Perkara Darma selesai pada awal musim hujan, dan surat itu datang tiga minggu sesudahnya.
Amplopnya biasa saja, dikirim dari kantor komite independen, bukan dari ruangan Jason. Isinya tawaran memimpin kantor kemitraan regional di Singapura selama satu tahun. Tugasnya memperluas model proyek berbasis masyarakat ke beberapa negara Asia Tenggara: memilih mitra, menyusun kontrak, dan memastikan warga setempat mendapat akses terhadap dokumen sejak hari pertama, persis seperti yang berhasil di Bali.
Semua orang menganggap Valeri akan langsung senang.
Ia justru menyimpan surat itu di laci selama dua hari sebelum membicarakannya dengan siapa pun.
Bukan karena ragu pada pekerjaannya. Ia membaca lampirannya sampai halaman terakhir dan sudah menyusun tiga nama mitra di kepalanya sebelum sampai ke paragraf penutup. Yang membuatnya menutup laci adalah kalimat yang muncul sesudahnya, kalimat yang datang sendiri tanpa diundang: kalau aku pergi, apa jadinya yang baru saja kami bangun?
Ia benci kalimat itu. Ia benci bahwa kalimat itu muncul di kepalanya lebih dulu daripada di kepala Jason.
Jason menemukannya pada malam ketiga, ketika Valeri meninggalkannya di meja makan tanpa sengaja — atau mungkin bukan tanpa sengaja. Ia membacanya berdiri, dua kali, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati.
"Kau ingin pergi," katanya.
"Aku ingin menerima pekerjaannya." Valeri menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi aku juga baru menerima lamaranmu."
"Keduanya tidak harus saling menghapus."
"Kau mengucapkannya terlalu cepat."
Jason duduk di seberangnya. "Aku sudah memikirkannya sejak tiga hari lalu."
"Tiga hari lalu aku belum memberitahumu."
"Bagian legal menyebut namamu di rapat. Aku tahu dan aku menunggu kau yang bicara duluan." Ia mengangkat tangannya sebelum Valeri sempat protes. "Aku menunggu. Itu bagian yang seharusnya kau puji."
Meski jawabannya terdengar mudah, kehidupan jarak jauh tidak pernah sederhana. Jason tidak dapat meninggalkan kantor pusat di tengah reformasi tata kelola yang baru berjalan setahun. Valeri harus berada di Singapura hampir sepanjang minggu, dengan perjalanan ke tiga negara lain setiap bulan.
Mereka membawa persoalan itu ke konseling dan diminta menuliskan ketakutan masing-masing, seperti biasa.
Jason menulis bahwa ia khawatir jarak akan membuatnya kembali mencoba mengendalikan jadwal Valeri — menelepon terlalu sering, meminta lokasi, menaruh orang di sekitarnya tanpa memberi tahu.
Valeri menulis bahwa ia khawatir menolak kesempatan itu hanya supaya pertunangan mereka terlihat sempurna dari luar.
"Kalau kau menolaknya karena aku," kata Jason setelah membaca, "suatu hari kau mungkin membenciku. Dan kau tidak akan tahu kapan itu mulai."
"Kalau aku menerimanya tanpa membicarakan dampaknya, kau juga berhak kecewa," balas Valeri. "Aku tidak mau memakai kebebasanku sebagai alasan untuk tidak berunding."
Mereka menyepakati masa percobaan enam bulan dengan aturan yang ditulis, bukan sekadar disepakati lisan. Tidak ada kewajiban menjawab pesan ketika salah satu sedang rapat. Tidak ada pelacakan lokasi dalam bentuk apa pun. Jadwal kunjungan dibuat bergantian supaya beban perjalanan tidak jatuh pada satu orang. Dan pernikahan akan direncanakan setelah keduanya memahami ritme baru itu.
Ketika Valeri mengumumkan keputusannya, sebagian media menulis bahwa pertunangan mereka sedang bermasalah. Ada yang memasang foto lama keduanya dengan keterangan "retak?" dan tanda tanya besar.
Jason ditanya soal itu dalam sebuah konferensi bisnis, di sela sesi tanya jawab tentang laporan kuartal.
"Apakah benar calon istri Anda melarikan diri dari Anda?"
