Bulan pertama berjalan jauh lebih sulit daripada rencana yang mereka tulis rapi di ruang konseling.
Valeri tenggelam dalam pekerjaan sejak minggu kedua. Kantor regional itu baru berdiri, staf-nya belum lengkap, dan tiga calon mitra menuntut jawaban di hari yang sama. Ia sering pulang ke apartemen sewaan di lantai sebelas pada pukul sebelas malam, makan sambil berdiri di dapur, lalu tertidur dengan laptop masih terbuka.
Jason di sisi lain beberapa kali menelepon ketika rapatnya sendiri belum selesai, suaranya buru-buru, dan pembicaraan mereka putus di tengah kalimat. Dua kali mereka membatalkan jadwal kunjungan: sekali karena audit mendadak di kantor pusat, sekali lagi karena negosiasi di Manila molor tiga hari.
Pertengkaran pertama terjadi pada malam Kamis, melalui panggilan video.
"Kau bahkan tidak memberi kabar selama sembilan jam," kata Jason. Wajahnya di layar terlihat lelah dan keras sekaligus.
"Aku sudah mengatakan ada negosiasi sepanjang hari."
"Satu pesan membutuhkan waktu sepuluh detik, Valeri."
Valeri menutup mata sebentar. Ia merasakan sesuatu yang lama muncul lagi di dadanya — rasa harus melapor, rasa bahwa keberadaannya adalah kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan tiap jam.
Dulu ia akan minta maaf. Malam itu ia tidak.
"Jason," katanya pelan, "kau sedang khawatir atau sedang menuntut laporan?"
Jason terdiam.
Layar itu diam cukup lama sampai Valeri sempat berpikir sambungannya terputus. Dahulu, lelaki itu akan menjawab dengan kemarahan, dengan kalimat yang dibungkus perhatian tetapi berujung pada aturan baru. Kali ini ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
"Ada berita kecelakaan di Singapura siang tadi," katanya akhirnya. "Aku membacanya di sela rapat. Lokasinya dekat kantormu."
"Astaga, Jason."
"Aku menelepon tiga kali, tidak diangkat. Aku tidak bisa bertanya kepada siapa pun karena aku tidak punya nomor stafmu." Ia menarik napas. "Aku takut. Lalu aku mengubah ketakutan itu menjadi hak untuk mengaturmu. Itu yang barusan kulakukan dan aku tahu itu."
Valeri merasakan amarahnya mengempis, meski tidak hilang.
"Aku mengerti kau takut," katanya. "Aku sungguh mengerti. Tapi aku tidak selalu bisa menenangkanmu saat sedang bekerja. Kalau setiap kali kau panik aku harus berhenti di tengah negosiasi, lama-lama aku akan mulai menyembunyikan jadwalku supaya tidak ditanya. Dan kita berdua tahu ke mana itu bermuara."
"Aku tahu," kata Jason. "Aku tidak mau ke sana lagi."
Mereka menghentikan perdebatan malam itu dan menjadwalkan pembicaraan lanjutan setelah sama-sama tidur. Itu sendiri kemajuan; setahun lalu, keduanya akan meneruskan sampai pukul tiga pagi dan merusak dua hari sesudahnya.
Keesokan harinya mereka menyepakati sistem kabar darurat. Kalau terjadi sesuatu pada Valeri, staf kantor regional akan menghubungi daftar kontak yang sudah ditulis dan ditempel di dalam lemari arsip: orang tuanya, Alena, dan Jason. Tiga nama, bukan satu.
"Kenapa aku nomor tiga?" protes Jason.
"Urutannya berdasarkan abjad."
"Alena dimulai dengan A."
"Nah."
"Valeri."
"Boss," kata Valeri, "kau bukan nomor tiga. Kau cuma bukan satu-satunya. Dulu kau satu-satunya, dan itu bukan hal romantis. Itu berbahaya untuk kita berdua."
Jason diam sebentar di ujung sambungan. "Aku tidak suka ini."
"Aku tahu."
"Tapi aku setuju."
Masalah berikutnya justru datang dari pekerjaan.
Salah satu mitra potensial di Kuala Lumpur menolak melanjutkan negosiasi dengan Valeri. Ia tidak mengatakannya terang-terangan pada awalnya; ia hanya terus menoleh ke arah staf laki-laki di sebelah Valeri setiap kali menjawab. Pada pertemuan kedua, ia akhirnya berkata terus terang bahwa ia ingin berbicara dengan "pria yang punya keputusan sebenarnya".
