Valeri memutuskan meminta bantuan lembaga sosial, bukan penyelidik pribadi milik Jason.
"Aku punya tim yang bisa menemukan orang dalam dua hari," kata Jason ketika Valeri menyebutkan rencananya.
"Aku tahu."
"Tapi kau tidak mau memakainya."
"Kalau aku mencarinya dengan cara itu, aku datang sebagai istri CEO yang menuntut penjelasan," kata Valeri. "Aku mau datang sebagai anak yang bertanya."
Jason mengangguk pelan. Ia tidak membantah, meskipun Valeri melihat jemarinya mengetuk meja tiga kali—tanda lelaki itu sedang menahan diri.
Prosesnya memakan waktu tiga minggu. Catatan lama menunjukkan Mira pernah bekerja di rumah singgah tempat Valeri dititipkan sebelum dipindahkan ke panti. Ia berhenti bekerja dua puluh tahun lalu dan kini tinggal di kota kecil dekat Bandung, di rumah kontrakan yang alamatnya ditulis dengan pensil di kartu arsip.
Mira bersedia bertemu di kantor lembaga sosial.
"Aku ikut," kata Jason pada malam sebelumnya.
"Jangan."
"Valeri."
"Aku ingin menghadapi pertemuan itu tanpa dirimu," katanya. "Bukan karena kau berlebihan. Karena kalau kau ada di sana, aku akan mengukur reaksiku dari wajahmu."
Jason membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Baik," katanya akhirnya. "Aku akan menunggu di rumah. Tapi teleponku menyala."
Valeri datang bersama Alena. Ruang pertemuan lembaga sosial itu kecil, berdinding hijau muda, dengan kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Ada bau kertas lama dan kopi instan. Alena duduk di kursi paling ujung dan diam-diam menggeser kotak tisu ke dekat Valeri.
Perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu masuk sambil memeluk kotak kayu kecil di dadanya. Rambutnya diikat rapi, bajunya disetrika terlalu keras sampai lipatannya tajam. Tangannya gemetar saat memanggil nama Valeri.
"Valeri," katanya. Lalu ia berhenti, seolah kehabisan seluruh persediaan kalimat. "Aku tidak tahu apakah kau masih mengingatku."
Valeri tidak mengingat wajahnya. Sama sekali tidak. Namun aroma minyak kayu putih yang dipakai Mira membangkitkan sensasi samar tentang selimut yang terlalu tebal dan lagu pengantar tidur yang liriknya tidak pernah ia ketahui asalnya—lagu yang selama bertahun-tahun ia senandungkan sendiri tanpa tahu dari mana datangnya.
Ia menarik kursi. "Silakan duduk, Bu."
Mira duduk di ujung kursi, punggungnya tidak menyentuh sandaran. Ia meletakkan kotak kayu di meja tetapi belum membukanya.
"Ibumu bernama Larasati," katanya. "Dia menitipkanmu karena sakit keras. Waktu itu kau belum genap dua tahun."
"Sakit apa?"
"Paru-paru. Dia batuk darah di depanku dan tetap bilang dia baik-baik saja." Mira menunduk. "Dia berjanji akan kembali menjemputmu setelah sembuh."
"Lalu?"
"Dia meninggal beberapa bulan kemudian."
Kipas angin di atas berderit sekali. Valeri merasakan sesuatu di dadanya bergeser, tetapi suaranya tetap datar ketika bertanya, "Keluarganya?"
"Tidak ada yang bersedia mengambil tanggung jawab," kata Mira. "Aku mendatangi dua orang. Yang satu menutup pintu, yang satu memberi uang supaya aku tidak datang lagi."
Alena menarik napas tajam. Valeri tidak bergerak.
"Mengapa baru sekarang Anda mencari saya?" tanyanya.
"Aku pengecut," jawab Mira. Ia mengatakannya tanpa jeda, seperti kalimat yang sudah dilatih bertahun-tahun. "Setiap tahun aku mengatakan akan mencarimu setelah hidupku lebih baik. Lalu tahun-tahun berlalu. Ketika melihat pertunanganmu di berita, aku takut kehilangan kesempatan terakhir untuk meminta maaf."
Ia mendorong kotak kayu itu ke tengah meja.
