Mira dan Valeri bertemu tiga kali lagi.
Tidak semua pertemuan terasa hangat. Yang kedua berlangsung di warung kopi dekat stasiun dan berakhir setelah empat puluh menit karena Valeri tidak sanggup melanjutkan. Yang ketiga lebih lama, tetapi diisi pertanyaan yang membuat keduanya sama-sama lelah.
"Kenapa Anda tidak menyimpan kontak keluarga ibu saya?" tanya Valeri.
"Aku menyimpannya," jawab Mira. "Dulu. Di buku telepon yang hilang waktu aku pindah kontrakan."
"Anda tidak mencoba mencari lagi?"
"Aku mencoba sekali. Rumahnya sudah dijual."
Valeri memutar gelasnya di atas meja. "Dan surat-surat itu," katanya. "Kenapa tidak pernah Anda serahkan ke panti? Anda tahu saya di sana."
Mira tidak mencari alasan. Itu yang paling membuat Valeri sulit membencinya.
"Karena aku miskin," katanya pelan. "Karena aku takut mereka bertanya kenapa aku menyimpannya bertahun-tahun. Karena setiap kali aku berdiri di depan gerbang panti, aku membayangkan kau sudah bahagia, dan aku merasa jadi orang yang datang merusak."
"Anda tidak pernah masuk?"
"Aku pernah sampai ke pagarnya. Dua kali." Mira menunduk. "Lalu aku pulang."
Valeri menarik napas panjang. Marah dan iba datang bersamaan, saling dorong, tidak ada yang menang.
"Aku berharap kau memaafkanku," kata Mira. "Tapi aku tahu harapan itu bukan kewajibanmu."
Sebelum berpisah, perempuan itu menuliskan sesuatu di kertas kecil: nama pemakaman umum di pinggir kota, blok, nomor. Alamat makam ibu kandung Valeri.
Pada suatu pagi, Valeri pergi ke sana bersama kedua orang tuanya. Jason tidak ikut. Ia menawarkan diri hanya sekali, dan ketika Valeri berkata bahwa ia ingin momen itu menjadi ruang bagi keluarganya, lelaki itu mengangguk dan menyiapkan bunga di kursi belakang mobil tanpa berkata apa-apa lagi.
Pemakaman itu sederhana. Rumputnya tinggi di beberapa bagian, dan seorang penjaga menunjukkan jalan sambil menyeret sapu lidi. Udara masih berkabut tipis; suara motor dari jalan raya terdengar jauh.
Di depan nisan sederhana bertuliskan nama Larasati, Valeri meletakkan bunga.
Ia berjongkok cukup lama. Ia tidak memiliki kenangan jelas tentang perempuan itu—tidak suara, tidak wajah, tidak satu pun hari yang bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Tetapi kini ia mengetahui bahwa dirinya pernah dicintai sebelum keadaan memisahkan mereka, dan pengetahuan itu mengisi sesuatu yang selama tiga puluh tahun terasa berlubang.
"Ibunya menitipkanmu supaya kau hidup," kata ibunya pelan.
Valeri mengusap huruf-huruf di batu nisan dengan ibu jarinya. Ada lumut tipis di ujung huruf terakhir, dan ia membersihkannya pelan-pelan dengan ujung sapu tangan.
"Aku tidak tahu harus bicara apa," katanya.
"Tidak apa-apa," jawab ibunya. "Dia juga belum pernah mendengar suaramu sebagai orang dewasa. Kalian sama-sama baru."
Ayah angkatnya berdiri di sebelahnya, memegangi payung meskipun matahari sudah keluar. "Kau tidak harus memilih siapa orang tuamu," katanya. "Hidupmu cukup luas untuk menyimpan semuanya."
Valeri menoleh. "Ayah tidak merasa aneh berdiri di sini?"
"Aneh sekali," jawab ayahnya jujur. "Tapi aku lebih tidak suka membayangkan kau berdiri di sini sendirian."
Sepulang dari sana, Valeri langsung membuka daftar tamu di meja makan dan menambahkan satu nama di baris paling bawah.
Ia mengirim undangan dengan catatan tulisan tangan yang ditulisnya tiga kali sampai kalimatnya benar-benar sesuai dengan yang ia rasakan.
"Kehadiran Anda bukan penghapus masa lalu. Ini kesempatan bagi kita untuk memulai sesuatu yang baru dengan jujur."
