Enam bulan masa percobaan berakhir pada hari Jumat yang panas, dan angka di layar ruang rapat membuat komite terdiam lebih lama daripada biasanya. Kantor regional tidak sekadar mencapai target. Ia melewatinya dengan selisih yang harus dibacakan dua kali supaya semua orang di meja itu percaya.
"Kami ingin memperpanjang tugasmu," kata ketua komite. "Dua tahun. Anggaran ditambah, wewenang ditambah."
Valeri menutup map di depannya. "Terima kasih. Tapi saya menolak perpanjangan itu."
Beberapa orang di ujung meja saling pandang.
"Kau sadar berapa banyak orang yang mengantre untuk kursi ini?"
"Sadar," jawab Valeri. "Justru karena itu saya tidak mau mendudukinya terlalu lama."
Ia menjelaskan rencananya dengan tenang: dua bulan masa transisi, prosedur kerja yang ditulis rapi sampai hal terkecil, dan tim lokal yang memimpin sendiri setelah ia pergi. Komite meminta waktu seminggu untuk berpikir. Mereka menyetujuinya dalam tiga hari, tanpa satu pun panggilan telepon dari Jason.
Sore itu Valeri mengumpulkan seluruh staf di ruang tengah yang biasa dipakai makan siang. Ada yang datang membawa gelas kopi, ada yang berdiri bersandar di dinding. Beberapa wajah terlihat cemas, seolah menunggu kabar buruk.
"Aku tidak pulang karena gagal atau karena Jason," katanya kepada staf. "Aku pulang karena tugas awalku adalah membuat kantor ini tidak bergantung pada satu orang, termasuk diriku."
Ruangan hening sebentar. Lalu seseorang bertanya, pelan, "Siapa yang akan menggantikan Anda?"
Valeri menoleh ke wakilnya, perempuan yang selama enam bulan terakhir selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. "Dia. Kalau dia mau."
Wakilnya nyaris menjatuhkan gelas.
Masa transisi berjalan dua bulan. Valeri sengaja duduk di kursi paling belakang saat rapat mitra, membiarkan penggantinya yang bicara, dan hanya menulis catatan kecil untuk dibahas setelah semua orang pulang. Pada minggu terakhir, ia bahkan tidak diminta memberi pendapat lagi. Itu terasa seperti kehilangan, dan sekaligus seperti kemenangan.
Ketika akhirnya kembali, Valeri tidak langsung pindah ke mansion. Jason menjemputnya di bandara dengan mobil yang ia kemudikan sendiri, tanpa sopir, tanpa barisan pengawal.
"Kamarmu masih ada," kata Jason di perjalanan. Ia buru-buru menambahkan, "Itu bukan tawaran terselubung."
"Aku tahu."
"Aku hanya menyebut fakta."
Valeri tersenyum ke jendela. Jason tidak menganggap pertunangan sebagai izin otomatis untuk tinggal bersama, dan itu hal kecil yang justru membuat dadanya hangat.
Mereka memutuskan mencari rumah baru. Bukan mansion dengan lorong sepanjang koridor hotel, bukan pula apartemen lama yang masih menyimpan bayangan malam-malam ketika Valeri tidur dengan kursi menahan gagang pintu. Mereka ingin bangunan yang tidak menyimpan kenangan buruk bagi keduanya.
Agen properti membawa mereka ke tujuh rumah dalam tiga akhir pekan. Yang pertama terlalu besar. Yang kedua punya gerbang berlapis dan kamera di setiap sudut; Valeri berhenti di halaman dan berkata, "Aku tidak mau tinggal di tempat yang terasa seperti kantor polisi."
Rumah ketujuh berukuran sedang, dengan halaman kecil yang rumputnya agak tinggi. Valeri langsung menyukai jendela dapurnya—lebar, menghadap timur, membuat seluruh ruangan berwarna kuning pada pukul tujuh pagi. Jason berdiri lama di ruangan belakang yang menghadap taman.
"Ini bisa jadi ruang kerja," katanya.
"Kau belum melihat kamar mandinya."
"Aku tidak butuh kamar mandi. Aku butuh jendela ini."
Mereka membeli rumah itu. Perdebatan justru muncul setelahnya, saat membahas kepemilikan.
"Aku yang bayar semuanya," kata Jason. "Itu sederhana."