Jason meletakkan mikrofonnya sebentar, lalu mengangkatnya lagi.
"Valeri pergi untuk memimpin kantor regional kami di Singapura," jawabnya. "Perempuan yang memiliki tujuan bukan perempuan yang melarikan diri. Pertanyaan berikutnya."
Potongan video itu tersebar lebih luas daripada seluruh laporan kuartalnya. Alena mengirimkannya kepada Valeri lima kali dari lima akun berbeda.
"Dia bicara begitu tanpa persiapan?" tanya Alena lewat telepon.
"Kurasa iya."
"Kalau dia menghafalnya semalam, itu lebih manis lagi."
"Jangan bilang begitu di depannya. Kepalanya sudah cukup besar."
Hari keberangkatan tiba pada Sabtu pagi yang cerah.
Alena menangis paling keras di antara semua orang, padahal ia sendiri sudah memesan tiket untuk berkunjung bulan depan. Orang tua Valeri membawa makanan dalam jumlah yang jelas melanggar batas bagasi; ibunya bersikeras bahwa rendang buatan sendiri wajib dibawa, dan ayahnya sibuk mencari cara membungkusnya supaya tidak bocor.
Jason memeriksa paspor Valeri tiga kali.
"Boss."
"Sekali lagi."
"Kau sudah memeriksa tanggal berlakunya dua kali dan visanya sekali."
"Aku memeriksa fotonya."
Valeri merebut paspor itu dari tangannya dan memasukkannya ke tas. Jason menyerah, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.
Sebuah kunci kecil.
"Apa ini?"
"Kunci apartemenku. Yang di pusat kota, bukan mansion." Ia menyerahkannya dengan telapak terbuka, tidak memaksakan ke tangan Valeri. "Bukan perintah untuk pindah. Bukan pula tanda supaya kau merasa harus pulang ke situ. Aku ingin kau memilikinya karena kau sudah siap menerima, bukan karena aku ingin memastikan kau kembali."
Valeri memandang kunci itu lama.
Dua tahun lalu, benda seperti ini akan membuat dadanya sesak. Kunci berarti kewajiban, berarti pintu yang dipegang orang lain, berarti seseorang tahu di mana ia tidur setiap malam.
Kali ini ia mengambilnya dan memasukkannya ke saku depan tasnya.
Lalu ia membuka dompetnya sendiri, melepas satu kunci dari gantungannya, dan menyerahkannya kepada Jason.
"Aturannya sama," katanya. "Kau boleh masuk. Kau tetap mengetuk."
Jason menggenggam kunci itu dengan kedua tangan seperti sedang menerima sesuatu yang mudah pecah.
"Aku mengetuk," katanya. "Selalu."
"Aku tahu. Kau sudah membuktikannya berkali-kali."
"Aku cuma ingin mendengar diriku sendiri mengatakannya keras-keras."
Mereka berpelukan di depan gerbang keberangkatan, lama, sampai petugas mengumumkan panggilan terakhir untuk penerbangannya.
Tidak ada janji untuk tidak berubah. Tidak ada sumpah bahwa perasaan mereka akan sama persis enam bulan lagi. Justru mereka berjanji untuk saling memberi tahu apabila perubahan itu datang, sebelum perubahan itu sempat menjadi rahasia.
"Kalau kau berubah pikiran soal semuanya," bisik Jason, "aku ingin mendengarnya darimu."
"Kau akan mendengarnya dariku."
Valeri melewati gerbang tanpa menoleh terlalu sering, karena ia tahu kalau menoleh lebih dari dua kali ia akan menangis di depan petugas imigrasi.
Saat pesawat lepas landas, ia menempelkan kening ke jendela dan melihat kota mengecil di bawah awan. Atap-atap berubah menjadi kotak kecil, jalan berubah menjadi garis, lalu semuanya tertutup putih.
Dahulu jarak selalu terasa seperti kehilangan. Ia mengenal jarak sebagai orang tua yang tidak pernah datang, sebagai teman yang pergi dari panti, sebagai pintu yang ditutup dari luar.
Kini jarak menjadi ruang tempat dua orang dapat bertumbuh tanpa berhenti memilih satu sama lain.