Isinya tidak banyak. Sebuah gelang kain yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kecokelatan. Foto seorang perempuan muda yang berdiri di depan pagar rumah sakit, memicingkan mata karena silau. Dan beberapa surat yang tidak pernah dikirim, amplopnya masih tertutup, alamatnya ditulis lalu dicoret, ditulis lagi.
Valeri mengangkat foto itu dan memegangnya dengan dua tangan.
Wajah perempuan dalam foto memiliki mata yang sama dengan dirinya. Bentuknya, sudutnya, bahkan cara alisnya sedikit turun di ujung.
Ia tidak menangis di ruang pertemuan. Ia justru mengeluarkan buku catatan dan bertanya seperti orang yang sedang mengumpulkan data: di rumah sakit mana ibunya dirawat, siapa nama dokternya kalau Mira masih ingat, berapa lama ia dirawat, apakah ada barang lain yang tertinggal.
Mira menjawab semuanya, kadang terputus, kadang mengulang. Sekali waktu ia berhenti di tengah kalimat dan berkata, "Maaf, ingatanku sudah tidak bagus," lalu melanjutkan lagi setelah minum.
"Apakah dia pernah menyebut ayah saya?" tanya Valeri.
Mira menggeleng. "Tidak pernah. Sekali pun tidak."
"Anda tidak bertanya?"
"Aku bertanya. Dia cuma bilang, 'Jangan dicari.'" Perempuan itu mengusap matanya dengan punggung tangan. "Waktu itu aku pikir aku akan punya banyak waktu untuk bertanya lagi."
Di akhir pertemuan, perempuan itu bertanya dengan suara nyaris tidak terdengar, "Apakah aku boleh datang ke pernikahanmu?"
"Saya belum bisa menjawab," kata Valeri. "Beri saya waktu."
Mira mengangguk cepat-cepat, seperti orang yang sudah bersyukur tidak ditolak langsung.
Air mata Valeri baru jatuh ketika sampai di mobil. Ia menutup pintu, memasang sabuk pengaman, lalu tiba-tiba tidak bisa menyalakan mesin. Alena menggenggam tangannya tanpa bicara, tanpa satu pun kalimat penghiburan, sampai tangisnya reda sendiri.
Malam itu Valeri menunjukkan isi kotak kepada Jason. Mereka duduk di lantai ruang kerja, benda-benda itu berjajar di karpet seperti barang bukti.
"Aku marah kepadanya karena terlambat," kata Valeri. "Tapi aku juga ingin mendengar semua yang ia tahu. Aku ingin bertemu lagi. Apa itu berarti aku terlalu mudah memaafkan?"
Jason mengangkat gelang kain itu, memeriksanya, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati.
"Mendengar bukan berarti memaafkan," katanya. "Memaafkan juga bukan berarti melupakan akibat tindakannya."
Valeri menoleh. "Sejak kapan kau bisa bicara begitu?"
"Sejak seseorang menyeretku ke ruang konseling setiap dua minggu."
Ia tertawa kecil, lalu bersandar di bahu Jason.
Valeri memutuskan menemui Mira sekali lagi. Ia belum mengundangnya ke pernikahan, tetapi membuka kemungkinan untuk mengenalnya perlahan—satu pertemuan, satu pertanyaan, tanpa janji apa pun di depan.
Dalam sesi konseling minggu berikutnya, ia mengaku pada hal yang paling mengganjal. "Aku merasa bersalah," katanya. "Seolah dengan mencari ibu kandungku, aku sedang berkata kepada orang tuaku bahwa mereka tidak cukup."
Konselornya bertanya, "Menurutmu kasih sayang itu sebuah kursi yang hanya bisa diduduki satu orang?"
Valeri diam lama. Lalu ia menggeleng.
Ia kemudian membawa foto itu kepada kedua orang tuanya. Ia sudah menyiapkan penjelasan panjang di kepalanya, lengkap dengan permintaan maaf, tetapi tidak sempat mengucapkan satu pun kalimatnya.
Ibunya melihat foto itu, lalu memeluk Valeri erat-erat dan berkata, "Kau berhak mengetahui dari mana kau berasal. Itu tidak mengubah tempatmu bersama kami."
Ayahnya hanya berdeham dan berkata bahwa ia akan mencarikan bingkai yang bagus.
Untuk pertama kalinya, masa lalu Valeri tidak terasa seperti lubang kosong. Masa itu memiliki nama, wajah, serta pertanyaan yang boleh dijawab sedikit demi sedikit.