Menentukan tanggal ternyata jauh lebih mudah daripada menentukan siapa yang akan hadir.
Jason mengerjakannya seperti mengerjakan proyek kantor. Ia membuat berkas, membaginya per kategori, memberi warna pada nama-nama yang menurutnya wajib datang. Hasilnya dikirim ke ponsel Valeri pada Selasa malam: hampir empat ratus nama—direktur, mitra bisnis, pejabat, dan keluarga jauh yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik.
Valeri membaca daftar itu sambil berdiri di dapur rumah baru mereka. Air di panci mendidih tanpa ia perhatikan. Ia menggulir layar, berhenti, menggulir lagi.
"Jason."
"Ya?"
"Siapa Harun Tjandra?"
Jason muncul dari ruang kerja sambil menggulung lengan kemeja. "Sepupu ibuku. Mungkin. Atau rekan ayahku."
"Kau mengundang orang yang statusnya masih 'mungkin'?"
"Dia selalu diundang."
Valeri meletakkan ponsel di meja dapur, mematikan kompor, lalu berbalik menghadapnya. "Halaman panti tidak akan muat," katanya.
"Kita bisa menyewa lahan di sebelahnya."
"Lalu membangun gedung baru dalam enam bulan?"
Jason menatap daftar tersebut cukup lama. Sudut bibirnya bergerak, setengah malu. "Kedengarannya berlebihan kalau kau yang mengatakannya."
"Coba ucapkan sendiri di depan cermin."
"Tidak perlu. Aku percaya padamu."
Mereka duduk di lantai dapur malam itu dengan ponsel di antara keduanya dan kembali pada tujuan awal: pernikahan kecil bersama orang-orang yang benar-benar menjadi bagian dari hidup mereka. Satu per satu nama dihapus. Jason sempat membela beberapa, tetapi selalu kalah oleh satu pertanyaan yang sama dari Valeri: kapan terakhir kali kau bicara dengannya di luar urusan pekerjaan?
"Dua tahun lalu," jawab Jason untuk nama kesekian.
"Bicara soal apa?"
"Akuisisi."
"Hapus."
"Kau kejam."
"Aku efisien," kata Valeri. "Itu istilah yang kau ajarkan sendiri."
Daftar tamu akhirnya dipangkas menjadi keluarga, sahabat, beberapa rekan dekat, pengasuh panti, serta anak-anak yang tinggal di sana. Jumlahnya tidak sampai seperlima daftar awal. Ketika Jason membaca versi terakhirnya, ia terdiam agak lama.
"Aneh," katanya. "Daftar ini jauh lebih pendek, tapi aku mengenal semua orangnya."
"Itu memang intinya."
Masalah muncul pada Minggu berikutnya, saat makan malam di rumah ibu Jason.
Meja panjang itu tertata seperti biasa: taplak putih, empat jenis lauk, pelayan yang berdiri diam di sudut ruangan. Ibu Jason menunggu sampai piring utama selesai sebelum mengeluarkan lembaran kertasnya sendiri.
"Aku sudah menyiapkan nama-nama keluarga besar," katanya. "Tidak banyak. Tujuh puluh saja."
Valeri menurunkan garpunya.
"Bu—" Jason mulai bicara.
"Mereka akan tersinggung kalau tidak diundang, Jason. Beberapa dari mereka menggendongmu waktu kecil."
"Beberapa dari mereka tidak datang saat ayah dimakamkan."
Ibu Jason menegakkan punggung. "Pernikahan seorang Jason selalu menjadi urusan keluarga," katanya.
Jason hampir langsung menolak. Valeri melihat tangan lelaki itu mengepal di atas meja, dan ia menyentuh lengannya—sebentar, hanya cukup untuk menahan.
"Bu," kata Valeri, "boleh kami membicarakan ini berdua dulu? Kami akan memberi jawaban, bukan diam saja."
Ibu Jason memandangnya lama, lalu mengangguk satu kali.
Di mobil, Jason menyetir tanpa bicara selama sepuluh menit. Baru di rumah, setelah keduanya duduk di ruang tamu tanpa menyalakan lampu besar, percakapan itu benar-benar terbuka.
"Aku hampir mengatakan sesuatu yang kasar," aku Jason.
