hukuman penjara serta mewajibkannya membayar ganti rugi kepada masyarakat Bali dan pihak-pihak lain yang dirugikan, termasuk biaya pemulihan saluran air yang sempat dirusak.
Darma tidak menoleh ke arah siapa pun ketika dibawa keluar. Ia tetap memandang lurus ke depan, dagunya terangkat, seolah sedang berjalan keluar dari sebuah rapat yang membosankan.
Di tangga pengadilan, wartawan meminta komentar Valeri.
"Putusan ini bukan kemenangan satu perusahaan atas perusahaan lain," katanya. "Kalau dibaca begitu, kita melewatkan bagian pentingnya. Ini pengingat bahwa kekuasaan tidak boleh membeli rasa takut dan mengubahnya menjadi diam."
"Apa pesan Anda untuk keluarga terdakwa?"
Valeri berpikir sebentar. "Tidak ada. Saya bukan orang yang berhak bicara kepada mereka."
Sanna keluar beberapa menit kemudian, memakai mantel abu-abu, langkahnya lambat seperti orang yang baru selesai berlari jauh.
Valeri menunggunya di ujung tangga.
Mereka berdiri berdampingan sebentar tanpa bicara. Kamera menyala di bawah sana, tetapi jarak mereka dengan kerumunan cukup jauh.
"Sudah selesai?" tanya Sanna.
"Untuk perkaranya, sudah."
"Untuk yang lain?"
"Belum," kata Valeri. "Tidak apa-apa."
Sanna mengangguk pelan. "Aku akan pindah kota setelah ini. Program perlindungan saksinya berakhir bulan depan dan aku tidak mau tinggal di tempat semua orang tahu nama belakangku."
"Kabari kalau sudah sampai."
Sanna menoleh, sedikit terkejut. "Kau ingin dikabari?"
"Aku ingin tahu kau selamat," kata Valeri. "Itu berbeda dengan berteman. Tapi itu bukan nol."
Untuk pertama kalinya, Valeri berdiri di samping perempuan itu bukan sebagai sahabat dan bukan pula sebagai musuh. Mereka hanyalah dua perempuan yang pernah dijadikan alat oleh orang lain dan akhirnya memilih berbicara.