Mira menelepon dua hari kemudian sambil menangis. Suaranya nyaris tidak bisa dimengerti di menit pertama.
"Aku akan datang," katanya berkali-kali. "Aku akan datang."
Valeri ikut menangis. Tetapi ketika Mira bertanya apakah ia boleh memanggilnya "Nak", Valeri menjawab pelan, "Belum, Bu. Suatu hari mungkin. Sekarang panggil saja nama saya."
Mira terdiam sebentar, lalu berkata, "Baik. Terima kasih sudah jujur."
Sementara itu, persiapan pernikahan menimbulkan persoalan lain.
Berita pertunangan membuat kotak surel Valeri penuh penawaran. Sejumlah merek menawarkan sponsor, gaun gratis, dan liputan eksklusif. Ada yang menjanjikan dekorasi senilai ratusan juta, ada yang menawarkan mobil pengantin, ada satu majalah yang meminta hak foto pertama.
Jason tertarik menerima satu penawaran karena hasilnya dapat disumbangkan kepada panti.
"Angkanya besar," katanya sambil memutar layar laptop ke arah Valeri. "Cukup untuk memperbaiki atap asrama dan membiayai sepuluh anak sampai lulus SMA."
Valeri membaca persyaratannya sampai halaman terakhir. Lalu ia menutup laptop itu.
"Mereka ingin memotret anak-anaknya."
"Sebagai latar saja."
"Anak-anak panti bukan latar untuk iklan pernikahan kita," kata Valeri.
"Jadi kita tolak uang yang bisa memperbaiki atap mereka?"
"Kita tolak cara mendapatkannya."
Perdebatan itu berlangsung cukup keras. Jason bicara dengan suara yang jarang ia pakai di rumah; Valeri berdiri dan membereskan meja hanya supaya tangannya ada kerjaan. Keduanya sama-sama merasa dituduh sebagai orang yang tidak peduli.
Yang menghentikan pertengkaran itu justru pertanyaan Valeri yang paling pelan.
"Kalau kau tumbuh di sana," katanya, "dan sepuluh tahun kemudian fotomu masih beredar sebagai latar iklan gaun, kau akan berterima kasih atau malu?"
Jason membuka mulut, lalu tidak jadi menjawab. Ia menatap meja cukup lama.
"Malu," katanya akhirnya.
Baru setelah itu mereka menyadari bahwa tujuan keduanya sebenarnya sama: membantu panti tanpa mengeksploitasi penghuninya.
"Aku cuma tidak tahu cara memberi tanpa membuat keributan," aku Jason akhirnya.
"Itu bisa dipelajari," kata Valeri. "Kau sudah belajar hal yang lebih sulit."
Akhirnya mereka menolak seluruh sponsor dan memberikan sumbangan pribadi melalui yayasan independen yang dipilih bersama kepala panti. Jumlahnya tidak diumumkan, dan ketika seorang wartawan bertanya, Jason hanya menjawab, "Itu urusan kami dan panti."
Sisanya berjalan sederhana.
Gaun Valeri dibuat oleh penjahit langganan ibunya, seorang perempuan tua yang mengukur badannya sambil mengeluh bahwa anak zaman sekarang terlalu kurus. Pengepasan dilakukan di ruang tamu rumah orang tuanya, bukan di butik, dengan ibunya yang menangis di percobaan kedua dan berpura-pura kelilipan.
Jas Jason dipilih setelah Valeri melarangnya membeli tiga pilihan yang hampir sama.
"Warnanya berbeda," bantah Jason.
"Ketiganya abu-abu."
"Abu-abu arang, abu-abu asap, dan abu-abu batu."
"Pilih satu, Boss."
Ia memilih yang paling murah, dan kemudian mengaku bahwa itu memang yang paling nyaman.
Undangan dicetak sederhana di percetakan kecil dekat panti, kertas biasa, tinta hitam, tanpa logo perusahaan. Anak-anak panti membantu memasukkannya ke amplop pada suatu sore, dan tiga undangan harus dicetak ulang karena terkena bekas jari cokelat.
Semakin sedikit kemewahan yang mereka tambahkan, semakin jelas makna hari tersebut bagi keduanya. Pernikahan itu bukan pertunjukan bahwa seorang CEO berhasil mendapatkan perempuan yang dicintainya. Itu adalah perayaan dua orang yang akhirnya belajar bahwa cinta tidak membutuhkan penonton untuk menjadi sah.