"Aku tahu."
"Kenapa kau menahanku?"
Valeri menarik kakinya ke atas sofa. "Karena aku takut," katanya pelan. "Kalau kau bertengkar dengan ibumu karena daftar tamu, orang akan berkata bahwa akulah yang menjauhkanmu dari keluargamu. Dan mungkin suatu hari kau sendiri yang berpikir begitu."
Jason menoleh cepat. "Tidak akan."
"Kau tidak bisa menjanjikan isi kepalamu sepuluh tahun lagi."
Ia diam, lalu berkata, "Aku juga takut. Tapi bukan itu yang kutakutkan."
"Apa?"
"Aku takut kau akan mengalah. Lagi. Kau punya kebiasaan mengecilkan keinginanmu sendiri supaya diterima orang lain, dan aku tidak mau pernikahan kita dimulai dengan kau memakai gaun di acara yang sebetulnya tidak kau inginkan."
Valeri menunduk. Kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.
Mereka membicarakannya sampai lewat tengah malam, dan akhirnya menemukan jalan tengah: jamuan keluarga terpisah setelah pernikahan, di gedung, dengan semua nama yang ibu Jason inginkan. Upacara utama tetap sederhana dan tidak menjadi acara bisnis.
Ibu Jason kecewa saat mendengarnya. Ia tidak berteriak; ia hanya memutar cincinnya berkali-kali, tanda yang sudah dikenali Jason sejak kecil.
"Jadi aku dapat pesta sisa," katanya.
"Bu, upacaranya cuma satu jam. Jamuannya bisa seharian."
"Kau berubah sejak bersamanya."
"Bukan Valeri yang memaksaku," tegasnya. "Aku juga menginginkan pernikahan yang dapat kuingat sebagai hari kami, bukan rapat pemegang saham."
Ibunya memandangnya lama, lalu menghela napas. "Kalau begitu jangan buat aku menunggu undangan jamuannya terlalu lama."
Itu bukan restu yang hangat, tetapi Jason menerimanya sebagai restu.
Beberapa hari kemudian, Valeri menerima surat tanpa nama pengirim. Amplopnya cokelat, dikirim ke alamat kantor, dengan tulisan tangan miring yang tampak dituliskan pelan-pelan oleh orang yang jarang menulis.
Isinya pendek. Surat itu meminta dirinya mengundang seorang perempuan bernama Mira. Perempuan itu mengaku pernah menjadi pengasuh sementara Valeri sebelum ia masuk panti.
Valeri hampir memasukkannya ke tumpukan surat penggemar yang biasa datang sejak berita pertunangannya tersebar. Lalu matanya berhenti di paragraf terakhir.
Surat tersebut menyebut bekas luka kecil di belakang telinga Valeri—detail yang tidak pernah diberitakannya kepada siapa pun.
Ia membaca ulang kalimat itu empat kali. Tangannya naik sendiri, menyentuh tempat di balik telinga kirinya, garis tipis yang selama ini ia kira hanya diketahui dirinya dan cermin.
Malamnya ia meletakkan surat itu di meja makan. Jason membaca surat itu setelah Valeri menyerahkannya, pelan, dua kali, seperti membaca dokumen hukum.
"Kau ingin mencarinya?" tanyanya.
"Aku tidak tahu."
Jason meletakkan kertas itu. Ia tidak menyodorkan nomor penyelidik, tidak menawarkan menyuruh orang memeriksa, tidak berkata bahwa ia bisa mengurus semuanya sebelum pagi. Valeri menyadari perubahan itu, dan entah kenapa justru hal itu yang membuat matanya panas.
"Kita tidak perlu menjawab malam ini," kata Jason.
"Bagaimana kalau aku tidak pernah siap?"
"Maka kita tidak menjawab selamanya, dan itu juga jawaban."
Valeri mengangguk. Ia melipat surat itu mengikuti bekas lipatan lama, memasukkannya kembali ke amplop, lalu menyimpan surat tersebut di dalam laci meja di ruang tamu. Laci itu ditutup pelan, seolah bunyinya bisa membangunkan sesuatu.
Daftar tamu yang semula hanya persoalan jumlah kini membuka pintu menuju masa lalu yang selama ini ia kira sudah tertutup.