Valeri menutup mapnya.
"Kalau begitu pertemuan ini selesai," katanya. "Terima kasih atas waktunya."
Ia keluar dari ruangan dengan langkah yang ia atur sendiri, tidak cepat dan tidak lambat, persis seperti ketika ia berjalan ke kursi saksi dulu.
Sore itu juga ia melaporkan perlakuan tersebut kepada komite, lengkap dengan catatan waktu, nama saksi, dan kalimat persis yang diucapkan mitra tersebut.
"Kita kehilangan mitra besar," kata salah satu stafnya, hati-hati.
"Kita kehilangan mitra yang menganggap separuh tim ini tidak ada," jawab Valeri. "Itu bukan kehilangan yang sama."
Jason mendengar kabar itu dari laporan rutin perusahaan, bukan dari Valeri. Tangannya sudah di atas ponsel, nama mitra itu sudah muncul di layar, ketika ia menaruhnya kembali.
Malamnya ia menelepon.
"Apa yang kau butuhkan dariku?" tanyanya.
Valeri terdiam sebentar, terkejut oleh pertanyaan itu.
"Dengarkan aku mengeluh selama lima menit," katanya. "Jangan menawarkan apa-apa. Setelah itu ceritakan sesuatu yang lucu."
"Baik."
Valeri mengeluh selama tujuh menit, bukan lima. Ia menceritakan bagaimana rasanya duduk di ruangan itu dan menjadi kursi kosong, bagaimana stafnya sendiri kebingungan, dan bagaimana ia harus berjalan ke lift dengan punggung tegak padahal tangannya bergetar.
Jason mendengarkan sampai habis tanpa satu pun kalimat "seharusnya kau" atau "biar aku yang".
Lalu ia berdeham.
"Hari Selasa aku mengunci dasiku di dalam laci meja."
"Apa maksudnya mengunci dasi?"
"Ujungnya terjepit waktu aku menutup laci, dan aku sedang terburu-buru, dan kuncinya ada di ruang sekretaris yang sedang rapat. Aku berdiri membungkuk di depan meja selama sebelas menit."
"Kau berdiri membungkuk."
"Ada dua orang masuk. Aku bilang sedang meregangkan punggung."
Valeri tertawa sampai perutnya sakit, sampai rasa kesalnya benar-benar mereda, sampai ia sadar ia belum tertawa seperti itu selama dua minggu.
Pada bulan keempat, kantor regional itu menandatangani kesepakatan besar dengan koperasi perempuan di tiga negara sekaligus. Kontraknya memuat pasal akses dokumen yang sama seperti di Bali, dan keberhasilan itu tercatat sepenuhnya sebagai pencapaian tim Valeri di laporan perusahaan.
Jason terbang ke Singapura untuk merayakan.
Di acara penandatanganan, ia duduk di deretan paling belakang seperti tamu biasa. Panitia mengenalinya dan mengundangnya naik ke panggung untuk berfoto. Ia menolak dengan sopan.
"Hari ini bukan acaraku," katanya.
Malamnya mereka makan di kedai sederhana dekat apartemen Valeri, di meja plastik dengan kipas angin berputar di sudut. Jason menghabiskan dua mangkuk dan mengaku sesuatu di tengah suapan terakhir.
"Aku sempat mempertimbangkan membeli restoran ini."
"Kenapa?"
"Supaya kita selalu dapat meja terbaik."
"Lalu?"
"Lalu aku ingat konselor kita mungkin akan menyebutnya respons berlebihan."
Valeri menunjuknya dengan sumpit. "Kemajuan besar, Boss."
"Aku tetap mencatat nomor telepon pemiliknya."
"Kemajuan sedang, kalau begitu."
Jarak belum menjadi mudah. Masih ada malam-malam ketika apartemen itu terlalu sunyi, ketika panggilan video terasa seperti versi tipis dari seseorang, ketika Valeri menatap kunci apartemen Jason di laci nakas dan menghitung berapa hari lagi sampai ia bisa memakainya.
Namun mereka mulai memahami bahwa kejujuran bukan sekadar mengatakan cinta. Kejujuran juga berarti mengakui rasa takut sebelum rasa takut berubah menjadi kendali.