"Itu tidak sederhana."
"Valeri, aku punya uangnya."
"Dan aku punya alasan," jawabnya. "Kalau suatu hari kita bertengkar hebat, aku tidak mau berdiri di ruang tamu dan berpikir bahwa lantai yang kupijak bukan milikku."
Jason terdiam lama. Ia tidak marah, tetapi rahangnya mengeras seperti orang yang sedang menelan sesuatu yang pahit.
Mereka berkonsultasi dengan pengacara masing-masing. Ada dua kali pertemuan, tiga draf, dan satu perdebatan tentang kata "kontribusi". Akhirnya lahir perjanjian yang mencatat setoran serta hak kedua pihak secara adil, lengkap dengan skema jika salah satu pindah, sakit, atau meninggal.
Malam setelah menandatangani, Jason meletakkan salinan dokumen di meja dan menatapnya seperti benda asing.
"Rasanya aneh," katanya. "Kita baru saja mengubah rumah menjadi pasal."
"Kau kecewa?"
"Aku merasa cinta jadi terdengar dingin."
"Justru karena kita saling mencintai, kita harus bisa membahas hal yang tidak romantis," kata Valeri. "Orang yang tidak berani membicarakan uang biasanya berakhir saling menyakiti karena uang."
Jason menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. "Kau selalu punya kalimat yang membuatku kalah."
"Jadi?"
"Jadi aku setuju."
Hari pertama menempati rumah itu ramai sejak pagi. Alena datang membawa tanaman baru dalam pot tanah liat yang jelas lebih besar daripada pemberian Ethan dulu, dan ia memastikan semua orang tahu.
"Ini bukan kompetisi," kata Valeri.
"Tentu bukan," jawab Alena. "Aku cuma menang."
Orang tua Valeri datang membawa dua kardus belanjaan dan memenuhi lemari es sampai pintunya sulit ditutup. Ibunya memeriksa setiap laci dapur, menggerutu karena tidak menemukan saringan teh, lalu berjanji mengirimkannya besok. Sanna mengirim sebuah vas tanpa kartu panjang—hanya ucapan selamat, satu baris, tanpa penjelasan apa pun. Valeri menaruhnya di meja dekat pintu dan membiarkannya di sana.
Menjelang malam, rumah kembali sepi. Suara terakhir yang terdengar adalah mesin mobil Alena yang menjauh di ujung jalan. Jason dan Valeri duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi kotak-kotak yang belum dibuka, memakan mi instan dari mangkuk yang belum sempat dicuci sejak dibeli.
"Kita belum menentukan tanggal pernikahan," kata Jason.
"Aku tahu."
"Aku hanya mengingatkan dengan sangat tenang."
Valeri menatapnya. "Kau sudah menyiapkan tiga tanggal di kepalamu, kan?"
"Empat."
Ia tertawa, lalu membuka kalender di ponselnya. Mereka menelusuri bulan demi bulan bukan berdasarkan jadwal media, bukan berdasarkan laporan kuartal perusahaan, melainkan berdasarkan kapan anak-anak panti libur sekolah dan kapan ayah Valeri selesai menjalani pemeriksaan rutin.
Mereka memilih tanggal enam bulan kemudian. Upacaranya sederhana, di halaman panti, bersama keluarga, sahabat, dan anak-anak yang dahulu menjadi saksi lamaran.
Sebelum tidur, mereka berdiri di depan pintu utama. Udara di luar bau tanah basah. Jason memegang satu kunci dan Valeri memegang kunci lainnya.
"Tidak ada yang menjadi tamu di rumah ini," kata Valeri.
"Dan tidak ada yang menjadi pemilik atas hidup orang lain," tambah Jason.
Mereka membuka pintu bersama, lalu tertawa karena sebenarnya mereka sudah berada di dalam rumah dan hanya mencoba melakukan sesuatu yang simbolis.
Malam itu tidak terasa seperti akhir perjalanan. Masih ada pernikahan yang harus dipersiapkan, pekerjaan yang dapat berubah, dan luka yang terkadang kembali terasa. Namun rumah tersebut berdiri sebagai bukti bahwa cinta mereka tidak lagi dibangun dari penyelamatan atau kepemilikan.
Cinta itu dibangun dari dua kunci, dua suara, dan satu keputusan yang terus diperbarui setiap hari.